Minggu, 23 Oktober 2016

[Interview + Give Away] The Girl on Paper: Novel Populer dari penulis Perancis




Mendapatkan kesempatan mencicipi novel populer dari Perancis menjadi pengalaman yang baru bagi saya pribadi. Selama ini saya lebih familiar dengan buku-buku klasik Perancis seperti Little Prince karya Antoine de Saint-Exupery atau Les Miserables karya Victor Hugo. Sedangkan novel populer masa kini? Hm.. sangat jarang saya cicipi, bahkan ini adalah pengalaman pertama saya. Dan setelah pengalaman ini? Saya tidak akan ragu untuk mencicipi novel-novel karya penulis Perancis lainnya.

Dan rasanya sebuah kehormatan bagi saya saat saya diberi kesempatan untuk mewawancarai pihak Redaksi Spring terkait novel The Girl on Paper ini. Yuk simak hasil wawancaranya.

The Girl on Paper



“Dunia fiksi begitu membosankan? Sepanjang hidupku, aku justru mendengar sebaliknya! Kebanyakan orang membaca novel untuk melarikan diri sejenak dari kenyataan.” (Hal. 182)


Penulis: Guillaume Musso
Penerjemah: Yudith Listiandri
Penyunting: Selsa Chinty
Proofreader: Titish A.K.
Design cover: Chyntia Yanetha
Penerbit: Spring
Cetakan: Pertama, September 20116
Jumlah hal.: 448 halaman
ISBN: 978-602-74322-4-6
Gadis itu terjatuh dari dalam buku.

Hanya beberapa bulan yang lalu, Tom Boyd adalah seorang penulis miliarder yang tinggal di Los Angeles dan jatuh cinta pada seorang pianis bernama Aurore. Namun, setelah putusnya hubungan mereka yang terekspos publik, Tom menutup dirinya, menderita writer’s block parah, dan tenggelam dalam alkohol dan obat terlarang.

Suatu malam, seorang gadis asing yang cantik muncul di teras rumah Tom. Dia mengaku sebagai Billie, karakter dalam novelnya, yang terjatuh ke dunia nyata karena kesalahan cetak dalam buku terakhir Tom.

Meskipun cerita itu gila, Tom harus percaya bahwa gadis itu benar-benar Billie. Akhirnya mereka membuat perjanjian. Jika Tom mau menulis novel agar Billie bisa kembali ke dunianya, Billie akan membantu Tom untuk mendapatkan Aurore kembali.

Tidak ada ruginya, kan? Iya, kan?
***

“Biarkan hidup memberimu hal-hal baik, dan jangan selalu takut kehidupan akan menyakitimu.” (Hal. 192)

Novel ini dibuka dengan prolog berupa potongan berita tentang novel karya Tom Boyd, tokoh utama dalam novel ini, beserta berita tentang hubungan percintaannya dengan pianis terkenal, Aurore. Dan di akhir prolog ini dimuat berita tentang bagaimana hidup Tom Boyd berubah setelah berakhirnya hubungannya dengan Aurore.

Pembukaan kisah ini menggambarkan secara gamblang bahwa tidak ada orang yang kebal dari sakit hati karena putus dari kekasih. Bahkan seorang penulis terkenal sekali pun. Dan ada sejumlah orang yang memutuskan untuk menghancurkan hidupnya sendiri dan berkubang dalam keterpurukan serta terserang depresi karena patah hati. Tom Boyd salah satunya.

Namun entah ia mengidap skizofrenia atau memang Billie, karakter fiksi yang ia ciptakan dalam novelnya, adalah sosok yang benar-benar hadir secara nyata dengan menyebrangi dunia fiksi dan masuk ke dunia nyata milik Tom. Kehadiran Billie membawa serta petualangan baru dalam hidup Tom. Saat sahabatnya Milo yang juga agen dan manager-nya mengabarkan kebangkrutan mereka serta berupaya memasukkan Tom ke klinik psikiater, Tom pun memilih untuk kabur dan “bertualang” bersama Billie.

Mereka membuat perjanjian, Tom harus melanjutkan novel terbarunya agar Billie bisa pulang kembali ke dunia fiksi, dan sebagai gantinya Billie akan membantuk Tom mendapatkan kembali Aurore.
Di sisi lain, tidak hanya Tom yang mengalami petulangan. Buku edisi khusus yang dicetak terbatas yang merupakan tempat Billie “muncul” dari dalam buku, pun mengalami perjalanannya sendiri. Buku ini hilang dan kemudian menjejak dan memasuki banyak kehidupan lain. Namun di sisi lain, buku ini harus ditemukan agar Billie bisa tetap bertahan hidup di dunia nyata hingga naskah yang ditulis Tom selesai dikerjakan.  Buku ini sempat menjelajah ke California, Roma, Korea Selatan dan akhirnya ke Paris. Penjelajahan buku ini membawa Milo dan Carole, dua sahabat Tom sejak hidupnya masih penuh kekelaman, menjadi lebih dekat dan satu persatu rahasia mereka terbongkar. Upaya mereka untuk menarik Tom keluar dari kubangan kesedihan semakin mempersatukan mereka.

