Kamis, 26 Mei 2016

[Review + Giveaway] Finding You Among the Stars


“Jatuh cinta adalah satu-satunya kegilaan yang dapat diterima.”(Hal.150)

Penulis: Eka Annisa
Penyunting: M. Adityo Haryadi
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, 2016
Jumlah hal.: 212 halaman
ISBN: 978-602-03-2754-9

Bagi Nadhira, Reo adalah bintang yang selalu menerangi hidupnya. Saat cowok itu meninggal, hidup Nadhira menjadi gelap. Dia menjadi lebih tertutup dan enggan bersosialisasi.

Sampai akhirnya Nadhira bertemu Haykel si mahasiswa menyebalkan di salah satu perpustakaan Jakarta. Herannya, cowok itu mengingatkan Nadhira pada Reo karena sama-sama menyukai alam semesta. Kemiripan itulah yang membuat hati Nadhira pelan-pelan terbuka.

Kedekatan Nadhira dan Haykel membuat Edgar –sahabat Reo- kesal. Bagaimanapun, Edgar lebih dulu menyukai Nadhira. Bahkan cowok itu rela melakukan apa pun demi Nadhira. Kegigihan Edgar pun membuat perasaan Nadhira goyah.

Selain itu, Nadhira juga dihadapkan pada kenyataan menyakitkan tentang asal-usul Haykel, kehidupan Edgar, bahkan misteri kematian Reo.
***

Novel ini bercerita tentang seorang remaja putri bernama Nadhira yang kehilangan kekasihnya, Reo. Sejak kematian Reo ia menutup diri, seolah tidak ingin satu orang pun menggantikan sosok Reo di hidupnya. Hingga suatu hari pertemuannya dengan Haykel meninggalkan kesan yang berbeda baginya. Pertemuan pertama yang menyebalkan ini berlanjut dengan pertemuan-pertemuan berikutnya yang entah bagaimana malah semakin mengingatkan Nadhira pada Reo. Ada sesuatu yang familier dalam diri Haykel.

Di sisi lain ada Edgar yang sudah lama menyimpan perasaan pada Nadhira. Ia selalu berusaha menjaga Nadhira. Menggantikan Reo. Sayangnya, Nadhira selalu melihatnya sebagai sahabat. Nadhira juga menganggap bahwa kebaikan Edgar karena mereka sama-sama merasa kehilangan atas kepergian Reo sebab Edgar pun bersahabat dengan Reo.

Namun ternyata kedekatan Nadhira dengan Haykel membuat Edgar tidak tenang dan memutuskan untuk menyampaikan perasaannya pada Nadhira. Nadhira pun dibenturkan pada banyak hal. Kenangannya dengan Reo, perasaan sayangnya pada Haykel dan Edgar, masa lalu Haykel, dan hubungannya dengan sahabat-sahabatnya yang lain.

***

Sudah cukup lama sejak terakhir kali saya membaca novel teenlit karya penulis lokal. Novel remaja selalu melibatkan sejumlah sisi kehidupan yang dianggap penting di usianya yaitu percintaan dan persahabatan. Pun dengan novel Finding You Among the Stars  ini. Kisah percintaan mengambil porsi paling besar disusul dengan kisah persahabatan.

Kisah percintaan di dalam novel ini sebenarnya bisa mengajarkan pembacanya untuk melihat bagaimana cara menghadapi kehilangan yang besar. Ingat, bagi remaja “selamanya” mungkin terasa amat dekat padahal sesungguhnya masa depan itu masih amat panjang dan jauh. Apa yang dirasa berat hari ini bisa jadi besok akan menjadi ringan. Apa yang diyakini penting hari ini bisa jadi tidak lagi sama pentingnya di masa depan.

Dalam hal penokohan, tokoh Haykel dan Edgar sama memikatnya. Membuat pembaca bingung ingin mendukung yang mana. Tapi kalo boleh sih saya mau Haykel buat diri saya sendiri saja, tidak usah untuk Nadhira *kemudian ditoyor penulisnya*. Tokoh Nadhira malah menjadi tokoh yang sangat labil dan terkesan tidak konsisten. Di satu sisi ia selalu ditampilkan sebagai sosok yang sulit melupakan kekasihnya yang sudah meninggal, di sisi lain saat terjebak di antara cinta Haykel dan Edgar gambaran itu seolah hilang.

Banyak informasi menarik yang ditemukan di dalam novel ini. Terutama terkait ilmu astronomi dan juga mitologi Yunani. Sayangnya belum benar-benar melebur dengan baik. Masih terdapat kesan tempelan.

Dan satu hal yang agak mengganggu saya yaitu kehadiran sosok Mamah, ibu kandung Reo, yang cukup besar. Sedangkan kehadiran Bunda Nadhira hanya muncul di saat penting. Hanya untuk menasihati Nadhira. Ini adalah hal yang sering saya temukan di dalam novel remaja. Porsi keluarga sangat minim.

Tapi di luar kekurang itu, novel ini tetap enak dinikmati oleh remaja karena menggambarkan kehidupan mereka dengan baik.
***
Quote Favorit
“Sebenarnya memilih itu mudah, ... Yang sulit adalah menerima konsekuensi dari pilihan kamu. Orang yang sedang pacaran, pasti melihat segala sesuatunya indah. Tapi saat semua itu terlihat kurangnya, yang benar-benar bekerja adalah hati yang diseimbangkan dengan logika.” (Hal. 193)
Quote ini punya banyak pesan sekaligus. Tentang memilih. Tentang perasaan cinta yang bisa memengaruhi cara pandang pada sesuatu. Hingga mengingatkan bahwa hati harus diupayakan agar seimbang dengan logika.

***
Giveaway Time!!!


Halo, Readers. Kali ini saya kembali datang membawa kabar gembira. Ada Giveaway berhadiah novel Finding You Among the Stars karya Eka Annisa ini. Penulisnya sudah berbaik hati menyediakan novelnya untuk dihadiahkan kepada 2 orang yang beruntung.

Mau jadi yang beruntung mendapatkannya? Caranya mudah:
1. Follow akun Eka Annisa dan saya. Boleh di twitter atau instagram boleh juga di kedua medsos tersebut.
a. Twitter: @KaAnnisa, @atriasartika
b. Instagram:, @atriasartika, @Eka.Annisa

2. Promosikan Giveaway ini di akun media sosial.
a. Twitter: pakai tagar #FindingYouAmongTheStars dan mention ketiga akun di atas
b. Instagram: repost postingan utuh #IGBookReview #FindingYouAmongTheStars yang ada di akun instagram @atriasartika
 Pssst..saya akan memilih satu pemenang di Instagram dan satu pemenang di twitter. Jadi dengan mempromosikannya di kedua akun sosmed tersebut, peluang kamu akan semakin besar, Readers.

3. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar postingan ini:
“Saya selalu merasa bahwa pasangan terbaik langit malam yang penuh bintang adalah laut tenang di malam hari karena laut malam hari. Kalau menurutmu, apa pasangan terbaik dari bintang?”
Jangan lupa sertakan data dirimu berupa nama, akun medsos (twitter/IG), email.

4. Periode Giveaway: 26 Mei – 1 Juni 2016
5. Hanya untuk yang berdomisili di Indonesia ya.

 Semoga bintang keberuntunganmu berkilau ya, Readers 

Always The Bride



“.... Aku benar-benar percaya bahwa pernikahan adalah untuk seumur hidup.” (Hal. 15)


Pengantin Baru (Lagi)
Penulis: Jessica Fox
Penerjemah: Alphonsus W.P.T Nugroho
Editor: Yuki Anggia Putri
Desain sampul: Yudi Nur Riyadi & Adlina
Ilustrator sampul: Dora Tatiana
Penerbit: Esensi (Divisi dari Penerbit Erlangga)
Cetakan: Pertama, 2016
Jumlah hal.: 240 halaman
ISBN: 978-602-7596-27-6

Tidak semua hal dapat berjalan sesuai keinginan kita.

Namun, Zoe Forster selalu berusaha untuk memiliki hidup sempurna. Jadi, ketika seorang cenayang pada pesta lajangnya meramalkan bahwa ia akan menikah dua kali, ia tidak ambil pusing. Semua orang tahu bahwa Zoe dan Steve ditakdirkan bersama selamanya.

Tetap saja, pernikahan fantastis macam apa pun harus menghadapi lika-liku di kemudian hari dan, dalam setahun, hal-hal tak terduga terjadi. Hadir pula seorang bintang film superseksi bernama Luke Scottman dalam kehidupan Zoe. Zoe dan Steve pun menemukan masa lalu masing-masing yang tidak seindah dugaan mereka. Tampkannya ramalan sang cenayang akan menjadi kenyataan...
***

“Persahabatan mereka jauh lebih penting untuk dirusak karena adanya rahasia.” (Hal. 30)

Bagi Zoe, semua hal bisa diatur agar berjalan dengan baik. Begitupun dengan kehidupannya. Memiliki seorang ayah yang tidak menjadikan pernikahan sebagai sebuah hubungan yang sakral ternyata meninggalkan bekas yang sangat mendalam bagi Zoe. Ini membuatnya selalu mendapatkan sesuatu yang mapan dan teratur.

Pernikahannya dengan Steve diyakininya sebagai hal yang akan melanggengkan hal itu. Ia menyukai Steve yang mudah ditebak dan teratur. Namun mengapa sesekali hati kecilnya merasa kecewa saat ia selalu mampu membaca kejutan yang disiapkan Steve.

Namun kadang kenyataan bisa berputar 180 derajat. Mendadak semua hal menjadi tidak tertebak dan tidak bisa diperbaiki oleh Zoe. Pernikahannya tidak seindah yang dia bayangkan. Steve punya masa lalu yang belum selesai dengan seorang perempuan yang kemudian hadir di tengah mereka. Begitu pun dengan Zoe. Ia punya masa lalu yang ingin dia sembunyikan terutama pada Fren, sahabat baiknya. Rahasia yang juga ia sembunyikan dari Steve. Rahasia yang melibatkan Luke Scottman, bintang film seksi yang sedang naik daun. Seolah masalah tidak lebih buruk, kehadiran Rufus yang juga sahabat Steve adalah masalah utama yang membuat simpul yang membelit Zoe semakin kusut. Laki-laki licik itulah yang paling banyak mengambil peran menghancurkan hidup Zoe.

Tapi yang paling Zoe sesalkan adalah bagaimana pernikahan yang harusnya tenang dan bisa dikendalikan oleh Zoe malah berjalan di luar kendali? Ia bahkan merasa bahwa ia tidak lagi bisa mengenali suaminya sendiri. Steve adalah sosok yang berbeda dari yang selama ini ditampilkan di depannya. Apakah itu juga membuat rasa cinta Zoe berakhir?

Apakah ramalan itu akan menjadi kenyataan?

Sabtu, 21 Mei 2016

Bridget: Si Ratu Sekolah



“Aku ingin kau mengerti bagaimana orang lain melihatmu. Aku ingin menunjukkan bahwa apa yang kaulakukan berpengaruh pada orang lain ... Kau harus belajara memahmi bahwa tempatmu di dunia ini  penting. Kau diberi kemampuan untuk memengaruhi orang lain, seperti halnya orang lain juga. Dan sangatlah penting –bahkan vital– bagimu untuk melalukan hal yang baik dengan kemampuanmu itu.” (Hal. 177)



Judul Asli: Here Lies Bridget
Penerjemah: Inosensus Rotorua
Editor: Yuki Aggia Putri
Cover & ilustrator: Satrio Abe
Penerbit: Esensi (Divisi dari Penerbit Erlangga)
Cetakan: Pertama, 2016
Jumlah hal.: 238 halaman
ISBN: 978-602-6847-01-0

Bridget adalah gadis yang cantik dan populer di sekolahnya. Sayangnya, ia sangat sombong, egois, dan bersikap seenaknya sendiri. Suatu hari, gadis bernama Anna Judge pindah ke sekolahnya. Ia langsung disukai semua orang karena sifatnya yang baik. Sejak itu Bridget merasa dunianya jungkir balik karena semua yang dimilikinya direbut oleh Anna, termasuk sahabatnya.

Satu demi satu peristiwa menjengkelkan terjadi pada Bridget. Semakin ia berusaha merebut kembali apa yang menurutnya miliknya, semakin menjauh hal-hal itu darinya. Bridget pun tak tahan lagi. Ia melakukan sesuatu yang ekstrem tanpa memikirkan risiko terburuknya: mencelakai diri sendiri demi mendapatkan perhatian.

Siapa sangka, Bridget malah terdampar di alam antara hidup dan mati. Ia tak mampu berbuat apa-apa selain menunggu keputusan apakah ia akan hidup atau mati. Ia hanya diberi sedikit waktu untuk menyadari semua kesalahannya dan meminta maaf pada orang-orang yang disakitinya.

Tapi, apakah itu cukup? Apakah ia pantas diberi kesempatan kedua? Inikah akhir hidup Bridget?

***
Novel ini berkisah tentang tokoh utama bernama Bridget Duke. Bridget adalah gadis yang populer di sekolahnya. Ia menjadi pusat perhatian. Saat ia melintas, orang-orang memberinya jalan. Sebagian besar siswa di sekolahnya ingin berkencan dengannya dan sebagian besar siswi ingin menjadi temannya.

Namun lambat laun banyak yang berubah. Kehadiran anak baru di sekolahnya, Anna Judge, mempertegas perubahan tersebut. Popularitas Bridget berubah. Dari diperbincangkan dengan penuh kekaguman menjadi dicibir. Dari yang menjadi pusat perhatian menjadi dipojokkan. Satu persatu semuanya berubah menjadi buruk.

Mantan kekasih yang masih sangat dicintai Bridget, Liam, dekat dan akrab dengan Anna. Sahabat-sahabatnya menyukai Anna dan ingin mengenal gadis itu. Dan tidak butuh usaha keras dari Anna untuk disukai semua orang. Kebaikan hati Anna yang menjadi penyebabnya. Kebaikan hati yang kini tidak dimiliki lagi oleh Bridget.

Saat Bridget merasa semua hal berada di luar kontrolnya, ia pun melakukan hal ekstrim yang membawanya ke persimpangan kehidupan. Antara hidup dan mati. Ia pun diperlihatkan satu persatu sifat dan tindakannya. Membuatnya berharap mendapatkan satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semua. Bisakah Bridget mendapatkan kesempatan itu? Ataukah ia harus mati dengan segudang penyesalan?

Senin, 16 Mei 2016

[Review + Blogtour Giveaway] Memorabilia



“Banyak orang yang punya kekurangan dan ketidakpastian dalam hidup, tapi mereka selalu punya jalan keluar: menekuni hal yang mereka sukai. Pikirkan apa yang kamu sukai, Sofia. Maka setiap kekurangan dan ketidakpastian dalam hidupmu, bisa kamu atasi ....” (Hal. 55)



Penulis: Sheva
Penyunting: Donna Widjajanto
Perancang dan ilustrasi sampul: NA Zundaro & labusiam
Ilustrasi isi: Tubagus Dika
Pemeriksa aksara: Septi Ws & Faradila Totoy
Penata aksara: Martin Buczer
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: Pertama, 2016
Jumlah hal.: vi + 294 halaman
ISBN: 978-602-291-124-1
Jingga membangun bisnis majalah online Memorabilia bersama Januar dan Karsha. Media ini memuat beragam kisah kenangan di dalam barang-barang yang hendak dijual atau diberikan kepada pembaca yang tertarik.

