Kamis, 06 Oktober 2016

Melangkah dengan Bismillah



“Dan jika suatu kali kau bertemu dengan seseorang di mana saja yang suka tersenyum dan mengucapkan alhamdulillah, mungkin kau telah bertemu dengan anak cucu Ayub dan Rahmah. Kau bisa mengucapkan salam padanya.” (Hal. 23)


Penulis: Wikan Satriati
Editor: Andriyati
Cover dan ilustrasi: EorG
Penulis: Republika Penerbit
Cetakan: I, Maret 2016
Jumlah hal.: 92 halaman
ISBN: 978-602-0822-211

“Tahukah kamu, saat kamu menjawab ucapan assalamu’alaikum dengan wa’alaikumsalam, seribu malaikat akan mengucapkan salam pula padamu.”
“Benarkah?”
“Ya. Apakah kau tidak merasakannya?”
Si Bocah menggeleng.
“Suatu saat kau akan bisa merasakannya, Nak. Ketika kau menjadi lebih peka.”

***
Buku ini membingkai Kalimat Thayyibah: bismillah, alhamdulillah, subhanallah, assalamu’alaikum, lailahaillallah, dan astagfirullah dengan kisah-kisah, agar maknanya lebih mudah dimengerti, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan gembira oleh anak-anak.

***

“Saat seseorang ingin menyampaikan sesuatu dan orang lain tidak mendengarkan, itu seperti ada bara api yang bergejolak di perutnya, membakar dadanya, dan memanaskan kepalanya. Tetapi jika orang lain mendengarkan, bara api itu akan padam, dan yang ada kesejukan semata.” (Hal. 9)


Dalam buku ini ada 7 cerita yang mewakili masing-masing kalimat thayyibah, yakni: bismillah, alhamdulillah, assalamu’alaikum, subhanallah, lailahaillah, dan astagfirullah. Cerita terakhi berkisah tentang sebuah ladang yang berisi keenam kalimat thayyibah tadi.

Dalam kisah-kisah ini, penulis menggabungkan antara dongeng dan kisah Islami. Di cerita awal kita dikenalkan dengan kelembutan Rasullah. Kemudian ada juga kisah tentang Nabi Ayyub. Ada juga penggalan kisah tentang Umar bin Khattab yang dikisahkan sebagai bagian dari sebuah kisah. Ya, untuk cerita yang berjudul “assalamu’alaikum, Salam Sejahtera Bagimu”, pembaca disuguhkan cerita berlapis. Sebuah cerita yang di dalamnya mengandung cerita.


Hm... favorit saya adalah cerita “Astagfirullah, Aku Menyesal”. Ada beberapa alasan kenapa saya paling menyukainya. Pertama, karena cerita ini sendiri terbagi menjadi 3 cerita yang tokohnya adalah Kakek Eata, ayah dan mama Eata, dan cerita tentang Eata sendiri. Selain itu, cerita ini mengadopsi kisah si kancil dengan sudut pandang baru yang lebih segar dan islami. Digambarkan bahwa Kancil memang cerdik, tapi dari sudut pandang Islam sikap Kancil ini malah terkesan buruk. Sebab ia senang memperolok orang dan memamerkan kecerdasannya. Padahal di Indonesia dongen Si Kancil adalah salah satu cerita yang paling populer.

Dalam hal ilustrasi, gambar-gambarnya memang terkesan simple dan hangat. Tidak mendominasi cerita namun mampu menyampaikan pokok cerita dengan baik.

Buku ini menjadi bacaan yang bagus untuk anak-anak muslim. Menceritakan tentang keteladanan dan contoh-contoh tentang perilaku yang baik dan buruk. Tapi untuk lebih optimalnya, anak-anak tetap didampingi saat membaca buku ini karena ada beberapa hal yang mungkin bisa menyelisihi pemahaman mereka selama ini. Seperti kisah Si Kancil yang sering kali dielu-elukan sebagai tokoh yang pintar. Namun ternyata lebih dekat dengan sikap licik. Sedangkan anak-anak tentu belum benar-benar paham tentang sikap licik itu seperti apa.

“Meskipun pada dasarnya seseorang memiliki wajah rupawan, tetapi apabila ia langsung merasa matanya sakit dan telinganya gatal-gatal setiap kali melihat orang berbuat kebaikan dan berbahagia, kau mungkin akan bisa melihat sosok buruk rupa di balik wajahnya yang rupawan itu.” (Hal. 18)

***
Kumpulan Quote dalam “Melangkah dengan Bismillah”

“Ia terkejut tetapi tidak takut. Biasanya anak-anak kecil akan seperti itu. Mereka tidak berpikir orang asing berbahaya.” (Hal. 32)

“Kesedihan kadang dapat membuat siapa pn menjadi lebih peka, ....” (Hal. 72)

“... otak adalah sebuah ruang ajaib yang siapa pun bisa mengisinya dengan apa saja. Tetapi siapa pun harus hati-hati sebelum memutuskan apa yang akan disimpan di dalam otaknya karena itu akan menentukan jati dirinya.” (Hal. 76)

“... setiap harapan yang baik akan selalu bisa menemukan jalan menjadi kenyataan.” (Hal. 77)

“Sebagaimana yang selalu terjadi, di dunia ini segala sesuatu akan terdiri dari dua hal. Jika ada saat-saat nakal, ada pula saat-saat menyesal.” (Hal. 78)

“... kecerdikan baru akan menjadi satu hal yang bernilai di dunia ini apabila dipergunakan untuk kebajikan dan kebaikan. Dengan demikian dunia ini akan semakin indah.” (Hal. 83)

1 komentar:

  1. Buku islami untuk anak-anak ya? Bagus untuk bahan mendongeng atuh. Saya penasaran dengan ilustrasinya, simple gimana gitu!

    BalasHapus