Bagaimana akhir dari kisah ini? Siapa sebenarnya Billie ini?

“... ‘Billie’ tidak bisa berhenti bertanya-tanya dengan naif mengapa beberapa wanita mendapatkan banyak hal sejak mereka dilahirkan – kecantikan, pendidikan, kekayaan, bakat – sementara yang lain harus memulai hidup dengan begitu sedikit anugerah.” (Hal. 74)

***

“Menulis melemparkanku ke dunia yang aneh: realitas memudar sedikit demi sedikit dan para tokohku di ruang fiksi menjadi begitu nyata sampai mereka mengikutiku ke mana-mana.” (Hal. 107)

Buku ini kaya akan pengalaman sebagai seorang penulis dan juga pembaca fiksi. Saat membaca buku ini, saya merasa bahwa Guillaume Musso membuka tabir tentang isi pikiran seorang penulis tentang proses kreatif mereka, tentang arti karya bagi seorang penulis, hingga arti seorang pembaca bagi seorang penulis. Salah satu yang paling terasa adalah penjelasan yang disampaikan oleh Tom di halaman 107. Apakah itu pengalaman Guillaume Musso semata atau mungkinkah itu pengalaman para penulis lain juga?

Kamis, 20 Oktober 2016

[Interview + Give Away] You are My Moon: Kisah Cinta Cucu Pengurus Makam dan Sang Pangeran




Ini adalah kedua kalinya saya berkesempatan membaca novel yang berasal dari Thailand. Jika sebelumnya Operation: Break the Casanova’s Heart  ber-genre remaja, maka kali ini berbeda. Novel You are My Moon karya Rompaeng ini ber-genre lebih dewasa. Karena konfliknya pun cukup dewasa. Tapi tetap aman kok dibaca remaja dan dewasa muda.

 

Oiya, dalam kesempatan kali ini, saya diizinkan mengajukan beberapa pertanyaan kepada redaksi Haru terkait novel You are My Moon ini. Yuk, disimak wawancara singkat saya dengan redaksi Haru.

 ***

1. Berapa lama proses penerbitan naskah ini sejak "dilirik" oleh Penerbit Haru hingga akhirnya terbit?

Tiga tahun. Proses terlama adalah proses terjemahan karena susahnya mencari penerjemah yang berkompeten.

2. Dalam hal editing & revisi You Are My Moon, apakah ada penyesuaian-penyesuaian tertentu? Hal ini mengingat budaya Thailand cukup berbeda dengan budaya Indonesia. Seperti keberadaan lady boy yg sudah lazim di Thailand tapi masih dianggap tabu di Indonesia

Tidak ada penyesuaian yang terlalu besar. Bahkan naskah ini bersih dari sensor, karena memang secara alur tidak ada yang harus disensor. Tentang ladyboy, karena tidak signifikan dan hanya disebut sesekali, kami juga biarkan apa adanya.

3. Novel You are My Moon ini adalah volume kedua. Kenapa tidak menerjemahkan You are My Moon volume 1 dulu?

Karena ada kendala dalam penerjemahan, sehingga You Are My Moon terbit terlebih dahulu.
Prekuelnya juga akan diterbitkan, mohon ditunggu ya, karena akan mengisahkan tentang kedua orangtua Juntharakan!

***

Nah, itu dia hasil wawancara singkat saya. Kalau kamu memerhatikan, saya memberikan bocoran bahwa naskah You are My Moon ini sebenarnya adalah volume 2 dari naskah yang ada terbit di Thailand tersebut. Saya sempat bertanya-tanya, kenapa bukan You are My Moon 1 yang diterjemahkan? Apa ini berarti volume 1 tidak akan diterjemahkan?

Dan alangkah leganya saya saat ada berita dari redaksi Haru bahwa volume 1 tetap akan diterjemahkan. Yes, berarti kisah Dao tua, ibu dari Juntharakan, bisa saya ikuti juga. Soalnya karakternya menarik sih, pun hubungannya dengan ayah Juntharakan. :D 

Nah, dengan perasaan riang ini, saya ingin mengumumkan bahwa sekarang waktunya Give Away. Hore!!!!

You are My Moon


“.... Kita tidak bisa mengendalikan orang lain untuk berpikir dan melakukan sesuatu. Tetapi kita bisa mengendalikan diri sendiri. Meskipun sangat sulit.” (Hal. 220)

Penulis: Rompaeng
Diterjemahkan dari You are My Moon vol.2 terbitan Happy Banana, Thailand
Penerjemah: Suchada Ung-Amporn, Wisnu Wardhana
Penyunting: K.P Januwarsi
Proofreader: Titish A.K
Design cover: Dedy Andrianto
Penerbit: Haru
Cetakan: Pertama, September 2016
ISBN: 978-602-7742-81-9

Darika
Seorang gadis anak pengurus kuil sederhana. Hidupnya tiba-tiba berubah 180 derajat ketika seorang bangsawan kaya memintanya untuk bekerja sebagai bodyguard-nya. Tugas gadis itu adalah untuk melindungi sang bangsawan dari istri centil sahabatnya.

Juntharakan
Seorang bangsawan tampan yang masih lajang. Dia mempekerjakan gadis sederhana yang blak-blakan dan cerdas itu sebagai sekretaris pribadi sekaligus bodyguard-nya. Tapi, kenapa jantung Juntharakan selalu berdetak lebih kencang ketika berdekatan dengan gadis itu?

***

“Jangan hiraukan mereka, Sayang. Kita lebih tahu tentang diri kita sendiri dan itu sudah cukup.” (Hal. 8)

Darika adalah seorang perempuan berusia 27 tahun yang meragukan adanya cinta sejati berdasarkan pengalaman yang dialami oleh ibunya. Ibunya dicampakkan oleh sang ayah yang ternyata malah memilih untuk menikah dengan anak perempuan bos-nya. Ditinggalkannya Ibu Darika yang saat itu sedang mengandung. Ditinggalkan dalam keadaan hamil dan harus menanggung malu akibat gunjingan para tetangga tentulah bukan hal yang mudah. Hari-hari yang dilalui Darika dari keluarga yang “patah” seperti itu membuat Darika tumbuh jadi gadis yang unik. Ia menjadi karakter yang mandiri, tegar, irit (yang beda tipis dengan pelit), kreatif dan tentu saja tidak memercayai cinta.

Namun kondisi berubah saat ia bertemua dengan Juntharakan, bangsawan muda tampan yang juga anak tunggal dari seorang bangsawan kaya. Karena sebuah insiden, Darika akhirnya direkrut menjadi sekretaris pribadi Juntharakan dengan misi khusus menyingkirkan Pitchaya, istri dari sepupu Juntharakan.

Pitchaya menghalalkan segala cara demi membuat Juntharakan jatuh ke dalam pelukannya. Ini membuat banyak orang khawatir termasuk ibunda Juntharakan. Kehadiran Darika yang blak-blakan dan berani diyakini akan mampu menghalau kelicikan Pitchaya. Sayangnya tidak ada yang mengingatkan bahwa bahaya tidak hanya datang dari Pitchaya melainkan dari dalam diri Darika sendiri.

Pesona Juntharakan ternyata mampu membuat hati Darika cemas. Ia yang tidak ingin mengalami nasib yang sama seperti ibunya selalu percaya bahwa cinta sejati tidak pernah ada. Namun melihat cinta yang memancar di antara kedua orang tua Juntharakan membuat Darika mempertanyakan kembali keyakinannya. Dan di saat yang sama ia pun menyadari bahwa ia telah jatuh dalam pesona Juntharakan.

Mana yang lebih penting sekarang? Menyelamatkan Juntharakan dari Pitchaya atau menyelamatkan hati Darika sendiri?

“... ketika kau dicintai seseorang, pada saat yang sama, kau juga akan dibenci orang lain.” (Hal. 10 -11)

Jumat, 14 Oktober 2016

Garis Waktu



“Beberapa orang berhenti menyapa bukan karena perasaannya berhenti;
melainkan karena telah mencapai titik kesadaran untuk berhenti disakiti.” (Hal. 155)


Penulis: Fiersa Besari
Penyunting: Juliagar R.N
Penyunting akhir: Agus Wahadyo
Foto: Fiersa Besari
Penata letak: Didit Sasono
Desain cover: Budi Setiawan
Penerbit: Mediakita
Cetakan: Pertama, 2016
Jumlah hal.:  iv + 212 halaman
ISBN: 978-979-794-525-1

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang mengubah hidupmu untuk selamanya.

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau terluka dan kehilangan pegangan

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau ingin melompat mundur pada titik-titik kenangan tertentu.

Maka, ikhlaskan saja kalau begitu.
Karena sesungguhnya, yang lebih menyakitkan dari melepaskan sesuatu adalah berpegangan pada sesuatu yang menyakitimu secara perlahan.

***

“Hatimu bukan untuk kucuri, melainkan untuk kuminta baik-baik.” (Hal. 16)

Garis Waktu, adalah sebuah surat yang ditulis oleh tokoh “aku” untuk sosok “kamu”. Kisah dimulai dengan perkenalan “aku” dan “kamu” dan ditutup dengan akhir kisah “aku” dan “kamu”.

Dalam buku ini, pembaca akan disuguhi sebuah kontemplasi panjang dari sosok “aku”. Ia dengan semua pemikiran mendalamnya. Semua luapan isi kepala dan hatinya tentang banyak hal, terutama tentang “kamu” yang ada di hidupnya.

Jangan berharap menemukan dialog panjang seperti dalam cerpen atau novel. Sebab buku ini diisi oleh narasi dari sosok “aku”. Tapi bukan berarti tidak ada cerita yang disampaikan. Kisah percintaan “aku” dan “kamu” di dalam buku ini manis untuk diikuti. Meski pada akhirnya akan ada hati yang luka dan patah. Namun bukankah itu risiko jatuh cinta?

Nah, selamat menemukan sepenggal kisahmu dalam buku Garis Waktu ini. Sebab meski buku ini bercerita tentang kehidupan sosok “aku” namun ia menuturkan banyak hal yang mungkin saja serupa dengan salah satu cerita dalam hidupmu.

“Jangan memikat jika kau tak berniat mengikat.” (Hal. 19)

Kamis, 13 Oktober 2016

Hari Tak Selamanya Malam



“Hidup selalu seperti ini, ada yang datang dan pergi. Ada yang hadir untuk tetap tinggal, ada pula yang hanya singgah untuk kemudian meninggalkan. Ada yang pergi untuk sementara, ada pula yang pergi untuk selamanya dan tak pernah kembali.” (Hal. 149)

Penulis: Suryawan W.P
Editor: Septi Ws
Desainer sampul: Teguh
Penata isi: Tim Desain Broccoli
Penerbit: Grasindo
Cetakan: Pertama, Juli 2016
Jumlah hal.: v + 231 halaman
ISBN: 978-602-375-594-3

Pulang tidak selalu menjadi hal yang menyenangkan. Bagi Kalyana, pulang adalah rasa takut. Itu sebabnya Kalyana selalu menunda permintaan ayahnya untuk pulang ke Semarang. Namun, kali ini ia tak bisa mengelak lagi. Kalyana harus pulang. Ia harus menghadapi ketakutannya sendiri.

Sampai ketika Kalyana memutuskan untuk pindah dari Jakarta dan kembali ke kota asalnya, kecemasan tentang jati diri yang belum bisa dia bagi pada siapa pun, bahkan pada Radite –calon suaminya– tak juga hilang. Sebuah tragedi tentang keluarganya yang coba ia kubur dalam-dalam terus membayangi. Akankah Radite mau menikah dengannya bila ia tahu siapa Kalyana sebenarnya?
***

“Adakalanya pertanyaan menjadi begitu menakutkan.” (Hal. 1)

Kisah tentang skizofrenia sudah banyak ditulis dalam sebuah buku. Skizorenia adalah salah satu gangguan mental yang sering menjadi cerita dalam novel. Sudut pandang yang diambil pun beragam. Kali ini penulis mengetengahkan skizorenia dari sudut seorang anak yang ibunya menderita penyakit tersebut.

Menariknya, kisah ini dimulai dengan cara yang menarik. Kalyana, tokoh utama dalam novel ini, awalnya mengenal Kartina sebagai kakaknya. Kakak yang membuat ia dicap sebagai “adik orang gila”. Di sekolah ia di-bully saat orang-orang mengetahui bahwa ia memiliki seorang kakak yang gila. Ini membuat Kalyana tumbuh menjadi perempuan yang berbeda. Cenderung menutup diri. Ditambah lagi ibu dan ayahnya tidak pernah memerhatikan dirinya dan sibuk tenggelam dalam rutinitas mereka sebagai pemilik sebuah warung di Semarang.

Namun saat usianya 24 tahun, ia diberi tahu oleh orang yang selama ini ia anggap ayah dan ibunya bahwa Kartina sebenarnya adalah ibu kandungnya. Mereka yang ia pikir orangtuanya tidak lain adalah kakek-neneknya sendiri. Kebenaran ini menghantam telak Kalyana. Ia yang seumur hidup membenci Kartina atas kesulitan yang ia alami akibat memiliki kakak yang gila, kini dibuat menanggung rasa bersalah. Bagaimana mungkin ia membenci ibunya sendiri? Ia bahkan sering berharap agar Katina mati saja. Namun saat mengetahui bahwa Kartina adalah ibunya ia malah menjadi gamang. Ia ingin mencintai ibunya. Tapi di saat yang sama ia tahu ini akan memengaruhi seluruh kehidupannya. Terutama hubungannya dengan Radite, tunangannya. Bagaimana mungkin Radite dan keluarganya yang terpandang itu akan sudi memiliki menantu yang ibunya adalah penderita skizofrenia?

Di tengah kemelut ini, Kalyana jadi rajin mengunjungi rumah sakit jiwa tempat ibunya dirawat. Butuh waktu yang lama bagi Kalyana untuk datang menemui ibunya. Dan di tengah upayanya untuk mengumpulkan keberanian inilah ia berkenalan dengan Irsyad, anak kecil yang menderita skizofrenia; Delano, penderita yang sudah sembuh namun tidak kunjung dijemput oleh keluarganya; juga dengan Dokter Saka yang merawat ibunya di rumah sakit jiwa tersebut.

Pada akhirnya hubungan-hubungan baru ini mengisi kehidupan Kalyana. Di saat yang sama hubungan yang sudah lama terjalin tengah diuji. Bagaimana masa depan hubungan Kalyana dan Radite? Bisakah Kartina, ibu Kalyana, sembuh? Mampukah Kalyana mencintai ibunya?

Rabu, 12 Oktober 2016

10 Strategi Marketing Online ala BukaLapak



“Media sosial bukan hanya suatu aktivitas. Media sosial adalah sebuah investasi dari swaktu dan sumber daya yang berharga” – Sean Gardner, Pakar Media Sosial (Hal. 54)


Penulis: Merry Magdalena
Editor: Mira R., Monica Anggen
Penata isi: Sandy Kusuma
Desain Kover: Sandy Kusuma
Tim Riset: Tiara Iraqhia
Penerbit: Grasindo
Cetakan: 2015
Jumlah hal.: 125 halaman
ISBN: 978-602-3752-17-1

Bidang pemasaran atau marketing tidak pernah berhenti berevolusi dan berinovasi. Aktivitas yang sama tuanya dengan perdagangan ini terus mengikuti gaya hidup manusia. Ketika orang beramai-ramai melakukan transaksi online, marketing pun hadir di sana. Kita mengenalnya sebagai marketing online. Bagaimana para pebisnis, yang mulai menjajal dunia maya sebagai ajang bisnisnya harus menyesuaikan diri dengan sistem marketing online?

Buku ini hadir dan mencoba menjawab pertanyaan tersebut melalui 10 strategi yang ditawarkan. Sebagian strategi yang hadir di buku ini lahir dari obrolan inspiratif bersama Yuswohady, pakar marketing yang bertahun-tahun malang melintang menggeluti dunia marketing. Jika korporat-korporat dunia sudah sukses dengan strategi marketing online, mengapa pelaku UKM tidak ikut mencobanya?

“Internet atau online channel memberikan peluang yang luar biasa. Oleh karena itu, saya bilang bodoh sekali jika teman-teman UKM yang tidak punya kios, tidak mampu membeli ruko malah tidak memanfaatkan internet. Ini kesempatan yang luar biasa. Wadahnya ada, platformnya luar biasa, baik untuk promosi, atau menjangkau pelanggan. Sudah wajib pelaku bisnis UKM untuk going online,” kata Yushowady, pakar marketing yang sudah menulis lebih dari 40 judul buku marketing.

***

Buku ini didedikasikan bagi para pelaku usaha, khususnya Usaha Kecil Menengah  (UKM) yang kini sedang berjuang memasarkan produknya dan membesarkan usahanya dengan modal yang terbatas. Kehadiran internet memang memberi dampak yang besar di berbagai bidang, tidak terkecuali di dunia usaha.

Senin, 10 Oktober 2016

Caramel Macchiato



“.... Jangan percaya kalau ada yang bilang cewek lebih cantik pas nangis. Karena yang bener itu ... cewek berlipat-lipat lebih cantik daripada biasanya pas mereka tersenyum.” (Hal. 98)


Penulis: Iffah Ariqoh
Penyunting: Ikhdah Henny & Dila Maretihaqsari
Perancang & ilustrasi sampul: N.A. Zundaro
Perancang jaket: Musthofa Nur Wardoyo
Ilustrasi: N.A Zundaro
Pemeriksa aksara: Mia Fitri K & Intan Puspa
Penata Aksara: Martin Buczer
Penerbit: Bentang Belia
Cetakan: Pertama, Juni 2016
Jumlah hal.: viii + 168 halaman
ISBN: 978-602-1383-97-1

Bodoh! Payah! Keiza mengutuki diri sendiri saat melihat kejadian itu, Davian nembak cewek lain.

