Kamis, 20 Oktober 2016

You are My Moon


“.... Kita tidak bisa mengendalikan orang lain untuk berpikir dan melakukan sesuatu. Tetapi kita bisa mengendalikan diri sendiri. Meskipun sangat sulit.” (Hal. 220)

Penulis: Rompaeng
Diterjemahkan dari You are My Moon vol.2 terbitan Happy Banana, Thailand
Penerjemah: Suchada Ung-Amporn, Wisnu Wardhana
Penyunting: K.P Januwarsi
Proofreader: Titish A.K
Design cover: Dedy Andrianto
Penerbit: Haru
Cetakan: Pertama, September 2016
ISBN: 978-602-7742-81-9

Darika
Seorang gadis anak pengurus kuil sederhana. Hidupnya tiba-tiba berubah 180 derajat ketika seorang bangsawan kaya memintanya untuk bekerja sebagai bodyguard-nya. Tugas gadis itu adalah untuk melindungi sang bangsawan dari istri centil sahabatnya.

Juntharakan
Seorang bangsawan tampan yang masih lajang. Dia mempekerjakan gadis sederhana yang blak-blakan dan cerdas itu sebagai sekretaris pribadi sekaligus bodyguard-nya. Tapi, kenapa jantung Juntharakan selalu berdetak lebih kencang ketika berdekatan dengan gadis itu?

***

“Jangan hiraukan mereka, Sayang. Kita lebih tahu tentang diri kita sendiri dan itu sudah cukup.” (Hal. 8)

Darika adalah seorang perempuan berusia 27 tahun yang meragukan adanya cinta sejati berdasarkan pengalaman yang dialami oleh ibunya. Ibunya dicampakkan oleh sang ayah yang ternyata malah memilih untuk menikah dengan anak perempuan bos-nya. Ditinggalkannya Ibu Darika yang saat itu sedang mengandung. Ditinggalkan dalam keadaan hamil dan harus menanggung malu akibat gunjingan para tetangga tentulah bukan hal yang mudah. Hari-hari yang dilalui Darika dari keluarga yang “patah” seperti itu membuat Darika tumbuh jadi gadis yang unik. Ia menjadi karakter yang mandiri, tegar, irit (yang beda tipis dengan pelit), kreatif dan tentu saja tidak memercayai cinta.

Namun kondisi berubah saat ia bertemua dengan Juntharakan, bangsawan muda tampan yang juga anak tunggal dari seorang bangsawan kaya. Karena sebuah insiden, Darika akhirnya direkrut menjadi sekretaris pribadi Juntharakan dengan misi khusus menyingkirkan Pitchaya, istri dari sepupu Juntharakan.

Pitchaya menghalalkan segala cara demi membuat Juntharakan jatuh ke dalam pelukannya. Ini membuat banyak orang khawatir termasuk ibunda Juntharakan. Kehadiran Darika yang blak-blakan dan berani diyakini akan mampu menghalau kelicikan Pitchaya. Sayangnya tidak ada yang mengingatkan bahwa bahaya tidak hanya datang dari Pitchaya melainkan dari dalam diri Darika sendiri.

Pesona Juntharakan ternyata mampu membuat hati Darika cemas. Ia yang tidak ingin mengalami nasib yang sama seperti ibunya selalu percaya bahwa cinta sejati tidak pernah ada. Namun melihat cinta yang memancar di antara kedua orang tua Juntharakan membuat Darika mempertanyakan kembali keyakinannya. Dan di saat yang sama ia pun menyadari bahwa ia telah jatuh dalam pesona Juntharakan.

Mana yang lebih penting sekarang? Menyelamatkan Juntharakan dari Pitchaya atau menyelamatkan hati Darika sendiri?

“... ketika kau dicintai seseorang, pada saat yang sama, kau juga akan dibenci orang lain.” (Hal. 10 -11)

***

“Manusia lebih menakutkan daripada hantu. ...” (Hal. 11)

Novel ini adalah novel yang diterjemahkan Haru dari Thailand. Membicarakan kisah cinta antara seorang gadis yang merupakan cucu penjaga kuil dengan seorang putra tunggal seorang bangsawan Thailand. Ketimpangan ekonomi ini membuat tokoh utama perempuan selalu meragukan sendiri kemungkinan sang bangsawan jatuh cinta padanya.

Keunggulan novel ini sendiri, selain menambah wawasan terkait gelar di kelas bangsawan Thailand juga memuat informasi terkait destinasi wisata di Thailand. Salah satunya adalah Ayutthaya. Salah satu ibukota provinsi di Thailand. Selain itu ada juga disebutkan tentang museum Chao Sam Phraya, yakni museum emas di Thailand.
 
museum Chao Sam Phraya (sumber gambar: di sini)
Tapi sedikit masukan dari saya, ada beberapa hal yang janggal. Seperti pada halaman 28, diceritakan bahwa sahabat Darika, Puttan, harus ke Jerman sehingga ia menitipkan apartemennya pada Darika. Yang membingungkan, kok bisa ya bikin rencana ke luar negeri cukup mendadak. Harus berangkat dalam seminggu. Apa dia tidak mengalami kesulitan mengurus visa ya?

Tapi di luar kekurangan itu, kelebihan naskah ini yang paling utama adalah gaya bercerita yang mengalir dan tidak membosankan. Saya tentu saja mengapresiasi penerjemah dan editor novel ini. Tanpa jasa kalian, novel ini tentu tidak akan senyaman ini untuk dibaca.


“Terkadang, bahkan ketika kau tahu kau akan tersakiti, kau tetap ingin mengambil risiko. Iya, kan?” (Hal. 119)

***
“Aku seperti jahe. Semakin tua, semakin pedas.” (Hal. 137)
“... tempat yang paling aman juga merupakan tempat yang paling berbahaya.” (Hal. 156)

“Anggap saja bahwa semua yang memiliki awal akan menghilang setelah tinggal bersama kita.” (Hal. 220)
“Laki-laki tidak akan menghargai apa pun atau siapa pun yang bisa dia dapatkan dengan mudah.” (Hal. 254)

1 komentar:

  1. Qoutes-nya keren-keren. Penasaran sama isinya, aduuhhh.. Thailand inii ya. Aku juga suka banget sama buku yang bercerita tentang budaya suatu daerah atau negara. Makin baper.

    BalasHapus