Rabu, 05 Oktober 2016

Nyawa



“Abisnya, semua kan sebenarnya tergantung sama diri sendiri. Kalau kita anggap seru, ya, jatuhnya bakal seru. Kalau kita tergantung sama orang lain, itu sama saja hidup kita dikontrol orang lain.” (Hal. 282)


Penulis: Vinca Callista
Penyunting: Strain Sani, Dila Meretihaqsari
Desain & ilustrasi sampul: Rony Setiyawan
Pemeriksa Aksara: Yohana Shera
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: Pertama, Mei 2015
Jumlah hal.: iv + 296 halaman
ISBN: 978-602-1383-46-9

Gadis itu memandang cermin. Di sana ada bekas telapak tangan yang memerah di sekeliling lehernya. Dia tertegun, mengingat kembali peristiwa semalam. Tangan-tangan dingin itu datang lagi, mencekiknya tanpa ampun.


Tak hanya itu peristiwa mengerikan yang terjadi di Rumah Mangga, kos misterius yang ia tinggali belum lama ini. Sepasang kakek-nenek sering datang membawa sekeranjang bunga kematian. Suara rintihan kesakitan, tulisan teror di tembok, hingga jerit kemarahan anak kecil yang terdengar setiap malam, menghantui para penghuni Rumah Mangga.

Sampai akhirnya mereka menemukan, ada seseorang di antara mereka yang sangat mencintai kematian, dan melakukan apa pun demi itu.

***

“Ini peristiwa yang tak terduga. Kematian selalu terjadi tanpa terduga, dan menarik perhatian.” (Hal. 3)

Novel ini bercerita tentang sebuah rumah kost yang dihuni oleh 8 orang. Mereka adalah Rory, Aria, Sandre, Cangi, Gandes, Mara, Danu dan Lian. Ada lima orang perempuan dan tiga orang laki-laki.

Suatu hari rumah kost tersebut pindah ke bangunan baru. Bangunan yang memiliki sebuah pohon mangga di halamannya. Ini yang membuat mereka menjuluki rumah kost tersebut sebagai Rumah Mangga. Lalu satu demi satu keanehan terjadi. Banyak hal misterius yang muncul. Menariknya semua misteri ini muncul di tengah interaksi yang terjadi di antara mereka. Hubungan-hubungan yang tercipta di antara mereka sudah seperti benang kusut.

Mara dan Danu yang merupakan pasangan kekasih yang paling bikin heboh karena sikap posesif Mara yang bahkan tidak rela melihat Danu berbicara dengan perempuan manapun. Kemudian ada Aria dan Sandre yang menyukai Rory. Sedangkan Rory memperlakukan keduanya sama dekat dan mesranya. Lalu Gandes yang menyukai Sandre. Dan Cangi yang menyukai Aria. Lian? Ia adalah serupa benang paling kusut dengan warna paling gelap di antara teman-teman lainnya.

Selain mereka, ada pula tokoh Kaatje yang menjadi misteri. Siapa dia? Kenapa ia terkesan senang menyakiti diri sendiri? Dan apa hubungannya dengan para penghuni Rumah Mangga?



“Hierarki itu urutan tingkatan. Walaupun bisa sampai bikin individu nggak percaya diri, hierarki juga bisa bikin seseorang terpacu buat ningkatin kualitas dirinya. Hierarki bajal selalu ada di kehidupan ini.” (Hal. 75)

***

“Tenang aja, saya nggak suka minta harga teman, kamu tahu kan? Seorang teman harusnya ngedukung usaha temannya dengan jadi konsumen yang profesional, bayar sesuai harga jual, dan bikin temannya dapat keuuntungan. Saya senang kamu ngelola bisnis sendiri, jelas saya nggak ma jadi orang yang ikut bikin kamu bangkrut, Ar.” (Hal. 136)

Membaca bab awal novel Nyawa ini saya sudah dihinggapi rasa tidak nyaman. Kenapa? Karena dibuka dengan kematian. Kematian yang misterius yang melibatkan sosok yang jatuh dari panggng dengan leher patah dengan sepatu yang terisi peniti.

Kemudian babak cerita berlanjut dengan mengambil setting di Rumah Mangga. Dan sesekali disisipi dengan obrolan antara sebuah sosok yang menyebut dirinya “aku” dengan tokoh bernama Kaatje. Pembicaraan mereka aneh tidak seperti obrolan pada umumnya.

Dalam cerita ini, penulis menyajikan misteri satu persatu. Awalnya muncul 3 misteri, kemudian diselesaikan 1, kemudian hadir kembali 2 misteri, kemudian dijawab 3, begitu ritmenya hingga akhirnya di akhir cerita semua misteri pun terjawab. Ini membuat pembaca terus penasaran hingga akhir cerita namun juga tidak dibuat bingung dengan sejumlah misteri dan hubungan yang rumit di antara tokoh-tokohnya. Cara bercerita yang pas.

Namun sedikit kekurangan yang terlihat adalah karena banyaknya tokoh perbedaan karakter mereka kadang tidak benar-benar kontras. Seperti untuk tokoh Gandes dan Cangi. Awalnya saya kesulitan membedakan keduanya. Karena gaya berbahasa dan karakter menyebalkan mereka sangat mirip. Ada juga Mara yang tidak dijelaskan penyebab ia menjadi posesif padahal ia tidak punya cukup alasan untuk itu sebab ia sendiri cantik, menarik dan kaya.

Tapi di luar kekurangan itu, novel ini cukup recomended untuk yang ingin membaca genre thriller, horor, misteri atau DarkLit


“..., love is based on our needs. Kebutuhan kita kayaknya nggak sama ....” (Hal. 282)

“Saya sayang kamu, .... Tapi saya suka merasa merdeka, jadi sebisa mungkin saya nggak terikat dalam hubungan.” (Hal. 282)

1 komentar:

  1. Bikin deg-degan y mba bacanya, masuk list dulu ah xixi aku baru baca Bristol karyanya Vinca kayaknya yang ini rame :)

    BalasHapus