Minggu, 23 Oktober 2016

The Girl on Paper



“Dunia fiksi begitu membosankan? Sepanjang hidupku, aku justru mendengar sebaliknya! Kebanyakan orang membaca novel untuk melarikan diri sejenak dari kenyataan.” (Hal. 182)


Penulis: Guillaume Musso
Penerjemah: Yudith Listiandri
Penyunting: Selsa Chinty
Proofreader: Titish A.K.
Design cover: Chyntia Yanetha
Penerbit: Spring
Cetakan: Pertama, September 20116
Jumlah hal.: 448 halaman
ISBN: 978-602-74322-4-6
Gadis itu terjatuh dari dalam buku.

Hanya beberapa bulan yang lalu, Tom Boyd adalah seorang penulis miliarder yang tinggal di Los Angeles dan jatuh cinta pada seorang pianis bernama Aurore. Namun, setelah putusnya hubungan mereka yang terekspos publik, Tom menutup dirinya, menderita writer’s block parah, dan tenggelam dalam alkohol dan obat terlarang.

Suatu malam, seorang gadis asing yang cantik muncul di teras rumah Tom. Dia mengaku sebagai Billie, karakter dalam novelnya, yang terjatuh ke dunia nyata karena kesalahan cetak dalam buku terakhir Tom.

Meskipun cerita itu gila, Tom harus percaya bahwa gadis itu benar-benar Billie. Akhirnya mereka membuat perjanjian. Jika Tom mau menulis novel agar Billie bisa kembali ke dunianya, Billie akan membantu Tom untuk mendapatkan Aurore kembali.

Tidak ada ruginya, kan? Iya, kan?
***

“Biarkan hidup memberimu hal-hal baik, dan jangan selalu takut kehidupan akan menyakitimu.” (Hal. 192)

Novel ini dibuka dengan prolog berupa potongan berita tentang novel karya Tom Boyd, tokoh utama dalam novel ini, beserta berita tentang hubungan percintaannya dengan pianis terkenal, Aurore. Dan di akhir prolog ini dimuat berita tentang bagaimana hidup Tom Boyd berubah setelah berakhirnya hubungannya dengan Aurore.

Pembukaan kisah ini menggambarkan secara gamblang bahwa tidak ada orang yang kebal dari sakit hati karena putus dari kekasih. Bahkan seorang penulis terkenal sekali pun. Dan ada sejumlah orang yang memutuskan untuk menghancurkan hidupnya sendiri dan berkubang dalam keterpurukan serta terserang depresi karena patah hati. Tom Boyd salah satunya.

Namun entah ia mengidap skizofrenia atau memang Billie, karakter fiksi yang ia ciptakan dalam novelnya, adalah sosok yang benar-benar hadir secara nyata dengan menyebrangi dunia fiksi dan masuk ke dunia nyata milik Tom. Kehadiran Billie membawa serta petualangan baru dalam hidup Tom. Saat sahabatnya Milo yang juga agen dan manager-nya mengabarkan kebangkrutan mereka serta berupaya memasukkan Tom ke klinik psikiater, Tom pun memilih untuk kabur dan “bertualang” bersama Billie.

Mereka membuat perjanjian, Tom harus melanjutkan novel terbarunya agar Billie bisa pulang kembali ke dunia fiksi, dan sebagai gantinya Billie akan membantuk Tom mendapatkan kembali Aurore.
Di sisi lain, tidak hanya Tom yang mengalami petulangan. Buku edisi khusus yang dicetak terbatas yang merupakan tempat Billie “muncul” dari dalam buku, pun mengalami perjalanannya sendiri. Buku ini hilang dan kemudian menjejak dan memasuki banyak kehidupan lain. Namun di sisi lain, buku ini harus ditemukan agar Billie bisa tetap bertahan hidup di dunia nyata hingga naskah yang ditulis Tom selesai dikerjakan.  Buku ini sempat menjelajah ke California, Roma, Korea Selatan dan akhirnya ke Paris. Penjelajahan buku ini membawa Milo dan Carole, dua sahabat Tom sejak hidupnya masih penuh kekelaman, menjadi lebih dekat dan satu persatu rahasia mereka terbongkar. Upaya mereka untuk menarik Tom keluar dari kubangan kesedihan semakin mempersatukan mereka.

Bagaimana akhir dari kisah ini? Siapa sebenarnya Billie ini?

“... ‘Billie’ tidak bisa berhenti bertanya-tanya dengan naif mengapa beberapa wanita mendapatkan banyak hal sejak mereka dilahirkan – kecantikan, pendidikan, kekayaan, bakat – sementara yang lain harus memulai hidup dengan begitu sedikit anugerah.” (Hal. 74)

***

“Menulis melemparkanku ke dunia yang aneh: realitas memudar sedikit demi sedikit dan para tokohku di ruang fiksi menjadi begitu nyata sampai mereka mengikutiku ke mana-mana.” (Hal. 107)

Buku ini kaya akan pengalaman sebagai seorang penulis dan juga pembaca fiksi. Saat membaca buku ini, saya merasa bahwa Guillaume Musso membuka tabir tentang isi pikiran seorang penulis tentang proses kreatif mereka, tentang arti karya bagi seorang penulis, hingga arti seorang pembaca bagi seorang penulis. Salah satu yang paling terasa adalah penjelasan yang disampaikan oleh Tom di halaman 107. Apakah itu pengalaman Guillaume Musso semata atau mungkinkah itu pengalaman para penulis lain juga?


Di sisi lain, ia pun menempatkan diri sebagai pembaca. Ia mampu menampilkan arti karya fiksi, sebuah cerita, bagi para pembaca. Bagaimana sebuah buku bisa memengaruhi kehidupan seseorang. Yang paling menarik adalah saat Tom melakukan penelitian tentang hubungan dunia fiksi dan kenyataan. Penjelasana di halaman 290 menjelaskan dengan bak hubungan antara penulis dan pembaca.

Selama membaca The Girl on Paper ini saya menyadari bahwa Guillaume Musso melakukan riset yang cukup serius mengingat ia membuat “buku yang salah cetak” itu memiliki perjalanannya sendiri. Mengaruhi separuh dunia untuk mendapatkan “takdir”nya. Sebuah kebetulan yang memberi kebahagiaan bagi pembaca.

Oiya, saat membaca halaman 191, saya tersenyum. Ada adegan di mana seorang suami dibangunkan tengah malam demi mencari sebuah buku untuk istrinya. Bagi seorang pecinta buku seperti saya, maka ini adalah adegan yang manis. Meski saya tahu suami saya akan menertawakan kesenangan saya atas adegan ini dan berkata, “Kalau saya tidak akan mau.” Ha..ha..

Bagi mereka yang senang membaca dan menulis, buku ini akan menjadi pengalaman membaca yang menyenangkan. Dan sejujurnya pengalaman pertama membaca novel populer dari Perancis (karena yang lebih umum diketahui di Indonesia adalah novel klasik) terasa sangat menyenangkan dan membuat saya penasaran dengan karya-karya Guillaume Musso lainnya, serta karya penulis Perancis lainnya.

“Dan, semua nilai moral yang kau ajarkan di bukumu: daya tahan dalam menghadapi kesulitan, kesempatan kedua, menemukan kekuatan dalam diri untuk bangkit kembali setelah jatuh – semua itu lebih mudah untuk ditulis daripada dilakukan, kan?” (Hal. 126)

***
Kumpulan Quote dalam The Girl on Paper
“Untuk membuat karya yang berharga, beberapa pekerja seni harus menciptakan keputusasaan ketika tak ada cukup penderitaan dalam hidup mereka sendiri. Pekerja seni yang lain menggunakan kesedihan mereka sendiri atau sanak kerabatnya sebagai semacam pemicu.” (Hal. 168 – 169)
“.... Tapi, gairah itu seperti obat-obatan. Pengetahuan akan efeknya yang merusak tidak pernah menghentikan siapa pun dari menghancurkan diri sendiri begitu mereka terjerat olehnya.” (Hal. 235)
“Kau membuat ikatan, lalu memutuskannya – itulah hidup. Pada akhirnya, kalian akan pergi ke arah yang berbeda, tanpe pernah tahu penyebabnya. Aku tidak bisa memberikan segalanya untuk orang lain sementara aku tahu sesuatu yang buruk akan terjadi. Aku tidak ingin membangun kehidupanku di atas perasaan, karena perasaan selalu berubah. Perasaan itu rapuh dan tak pasti.” (Hal. 238)
“Kurasa itulah makna semua cinta pada akhirnya:  keinginan untuk mengalami semua hal bersama-sama, belajar dari perbedaan satu sama lain.” (Hal. 239)
 “Aku tahu kita hanya layak mendapatkan cinta kalau kita memberikan seluruh jiwa raga kita kepadanya, mengambil risiko kehilangan segalanya....” (Hal. 240)
“Tapi, apa enaknya sendiri?Kesepian adalah hal terburuk di dunia.” (Hal. 243)
“Milo, aku tidak peduli tentang uang. Uang tidak mengisi kekosongan; uang tidak memecahkan masalah, kau tahu itu.” (Hal. 258)
“Betapa seringnya kita gagal mengetahui penderitaan orang-orang yang paling kita sayangi.” (Hal. 261)
“Waktu berlalu dan kita mengalir bersamanya, lebih sering melakukan apa yang kita bisa daripada apa yang kita inginkan. Sisanya tergantung pada nasib dan keberuntungan. Itu saja.”(Hal. 311)
“Aku mungkin memang penulis buku, tapi aku bukan Tuhan. Fiksi memiliki aturannya sendiri dan orang brengsek busuk itu tidak bisa tiba-tiba berubah menjadi menantu yang ideal dari satu buku ke buku berikutnya.” (Hal. 339)
“Beberapa orang sangat pintar melakukannya: memulai hidup mereka kembali. Yang bisa kulakukan hanyalah meneruskannya.” (Hal. 437)

4 komentar:

  1. Kalau Billie tidak muncul dari buku, lalu dia siapa? Apa tujuannya? Apalagi dengan pemikiran Billie tentang gadis yang lahir dengan sedikit anugerah membuat berpikir kalau dia mungkin melakukan itu untuk memperbaiki anugerah-nya.

    Duuuhh, makin penasaran setelah baca banyak kutipan di sini.

    BalasHapus
  2. pengen baca

    bagaimana penjelajahan Tom Boyd dan billie
    apalagi ini novel karya penulis terkenal di prancis bikin saya penasaran

    pas baca ini makin penasaran

    BalasHapus
  3. Kondisi Tom yg mengalami wtiter's block paska putus cinta memang sungguh mengenaskan. Tapi biasanya seorng penulis mampu mnciptakan karya hebat dari kondisina trsebut. Sepertinya kebanyakan orang memang beda2 ya

    BalasHapus