Harusnya Keiza yang ada di sana. Harusnya senyum Davian hanya untuk Keiza, seperti dulu. Harusnya Davian tetap berada di sampingnya, andai saja Keiza tidak melakukan kebodohan di masa lalu.

Sementara itu, saat Keiza ingin memperbaiki keadaan, ia mulai menerima pesan-pesan penyemangat pada kertas biru laut. perasaan Keiza terombang-ambing. Persoalan pelik ini membuatnya kebingungan. Sulit untuk tidak tersentuh oleh pesan-pesan manis itu, tapi move on dari Davian juga bukan perkara mudah.
***

“Ternyata, sakit ya, Sha. Nahan air mata jatuh itu sakit. .... Kenapa lo bisa nahan berkali-kali, sih, kalau sakitnya kayak gitu?” (Hal. 132)

Kisah cinta masa remaja memang tidak akan ada habisnya untuk di-eksplorasi. Masa putih abu-abu adalah masa yang banyak diwarnai oleh warna merah jambu. Ya kisah cinta menjadi salah satu hal yang paling penting di usia remaja, selain persahabatan tentu saja.

Ini pula yang dialami oleh Keiza. Awalnya hubungannya dengan Davian memberinya rasa nyaman. Ia merasa bahwa hubungan persahabatan mereka adalah hubungan yang paling berarti. Itu sebabnya ketika Davian menyatakan perasaannya pada Keiza, gadis itu menolaknya. Ia tidak ingin persahabatan mereka berubah. Sayangnya itu kesalahan. Davian akhirnya menjauh darinya. Dan bahkan menyatakan perasaan pada cewek lain yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri, Rika.

Di tengah kekalutannya dan upayanya mengobati hati yang patah, sebab ia sebenarnya juga menyukai Davian, hadir dua sosok baru dalam hidup Keiza. Ada Herjuno dan Aji. Mereka muncul memberi warna baru dalam hari-hari Keiza. Terutama Herjuno. Cowok itu selalu muncul di waktu yang tepat. Entah bagaimana.

Selain itu, kehadiran surat-surat misterius yang manis dan berwarna biru laut ikut memberi warna dalam kehidupan Keiza. Masa remaja adala masa yang akan memberi kenangan tersendiri.

Sayangnya, warna kehidupan tidak selalu berwarna cerah kan? Kadang kelam datang. Dan saat kenyataan pahit atas kehilangan orang yang dicintai dihadapkan pada Keiza, mampukah gadis itu menjalaninya?

***

Membaca novel remaja, selalu menimbulkan tantangan bagi saya pribadi. Karena bisa jadi saya akan disuguhi kisah yang biasa saja dengan cara yang juga sangat biasa, mengingat ide tentang percintaan di usia remaja sudah banyak dituturkan. Tapi sekali seorang penulis mampu melampaui kesan “biasa” ini, maka itu akan menjadi pengalaman baca yang menyenangkan.

Minggu, 09 Oktober 2016

Super Diary 1: Jika Aku Punya Mata Super, Apa Aku Bisa Melihat Allah?



“Demi Allah, apa mungkin kau melihat Allah? Yang kita lihat itu ciptaan Allah. Jarimu sembuh, itu adalah pesan Allah untukmu?

“Pesan apa?”

“Pesannya adalah: Super Kid, meskipun tanganmu terluka, Aku bisa menyembuhkannya tanpa rasa sakit. Jangan khawatir. Aku akan selalu bersamamu.” (Hal. 33)



Diterjemahkan dari edisi Bahasa Inggris: Super Diary 1: If I Have Super Eyes, can I See Allah?
Penulis: Zeynep Sevde Paksu
Ilustrasi: Irma Zmiric
Alih Bahasa: Tim Alif
Editor: Andriyati
Layout: Alfian
Penerbit: Alif (Imprint Republika Penerbit)
Cetakan: I, Maret 2016
Jumlah hal.: 93 halaman
ISBN: 978-602-0822-22-8

Aku menyembunyikan diary ini dari siapa pun, tapi ternyata kau menemukannya.
Ok, kau boleh membacanya sedikit. Aku tak keberatan kalau akhirnya kau tahu bahwa akulah “Super Kid”. Sungguh, aku tak sabar melihat kau terkejut setelah membaca diary-ku.

Mengapa bunga tak makan daging panggang? Benarkah Om Saleh yang membuat semua bintang-bintang di langit? Siapa yang menjahit jariku yang terluka? Aku menjawab banyak sekali pertanyaan sulit di diary ini.

Kau mau tahu bagaimana aku bisa melakukannya? Ya, karena aku Super Kid. Oke, baiklah! Nenekkulah yang menjawab semuanya. Tapi, apa bedanya? Pada akhirnya, Super Diary-ku, nenekku yang super, dan aku, kami membuat sebuah tim yang sempurna! Dan semakin lama, aku menyadari bahwa jika aku melihat dengan mata superku, aku bisa melihat Allah.
Mungkin kau juga punya mata super, hanya kau belum menyadarinya. Dengan begitu, kau juga bisa melihat Allah! Tapi, tentu saja kau tak bisa menjadi Super Kid sepertiku! Jangan terlalu senang dulu!
***
“.... Segala sesuatu memiliki keistimewaan. Bunga-bunga misalnya, mereka indah tapi tidak memiliki tangan sepertimu. Kau pun tak punya daun seperti mereka. Tapi baik bunga-bunga ataupun dirimu sama-sama istimewa. Allah menciptakan segala sesuatu dengan baik sekali.” (Hal. 59)
Ini adalah buku anak Islami yang memiliki narasa dan tampilan yang sama menariknya. Bahasannya tentang apakah kita bisa melihat Allah sangat menarik. Yang dibahas sebenarnya cukup berat. Bukankah pertanyaan tentang. “Kenapa kamu percaya Allah ada padahal kamu tidak bisa lihat Allah?” adalah pertanyaan yang bahkan hingga kita dewasa pun terus ditanyakan oleh sejumlah orang entah dengan niat menguji atau malah menggoyahkan keimanan kita.

Pertanyaan yang sebenarnya cukup sering diajukan oleh seorang anak pada orang tuanya dengan kepolosan. Di Indonesia, tidak jarang orang tua malah marah saat pertanyaan ini diajukan karena merasa akan sulit menjelaskannya. Namun keberadaan buku ini cukup membantu.

Jumat, 07 Oktober 2016

Take It Like a Mom



“Cukup mengejutkan sebenarnya – kehidupan nyataku sendiri justru lebih bagus daripada acara TV. Dan, apa sebenarnya yang telah kulakukan sehingga pantas mendapatkannya? Hanya berdiam dan menikmati peran sebagai seorang ibu!” (Hal. 387)


Penulis: Stephanie Stiles
Penerjemah: Ade Kumalasari
Penyunting: Utti Setiawati
Perancang sampul: Wirastuti
Ilustrasi cover & isi: iStock
Pemeriksa aksara: Fitriana & Pritameani
Penata aksara: tsbb
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: Pertama, April 2016
Jumlah hal: vi + 390 halaman
ISBN: 978-602-291-140-1

Wanita karier, make-up sempurna, selalu tampil modis, tanpa bulu kaki, perfect! Lupakan, lupakan, lupakan! Annie harus menyingkirkan sosok masa lalunya sebelum Robby hadir di dunia ini. Mencukur bulu kaki? Boro-boro, bisa mandi dengan tenang saja sudah sebuah anugerah di tengah kerepotan mengurus balita superaktif kecintaannya. Ia butuh jeda.

Di tengah-tengah masa merindukan “me time” itu, dua berita mengejutkan datang bersamaan. Ia hamil lagi, dan suaminya di-PHK. Mengurus satu saja rasanya luar biasa. Lalu, apa kabar biaya persalinan dan kebutuhan bayi serta balita? Badai mana lagi yang lebih buruk dari ini?

Belum lagi tahun ini Robby akan masuk preschool. Percayalah memilih sekolah untuk anak, menghadapi politik sekolah, serta persaingan dengan anak dan ibu lainnya di saat hamil itu, sungguh melelahkan!
***

“Mari kita bersikap realistis: kehamilan adalah pernyataan publik bahwa kau telah berhubungan seks – setidaknya sekali dan mungkin bahkan berkali-kali.” (Hal. 3)

Menjadi perempuan hamil jelas bukan hal yang mudah. Pengaruh hormonal (menurut berbagai hasil penelitian) membuat suasana hati ibu yang sedang hamil menjadi tidak terkendali. Ada kecenderungan perempuan menjadi mudah terharu dan sedih.

Nah, bagaimana jika kondisi kehamilan ini terjadi dalam situasi berikut: punya balita berusia 3 tahun; dan suami yang baru saja “dicadangkan” akibat kondisi perusahaan tempatnya bekerja mengalami krisis. Inilah yang dialami Annie. Dan sekeras apapun ia berusaha untuk tenang dan tidak terpengaruh oleh lingkungan yang mendadak terasa sangat menyebalkan dan muram, tetap saja ia tidak bisa berhenti memikirkan tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Akankah Alex, suaminya, bisa kembali bekerja di perusahaan tersebut? Atau ia sendiri yang harus kembali berkarir di luar rumah?

Di tengah semua kemelut ini, Annie sebagai ibu rumah tangga biasa mengalami masalah biasa. Ada tetangga yang senang mengkuliahi Annie tentang pengasuhan anak. Ada ibu kandung yang modis dan selalu membuat semua hal terasa salah karena rangkaian protes dan celaan yang disampaikannya. Senstif tingkat dewa.  Kemudian memiliki teman bercerita dan berbagi pengalaman terkait hal-hal tertentu. Bergosip!!!

Sejak awal kehamilan Annie selalu merasa bahwa kali ini akan menjadi masa kehamilan yang berat. Ia kehilangan kepercayaan diri karena pertambahan berat badannya yang meningkat pesat. Selera fashionnya yang tidak sebagus sahabatnya Jenn. Ibu yang tanpa henti merecoki dan berkomentar tentang banyak hal terkait dirinya, rumah tangganya, dan teman-temannya.

Namun tanpa ia sadari Annie dengan segala perlengkapannya sebagai seorang ibu dari balita yang berusia 3 tahun malah membuatnya menolong banyak orang. Hal-hal yang tidak terduga.

Apakah kehidupan sebagai full time mother dengan kondisi suami yang di-PHK, perut yang kian membuncit dan putra yang mulai belajar meniru kosa kata akan semenarik kehidupan saat masih menjadi perempuan kantoran dengan penampilan yang terawat dan tanpa seorang anak kecil pun yang perlu diurusi?

“(Omong-omong, empat puluh minggu itu sebenarnya  sepuluh bulan, kan? Siapa pun yang berkata kehamilan berlangsung selama sembilan bulan adalah pembohong kotor, nista, ehm, tukang tipu. Itulah sebutannya.)” (Hal. 6)

***

“Dan, kami ibu-ibu, yah, kami semua takut kalau tidak melakukan kontak sosial secara teratur, kami akan jadi pendekam rumah yang mengerikan, memesan baju dari katalog Fingerhut dan menimbun makanan kaleng di ruang bawah tanah.” (Hal. 8-9)

Kamis, 06 Oktober 2016

Melangkah dengan Bismillah



“Dan jika suatu kali kau bertemu dengan seseorang di mana saja yang suka tersenyum dan mengucapkan alhamdulillah, mungkin kau telah bertemu dengan anak cucu Ayub dan Rahmah. Kau bisa mengucapkan salam padanya.” (Hal. 23)


Penulis: Wikan Satriati
Editor: Andriyati
Cover dan ilustrasi: EorG
Penulis: Republika Penerbit
Cetakan: I, Maret 2016
Jumlah hal.: 92 halaman
ISBN: 978-602-0822-211

“Tahukah kamu, saat kamu menjawab ucapan assalamu’alaikum dengan wa’alaikumsalam, seribu malaikat akan mengucapkan salam pula padamu.”
“Benarkah?”
“Ya. Apakah kau tidak merasakannya?”
Si Bocah menggeleng.
“Suatu saat kau akan bisa merasakannya, Nak. Ketika kau menjadi lebih peka.”

***
Buku ini membingkai Kalimat Thayyibah: bismillah, alhamdulillah, subhanallah, assalamu’alaikum, lailahaillallah, dan astagfirullah dengan kisah-kisah, agar maknanya lebih mudah dimengerti, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan gembira oleh anak-anak.

***

“Saat seseorang ingin menyampaikan sesuatu dan orang lain tidak mendengarkan, itu seperti ada bara api yang bergejolak di perutnya, membakar dadanya, dan memanaskan kepalanya. Tetapi jika orang lain mendengarkan, bara api itu akan padam, dan yang ada kesejukan semata.” (Hal. 9)


Dalam buku ini ada 7 cerita yang mewakili masing-masing kalimat thayyibah, yakni: bismillah, alhamdulillah, assalamu’alaikum, subhanallah, lailahaillah, dan astagfirullah. Cerita terakhi berkisah tentang sebuah ladang yang berisi keenam kalimat thayyibah tadi.

Dalam kisah-kisah ini, penulis menggabungkan antara dongeng dan kisah Islami. Di cerita awal kita dikenalkan dengan kelembutan Rasullah. Kemudian ada juga kisah tentang Nabi Ayyub. Ada juga penggalan kisah tentang Umar bin Khattab yang dikisahkan sebagai bagian dari sebuah kisah. Ya, untuk cerita yang berjudul “assalamu’alaikum, Salam Sejahtera Bagimu”, pembaca disuguhkan cerita berlapis. Sebuah cerita yang di dalamnya mengandung cerita.