Jumat, 11 November 2016

Winter

“Bermimpi hanyalah untuk orang-orang yang tidak punya hal lebih baik untuk dilakakukan.” (Hal. 72)

Penulis: Marissa Meyer
Penerjemah: Yudith Listiandri
Penyunting: Selsa Chintya
Proofreader: Titish A.K
Design Cover: @hanheebin
Penerbit: Spring
Cetakan: Pertama, Agustus 2016
Jumlah hal.: 900 halaman
ISBN:978-602-74322-3-9

Putir Winter dikagumi oleh penduduk Bulan karena kebaikan hatinya. Meskipun ada luka di wajahnya, banyak orang bulan yang mngatakan bahwa Sang Putri lebih cantik daripada Ratu Levana.

Iri dengan Sang Putri yang dianggapnya lemah dan gila, Levana memerintahkan Jacin Clay, pengawalnya, untuk mengawasi Winter agar tidak mempermalukan sang Ratu dan kerajaannya. Namun Winter menyukai Jacin, hal itu justru membuatnya semakin terlihat lemah.

Hanya saja, Winter tidak selemah yang Levana kira. Besama dengan Cinder, sang mekanik, dan para sekutunya, mereka bahkan mungkim bisa membangkitkan sebuah revolus dan memenangkan perang yang sudah berkecamuk terlalu lama.

Daptkah Cinder, Scrlett, Cress dan Winter mengalahkan Levana dan mendapatkan kebahagiaan mereka selamanya?
***
“..., beberapa orang mungkin mengatakan bahwa melakukan hal yang benar adalah hadiah itu sendiri.” (Hal. 156)
Petualangan Cinder, Scarlet, dan Cress kini berlanjut. Dan seorang tokoh baru bergabung dalam perjuangan mereka melawan Ratu Levana. Ia adalah Winter. Winter adalah anak tiri Ratu Levana.

Winter adalah orang bulan yang menolak menggunakan anugerahnya. Ini membuat Winter menderita kegilaan dalam taraf tertentu. Ia sering kali kesulitan membedakan mana yang nyata dan mana yang merupakan imajinasinya. Namun ini tidak terjadi sepanjang waktu. Hal ini karena sejak kecil Winter didampingi oleh Jacin berusaha meminimalisir “kegilaan” yang disebabkan oleh sikap Winter yang enggan menggunakan kemampuan bulannya, kemampuan untuk memanipulasi.

Oiya, tokoh Jacin Clay ini adalah tokoh yang sebelumnya telah muncul dalam buku ketiga The Lunar Chronicles, Cress. Jacin adalah pengawal Sybil yang sempat ikut dalam rampion dan sempat menolong Cinder meski pada akhirnya ia mengkhianati Cinder dan kawan-kawan.

Jacin dan Winter memiliki hubungan yang rumit. Saling mencintai namun harus saling menjaga. Hingga akhirnya keluarlah perintah itu. Ratu Levana menyuruh Jacin untuk melenyapkan Winter sebab Levana merasa bahwa Winter adalah ancaman bagi kekuasaannya. Rakyat bulan menyukai Winter, mencintainya tanpa syarat. Berbeda dengan Levana. Ia harus memanipulasi mereka untuk bisa mendapatkan cinta dan kepatuhan rakyat bulan.

Bagaimana nasib Winter? Bagaimana hingga akhirnya ia bisa bergabung dengan Cinder dan kawan-kawan yang kini menjejak di bulan demi mengalahkan Levana, memulai revolusi di bulan dan mengembalikan hak Cinder sebagai ratu di bulan.

Berhasilkan rencana Cinder dan kawan-kawan dalam menggulingkan kepemimpinan Ratu Levana di bulan?

***
“Cinta adalah sebuah penaklukan. Cinta adalah perang. Itulah cinta.” (Hal. 809)

Winter ini adalah seri terakhir dari The Lunar Chronicles  yang ditulis Marissa Meyer. Buku ini lebih tebal dari buku sebelumnya karena tokoh utamanya kembali bertambah. Kali ini ada Winter, putri tiri Levana.

Dari judulnya, Readers pasti bisa menebak, kali ini penulis me-retelling dongeng apa? Yup kali ini kisah Putri Salju. Ratu Levana sebagai ibu tiri yang jahat. Dan ia memang memerintahkan agar Winter di bunuh. Bahkan adegan saat sang ratu meracuni putri salju dengan sebuah apel juga ada di dalam cerita namun tentu saja dengan cara yang unik dan “berbeda”.

Sejak awal kekuatan The Lunar Chronicles adalah bagaimana penulis mampu membuat kehidupan yang diceritakan tidak terasa jauh dari kenyataan. Meskipun untuk sci-fiction cukup terasa di dalam novel. Teknologinya bukanlah teknologi yang benar-benar mustahil menjadi kenyataan. Perkembangan teknologi kita memang ke arah sana.

Di sisi lain, penceritaan ulang dongeng ini tetap menarik tanpa menghapus bagian-bagian penting dalam dongeng tersebut. Dan “modifikasi” yang dilakukannya menarik. Di Cinder ada kisah tentang anak tiri yang disiksa, pesta dansa, dan sang pangeran. Pun di Winter ini, ada huntsman, apel beracun dan ratu yang jahat. Semuanya adalah bagian penting cerita yang membuat pembaca bisa menebak dongeng apa yang di-retelling namun dengan sensasi yang berbeda.

Tidak banyak yang mau saya kritisi tentang karya ini mengingat saya bukan orang yang pandai tentang teknologi. Lagipula cara penulis menuturkan cerita adegan per adegan terasa menarik. Kisah percintaan mampu berpadu dengan pas dengan adegan menegangkan saat Cinder berusaha melakukan perlwanan atas kekuasaan Ratu Levana.

Oiya, seri The Lunar Chronicles ini juga berhasil mengetengahkan dengan baik hal-hal terkait perang. Seperti akibat dari perang yang cukup banyak digambarkan dalam buku pertama dan kedua. Bagaimana peradaban hancur akibat perang. Dan dalam buku keempat ini ditampilkan bagaimana senjata biologis berupa penyakit mampu membuat salah satu pihak memiliki peluang lebih besar memenangkan perang.

Membaca Winter secara khusus dan serial The Lunar Chronicles pada umumnya, memberika kesenangan yang menarik saat membacanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar