Selasa, 22 November 2016

[Review + Artikel] Lost and Found




Penulis: Dy Lunaly
Penyunting: Tim Editor Fiksi
Penata Letak Sampul: Tim Desain Broccoli
Penata isi: Tim Desain Broccoli
Penerbit: Grasindo
Cetakan: Pertama, Oktober 2016
Jumlah hal: 243 halaman
ISBN: 9786023757077

Setiap benda akan patah. Termasuk hati.
Walau sudah delapan tahun berlalu, hati Illa masih patah dan jiwanya rusak. Sampai detik ini dia masih tidak memiliki kepercayaan diri untuk kembali berurusan dengan cinta. Bukan tanpa alasan, dia takut untuk kembali terluka, mental dan fisik.

Illa menjalani hidupnya dengan membuka sebuah toko bernama My Ex-Boyfriend di sudut jalan Braga. Toko yang menarik perhatian banyak orang karena tokonya khusus menjual barang pemberian dari mantan. My Ex-Boyfriend tidak pernah sepi membuat hidupnya cukup sibuk dan untuk sesaat dia berhasil melupakan sesuatu bernama cinta.
Hingga seorang pria tidak sengaja hadir dalam hidupnya.

Mungkinkah hati yang tidak hanya sudah patah melainkan berderai mampu kembali utuh?
Mungkinkah rasa percaya yang sirna karena pengalaman buruk mampu kembali untuk percaya?

Pada akhirnya, akankah tragedi menghasilkan bahagia?

***
Novel ini berkisah tentang tokoh Illa yang pernah menjadi korban kekerasan dalam berpacaran. Fenomena yang kini semakin marak terjadi. Sering kali perempuan yang menjadi korban kekerasan ini tidak hanya mengalami luka fisik, mereka juga mengalami luka batin. Membuatnya kehilangan kepercayaan diri juga membuat mereka sulit percaya bahwa ada cinta yang penuh kelembutan dan kasih sayang di luar sana. Cinta yang menjaga dan tidak menyakiti.

Illa mencoba menata kembali hidupnya. Ia membuka toko My Ex-Boyfriend di ruas jalan yang jadi saksi sejarah panjang kota Bandung. Jalan Braga. Jalan itu pun kemudian menjadi saksi bagi kisah cinta milik orang tua Illa. Dan kini Jalan Braga kembali menjadi saksi bagi kisah Illa sendiri.

Pertemuan Illa dengan Pandu membuat Illa harus berhadapan dengan ketakutannya sendiri. Ia masih belum mampu percaya bahwa ada cinta lain untuknya. Parahnya, ia bahkan tidak bisa memercayai dirinya sendiri, bahwa ia cukup baik dan berhak bahagia. Bahwa bukan dia yang memicu Danang, mantan kekasihnya, menjadi “tukang pukul”.

Nah, sanggupkah Illa mengobati rasa traumanya? Sanggupkah Pandu meyakinkah Illa bahwa apa yang mereka miliki berhak dipercaya oleh Illa? Dan sanggupkah Illa menghadapi kenyatan ketika Danang, mimpi terburuknya, hadir kembali di hadapannya?
***

Tidak banyak yang ingin saya komentari tentang novel ini. Saya takut subjektivitas saya akan sangat mewarnai ulasan ini. Mengingat saya sudah menjadi bagian dari naskah ini sejak awal. Sejak ia masih menjadi embrio. Sejak ia bahkan tidak direncanakan oleh Mbak Dy.


Sejujurnya, saya suka dengan temanya. Tentang perempuan yang jadi korban kekerasan dalam berpacaran yang mencoba meraih kebahagiaannya. Berusaha mengobati fisik dan hatinya serta menyembuhkan traumanya.

Dan seperti biasa, Dy Lunaly kuat dalam detail. Ia menggambarkan setting jalan Braga serta perjalanan Pandu dan Teh Illa ke warung kopi tua dengan baik. Dy Lunaly masih mampu mempertahankan ciri khasnya dengan baik.

Dan seperti biasa. Untuk pembaca yang suka dengan pria yang mampu memperlakukan perempuan dengan manis, bukan gombal atau tipikal playboy bermulut manis, maka tokoh Pandu akan bikin pembaca jatuh cinta.
***
Menemukan Lost and Found: Serba Serbi Lahirnya Lost and Found
Artikel ini mungkin berbeda dengan artikel yang telah ditulis oleh blogger yang ikut Menemukan Lost and Found. Kali ini saya ingin bercerita tentang lahirnya Lost and Found dari sisi saya. Jika diceritakan oleh Mbak Dy Lunaly bisa jadi akan sedikit berbeda.

Semua bermula dari pertemuan pertama saya dengan Mbak Dy Lunaly pada 2014. Saat itu Mbak Dy mengisi kelas menulis yang saya ikuti di Bandung. Selepas itu, saya menemani Mbak Dy menunggu hingga jadwal keberangkatannya kembali ke Jakarta. Kami berbagi cerita tentang banyak hal. Termasuk tanggapan saya tentang novelanya yang dibukukan dalam #CrazyLove Mantan. Saya bercerita bahwa saya sempat berpikir (dan sejujurnya berharap) toko My Ex-Boyfriend milik Teh Illa itu benar-benar ada. Waktu itu saya memang sedang patah hati. *malah curhat*

Kemudian sekian lama kami menjadi semakin akrab. Suatu hari saya memberanikan diri mengajukan protes. Kisah Teh Illa ini seharusnya bisa berakhir lebih baik. Cerita tentang kekerasan dalam berpacaran semakin marak sekarang. Dan seharusnya kisah Illa bisa dibuat happy ending. Agar yang membaca dan memiliki kisah yang sama bisa diajak untuk percaya bahwa mereka berhak dapat yang lebih baik. Mereka harus berani. Berani melepaskan diri dari hubungan yang salah itu dan berani memulai hubungan yang baru.

Dan ternyata butuh waktu setahun lebih hingga akhirnya Mbak Dy mengabulkan permintaan saya. Akibatnya? Saya harus membantunya riset tentang Braga. Kami sempat dua kali menyusuri Braga demi hanya untuk membayangkan setting toko Illa. Lebih cocok di tempatkan di mana. Bahkan riset terakhir kami di Braga, tidak lama sebelum saya meninggalkan Bandung, khusus untuk mendatangi cafe yang menjadi inspirasi cafe milik Pandu. Serta untuk mengecek ulang posisi yang pas untuk toko milik Illa.

Oiya, warung kopi tua yang didatangi Teh Illa dan Pandu adalah warung kopi yang pernah saya dan Mbak Dy kunjungi. Dan ya, memang di bagian belakang warung itu tidak ada signal handphone. Ha..ha.. Ini pengalaman pribadi banget :D

Kesimpulannya? Ya, saya adalah orang yang ikut mengawal kehadiran Lost and Found sejak awal. Sejak ia dipost di blog kemudian pindah ke Wattpad. Dan saya jadi orang yang ikut berbahagia saat tahu bahwa Lost and Found dipinang oleh Grasindo dan kini bisa saya genggam.

Dua tahun lebih penantian saya hingga bisa bertemu Teh Illa lagi dalam versi cetak. Btw, galaknya Teh Illa memudar ya. Padahal dulu saya selalu menganggap Teh Illa itu galak. Ha..ha.. Di Lost and Found image-nya jadi beda. Ha.. Ha..

7 komentar:

  1. oow... Jadi ceritanya teh illa punya cerita awal yah?? Koq nga di kasi tau sblumx :-(

    BalasHapus
  2. Toko My Ex-Boyfriend ini jual apa? Bukan jual beli mantan kan? :D

    BalasHapus
  3. Aku pernah baca novela #CrazyLoveMantan. Makanya kemarenan baca review Menemukan Lost and Found perasaan pernah baca kisah yg mirip gini, ternyata memang penulisnya kak Dy.
    Dan setting tempat yg dipilih Braga saya kira pas, karena sekarang Braga jadi tempat yg nyaman untuk kita jalan atau nongkrong.
    Kira2 kalo ke Braga lagi, saya bisa nemuin toko "My Ex-Boyfriend" ngga ya?? Soalnya mau cari Pandu😍😚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, saya juga baca yang #CrazyLoveMantan dan pas nemu artikel mengenai novel Lost and Found ini, kok mirip. Bener nggak ini teh cerita yang dibuku itu. Buku #CrazyLoveMantannya sudah beredar entah di siapa jd blm bisa memastikan.

      Hapus
  4. Astaga.. riset yg benar benar melelahkan. musti nyari cafe di braga.. hihii kode nih kalo Lost and Found bakal happy ending.

    BalasHapus