Minggu, 24 April 2016

The Geography of Love




Judul asli: Liebe in Zeiten de Cola
Penulis: Peter Theisen
Penerjemah: Amanda Clara
Penyunting: Ridwana Saleh
Proofreader: Emi Kusmiati
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, Oktober 2015
Jumlah hal.: 400 halaman
ISBN: 978-601-1637-77-7

Rasa Coca-cola di mana-masa sama;

Tapi bagiaman rasanya cinta?
Di Georgia, kulit domba yang dihamparkan artiya siap menuju pernikahan. Di Indonesia, adat Minangkabau, orang yang naik dan turun dari tangga yang sama artinya menabuh genderang perang pada keluarga pengantin. Pada pesta-pesta pernikahan di Zanzibar, kaum perempuan mabuk buah pala hingga tak sadarkan diri.

... sesungguhnya apa persamaan cinta dalam berbagai budaya di dunia? Peter Theisen mencari jawabnnya dengan berkeliling dunia dalam petualangan “Tour d’amour” yang menegangkan sekaligus lucu.
***
Buku ini adalah sebuah tulisan non-fiksi yang ditulis dengan gaya bahasa populer. Sehingga meskipun membahas hal yang cukup berat yakni terkait budaya, namun tetap enak untuk dibaca. Jika membaca karya ilmiah dengan bahasa ilmiah dengan ketebalan 400 halaman tentu sudah banyak pembaca yang melambaikan tangan dan menyerah sejak 10 halaman pertama. Namun gaya berceritanya yang mengalir dan santai serta memasukkan pengalaman indrawi membuat buku ini enak untuk dinikmati.

Buku ini terbagi menjadi beberapa bagian yakni:
- Prolog
- Georgia, Negerinya Tabu
- Zanzibar, Dua Pesta Perkawinan dan Serunya Gelak Tawa
- Sumatra, Seorang Macho di Sekumpulan Wanita Kuat
-Polinesia, Apakah Bebas Bercinta
- Epilog, Perayaan Kelulusan

Dalam buku ini, penulis membawa pertanyaan yang sama ke setiap negara yang dikunjunginya. Bagaimana orang merayakan cinta di negara tersebut? Ia meneliti tentang cinta. Maka ia akan berusaha mencari tahu tentang pernikahan dan seks di negara tersebut.

Menariknya setiap negara ini memiliki caranya masing-masing. Tapi semuanya ternyata sudah mulai mendapat pengaruh dari globalisasi, namun dengan skala yang berbeda. Di Georgia dia menemukan bahwa keperawanan masih sangat berarti di negara tersebut dan pengaruh gereja sangat kuat. Membicarakan seks dianggap sebagai hal tabu. Namun ternyata itu tidak benar-benar mencegah seks sebelum menikah dan malah menjadi pemicu menjamurnya klinik yang menyediakan jasa mengembalikan keperawanan. Merasa mengenal fenomena ini?

Di Georgia juga ada yang namanya tradisi penculikan pengantin. Ini sebenarnya lebih seperti jebakan pernikahan bagi perempuan. Mereka diculik, kemudian dinodai hingga tidak memiliki pilihan lain selain menikahi pria tersebut. Syukurlah fenomena ini sudah sangat jarang terjadi dan sudah dianggap sebagai tindakan kriminal di Georgia. Penjelasan lebih lengkapnya bisa dibaca di buku ini ya.

Itu baru satu negara. Bagaimana 3 negara lainnya? Dan kira-kira apa yang ditemukan oleh penulis saat mengunjungi Minangkabau ya? Semuanya disuguhkan dengan menarik.

Critical Eleven



“Toko buku itu bukti nyata bahwa keberagaman selera bisa kumpul di bawah satu atap tanpa harus saling mencela. .... Bookstores are the least discrimination place in the world. ...” (Hal. 14)


Penulis: Ika Natassa
Editor: Rosi L Simamora
Desain sampul: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: 344 halaman
ISBN:978-602-03-1892-9

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critcal eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat –tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing– karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It’s when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it’s kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah –delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu atau justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Aya.

Kini, lima setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.
Diceritkan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya atau, justru keduanya.
***

“..., bandara itu seperti tempat perpisahan sementara. A temporary break form my mundane life.” (Hal. 5)

Novel ini bercerita tentang kehidupan pernikahan Ale dan Anya. Pernikahan yang tengah diguncang prahara. Sebuah musibah ternyata bukannya menguatkan ikatan di antara keduanya, melainkan malah menjauhkan mereka.

Keguguran yang dialami oleh Anya ternyata membuat mereka dirundung duka berkepanjangan. Pernikahan yang berusia 4 tahun itu kini terancam berakhir. Pernyataan yang salah yang datang dari Ale di sebuah malam, 2 pekan setelah kepergian bayi kecil mereka. Pernyataan yang membuat Anye menyimpan sakit hati berkepanjangan. Membuat mereka pisah ranjang, hidup serumah namun tidak saling sapa.

Dan kini pergulatan batin itu menguat. Anya yang ingin mengakhiri pernikahan mereka dan Ale yang ingin mempertahankan apa yang dulu ia miliki bersama Anya. Bagaimana akhir hubungan ini? Bisakah pernikahan bahagia yang mereka alami selama 3 tahun membuat mereka mampu mengarungi duka yang merundung mereka beberapa bulan terakhir?


“Airport is the least aimless place in the world. Everything about the airport is destination.” (Hal. 6)

***
“Berani menjalin hubungan berarti berani menyerahkan sebagian kendali atas perasaan kita kepada orang lain. (Hal. 8)

Sebelum membaca ulasan ini, saya ingin memberitahukan bahwa ulasan ini mungkin dirasa cukup tajam. Tapi yang kenal dengan saya pasti paham bahwa sejak dulu saya memang sering mengetengahkan kekurangan sebuah buku sebagai bentuk kejujuran saya. Saya enggan digugat oleh mereka yang membaca review saya karena menganggap saya terlalu memuji sebuah buku namun ternyata mereka kecewa setelah membaca buku itu. Kemudian menyalahkan saya.

Dan mengingat novel ini adalah sebuah novel best seller, maka saya enggan berdrama panjang dengan penulis maupun penggemarnya. Saya hanya berusaha untuk fair dalam mengulas buku ini. Meski harus saya akui bahwa sejak awal, saya punya ekspektasi tinggi terhadap buku ini karena label “best seller”-nya.
Ok, saya mulai menyampaikan opini saya ya :)

Novel ini mengangkat tema pernikahan dan dinamikanya. Diceritakan bahwa Anya dan Ale “dulunya” adalah pasangan yang berbahagia. Perkenalan pertama yang manis, pacaran setahun, dan pernikahan 3 tahun hingga akhirnya Anye pun hamil, itu adalah kebahagiaan yang mereka miliki. Namun kemudian tidak lama sebelum tanggal perkiraan melahirkan Anye, bayi yang mereka tunggu-tunggu ternyata tidak terselamatkan. Kemudian di saat duka masih menyelimuti, sebuah pernyataan dari Ale malah melukai hati Anye.

Ok, itu garis besar masalahnya. Yang jadi pertanyaan saya adalah ada sebuah logika yang bolong di sini. Saya paham bahwa Anya pastilah pihak yang paling bersedih. Merasakan 9 bulan kehamilan namun tidak bisa melihat anak yang dikandung menangis dan memeluk tubuh hangatnya pastilah hal yang berat (naudzubillah min dzalik. Semoga tidak ada perempuan yang harus mengalami ini di kehidupan nyata). Namun apakah layak sebuah masalah akibat pernyataan yang dilontarkan Ale yang seolah menyalahkan Anya layak dijadikan batu sandungan yang sebesar karang?

Logikanya, mereka sudah 3 tahun menikah. Komunikasi pastilah sudah terbangun dengan baik. Enggak mungkin selama menikah mereka hanya have fun saja kan? Lagi pula mereka sudah pacaran selama setahun sebelum memutuskan untuk menikah. Aku dan suami yang menikah kurang dari setahun (dan enggak pakai pacaran dulu) sudah beberapa kali bertengkar cukup hebat. Tapi kuncinya adalah komunikasi. Kami memang bertengkar. Marahan. Namun kami belajar berbaikan. Belajar saling bicara dan berusaha berdamai.

Selain itu, penggambaran di keseluruhan cerita, Anya sangat memuja suaminya. Penampilannya, keterampilannya, sifat dan sikapnya, lantas kenapa ia mendadak merasa tidak mengenal suaminya sendiri? Ini membuat tokoh Anya tidak konsisten dalam hal karakter. Ia digambarkan sebagai perempuan yang modern. Dengan pikiran yang terbuka. Kemampuan bersosialisasi yang baik. Lantas kenapa di masalah ini ia menjadi orang yang berpikiran sempit? Bahkan setelah berbulan-bulan masalah itu menggantung di antara dia dan Ale? Jika memang ia berkarakter semodern itu, kenapa tidak menghadapi suaminya saja. Kemana kemandirian dan percaya dirinya sebagai perempuan modern?

Ini membuat penggambaran kehidupan pernikahan yang disampaikan oleh penulis dalam konflik ini terlalu didramatisasi. Logikanya jadi missing. Sayangnya, missing ini malah jadi fatal karena inilah inti konflik di dalam novel ini. Ditambah lagi ending yang terasa anti-klimaks. Berbulan-bulan saling mendiamkan kemudian endingnya terasa terlalu “mudah”.

Di luar kekurang itu, novel ini sebenarnya cukup menarik. Banyak filosofi kehidupan yang menarik untuk dibaca dan dipikirkan. Namun rasanya di beberapa bagian, novel ini terlalu informatif. Terpaksa membuat saya membaca cepat  beberapa paragraf tertentu karena merasa tidak terlalu terkorelasi dengan konflik cerita.

Oiya, pilihan penulis menggunakan alur campuran adalah pilihan yang bagus untuk menyuguhkan cerita ini . Pun penggambaran cerita dari sudut pandang orang pertama secara bergantian antara Anya dan Ale membuat seluruh konflik bisa terbaca dengan baik oleh pembaca.

Tapi sedikit pertanyaan dari saya pribadi. Jika Ale digambarkan sebagai muslim taat yang ketika nonton film di bioskop memilih keluar untuk shalat fardhu, kenapa dia pelihara anjing ya? Dan kenapa Ale digambarkan tidak memiliki pergulatan batin terkait kesenangan Anya minum minuman keras ya? Ini malah menunjukkan bahwa tokoh-tokoh utama di Critical Eleven ini kurang konsisten.

Ok, sekian sedikit pendapat saya tentang novel ini. Ini adalah buku pertama Ika Natassa yang saya baca. Dan sejujurnya, rasanya karyanya tidak cocok dengan saya. :)


“Di pesawat, di bus, di kereta api, berjalan kaki, it somehow brings you to a whole other dimension more than just the physical destination.” (hal. 9)

***
“Di tempat yang paling seru sekalipun, kita pasti punya batas kebetahan di situ. We need an escape  plan, penting punya pilihan untuk pergi kapan pun kita mau.” (Hal. 12)
“Hati itu bisa disetel kayak AC, Nya. Kalau dulu lo terlalu cepat hangat sama orang, bukan berarti setelah lo pernah sakit dan setelah gue bilang jangan terlalu cepat pakai hati, AC hati lo itu langsung lo turunin serendah-rendahnya. Lo tuh udah kayak freezer sekarang. Distel dikit gitu lho, Nya.” (Hal. 15)
“Waktu adalah satu-satunya hal di duni ini yang terukur dengan skala sama bagi semua orang, tapi memiliki nilai berbeda dengan setiap orang. Satu menit tetap senilai enam puluh detik, namun lamanya satu menit itu berbeda bagi orang yang sedang sesak napas kena serangan asma, dengan yang sedang dimabuk cinta.” (Hal. 17)
“You just cannot exist without memory. Adanya kita tidak utuh tanpa ingatan.” (Hal. 22)
“Sebagai laki-laki, tugas utama kita adalah mengambil pilihan terbaik untuk diri kita sendiri dan orang-orang yang dekat dan tergantung pada kita. Sering proses mengambil pilihan ini nggak bisa sebentar, Le, harus sabar.” (Hal. 31)
“Lagi pula, aku pikir cinta itu untuk dirasakan sendiri kan, bukan untuk dijelaskan ke orang lain?” (Hal. 36)
“Kata orang, saat kita berbohong satu sekali, sebenarnya kita berbohong dua kali. Bohong yang kita ceritakan ke orang dan bohong yang kita ceritakan ke diri kita sendiri.” (Hal. 57)
“Kata orang, waktu akan menyembuhkan semua luka, namun duka tidak semudah itu bisa terobati oleh waktu. Dalam hal berurusan dengan duka, waktu justru sering menjadi penjahat kejam yang menyiksa tanpa ampun, ketika kita terus menemukan dan menyadari hal baru yang kita rindukan dari seseorang yang telah pergi itu, setiap hari, setiap jam, setiap menit.” (Hal. 95)
“To women, how you deliver the message is sometimes more important than the message itself.” (Hal. 187)
“Hujan dan kenangan bukan perpaduan yang sehat untuk seseorang yang sedang berjuang melupakan.” (Hal. 190)
“Nya, orang yang membuat kita paling terluka biasanya adalah orang yang memegang kunci kesembuhan kita.” (Hal. 254)

Sabtu, 23 April 2016

[Early Review] Purple Eyes




Penulis: Prisca Primasari
Penyunting: Carberus404
Proofreader: Seplia
Design Cover: Chyntia Yanetha
Penerbit: Inari (imprint Penerbit Haru)
Cetakan: Pertama, Mei 2016
Jumlah hal.: 144 halaman
ISBN: 978-602-74322-0-8
"Karena terkadang,
tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi."

Ivarr Amundsen kehilangan kemampuannya untuk merasa. Orang yang sangat dia sayangi meninggal dengan cara yang keji, dan dia memilih untuk tidak merasakan apa-apa lagi, menjadi seperti sebongkah patung lilin.

Namun, saat Ivarr bertemu Solveig, perlahan dia bisa merasakan lagi percikan-percikan emosi dalam dirinya. Solveig, gadis yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya. Solveig, gadis yang misterius dan aneh.

Berlatar di Trondheim, Norwegia, kisah ini akan membawamu ke suatu masa yang muram dan bersalju. Namun, cinta akan selalu ada, bahkan di saat-saat tergelap sekalipun.
***
Pernahkah membayangkan, setelah seseorang meninggal ia akan pergi ke mana? Adakah ke surga dan neraka? Ataukah transit dahulu di sebuah tempat?

Dalam novel ini, penulis mengujak kita berpetualang ke  negeri imajinasinya. Tempat di mana manusia singgah sesaat sebelum memutuskan apakah ingin melanjutkan hidup atau lebih baik mati saja.

Apakah pernah mendengar nama “Hades”? Ya, dia adalah nama yang erat kaitannya dengan mitologi serta kematian. Pernah membayangkan wajah Hades? Ah, dewa-dewa selalu digambarkan tampan. Hades adalah ketampanan yang membawa kengerian. Namun, di dalam “Purple Eyes” ini kita akan mendapati betapa tampannya Hades.

Ok, baiklah. Maaf sudah melantur ke berbagai arah. Kisah dalam novel ini bukanlah menjadikan Hades sebagai tokoh utama. Melainkan asistennya Lyre, atau yang kemudian berubah nama menjadi Solveig. Hades dan Lyre pergi ke bumi tempat manusia yang masih hidup tinggal. Mereka memiliki sebuah misi.

Demi misi ini, Hades menyuruh Lyre untuk menemui Ivarr. Seorang pemuda Norwegia yang adiknya baru saja meninggal. Hades sempat berpesan. “Jangan jatuh cinta padanya, ..., Sebaliknya, buat dia jatuh cinta kepadamu.” (Hal. 42).

Sayangnya pesan ini, meski sangat jelas tetap saja tidak bisa menghentikan perasaan Lyre. Kebersamaannya dengan Ivarr yang awalnya sedingin gunung es hingga membuat Lyre tidak nyaman, ternyata menumbuhkan simpati di Lyre. Namun hingga misi itu hampir berakhir, Lyre tetap tidak tahu apa alasan Hades menyuruhnya mendekati Ivarr.

Siapa sebenarnya Ivarr? Apa hubungannya dengan misi Hades terkait pembunuh berantai yang mengambil liver korbannya? 

Dan ketika semua kebenaran hadir, maka semakin tipis waktu yang tersisa dan semakin sakitlah hati Lyre.
Bagaimanakah nasib kisah cinta asisten Hades ini?

Sabtu, 16 April 2016

Buku Aturan Isabelle & Isabella



“Perlakukan buku-bukumu dengan baik.” – Aturan no.22 dalam Buku Aturan Isabelle & Isabella

Penulis: Isabelle Busath & Isabella Thordsen
Ilustrasi: Priscilla Burris
Alih Bahasa: Dharmawati
Setting: Sofiani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, 2016
Jumlah hal.: 120 halaman
ISBN: 978-602-03-2458-6

Waktu Isabelle dan Isabelle berumur sepuluh tahun dan delapan tahun, mereka menulis buku khusus berisi aturan-aturan yang bakal membuat hidup semua anak jadi lebih asyik dan menyenangkan kalau aturan-aturan itu diikuti!
Ketika buku berharga mereka hilang di toko, mereka takut buku itu benar-benar akan lenyap. Tetap salah satu pegawai toko menemukan buku itu dan mengunggahnya di Internet, dan hampir semua orang di seantero Inggris ikut membantu mencari siapa penulisnya.
Buku ini sebenarnya cocok untuk semua anak di seluruh dunia, karena itulah buku ini diterbitkan. Supaya kamu juga bisa membaca semuanya. Oh ya, Isabelle dan Isabella juga menyisakan halaman-halaman kosong supaya kamu bisa menambahkan aturanmu sendiri!

***
“Saat tidur jangan buat orang lain terbangun.”- Aturan no. 26 di Buku Aturan Isabelle & Isabella
Melihat sampul dan blurb buku ini, maka pembaca akan mengira bahwa buku ini hanya akan cocok dinikmati oleh anak-anak. Tapi jika membaca 218 peraturan yang ada di Buku Aturan Isabelle & Isabella ini, maka anggapan ini salah besar. Sebagian besar aturan di dalam buku ini pun layak dicermati dan diikuti oleh pembaca dewasa.
Karena ditulis oleh anak-anak, bukan berarti aturan-aturan yang ada di buku ini sangat kekanak-kanakan. Sebab anak-anak sebenarnya memiliki kepekaan terhadap banyak hal. Kepekaan yang perlahan jadi semakin tumpul saat kita beranjak dewasa dan dikepung oleh aktivitas dan dihadapkan pada banyak realitas.
Contohnya:
57. Jangan mengabaikan orang lain
93. Jangan bikin janji kalau kamu tidak akan menepatinya.
144. Bersikaplah dewasa dengan mengendalikan diri dan menghormati orang lain.
Nah, bagaimana? Dewasa kan? Pesan-pesan yang menyentil orang dewasa seperti ini banyak dicantumkan di dalam Buku Aturan Isabelle & Isabella ini. Tapi sebenarnya banyak juga pesan yang  bisa membuat pembaca dewasa geleng-geleng sambil tersenyum lebar. 
Contohnya:
158. Jangan pura-pura sendawa.
178. Tersenyumlah di depan kamera
184. Jangan membawa anjingmu naik pesawat kecuali kamu buta.

Untuk anak Indonesia sejumlah peraturan mungkin terasa kurang sesuai dengan budaya masyarakat Indonesia. Tapi sebagian besar peraturan cocok. Orang dewasa bisa mendampingi anak saat membaca buku ini agar bisa menjelaskan aturan-aturan ini. Sebab aturan yang tercantum bentuknya list tanpa penjelasan lebih lanjut.
Oiya, salah satu kelebihan buku ini juga adalah adanya ilustrasi yang lucu dan menarik. Sesuai dengan aturan yang ada di buku ini.

Contoh salah satu ilustrasi dalam buku

Oiya, di dalam buku ini jangan berharap menemukan nomor halaman. Jadi sebaiknya baca aturan ini pelan-pelan sambil dihayati dan diaplikasikan di kehidupan sehari-hari.
“Jangan memunggungi orang yang sedang bicara.” –Aturan no. 49 di Buku Aturan Isabelle & Isabella
***