Namun, bisnis itu sedang di ujung tanduk. Jumlah pembaca menurun seiring dengan berkurangnya pemasukan iklan yang menjadi tulang punggung Memorabilia. Di saat sulit itu, datang Pak Pram membawa proyek besar. Ia ingin menjual gedung bioskop tua miliknya lengkap dengan segudang kisah kenangan. Semua bersemangat, kecuali Jingga. Ia selalu berusaha menolak tawaran Pak Pram. Di matanya, bioskop itu menyimpan trauma yang sangat mengerikan, yang selalu ia simpan sendirian.

Sebenarnya Jingga dilema, antara ingin menyelamatkan Memorabilia, atau terus melayani ketakutan masa lalunya. Selama ini Jingga membantu banyak orang melepaskan kenangan pahit, tetapi tak mampu menolong dirinya sendiri. Dalam kalutnya Jingga, Januar mencoba masuk lebih dalam ke kehidupan gadis itu. Ia berusaha meyakinkan Jingga agar berani melepas kepedihan selama ini, bersamanya.
***
“Sebuah barang menjadi memorabilia karena kisah yang menyertainya, bukan karena mahal atau murahnya.” (Hal. 12)
Novel Memorabilia ini bercerita tentang Jingga yang menjalankan sebuah usaha beruapa majalah online “Memorabilia”. Memorabilia web magazine ini menjadi media untuk mereka yang ingin melepaskan atau menemukan pemilik baru bagi benda yang memiliki nilai historis tersendiri bagi mereka (Hal. 11).

Jingga merintis usaha ini bersama dua orang sahabatnya, Januar dan Karsha, sejak mereka kuliah hingga akhirnya itu menjadi proyek serius bagi mereka bertiga. Bagi mereka Memorabilia ini juga menjadi medium untuk membuktikan sesuatu ke orang tua mereka masing-masing. Bahwa mereka kelak akan sukses dengan pilihan karir mereka.

Suatu hari Memorabilia terancam akan berakhir. Pengiklan terbesar yang menjadi sumber penghidupan majalah ini berniat menarik iklannya dari Memorabilia. Mereka mensyaratkan agar Memorabilia ini memiliki pembaca yang lebih banyak lagi jika ingin rencana tersebut dibatalkan.

Peluang menyelamatkan Memorabilia muncul melalui Om Pram yang ingin menjual Bahagia Theater miliknya. Namun sayangnya, gedung bioskop tua ini ternyata menyimpan sebuah kenangan yang kelam bagi Jingga. Kenangan yang tidak ia bagi dengan sahabat-sahabatnya. Akhirnya Jingga terjebak dilema. Tidak menanggapi kerjasama dengan Om Pram dengan resiko Memorabilia berakhir atau menghadapi masa lalunya.

Selain kisah Jingga sebagai kisah utama dan benang merah di dalam novel ini, terselip sejumlah kisah lain. Kisah dari mereka yang ingin menjual benda yang punya arti bagi mereka ke Memorabilia. Ada kisah Sofia dengan keping CD rekamana permainan pianonya yang jadi pengingat tentang bagaimana rasanya melepaskan impian.
“Ada cita-cita yang hilang, kesempatan yang terbuang dan cinta yang pergi.
Ada cita-cita yang selalu ingin direngkuh, tetapi kesempatan itu telah pergi.
Ada kesempatan manis yang telah pergi, bersama dengan cinta yang mungkin tidak kembali.” (Hal. 74)

Ada juga kisah Pandu dengan dengan sebuah kupon buatan tangan yang diberikan oleh orang yang ia cintai. Kupon yang mengingatkannya tentang betapa rapuhnya sebuah hubungan. Kupon yang mengingatkannya bahwa kesempatan kedua layak untuk diperjuangkan.

Masih ada kisah-kisah lain yang terserak dari para pengguna jasa Memorabilia. Kisah-kisah ini menyisakan banyak pesan. Namun yang paling menarik adalah kisah Bahagia Theater.

Apa sebenarnya kenangan yang dimiliki Jingga dengan gedung itu? Dan bagaiamana nasib gedung bioskop tua tersebut? Bagaimana nasib Memorabilia yang diperjuangan oleh Jingga dan kedua sahabatnya sejak dulu?

People of the Book




Penulis: Geraldine Brooks
Alis bahasa: Femmy Syahrani
Editor: Siska Yuanita
Desain sampul: Erwin Indrawan
Penerbit: Gramedia
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: 504 halaman
ISBN: 978-602-03-1447-1

Tahun 1996, Hanna Heath, pakar buku langka, ditawari pekerjaan hebat: analisis dan konservasi naskah Irbani misterius berhias ilustrasi indah, dibuat di Spanyol abad ke-15 dan baru diselamatkan dari kehancuran saat perpustakaan Sarajevo dibombardir. Saat Hanna menemukan serangkaian artefak kecil dari jilid kuno buku itu, dia mulai membongkar kisah dramatis tentang orang-orang yang membuat buku itu dan yang mempertaruhkan segalanya untuk melindunginya.

Di Bosnia pada Perang Dunia II, serang Muslim mempertaruhkan nyawa untuk melindungi buku ini dari Nazi. Dalam ruang-ruang tamu yang hedonis pada akhir abad ke-19 di Wina, buku itu menjadi pion dalam perlawanan terhadap anti-Semitisme yang mulai berkembang. Di Venesia tahun 1609, seorang pastor Katolik menyelamatkan buku itu dari api Inkuisisi. Di Terragona tahun 1492, juru tulis yang menulis teks buku itu melihat keluarganya dihancurkan  akibat pengasingan paksa. Di Sevilla tahun 1480, alasan di balik ilustrasi luar biasa naskah itu akhirnya terungkap. Penyelidikan Hanna menjebloskannya ke dalam intrik pemalsuan karya seni dan fanatisme ultranasionalis. Pengalamannya akan menguji keyakinannya pada diri sendiri dan pada pria yang dicintainya.

People of the Book yang diangkat dari kisah sejati ini sarat suara dari masa lampau, tetapi suara Hanna menjadikan petualangan ini memikat, melampaui fiksi sejarah.

***

“... tapi setidaknya merpati tidak menyakiti siapa-siapa. Elang hidup dengan mengorbankan makhluk lain yang menghuni gurun.” (Hal. 78)


Novel ini bercerita tentang tokoh Hanna yang bekerja sebagai konservator buku tua. Ia sering kali berhadapan dengan perkamen tua. Keahliannya membuatnya bisa memperlakukan sebuah naskah secara layak. Melakukan sejumlah hal untuk membantu buku tua tersebut bertahan agar bisa terus dapat memberi pelajaran dan menuturkan kisah-kisah di baliknya. Hanna mengumpulkan serpih-serpih yang tertinggal di buku tersebut untuk dimanfaatkan sebagai cara untuk “membaca” perjalanan yang dialami oleh buku tersebut. Hal inilah yang dilakukan oleh Hanna kepada haggadah Sarajevo.

Jika membaca Kata Penutup di dalam buku ini, maka saya meyakini bahwa kisah tentang haggadah tersebut nyata. Namun dibumbui oleh fiksi yang memikat. Tentang porsi fiksi dan faktanya? Biarlah penulis dan orang-orang yang tahu tentang haggadah tersebut yang tahu.

Di novel ini, setiap chapter membahas kisah masing-masing, terutama kisah terkait benda dan unsur yang ditemukan di haggadah tersebut yang diyakini akan bisa menjelaskan apa yang telah dilalui oleh buku tersebut. Chapter Sayap Serangga, Bulu dan Mawar, Noda Anggur,  Air Asin, dan Sehelai Bulu Putih adalah sebuah kisah yang berdiri sendiri-sendiri yang terkait dengan noda yang ada di  haggadah tersebut. Ada juga chapter Hanna yang menyelingi setiap chapter tadi yang memberikan warna tersendiri bagi seluruh cerita. Menyuguhkan kisah pribadi Hanna yang membuat pembaca bisa merasa simpati pada perempuan cerdas ini.

Seluruh cerita disatukan dengan indah. Seindah pelangi. Seindah ia ingin memperingatkan kita bahwa perbedaan yang dipertajam akan membawa kehancuran.

***

Novel ini dibuka dengan sebuah peta yang indah. Meski saya buta arah. Ya, navigasi saya sangat buruk. Namun peta yang ditampilkan cukup menarik. Ada gambar kupu-kupu, ada gambar sejumlah bangunan yang terkait dengan keseluruhan kisah ini. Kelak setelah selesai membaca seluruh buku barulah saya memahami peta ini.

Senin, 02 Mei 2016

[Blogtour + Giveaway] Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta

 


Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta
Penulis: Suarcani
Penerbit: Jendela O' Publishing House
Penyunting Naskah: Yenita Anggraini
Penyelaras Aksara: Deasy Serviana
Perancang Sampul: eSLC Project
Penata Letak: Refa Annisa
Cetakan: Pertama, Maret 2016
Jumlah hal. : vii + 226 Halaman


Kompasmu, apakah kamu memperhatikannya? Ada dua arah di sana. Utara dan selatan. Sama halnya seperti matamu sendiri, arah itu menyelamatkanmu dari kesesatan. Tapi kompas milikku buta. Tidak ada utara selatan dalam hidupku, semua hanyut dalam ketakutan dan masa lalu. Lima belas tahun penjara mencuri jarum kompasku dan setelah bebas, aku pun masih belum tahu ke mana arah hidupku.

Aku pembunuh, korban hasrat yang menyimpang. Dunia luar menungguku, berpura-pura menyambutku dengan semarak, untuk kemudian kembali meremukkanku dalam ketakutan.

Aku butuh jalan, butuh mata kompasku. Apakah kamu bisa membantuku menemukannya?

Aku Ravit, bekas tahanan yang kini kembali terpenjara rasa takut.


***

Novel ini adalah novel dengan genre yang sangat jarang saya temui di Indonesia. Novel ini lebih cocok dikategorikan dalam genre novel spiritual dan drama kehidupan.

Novel ini mengetengahkan kehidupan seorang mantan narapidana bernama Ravit. Ia masuk penjara saat remaja dan harus mendekam di sana selama 15 tahun. Saat keluar, ia bukannya bahagia malah ketakutan.

Bagaimana mungkin ia bahagia jika tidak ada yang menanti kepulangannya. Tidak ada rumah yang bisa ia tuju selain tempat di mana kegetiran masa lalu yang memberinya trauma mendalam. Satu-satunya yang mau nanti kebebasannya hanyalah Om Rus, adik kandung ibunya.

Dengan bantuan material dari Om Rus, Ravit menjalani masa-masa awal kebebasannya. Namun ketakutan yang hadir membuatnya tidak mampu menghadapi dunia di luar tembok penjara. Manusia-manusia yang membuatnya merasa aneh. Dan ia tidak mampu menghadapi trauma masa lalunya sekaligus masa lalu yang ia miliki sebagai narapidana.

Apa sebenarnya yang terjadi di masa lalu Ravit hingga ia selalu ketakutan saat membaca berita tentang pemerkosaan, pedophilia, ataupun saat melihat ketertarikan seksual di mata seseorang?

Bagaimana Ravit bisa menjalanani masa depan yang selalu dibayangi masa lalu itu?