Senin, 19 Desember 2016

00.00



“This ia just two friends going out together. This is just two strangers who decided to going out together.” (Hal. 47)


Penulis: Ardelia Karisa
Editor: Septi Ws
Desainer Kover: Teguh
Ilustrasi isi: Cynthia
Penata isi: Tim Desain Broccoli
Penerbit: Grasindo
Cetakan: Pertama, Maret 2016
Jumlah hal.: xvi + 201 halaman
ISBN: 9786023753758
“You realize that you’re always leaving me by this time? The first time we met, the second time, now.”
“I’m such a Cinderella,” kataku singkat menanggapi kalimatnya itu.
“Maybe. But I’m not a stupid prince.”
“Why the prince is stupid?”
“Well, he told Cinderella that he’s in love with her, but he forgets how she looks and has to put a shoe on every girl in the kingdom.” Sangat masuk akal. Tapi, sayangnya aku tidak sepintar itu untuk menyadarinya.
“If I fall in love with a girl I’ll never forget how she looks. And I know exactly where to find her.”

Charvi Adipraman tidak menyangka bahwa pertemuannya dengan Nicolas Moreau – seorang ekspatriat Perancis yang tinggal di Jakarta – mengantarkannya pada ide kencan satu hari penuh. Charvi bertemu Nic tepat satu hari sebelum ia terbang ke Paris untuk mengejar mimpi. Hari itu untuk kali pertama ia mengku jatuh cinta kepada laki-laki yang baru saja ia kenal – suatu hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.

Berpegang pada rasa saling percaya, Charvi dan Nic berjanji untuk bertemu lagi satu tahun kemudian di tempat yang sama. Namun, satu tahun adalah waktu yang lama. Satu tahun bisa mengubah apa saja, termasuk cinta. Masihkah Charvi menjaga perasaannya untuk Nic setelah keduanya terpisah jarak dan waktu yang terbentang antara Perancis dan Jakarta?
***

“This marriage thing is not the happy ending. As you said before, it’s never ending hard work.” (Hal. xv)

Novel ini bercerita tentang Charvi dan kisah cintanya. Charvi pernah berkenalan dengan seorang ekspatriat dari Perancis, Nic, sehari sebelum ia berangkat ke Perancis. Sebuah keyakinan membuat Charvi memutuskan hal yang membuat Charvi dan Nic bertemu. Membuat mereka menghabiskan waktu bersama. Namun sayangnya semua berjalan di luar rencna Charvi. Sebab jatuh cinta tidak termasuk dalam rencana itu.

Demi mempertahankan prinsipnya sekaligus untuk menjaga dirinya dari patah hati, Charvi meminta Nic untuk “berjudi” dengan nasib. Mereka tidak saling bertukar nomor kontak. Mereka tidak bisa saling berkabar. Cukup datang tepat setahun kemudian di tempat mereka pertama kali bertemu. Jika memang mereka ditakdirkan untuk bersama, maka mereka pasti bertemu.

Lantas bagaimana kelanjutan hubungan mereka? Apakah takdir sekali lagi mempertemukan mereka? Bagimana kehidupan mereka setelahnya?

“.... Harusnya aku sadar dari awal kalau ‘terlalu sempurna’ itu cuma kamuflase dari hal buruk yang terpendam.” (Hal. 58)

***

“Seperti kata Alain de Botton, Most of what makes a book ‘good’ is that we are reading it at the right moment for us.” (Hal. 81)

Novel ini dibuka dengan apik oleh penulis. Dengan menampilkan sebuah surat yang ditulis oleh Charvi untuk dirinya di masa depan. Surat yang menyebutkan tentang laki-laki yang dicintainya saat surat itu dituliskan. Tentang Nic. Setelah itu berlanjut ke percakapan Charvi dengan seorang laki-laki yang berujung pada sebuah lamaran dan kemudian diterima oleh Charvi. Tapi siapa laki-laki itu? Apakah ia Nic atau orang lain?

Cerita kemudian berlanjut tentang kehidupan Charvi dengan kekasihnya yang keturunan Korea, Kevin. Ini membuat pembaca semakin penasaran. Siapa laki-laki yang diterima lamarannya oleh Charvi? Nic atau Kev?

Penulis memainkan cerita dengan menggunakan alur campuran. Pilihan yang pas. Sebab ini bisa mempertahankan rasa penasaran pembaca hingga akhir. Kemudian penulis berhasil memikat pembaca dengan kisah pertemuan Nic dan Charvi melaui obrolan mereka yang menarik.

Ini sedikit mengingatkan saya pada film Before Sunrise. Janji bertemu setahun kemudia. Percakapan antar tokoh yang menjadi pusat cerita sekaligus pemikat bagi pembaca. Namun penulis sukses menampilkan ini dalam bentuk tulisan. Padahal ini jelas bukan hal yang mudah. Dalam Before Sunrise, hal itu mudah untuk memikat penonton karena sinematografinya yang menarik. Tapi untuk disuguhkan dalam novel jelas bukan hal yang mudah. Namun penulis berhasil melakukannya dengan baik.

Oiya, sekadar informasi untuk pembaca, dalam novel ini percakapan cukup banyak disuguhi dalam bahasa Inggris. Tapi percakapannya mudah dipahami sebab menggunakan bahasa Inggris sehari-hari.

Novel ini manis dan adegan serta konflik mengalir dengan baik. Membuat pembaca bisa menikmati keseluruhan kisah hingga akhir tanpa rasa bosan. Obrolan antartokohnya menarik sekaligus informatif.

“An honesty never hurt anybody. Setidaknya, bagiku seperti itu. Lebih baik aku tahu tentang the ugly truth daripada the beautiful lies.” (Hal. 116)

***
Kumpulan Quote dalam 00.00 

“Well, bahagia bagi sebagian orang memang bukan tentang memiliki pasangan.” (Hal. 123)

“What if the only fate we got is right now? I don’t want to lose a chance to get to know you more. I don’t want to lose a chance to be with you. I really don’t wanna lose you.” (Hal. 147)

“Hubungan memang sepatutnya berlandaskan oleh rasa sayang dan mencintai satu sama lain. Tapi, hubungan antarmanusia sebenarnya tak seromantis itu. Banyak kerja keras yang diperlukan untuk terus membangun dan mempertahankan sebuah hubungan.” (Hal. 188)

3 komentar:

  1. Arrrggggggg, saya kurang suka novel yang menyelipkan banyak bahasa inggris. Bahasa Inggris saya parah dan payah. Semoga saja benar jika bahasa inggris di sini hanya bahasa sehari-hari, sehingga mudah dipahami. Insya Allah berjodoh dengan novel ini.. :)

    BalasHapus
  2. keren artikelnya gan, jangan lupa mampir gan,
    Bermain Dan mendapatkan Untung banyak

    BalasHapus
  3. Terima kasih Mbak Atria atas review-nya. Maaf saya baru bisa mampir ya. Semoga setelah baca 00.00 nggak kapok baca karya saya lainnya ya :)

    BalasHapus