Senin, 19 Desember 2016

Njoto: Peniup Saksofon di Tengah Prahara



“Sesungguhnya tak ada fatwa yang mengharamkan media massa menulis tentang orang yang paling jahat sekalipun. Dasar media menulis adalah kemenarikan suatu peristiwa. Di atas itu ada hak publik untuk tahu.” (Hal. viii)


Tim Penyunting: Arif Zulkifli, Bagja Hidayat
Tim Produksi: Gilang Ramadhan, Kendra H. Paramita, Kiagus auliansyah, Hendy Prakarsa, Bismo Agung
Ilustrasi Sampul: Kendra H. Paramita
Tata Letak Sampul: Wendie Artswenda
Tata Letak isi: Windie Artswenda
Penerbit: KPG
Cetakan: Pertama, Oktober 2010
Jumlah hal.: xiv + 108 halaman
ISBN: 978-979-91-0268-3

Ia berbeda dari orang komunis pada umumnya. Ia necis serta piawai biola dan saksofon. Ia menikmati musik simfoni, menonton teater, dan menulis puisi yang tak melulu “pro-rakyat”. Ia menghapus The Old Man dan the Sea –film yang diangkat dari novel Ernest Hemingway- dari daftar film Barat yang diharamkan Partai Komunis Indonesia. Ia menghayati Marxisme dan Leninisme, tapi tak mengganggap yang “kapitalis” harus selalu dimusihi.

Njoto adalah sisi lain dari sejarah Gerakan 30 September 1965. Kecuali buku-buku Orde Baru yang menyebut semua anggota PKI terlibat G30S, kebanyakan sejarawan tak menemukan keterlibatan Njoto dalam aski revolusioner itu.

Menjelang prahara 1965 ia tak lagi berada di lingkaran dalam Ketua PKI D.N Aidit: ia disingkirkan akibat terlalu dekat dengan Sukarno. Keretakan Njoto dengan Aidit dipercaya juga disebabkan oleh perselingkuhan Njoto dengan Rita, seorang perempuan Rusia yang disebut-sebut intel KGB.

Kisah tentang Njoto ini adalah satu cerita tentang “orang kiri Indonesia” yang diangkat dari liputan khusus Majalah Berita Mingguan Tempo pada 2007-2010. Menyingkap yang belum terungkap, buku ini mengetengahkan pemikiran, ketakutan, kekecewaan, pengkhianatan, juga kisah cinta dan perselingkuhan sejumlah tokoh komunis Indonesia.

***

“Menyusuri masa lalu adalah memasuki ruang dengan tirai berlapis. Semakin disibak, semakin berdatangan misteri yang baru.” (Hal. x)

Menjadi pengalaman menarik bagi saya saat membaca Seri Buku TEMPO yang diterbitkan oleh KPG. Ini karena sejarah tampil dengan seksi bagi seorang pembaca seperti saya. Membaca sejarah tidak menjadi sebuah hal yang membosankan dan dianggap serius. Dalam buku ini sejarah disampaikan bak sebuah dongeng. Bercerita dengan mengangkat sisi humanis dan mampu menyentuh emosi pembaca.

Hal ini sangat terasa saat saya membaca buku Njoto. Sejujurnya sosok ini sangat asing bagi saya yang jarang menggeluti bahasan “kiri”. Saya tahu tentang PKI, saya tahu tentang G30S namun tidak banyak nama yang saya kenali. Membaca buku ini membuat saya mendapatkan banyak ilmu baru.

Dalam buku ini, saya menangkap gambaran sosok Njoto sebagai orang yang simpatik dan karismatik. “Dalam hal seni dan budaya, Njoto sangat kental. Setiap terbit buku baru, dia pasti mencarinya. Dan, dia tidak pernah tidak membaca majalah kebudayaan yang baru terbit,” kata Trikoyo, .... Penggambaran yang menarik.


Untuk pecinta buku seperti saya, laki-laki yang menggemari buku akan terlihat lebih menarik 80% dibandingkan yang tidak suka membaca. Dan Njoto digambarkan sebagai laki-laki yang berkemeja dengan kacamata yang bertengger di atas hidungnya dan buku atau koran yang selalu di tangan. Kemudian tambahkan kemampuannya bermain musik dan menulis. Tambahkan lagi kesenangannya menulis surat yang indah. Terakhir, tambahkan kecerdasan yang membuat orang menangkap image bahwa dia adalah “orang yang tahu segala”. Bagaimana saya tidak bersimpati?!

Kemudian tambahkan kisah bagaimana keterlibatannya atas G30S yang diragukan oleh banyak pihak namun tanpa peradilan ia dan keluarganya harus menanggung hukuman. Njoto diculik, dihilangkan paksa (salah satu dosa Orde Baru!) hingga membuat fakta tentang di mana dan bagaimana Njoto meninggal masih menjadi misteri hingga kini. Soetarni, istri Njoto, menghabiskan hidup di dalam bui selama 11 tahun dan harus rela melihat ketujuh anaknya hidup terpisah demi menumpang di rumah sanak saudara.

Membaca banyak tentang sosok ini membuat saya menemukan gambaran yang berbeda tentang komunis. Berbeda dari apa yang selama ini saya ketahui. Komunis sering kali digambarkan bengis. Sedangkan Njoto ia laki-laki yang sangat “manis”.

Pengalaman membaca buku ini menjadi pengalaman yang menyenangkan di tengah kesibukan saya mengurusi bayi kecil saya. Namun jika kakek nenek saya masih hidup pastilah buku ini tidak diizinkan untuk tergenggam di tangan. Karena bagi mereka PKI adalah “setan merah” yang telah mencederai kedamaian negeri ini.

1 komentar:

  1. keren artikelnya gan, jangan lupa mampir gan,
    Bermain Dan mendapatkan Untung banyak

    BalasHapus