Rabu, 09 November 2016

She’s Natasha



“Bukankah cinta memang harus diperjuangkan selagi dirimu bisa melakukannya?” (Hal. 85)


Penulis: Thiarany Putri
Penyunting: Hayatun Nufus
Penata Letak: Melz
Pendesain sampul: Fahmi Fauzi
Ilustrasi: freepik.com
Penerbit: Moka Media
Cetakan: Pertama, 2016
Jumlah hal.: viii + 278 halaman
ISBN: 978-602-74863-1-7

Natasha tanpa Gabriel. Seperti ikan yang kehilangan air. Seperti bumi yang kehilangan sinar matahari. Seperti manusia yang kehilangan oksigen. Seluruhnya rapuh dan tak bermakna. Gabriel tanpa Natasha. Seperti musik tanpa nada. Seperti lagu tanpa suara. Seperti alunan tanpa getar. Sepenuhnya sepi dan rumpang.

*
Sejak kehadiran Gabriel Leander, tutor piano yang juga merupakan anak sahabat dari mamanya, hidup Natasha Adelina berubah. Gabriel Leander membuatnya kembali menemukan keceriaan yang telah lama hilang.

Ketika cinta mulai tumbuh, kenyataan pahit muncul. Masa lalu Gabriel hadir kembali di tengah mereka dan kenyataan lain yang lebih pahit lagi datang bagai tembok penghalang cinta Natasha dan Gabriel.

***

“.... Belajar piano itu harus dari hati, begitu pun saat lo bermain dengan piano tersebut, karena yang ngedengerin bukan cuma lo, tapi semua orang yang ada di sekitar piano tersebut dimainin. Jadi, klo lo mainin nggak dari hati, percuma, karena nada yang keluar nggak akan bisa dinikmati sama mereka yang ngedengerin.” (Hal. 22-23)

Gabriel adalah siswa SMU yang tengah menikmati masa putih abu-abu. Kepatuhan pada ibunya  membuatnya bersedia menjadi tutor Natasha. Ia mengajari gadis itu bermain piano. Natasha adalah putri dari sahabat orangtua Gabriel. Ini semakin menyulitkannya untuk menolak mengajari Natasha.

Pertemuan pertama mereka berlangsung kurang baik. Impresi pertama Gabriel pada Natasha adalah Natasha gadis yang cerewet. Natasha juga cenderung memaksakan kehendaknya. Sedangkan bagi Natasha, sejak pertemuan pertama ia sudah menyukai Gabriel. Ini karena secara fisik Gabriel memang menarik. Sayangnya Gabriel selalu bersikap dingin pada Natasha.

Kebersamaan mereka membuat hubungan keduanya berubah. Gabriel mulai menyukai Natasha. Sedangkan Natasha yang sejak awal menyukai Gabriel sering dibuat bingung oleh sikap cowok itu. Gabriel kadang bersikap hangat namun di waktu tertentu juga kadang bersikap dingin. Kehadiran Rei, cowok yang menolong Natasha saat pingsan memperumit keadaan. Kemudian kehadiran sosok yang mirip Hanna, cinta pertama Gabriel, ikut memperkeruh keadaan. Bukankah Hanna sudah meninggal? Siapa gadis itu?

Dan satu hal penting. Natasha menyembunyikan sesuatu dari Gabriel. Hal yang jadi penghalang utama kebersamaan mereka. Bisakah cinta mereka bersatu? Adakah masa depan bagi hubungan Gabriel dan Natasha?


***

“... tim yang hebat selalu didasari oleh kerja sama tim yang kompak.” (Hal. 200)

Novel ini adalah naskah yang sebelumnya telah dipublikasi di Wattpad dan di sampul novel ada label “Telah dibaca lebih dari 1 juta kali di wattpad”. Tagline novelnya pun menarik. “Percayalah, kelak kau akan menemukanku di salah satu tangga nada itu”.

Saat mulai membaca novel ini, saya pun tahu bahwa kisah ini diperuntukkan bagi remaja. Tokoh Gabriel yang duduk di kelas dua belas dan Natasha yang duduk di kelas sepuluh dan kisah percintaan yang melingkupi keduanya menjadikan novel ini sah sebagai novel remaja.

Premis novel ini menarik. Hubungan percintaan yang tidak mudah antara Gabriel dan Natasha. Kisah tentang Hanna, cinta pertama Gabriel yang ternyata adalah tutor piano Natasha sebelumnya membuat cerita ini jadi menarik.

Namun ada beberapa hal yang terasa masih kurang. Pertama, novel ini terlalu banyak telling. Terlalu sering menggunakan kata tampan, menarik, dan sebagainya. Kurang deskripsi. Bukankah saat ingin menggambar ketampanan, bisa mengeksplorasi fisik tokohnya. Bukan dengan lugas mengatakannya “tampan”. Ini membuat imajinasi pembaca tidak terbangun baik. Bukankah ketampanan itu relatif dan luas kriterianya?

Kedua, ada beberapa logika cerita yang kurang matang. Contoh, jika memang orang tua Gabriel dan Natasha sudah lama saling kenal, bahkan di halaman 12 tertulis, “Gabriel memang sudah mengenal Tante Reta sejak ia kecil,...” rasanya tidak masuk akal jika ia tidak tahu bahwa Tante Reta memiliki anak bernama Natasha. Masa mereka tidak pernah bertemu meski hanya sekali. Apalagi orang tua mereka bersahabat. Biasanya orang yang bersahabat cenderung berharap anak-anak mereka juga bisa berteman baik.

Selain itu, persoalan terakhir yang diselesaikan oleh Rei dan Gabriel tergolong serius namun kesannya diselesaikan buru-buru. Terlalu mudah. Kehadiran Cindy dan kawan-kawan yang sempat mem-bully Natasha juga membuat masalah ini terkesan terlalu mudah diselesaikan. Semudah itukah Cindy percaya? Semudah itu kah kejahatan yang melibatkan Hanna dan Natasha terselesaikan? Kondisi ini menganggu. Lagi pula bagaimana mungkin Hanna dan Natasha satu sekolah jika kejadian itu terjadi satu tahun sebelumnya yang berarti Natasha kelas sembilan dan Hanna kelas sebelas?

Tapi di luar kekurang itu, novel ini cukup enak dibaca. Tulisannya mengalir. Bahasa dan bahasannya ringan. Bisa jadi bacaan pengisi waktu luang bagi remaja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar