Jumat, 07 Oktober 2016

Take It Like a Mom



“Cukup mengejutkan sebenarnya – kehidupan nyataku sendiri justru lebih bagus daripada acara TV. Dan, apa sebenarnya yang telah kulakukan sehingga pantas mendapatkannya? Hanya berdiam dan menikmati peran sebagai seorang ibu!” (Hal. 387)


Penulis: Stephanie Stiles
Penerjemah: Ade Kumalasari
Penyunting: Utti Setiawati
Perancang sampul: Wirastuti
Ilustrasi cover & isi: iStock
Pemeriksa aksara: Fitriana & Pritameani
Penata aksara: tsbb
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: Pertama, April 2016
Jumlah hal: vi + 390 halaman
ISBN: 978-602-291-140-1

Wanita karier, make-up sempurna, selalu tampil modis, tanpa bulu kaki, perfect! Lupakan, lupakan, lupakan! Annie harus menyingkirkan sosok masa lalunya sebelum Robby hadir di dunia ini. Mencukur bulu kaki? Boro-boro, bisa mandi dengan tenang saja sudah sebuah anugerah di tengah kerepotan mengurus balita superaktif kecintaannya. Ia butuh jeda.

Di tengah-tengah masa merindukan “me time” itu, dua berita mengejutkan datang bersamaan. Ia hamil lagi, dan suaminya di-PHK. Mengurus satu saja rasanya luar biasa. Lalu, apa kabar biaya persalinan dan kebutuhan bayi serta balita? Badai mana lagi yang lebih buruk dari ini?

Belum lagi tahun ini Robby akan masuk preschool. Percayalah memilih sekolah untuk anak, menghadapi politik sekolah, serta persaingan dengan anak dan ibu lainnya di saat hamil itu, sungguh melelahkan!
***

“Mari kita bersikap realistis: kehamilan adalah pernyataan publik bahwa kau telah berhubungan seks – setidaknya sekali dan mungkin bahkan berkali-kali.” (Hal. 3)

Menjadi perempuan hamil jelas bukan hal yang mudah. Pengaruh hormonal (menurut berbagai hasil penelitian) membuat suasana hati ibu yang sedang hamil menjadi tidak terkendali. Ada kecenderungan perempuan menjadi mudah terharu dan sedih.

Nah, bagaimana jika kondisi kehamilan ini terjadi dalam situasi berikut: punya balita berusia 3 tahun; dan suami yang baru saja “dicadangkan” akibat kondisi perusahaan tempatnya bekerja mengalami krisis. Inilah yang dialami Annie. Dan sekeras apapun ia berusaha untuk tenang dan tidak terpengaruh oleh lingkungan yang mendadak terasa sangat menyebalkan dan muram, tetap saja ia tidak bisa berhenti memikirkan tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Akankah Alex, suaminya, bisa kembali bekerja di perusahaan tersebut? Atau ia sendiri yang harus kembali berkarir di luar rumah?

Di tengah semua kemelut ini, Annie sebagai ibu rumah tangga biasa mengalami masalah biasa. Ada tetangga yang senang mengkuliahi Annie tentang pengasuhan anak. Ada ibu kandung yang modis dan selalu membuat semua hal terasa salah karena rangkaian protes dan celaan yang disampaikannya. Senstif tingkat dewa.  Kemudian memiliki teman bercerita dan berbagi pengalaman terkait hal-hal tertentu. Bergosip!!!

Sejak awal kehamilan Annie selalu merasa bahwa kali ini akan menjadi masa kehamilan yang berat. Ia kehilangan kepercayaan diri karena pertambahan berat badannya yang meningkat pesat. Selera fashionnya yang tidak sebagus sahabatnya Jenn. Ibu yang tanpa henti merecoki dan berkomentar tentang banyak hal terkait dirinya, rumah tangganya, dan teman-temannya.

Namun tanpa ia sadari Annie dengan segala perlengkapannya sebagai seorang ibu dari balita yang berusia 3 tahun malah membuatnya menolong banyak orang. Hal-hal yang tidak terduga.

Apakah kehidupan sebagai full time mother dengan kondisi suami yang di-PHK, perut yang kian membuncit dan putra yang mulai belajar meniru kosa kata akan semenarik kehidupan saat masih menjadi perempuan kantoran dengan penampilan yang terawat dan tanpa seorang anak kecil pun yang perlu diurusi?

“(Omong-omong, empat puluh minggu itu sebenarnya  sepuluh bulan, kan? Siapa pun yang berkata kehamilan berlangsung selama sembilan bulan adalah pembohong kotor, nista, ehm, tukang tipu. Itulah sebutannya.)” (Hal. 6)

***

“Dan, kami ibu-ibu, yah, kami semua takut kalau tidak melakukan kontak sosial secara teratur, kami akan jadi pendekam rumah yang mengerikan, memesan baju dari katalog Fingerhut dan menimbun makanan kaleng di ruang bawah tanah.” (Hal. 8-9)

Menggunakan sudut pandang orang pertama, penulis mengetengahkan cerita tentang suka duka menjadi seorang ibu muda yang punya balita dan tengah menanti kehadiran anak kedua. Seluruh cerita dituturkan sejak Annie menyadari dirinya hamil hingga melahirkan.

Dalam rentang sembilan bulan ini, Annie memulai hidupnya dengan membosankan. Menjadi seorang yang sarkas dan sinis. Kecintaannya pada film Bewitched ikut mewarnai hidupnya. Kemudian satu persatu hal menarik terjadi. Duncan, petugas TV kabel yang karena Annie akhirnya menjadi tukang bunga. Kemudian ada Lucas, kekasih Michael, yang terjebak oleh kasus hukum. Oiya, jangan lupakan pesta natal di kantor lama Alex yang sering kali menjadi neraka.

Semua dinamika dalam cerita ini lama kelamaan menjadi menarik. Alur ceritanya cukup lambat. Dan semua pengetahuan tentang film yang dikemukakan oleh Annie menjadi informasi yang menarik. Oiya, part favorit saya adalah saat Annie kembali ke dunia hukum. Memakai baju yang elegan dan membela klien, meski hanya sekali dan dengan perut yang membuncit karena saat itu kehamilannya sudah menginjak trisemester ketiga.

Buku ini berhasil mengetengahkan kehidupan ibu rumah tangga yang biasa saja yang ternyata ketika dilihat melalui sudut pandang berbeda malah jadi terlihat luar biasa.

Hanya saja, karena alurnya yang lambat pembaca harus berhasil menaklukkan rasa bosan saat membaca 1/3 awal cerita sebelum benar-benar menikmati cerita ini. Mungkin karena budaya dan leluconnya sangat khas Amerika. Sehingga pembaca Indonesia seperti saya butuh berpikir dan kemudian menyadari itu sebagai percakapan kasual yang biasa muncul dalam kehidupan orang Amerika.

“Bagaimanapun, pakaian adalah konsep sosial yang benar-benar acak. Jadi, kalau dia memilih untuk pakai jubah, biar saja.” (Hal. 69)

***
“Hari-hari berlalu dengan cepat; bergantung padaku bagaimana aku akan menghargai dan memaksimalkan apa yang kumiliki.”  (Hal. 88)
“Konon, tertawa bisa menular, dan menguap juga, pastinya. Tapi, aku tidak pernah tahu bahwa menangis juga bisa menular.” (Hal. 102)
“Aku tidak pernah paham konsep itu. Kok bisa pengecualian membuktikan aturan? Kalau ada pengecualian, bukankah artinya itu melanggar aturan, atau peraturannya yang salah sejak awal?” (Hal. 218)
“Mungkin hanya pendapatku, tapi kehamilan terbaik agak mirip buku terburuk. Semua bisa ditebak, tanpa ironi apa pun, dan benar-benar antiklimaks....” (Hal. 335)
“Yah, kadang-kadang kita memang membutuhkan ibu untuk mendampingi.” (Hal. 338)


1 komentar:

  1. Arrghh kadang kalau membaca novel dengan alur yang lambat, suka bikin gemes dan akhirnya nyerah. Wah, kalau membaca buku ini berarti harus siap tempur melawan kebosanan ya?

    BalasHapus