Minggu, 02 Oktober 2016

Sunshine Becomes You



“Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kaupercayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku.” (Hal. 429)


Penulis: Ilana Tan
Penerbit: Gramedia
Cetakan: Pertama, Januari 2012
Jumlah hal.: 432 halaman
ISBN: 978-979-22-7813-2
Ini kisah yang terjadi di bawah langit New York...
Tentang harapan yang muncul di tengah keputusasaan...
Tentang impian yang bertahan di antara keraguaan...
Dan tentang cinta yang memberikan alasan untuk bertahan hidup.

Awalnya, Alex Hirano lebih memilih jauh-jauh dari gadis itu–malaikat kegelapan yang membuatnya cacat. Kemudian Mia Clark tertawa, dan Alex bertanya-tanya bagaimana ia bisa berpikir gadis yang memiliki tawa secerah matahari itu adalah malaikat kegelapan.

Awalnya, mata hitam yang menetapnya dengan tajam dan dingan itu membuat Mia gemetar ketakutan dan berharap bumi menelannya detik itu juga. Kemudian Alex Hirano tersenyum, dan jantung Mia yang malang melonjak dan berdebar begitu keras sampai-sampai Mia takut Alex bisa mendengarnya.
***

“Bagaimanapun, sesuatu yang sudah tidak asing pasti membuatmu merasa nyaman. Bukahkah begitu?” (Hal. 114)

Novel ini berkisah tentang Mia Clark dan Alex Hirano, dua orang yang memiliki karakter yang berbeda dan menghadapi dunia dengan cara berbeda. Namun takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden yang berujung pada cederanya tangan Alex dan Mia sebagai sosok yang bertanggung jawab atas insiden itu.

Cedera ini berdampak besar bagi Alex. Sebab sebagai seorang pianis ia membutuhkan tangannya, dan jika itu cedera maka itu berarti semua jadwal konsernya harus dibatalkan dan mendadak hidupnya sunyi karena tidak bisa melakukan hal yang sangat dicintainya, bermain piano. Inilah yang membuat ia sangat membenci Mia. Ia menganggap perempuan itu telah merusak hidupnya, meski tidak disengaja.

Mia yang dirundung rasa bersalah akhirnya datang untuk membantu Alex mengerjakan pekerjaan yang tidak bisa dilakukan dengan satu tangan. Meski ditolak dan diperlakukan dengan buruk oleh Alex, Mia tetap berusaha menebus kesalahan tersebut.

Akhirnya, mereka pun sering bersama karena Mia harus terus membantu Alex sampai tangan laki-laki emosional itu sembuh sepenuhnya. Dan perlahan ada yang berubah di tengah hubungan mereka. Namun di saat yang sama kenyataan pahit juga membayangi hubungan keduanya. Kenyataan yang disembunyikan Mia.

“Dia adalah bukti nyata bahwa kau tidak bisa menilai seseorang dari penampilannya saja.” (190)

***

“Menurutnya, yang namanya kesempatan itu tidak bisa dicari, tetapi harus diciptakan.” (Hal. 192)

Nama besar seorang Ilana Tan membuat saya tertarik membaca novel ini. Dan harus saya akui bahwa bagi pecinta cerita romance apalagi pure romance akan menyukai novel ini. Karena gaya berceritanya yang sangat mengalir. Momen-momen manis yang diselipkan dalam cerita serta premis dan twist yang membuat kisah ini jadi semakin romantis.

Penulisannya yang mengalir dan mengambil setting kota New York yang tidak satupun tokohnya berasal dari Indonesia, membuat buku ini terasa seperti terjemahan. Menunjukkan kekuatan Ilana Tan dalam menarik perhatian pembacanya. Membuat pembaca lupa bahwa yang ia baca adalah karya penulis dalam negeri Indonesia.

Sayangnya, ada beberapa hal yang masih kurang dieksplorasi. Pertama, kisah ini kurang detailing. Kenapa tidak menyebutkan nama obat yang ditemukan Karl? Hanya menyebutnya sebagai obat yang diminum juga oleh keluarganya yang memiliki penyakit tertentu. Kemudian tentang istilah-istilah dalam dunia tari kontemporer. Gerakan tertentu yang disebut dengan apa. Detailing seperti ini akan menghidupkan tokoh-tokohnya. Bahwa tokoh Mia Clark haruslah seorang penari, tidak bisa profesi yang lain. Bahwa Alex Hirano haruslah pianis profesional. Tidak bisa penulis atau profesi lainnya.

Tapi di luar itu semua novel ini memang manis. Meskipun belum ada signaturemark yang membuat pembaca yang bukan penggemar Ilana Tan seperti saya akan mengingat kisah di novel ini karena mengasosiasikannya dengan ke-khasan tertentu.

Intinya, novel ini adalah sebuah novel pure romance yang manis yang memanjakan imajinasi pembaca tentang romantisme.

“Seandainya. ... . Kata sederhana itu kini terasa memngerikan baginya. Karena kata itu bertentangan dengan kenyataan. Karena kata itu merujuk pada mimpi yang tidak akan tercapai.” (Hal. 319)

***

“Aku sangat ahli menghindari perasaanku sendiri, kau tahu? Bagiku suatu perasaan tidaklah nyata kalau aku menolak merasakannya. Perasaan itu tidaklah nyata kalau aku menolak mengakuinya.” (Hal. 426)


1 komentar:

  1. Kalau bicara kadar romantis, saya setuju novel ini memang penuh unsur itu. Dan pembaca dibuat hanyut dengan jalan cerita yang manis. Dan kekurangan yang disebutkan juga benar. Profesi seakan-akan hanya tempelan semata.

    Recent Post: Rekapan Buku September 2016

    BalasHapus