Kamis, 13 Oktober 2016

Hari Tak Selamanya Malam



“Hidup selalu seperti ini, ada yang datang dan pergi. Ada yang hadir untuk tetap tinggal, ada pula yang hanya singgah untuk kemudian meninggalkan. Ada yang pergi untuk sementara, ada pula yang pergi untuk selamanya dan tak pernah kembali.” (Hal. 149)

Penulis: Suryawan W.P
Editor: Septi Ws
Desainer sampul: Teguh
Penata isi: Tim Desain Broccoli
Penerbit: Grasindo
Cetakan: Pertama, Juli 2016
Jumlah hal.: v + 231 halaman
ISBN: 978-602-375-594-3

Pulang tidak selalu menjadi hal yang menyenangkan. Bagi Kalyana, pulang adalah rasa takut. Itu sebabnya Kalyana selalu menunda permintaan ayahnya untuk pulang ke Semarang. Namun, kali ini ia tak bisa mengelak lagi. Kalyana harus pulang. Ia harus menghadapi ketakutannya sendiri.

Sampai ketika Kalyana memutuskan untuk pindah dari Jakarta dan kembali ke kota asalnya, kecemasan tentang jati diri yang belum bisa dia bagi pada siapa pun, bahkan pada Radite –calon suaminya– tak juga hilang. Sebuah tragedi tentang keluarganya yang coba ia kubur dalam-dalam terus membayangi. Akankah Radite mau menikah dengannya bila ia tahu siapa Kalyana sebenarnya?
***

“Adakalanya pertanyaan menjadi begitu menakutkan.” (Hal. 1)

Kisah tentang skizofrenia sudah banyak ditulis dalam sebuah buku. Skizorenia adalah salah satu gangguan mental yang sering menjadi cerita dalam novel. Sudut pandang yang diambil pun beragam. Kali ini penulis mengetengahkan skizorenia dari sudut seorang anak yang ibunya menderita penyakit tersebut.

Menariknya, kisah ini dimulai dengan cara yang menarik. Kalyana, tokoh utama dalam novel ini, awalnya mengenal Kartina sebagai kakaknya. Kakak yang membuat ia dicap sebagai “adik orang gila”. Di sekolah ia di-bully saat orang-orang mengetahui bahwa ia memiliki seorang kakak yang gila. Ini membuat Kalyana tumbuh menjadi perempuan yang berbeda. Cenderung menutup diri. Ditambah lagi ibu dan ayahnya tidak pernah memerhatikan dirinya dan sibuk tenggelam dalam rutinitas mereka sebagai pemilik sebuah warung di Semarang.

Namun saat usianya 24 tahun, ia diberi tahu oleh orang yang selama ini ia anggap ayah dan ibunya bahwa Kartina sebenarnya adalah ibu kandungnya. Mereka yang ia pikir orangtuanya tidak lain adalah kakek-neneknya sendiri. Kebenaran ini menghantam telak Kalyana. Ia yang seumur hidup membenci Kartina atas kesulitan yang ia alami akibat memiliki kakak yang gila, kini dibuat menanggung rasa bersalah. Bagaimana mungkin ia membenci ibunya sendiri? Ia bahkan sering berharap agar Katina mati saja. Namun saat mengetahui bahwa Kartina adalah ibunya ia malah menjadi gamang. Ia ingin mencintai ibunya. Tapi di saat yang sama ia tahu ini akan memengaruhi seluruh kehidupannya. Terutama hubungannya dengan Radite, tunangannya. Bagaimana mungkin Radite dan keluarganya yang terpandang itu akan sudi memiliki menantu yang ibunya adalah penderita skizofrenia?

Di tengah kemelut ini, Kalyana jadi rajin mengunjungi rumah sakit jiwa tempat ibunya dirawat. Butuh waktu yang lama bagi Kalyana untuk datang menemui ibunya. Dan di tengah upayanya untuk mengumpulkan keberanian inilah ia berkenalan dengan Irsyad, anak kecil yang menderita skizofrenia; Delano, penderita yang sudah sembuh namun tidak kunjung dijemput oleh keluarganya; juga dengan Dokter Saka yang merawat ibunya di rumah sakit jiwa tersebut.

Pada akhirnya hubungan-hubungan baru ini mengisi kehidupan Kalyana. Di saat yang sama hubungan yang sudah lama terjalin tengah diuji. Bagaimana masa depan hubungan Kalyana dan Radite? Bisakah Kartina, ibu Kalyana, sembuh? Mampukah Kalyana mencintai ibunya?


“Ah, kenapa sih setiap orang harus merasa berhak untuk bertanya, dan membuat orang lain seolah menjadi wajib untuk memberikan jawabannya?” (Hal. 2)

***

“Terkadang pertanyaan itu hanya perlu dijawab sekenanya karena seseorang tidak begitu peduli dengan isi jawabannya.” (Hal. 7)

Novel ini memiliki premis yang menarik. Seluruh rangkaian konfliknya pun sama menariknya. Sayangnya, karena hal itu, konflik utama jadi samar. Apa konflik utama novel ini? Pergulatan batin Kalyana semata kah? Ataukah hubungan Kalyana dan ibunya?

Seluruh konflik di dalam cerita ini semuanya bagus. Hubungan Kalyana dengan keluarganya; Kalyana dengan Radite, tunangannya; Kalyana dengan Kartina; hubungan Kalyana dengan Dokter Saka, yang merawat Kalyana; bahkan hubungan Kalyana dengan pasien rumah sakit jiwa yang ia datangi.

Sayangnya konflik-konflik tersebut disajikan kurang emosional. Ini amat disayangkan, mengingat sudut pandang yang dipakai adalah sudut pandang orang pertama dari tokoh utama perempuan pula. Peluang eksplorasi perasaan Kalyana dengan lebih dalam bisa menjadikan tulisan ini lebih berkesan. Tidak akan ada yang menganggap pilihan Kalyana untuk menangis ataupun berniat bunuh diri sebagai pilihan berlebihan jika sisi emosional dari setiap adegan bisa ditarik keluar dan disuguhkan ke dalam pembaca.

Oiya, ada sebuah repetisi untuk kalimat “Aku terjebak dalam zona nyaman. Meski kadang zona nyaman itu tidak benar-benar nyaman.” Muncul dua kali dalam format yang hampir serupa yakni di halaman 124 dan halaman 175.

Untuk keseluruhan, novel ini sudah rapi. Pembahasan tentang skizorenianya lebih luas karena menggunakan banyak sudut pandang. Ada cerita dari sisi ibu yang anaknya menderita skizorenia; dari sisi dokter yang merawat penderita skizofrenia; dari sisi penderita yang sudah sembuh namun ditolak oleh keluarganya; juga dari sisi seorang anak yang ibunya menderita skizofrenia.

Novel ini juga enak untuk dibaca karena penuturannya yang menarik.  meskipun pembahasannya sebenarnya cukup berat, namun tidak membosankan karena pembahasan tentang skizofrenia menyatu dengan baik dalam keseluruhan cerita. Hanya kurang di satu hal saja. Emosi. Sisanya yang lain sudah sangat pas.

Oiya, jangan lupa memasukkan poin quoteable dalam kelebihannya. Ya, di dalam novel ini banyak kalimat-kalimat yang diksinya pas dan memiliki makna mendalam. Jadi banyak quote yang bertebaran dan layak dishare di media sosial. He..he.. :)

 “Apalah artinya cantik kalau ada ‘tapi’-nya. Bisa jadi karena sebuah kata ‘tapi’ kadar kecantikanku akan turun beberapa persen. Atau, dalam kasusku, kriteria cantik akan benar-benar diabaikan karena sebuah kata ‘tapi’”. (Hal. 10)

***
Kumpulan Quote dalam Hari Tak Selamanya Malam

“Cinta adalah kata paling asing dalam kamus hidupku karena aku masih susah untuk membayangkan wujudnya seperti apa. Bahkan, untuk mengucap “aku cinta kamu” saja masih terasa janggal di bibirku.” (Hal. 12)
“Siapa bilang pulang selalu menyenangkan? Bagiku pulang adalah kematian. Bukan ragaku, melainkan jiwaku yang hampir mati, di rumah ini.” (Hal. 13)
“Kadang, aku merasa beban seorang perempuan itu lebih berat daripada laki-laki.” (Hal. 19)
“Senja selalu seperti itu. Perlahan datang, lalu tiba-tiba hilang. Tergantikan keremangan malam, menyisakan kehampaan.” (Hal. 45)
“Hari tak selamanya malam, dan langit tak selamanya hitam. Seperti pagi ini, langit kita biru.” (Hal. 49)
“Sungguh tidak ada yang lebih menyedihkan daripada mengecewakan seseorang yang menyayangimu, bukan?” (Hal. 59)
“Semakin cepat menghadapi masalah, semakin cepat juga akan terbebas dari masalah itu.” (Hal. 115)
“Aku terjebak dalam zona nyaman. Meski kadang zona nyaman itu tidak benar-benar nyaman. Hanya saja kita terlalu takut untuk melangkahkan kaki keluar dari lingkungan ketidaknyamanan ini.” (Hal. 124)
“..., terkadang seseorang perlu waktu bukan untuk memantapkan diri agar tetap tinggal, tapi meyakinkan diri untuk benar-benar pergi.” (Hal. 156)
“Aku hanya tahu, hubungan dua kekasih kalau tidak diakhiri dengan pernikahan pasti akan diakhiri dengan perpisahan.” (Hal. 157)
“..., karena ikhlas juga butuh belajar. Bahkan aku yakin, setiap dari kita pasti menyisakan ketidakikhlasan dari hal-hal lalu yang berusaha untuk kita abaikan.” (Hal. 177)
“Mana ada orang yang benar-benar cinta malah pergi meninggalkan seseorang yang dicintai.” (Hal. 195)
“Semakin bertambah usia seseorang, semakin banyak hal dan waktu untuk menimbang sebuah keputusan.” (Hal. 213)
“Pengemis, gelandangan, juga orang gila di jalanan tidaklah ada di dunia dengan percuma. Semua memiliki maksud mengapa harus ada di dunia, untuk menguji apakah manusia masih punya hati untuk layak disebut manusia atau tidak.” (Hal. 215)
“..., kita lebih sering iba melihat kucing atau anjing yang kelaparan di jalan daripada melihat orang gila yang jelas-jelas manusia sam seperti kita.” (Hal. 216)

2 komentar: