Jumat, 14 Oktober 2016

Garis Waktu



“Beberapa orang berhenti menyapa bukan karena perasaannya berhenti;
melainkan karena telah mencapai titik kesadaran untuk berhenti disakiti.” (Hal. 155)


Penulis: Fiersa Besari
Penyunting: Juliagar R.N
Penyunting akhir: Agus Wahadyo
Foto: Fiersa Besari
Penata letak: Didit Sasono
Desain cover: Budi Setiawan
Penerbit: Mediakita
Cetakan: Pertama, 2016
Jumlah hal.:  iv + 212 halaman
ISBN: 978-979-794-525-1

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang mengubah hidupmu untuk selamanya.

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau terluka dan kehilangan pegangan

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau ingin melompat mundur pada titik-titik kenangan tertentu.

Maka, ikhlaskan saja kalau begitu.
Karena sesungguhnya, yang lebih menyakitkan dari melepaskan sesuatu adalah berpegangan pada sesuatu yang menyakitimu secara perlahan.

***

“Hatimu bukan untuk kucuri, melainkan untuk kuminta baik-baik.” (Hal. 16)

Garis Waktu, adalah sebuah surat yang ditulis oleh tokoh “aku” untuk sosok “kamu”. Kisah dimulai dengan perkenalan “aku” dan “kamu” dan ditutup dengan akhir kisah “aku” dan “kamu”.

Dalam buku ini, pembaca akan disuguhi sebuah kontemplasi panjang dari sosok “aku”. Ia dengan semua pemikiran mendalamnya. Semua luapan isi kepala dan hatinya tentang banyak hal, terutama tentang “kamu” yang ada di hidupnya.

Jangan berharap menemukan dialog panjang seperti dalam cerpen atau novel. Sebab buku ini diisi oleh narasi dari sosok “aku”. Tapi bukan berarti tidak ada cerita yang disampaikan. Kisah percintaan “aku” dan “kamu” di dalam buku ini manis untuk diikuti. Meski pada akhirnya akan ada hati yang luka dan patah. Namun bukankah itu risiko jatuh cinta?

Nah, selamat menemukan sepenggal kisahmu dalam buku Garis Waktu ini. Sebab meski buku ini bercerita tentang kehidupan sosok “aku” namun ia menuturkan banyak hal yang mungkin saja serupa dengan salah satu cerita dalam hidupmu.

“Jangan memikat jika kau tak berniat mengikat.” (Hal. 19)

***

“Kata mereka, hidup ini harus seperti membaca buku. Kita takkan bisa lanjut ke bab berikutnya jika terus terpaku di bab sebelumnya. (Hal. 23)

Melihat sampul depan “Garis Waktu” karya Fiersa Besari ini, saya dibuat jatuh suka karena konsepnya yang simple dan clean. Belum lagi tagline yang tertera di sampul, “sebuah perjalanan menghapus luka”. Ini karena saya selalu percaya bahwa luka, kesedihan, patah hati dan emosi semacam itu selalu mampu memberi “rasa” dalam sebuah karya.

Saya lebih suka menyebut buku ini sebagai prosa. Ia layaknya sebuah novel, namun tidak benar-benar menuturkan kisah secara utuh. Penulis mampu menampilkan kekuatan diksi dalam karyanya. Bahwa cerita yang minim dialog ternyata mampu padat makna dan mengajak pembaca untuk membangun sendiri adegan demi adegan berdasarkan apa yang dituangkan penulis.

Belum lagi adanya gambar hitam putih yang mengawali setiap chapter dalam buku ini. Kadang gambarnya terlalu gelap, kadang terlalu blur, namun bisa jadi itu untuk memperkuat pesan tentang emosi yang ingin disampaikan penulis kepada pembacanya.

Saya sudah mengikuti tulisan-tulisan Fiersa Besari di media sosial sejak lama. Dan ternyata salah satu tulisan yang paling saya sukai ikut di dalam buku ini. Saat membaca halaman 64 di buku ini, saya merasakan kesenangan tersendiri. Seperti menyapa kawan lama. Dan ternyata saya tetap menyukai tulisan ini seperti dulu saat saya membacanya untuk pertama kali.

Secara keseluruhan, Garis Waktu adalah tulisan yang rapi dengan diksi yang pas dan sarat makna. Hanya saja secara emosi, saya belum memiliki ikatan apapun dengan sosok “aku” sebagai narator dalam tulisan ini. Saya tahu dia patah hati, tapi saya tidak ikut merasakan sakitnya dan tidak cukup peduli untuk memaksa diri merasakan sakitnya. Rasanya lebih mirip seperti mendengar seorang teman curhat tentang hatinya yang luka dan patah. Hal ini juga yang membuat saya lebih suka menyebut karya ini sebagai prosa. Bukan novel apalagi roman meski ia tetap menyampaikan cerita.

Selain itu di chapter “Dan Kau Pun Porak Poranda” pada halaman 147, saya merasakan kejanggalan. Bukankah kisah ini tentang tokoh “aku” yang bercerita tentang “kamu” dan hubungannya dengan “kamu”. Lantas kenapa setelah mereka diceritakan berpisah, “aku” bisa bercerita tentang “kamu”? Apa karena men-stalking akun atau kehidupan “kamu”, makanya “aku” tahu? Tapi ini agak berbeda dengan tipe tulisan sebelumnya yang lebih detail. Jika memang ia melakukan sesuatu dan menjadi stalker, biasanya “aku” akan menarasikan tindakannya. Kenapa kali ini tidak?

Baiklah, itu saja review singkat dari saya untuk Garis Batas ini. Melalui karya ini Fiersa Besari kembali membuktikan kemampuannya dalam merangkai kata. Tidak semata merangkai kalimat singkat. Namun ia mampu menulis sebuah karya utuh setebal 212 halaman.
Pssst.. buku ini quote-able sekali. Di tangah jalan saya menyerah menempelkan post it untuk menandai kalimat-kalimat yang “kena di hati”. Sebab hampir setiap halaman punya kalimat yang bermakna.
“Rasa yang tidak terbatas takkan mempermasalahkan ketika tidak berbalas.” (Hal. 37)
***
Kumpulan Quote dalam Garis Waktu
“Lambat laun kusadari, beberapa rindu memang harus sembunyi-sembunyi. Bukan untuk disampaikan, hanya untuk dikirim lewat doa. Beberapa rasa memang harus dibiarkan menjadi rahasia. Bukan untuk diutarakan, hanya untuk disyukuri keberadannya” (Hal. 40)
“Ketahuilah, beberapa tangan melepaskan genggamannya saat hidupmu bertambah sulit agar tanganmu kosong dan bisa digenggam oleh seseorang yang takkan pernah melepaskanmu.” (Hal. 53)
“Setelah dikhianati, kita tidak mungkin bisa seperti dulu. Walau perasaan tak berubah, tapi peranan harus berubah.” (Hal. 154)


8 komentar:

  1. Apakah buku ini sejenis dengan "Sebuh Usaha Melupakan" karya Boy Candra, yang lebih suka mengungkapkan aku-kamu, dengan jalan cerita mereka bertemu-memupuk harapan-terluka-berdamai dengan sakit hati? Penasaran sih, tapi semoga pikiran pria dewasa di buku ini bisa dimaklumi.

    BalasHapus
  2. kalo mau beli buku secara online nya dmana ya, aku kehabisan buku pas beli di gramed.. pengen banget punya buku garis waktunya fiersa besari

    BalasHapus
  3. penasaran juga sama bukunya, semoga besok ke gramed masi ada eheh

    BalasHapus
  4. Kemarin coba2 nyari2 di toko buku terdekat namun nggak ada,aduh..

    BalasHapus
  5. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kbagi.com untuk info selengkapnya.

    Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    BalasHapus
  6. novel ini temanya apa ya kak ?

    BalasHapus
  7. saya baru beli bukunya,melihat judulnya saja saya tertarik untuk membeli,

    BalasHapus