Sabtu, 28 Januari 2017

The Playlist



“Mungkin memang harus seperti ini. Mungkin kita dipertemukan untuk belajar mempelajari kesalahan, supaya tidak terulang lagi nanti... saat bersama orang baru.” (Hal. 206)


Penulis: Erlin Natawiria
Penyunting: Septi Ws
Desainer sampul: Tim Desain Broccoli
Penata isi: Tim Desain Broccoli
Penerbit: Grasindo
Cetakan: Pertama, September 2016
Jumlah hal.: 230 halaman
ISBN: 978-602-375-6782

Musik latar bukan sekadar aksesori bagi Winona.

Ketika food writer lain memusatkan perhatian pada rasa dan tampilan, Winona akan menajamkan telinganya untuk menilai pilihan lagu di sebuah tempat makan. Baginya, lantunan melodi memberi pengaruh besar terhadap suasana hati pengunjung. Semakin sesuai musik latar dengan hidangan, semakin tinggi penilaian yang akan Winona berikan.

Hingga kehidupan Winona berubah saat mengunjungi No.46. Absennya musik latar dan kemisteriusan Aries mengusik benak hingga hatinya. Jerat yang coba dia lepaskan justru menariknya semakin dekat dengan pria yang menyimpan duka dan sepi yang terasa familier baginya. Belum cukup di situ, Winona pun harus berhadapan dengan Ethan – pesona dari masa lalu yang mengisi hidupnya dengan kenangan-kenangan manis.

Di antara iringan musik latar dan hidangan-hidangan lezat, Winona harus memilih: menghadapi rasa takut yang terus dia hindari atau kembali ke tempat ternyaman yang melengahkan?

***

“Pertama, toko-toko musik yang menjual rilisan fisik. Sekarang toko buku juga mulai menyusul. Aku tidak bisa menolak perkembangan teknologi juga, Wine. Tapi, melihat tempat-tempat itu mulai hilang ... rasanya seperti menyaksikan sebagian dari hidupmu direnggut paksa.” (Hal. 121)

Winona, yang awalnya adalah seorang bekerja di majalah musik, akhirnya berubah haluan menjadi food writer di YummyFood. Ia mendatangi tempat-tempat makan di kota Bandung untuk diulas. Meski pindah haluan, namun Winona tidak bisa melepaskan kedekatannya dengan musik. Hal ini membuat ulasan Winona menjadi unik sebab memasukkan musik latar di rumah makan yang ia kunjungi ke dalam standar penilaian.

Namun suatu hari ia diminta meliput No.46, sebuah rumah makan yang ada di daerah Dago. Di sana ia mendadak merasa bingung karena di rumah makan itu tidak ada musik sama sekali. Tidak ada lagu yang terputar. Ini membuat Winono merasa bahwa tempat itu mencekam dan membuatnya tidak nyaman. Ketidaknyamanan ini pun dirasakannya saat bersama Aries, pemilik No.46.

Di sisi lain, Winona masih menyimpan perasaan pada mantan kekasihnya, Ethan. Dan entah bagaimana Ethan sendiri seolah tidak ingin keluar dari kehidupan Winona. Pun dengan takdir yang sering kali membuat mereka bertemu tanpa sengaja, tanpa rencana.

***

Novel ini bercerita menggunakan sudut pandang orang pertama dari sisi Winona. Ini membuat pikiran-pikiran dan perasaan Winona bisa “diintip” oleh pembaca. Dan bisa menyimpan banyak hal untuk mempertahankan rasa penasaran pembaca.


Sejak awal pembaca digiring untuk mempertanyakan tentang “apa yang terjadi dengan hubungan Winona dan Ethan?” yang kelak akan terjawab di akhir-akhir cerita. Di samping itu, pembaca ikut dibuat membuat pilihan-pilihan apakah Winona lebih baik bersama Ethan atau Aries.

Namun sayangnya, secara emosi, cerita kurang tereksplorasi dengan baik. Emosi-emosi Winona kurang ekstrim. Cenderung flat. Mungkin karena digambarkan Winona ini lebih sering bersikap logis daripada impulsif.

Dalam hal setting, sudah cukup pas. Deskripsinya tidak “over” hingga terkesan membosankan. Setting tempat pun menyatu dengan baik. Setting tempatnya bisa dengan mudah saya bayangkan apalagi saya sempat menetap di kota Bandung. Ini membuat imajinasi saya lebih hidup. (Meski berujung pada rasa kangen yang kian menguat atas kota Bandung. Abaikan curhatan ini..he..he..)

Oiya, ada sedikit yang ingin saya protes. Yakni di halaman 187 disebutkan bahwa Elara berceloteh padahal di usia itu Elara hanya mengenal satu ekspresi yaitu tangisan.

Secara keseluruhan novel ini enak untuk dinikmati. Bisa jadi pilihan yang pas bagi mereka yang suka genre pure romance dan ingin mengenal kota Bandung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar