Jumat, 11 November 2016

Menemukan Indonesia



“You can’t kill an idea.” (Hal. 40)


Penulis: Pandji Pragiwaksono
Penyunting: Eka Saputra & Nurjannah Intan
Perancang & ilustrasi sampul: Anugerah
Pemeriksa Aksara: gabriel_sih
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: Kedua, Mei 2016
Jumlah hal.: xvi+284 halaman
ISBN: 978-602-291-143-2

Selama ini, saya selalu berkata bahwa saya mencintai Indonesia. Tak pernah ada sedikit pun keraguan. Hingga kemudian, saya memutuskan untuk menantang rasa cinta terhadap negara ini dengan membuat perbandingan-perbandingan. Saya harus melakukan perjalanan keliling dunia dan melihat dengan mata kepala sendiri, seperti apa situasi di luar sana.

Dan akhirnya, kesempatan itu tiba. Dari April 2014 sampai April 2015, saya melakukan perjalanan ke Singapura, Sydney, Melbourne, Adelaide, Brisbane, Gold Coast, Hong Kong, Makau, London, Liverpool, Manchester, Amsterdam, Leiden, Berlin, Guangzhou, Beijing, Tokyo, Kyoto, Los Angeles, dan San Fransisco.

Dua puluh kota. Delapan negara. Empat benua. Satu tahun.

Perjalanan saya membawa misi, mengenalkan dan mengenal kembali Indonesia melalui Mesakke Bangsaku World Tour. Setiap detail dan segala sesuatu yang saya lihat, dengar, dan rasakan di negara-negara tersebut, saya tuliskan dalam buku ini.

Lalu, setelah Anda selesai membacanya, coba tanyakan hal ini kepada diri Anda: Seperti apakah Indonesia yang selama ini saya kenal?
***
“Kenapa kita nggak bikin karya yang bagus dan bikin orang – orang  jadi belajar bahasa Indonesia, sebagaimana orang Indonesia pada belajar bahasa Korea supaya ngerti lagu-lagu dan serial TV Korea?” (Hal. XV)
“Masalahnya, kunci untuk hasil yang optimal dalam mengerjakan sesuatu datang dari kemampuan untuk memahami perbedaan, mengakomodasi perbedaan pendapat tersebut dan meramunya menjadi kekuatan besar.” (Hal. 145)
Buku Menemukan Indonesia dengan tagline: 365 Hari. 20 Kota. 8 Negara. 4 Benua. 1 Buku ini sebenarnya bisa dikategorikan dalam genre traveling. Namun disuguhkan dengan cara yang berbeda. Tidak hanya melalui penuturan dari sudut pandang orang pertama yakni Pandji sendiri, namun juga melalui gaya bercerita yang kasual.

Membaca buku ini lebih terasa seperti sebagai sebuah cerita yang dituturkan oleh Pandji dalam sebuah percakapan. Ini karena yang dipakai adalah bahasa tutur. Hal ini sekaligus menjadikan buku ini mudah dipahami.

Dalam hal layout, tulisan di dalam buku ini cukup ramah mata. Selain itu penekanan dilakukan pada beberapa kalimat dalam setiap bab dengan mensettingnya sebagai quote yang ditulis dengan ukuran font yang lebih besar.

Yang membuat buku ini berbeda dari buku dengan genre traveling lainnya adalah
karena di akhir bahasan sebuah kota, penulis akan menganalisa lebih dalam tentang potensi dan, sesekali, kendala dalam pembangunan kota tersebut kemudian membandingkannya dengan potensi yang ada di Indonesia. Hal ini membuat Pandji bisa mengungkapkan beberapa pendapatnya tentang negeri ini. Tentang betapa potensi yang dimiliki Indonesai cukup besar dan seharusnya disikapi dengan lebih bijaksana. Promosi pariwisata yang perlu dikembangkan dan diperhatikan lebih banyak.

Seperti yang ia ungkapkan di halaman 60 hingga 63 tentang potensi yang dimiliki Indonesia. Bahkan yang sederhana sekalipun jika mampu dipasarkan dengan baik maka akan menjadi produk yang memiliki nilai jual yang tinggi.

Pemabahasan semacam itu akan terus ditemui. Namun tulisannya tetap saja tidak terkesan serius dan membosankan. Selain itu juga banyak informasi baru yang saya dapatkan melalui buku ini. Seperti sejarah ringkas tentang stand up comedy yang bisa jadi dimulai dari masa kerajaan dulu. Ada orang tertentu yang ditugasi untuk selalu menghibur penghuninya. Mereka inilah yang kemudian direpresentasikan sebagai joker dalam kartu remi.

Membaca buku ini juga memberi banyak informasi yang cukup detail terkait bagaimana jika mengunjungi 20 kota di 8 negara tersebut. Catatan paling penting adalah toilet! Tidak disedikan air untuk membilas setelah buang air di bilik toilet. Ini tentu tidak nyaman bagi mereka yang sudah terbiasa mencuci kotoran dengan air setelah buang air.

Masih banyak informasi menarik lainnya. Seperti toko apa yang sebaiknya didatangi oleh penggemar musik, toko buku apa yang bisa didatangi karena koleksinya yang lengkap, dan sebagainya.

Buku ini menjadi sebuah buku yang menarik karena pembahasannya yang gado-gado dan dengan pembahasan yang ringan dan menarik.


“Masalahnya, kunci untuk hasil yang optimal dalam mengerjakan sesuatu datang dari kemampuan untuk memahami perbedaan, mengakomodasi perbedaan pendapat tersebut dan meramunya menjadi kekuatan besar.” (Hal. 145)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar