Senin, 06 Februari 2017

Table for Two



“Kata Eyang Uti, anak cowok itu harus ngelindungin anak cewek. Aku kan, anak cowok, jadi aku bakal ngelindungin kamu, anak cewek.” (Hal. 116)


Penulis: Dy Lunaly
Penyunting: Pratiwi Utami
Perancang sampul: Musthofa Nur Wardoyo
Ilustrasi sampul: Boby Erianto
Pemeriksa aksara: Fitriana STP & Septi Ws
Penata aksara: Martin Buczer & Rio
Penerbit: Bentang Belia (PT Bentang Pustaka)
Cetakan: Pertama, Desember 2016
Jumlah hal: iv + 260 halaman
ISBN: 978-602-1383-63-6

“Dia memang teman masa kecilku. Tapi, dia sudah bukan lagi bocah kurus yang ada alam ingatanku, melainkan seorang pria. Seorang pria yang, sungguh tidak ingin aku akui, sangat menarik”

Asha benci tinju sebesar dia membenci Arga, pria yang pernah disebutnya sebagai sahabat. Tragedi yang merenggut nyawa Papa membuat hubungan Asha dan Arga merenggang. Bertemu lagi dengan Arga nggak pernah terpikirkan olehnya. Tapi, itu yang terjadi. Permintaan Mama memaksanya untuk bertemu dengan Arga sekaligus menjadi pengawas diet petinju super-menyebalkan itu.

Menjadi pengawas diet Arga berarti pertengkaran tanpa henti, rencana diet yang berantakan dan berkurangnya waktu untuk dinikmati bersama Kak Rama, dietisien di klinik kesehatan Mama. Namun, Asha nggak punya pilihan. Ia harus profesional dan berusaha berdamai dengan trauma masa lalunya.

Tapi ... bisakah?

***

“Ternyata kenangan bahagia, tidak peduli selama apa pun tersimpan, selalu menghadirkan getar kerinduan ketika mengingatnya.” (Hal. 7)

Kehidupan Asha awalnya terasa menyenangkan. Asal persoalan skrip-shit tidak dihitung. Bagaimana tidak jika dia punya ibu yang selalu bisa menjadi tempatnya mencari ketenangan dan cinta kasih. Ia juga punya Kak Rama yang selalu memberi warna cerah pada kehidupannya. Secerah perempuan yang tengah jatuh hati.

Namun mendadak serasa ada awan gelap yang datang, membuat kehidupan Asha yang cerah bahagia menjadi kelabu. Awan gelap itu datang dalam bentuk sosok masa lalu. Arga, laki-laki yang dulu pernah menjadi orang terdekatnya. Menjadi sahabatnya. Namun pertengkaran membuat mereka menjauh.

Terlebih lagi Arga menggeluti dunia yang ingin dilupakan Asha. Dunia tinju. Dunia yang merenggut papa yang sangat dicintai Asha. Dunia itu juga yang membuat ia dan Arga berpisah. Sebab Arga memilih untuk tetap menjadi petinju.

Tujuh tahun tidak pernah bertemu, Arga dan Asha kembali dipertemukan. Kali ini Asha harus berusaha mencegah Arga mengalami nasib yang sama dengan yang dialami oleh papanya. Namun Arga terlalu bebal untuk peduli. Membuat mereka selalu saja bertengkar setiap kali bertemu. Dan perlahan kehadiran Arga mengubah sesuatu dalam hubungan Asha dan Rama.

Bagaimana jadinya hidup Asha? Bisakah ia ‘menolong’ Arga? Dan bagaimanakah akhir hubungan Asha dan Rama juga hubungan Asha dan Arga?

“Waktu selalu bisa mengubah apa pun, termasuk karakter seseorang.” (Hal. 35-36)

***

“Ternyata benar, kenangan tidak tersimpan dalam hati atau ingatan. Tetapi, pada benda atau tempat kenangan itu terjadi.” (Hal. 64)

Novel Table for Two ini diterbitkan oleh Bentang Pustaka di bawah naungan lini Bentang Belia. Lini yang dikhususkan bagi pembaca muda Bentang, bagi pembaca remaja. Namun sejujurnya cakupan pembaca untuk novel ini jauh lebih luas. Novel ini  bisa masuk dalam kategori young adult mengingat tokoh utamanya sudah menempuh semester akhir kuliah dan sedang berkutat dengan skripsi. Selain itu dari segi konflik, tidak sesimple novel-novel remaja. Sedikit lebih kompleks. Dan tidak berfokus pada percintaan. Lebih banyak ke hubungan hate-loveship antara Arga dan Asha serta bagaimana Asha menjadi pengawas dietnya Arga.

Yang menarik dari novel ini adalah profesi tokohnya unik. Yang satu petinju dan satu lagi adalah dietisien. Dua profesi yang sangat jarang saya jumpai dalam novel yang saya baca. Apalagi dalam novel remaja.


Dalam hal karakter mereka nano-nano. Ada yang manis dan loveable banget seperti Kak Rama, dan ada yang saking menyebalkannya bikin saya tidak ingin peduli padanya. Ya, siapa lagi kalau bukan Arga. Tokoh Arga ini sangat konsisten! Konsisten menyebalkannya! Eh tapi kadang terasa kurang konsisten di percakapan. Ini karena dibeberapa percakapan, pilihan kata yang dipakainya terasa kurang maskulin. Tidak sesuai dengan usia dan karakternya yang tidak ramah.

Secara keseluruhan, membaca novel ini terasa menyenangkan karena mendapatkan ilmu baru dan ceritanya tidak membosankan karena tidak “seragam” dengan novel-novel remaja dan young adult lainnya.

 “Katanya sih, beda benci sama cinta itu tipis banget. Biasanya awalnya sebal banget, ujung-ujungnya jadian.” (Hal. 120)

***
Kumpulan Quote Table for Two
“.... Tubuh kamu itu pinjaman Tuhan, tapi kenapa kamu semena-mena gini?” (Hal. 131)
“Aku benci dengan manusia yang merasa berhak untuk membuang makanan. Apa dia lupa bahwa di belahan dunia lain ada manusia yang kelaparan karena kesulitan mendapatkan makanan?” (Hal. 134)
“... tinju itu bukan alat balas dendam. Tinju nggak serendah itu.” (Hal. 143)
“Sebesar apa pun kita menyesalinya, kita nggak akan pernah bisa mengubah masa lalu.” (Hal. 145)
“Daripada kita terus-menerus memikirkan masa lalu, kenapa kita nggak menggunakan energi kita untuk merencanakan masa depan?” (Hal. 151)
“Manusia itu sama seperti istana pasir, mau dibangun sebagus atau setingga apa pun akan ada saatnya untuk hancur. Zero to zero bukan zero to hero.” (Hal. 161)
“Kenapa sih, urusan perasaan itu selalu rumit?” (Hal. 246)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar