Senin, 10 Oktober 2016

Caramel Macchiato



“.... Jangan percaya kalau ada yang bilang cewek lebih cantik pas nangis. Karena yang bener itu ... cewek berlipat-lipat lebih cantik daripada biasanya pas mereka tersenyum.” (Hal. 98)


Penulis: Iffah Ariqoh
Penyunting: Ikhdah Henny & Dila Maretihaqsari
Perancang & ilustrasi sampul: N.A. Zundaro
Perancang jaket: Musthofa Nur Wardoyo
Ilustrasi: N.A Zundaro
Pemeriksa aksara: Mia Fitri K & Intan Puspa
Penata Aksara: Martin Buczer
Penerbit: Bentang Belia
Cetakan: Pertama, Juni 2016
Jumlah hal.: viii + 168 halaman
ISBN: 978-602-1383-97-1

Bodoh! Payah! Keiza mengutuki diri sendiri saat melihat kejadian itu, Davian nembak cewek lain.

Harusnya Keiza yang ada di sana. Harusnya senyum Davian hanya untuk Keiza, seperti dulu. Harusnya Davian tetap berada di sampingnya, andai saja Keiza tidak melakukan kebodohan di masa lalu.

Sementara itu, saat Keiza ingin memperbaiki keadaan, ia mulai menerima pesan-pesan penyemangat pada kertas biru laut. perasaan Keiza terombang-ambing. Persoalan pelik ini membuatnya kebingungan. Sulit untuk tidak tersentuh oleh pesan-pesan manis itu, tapi move on dari Davian juga bukan perkara mudah.
***

“Ternyata, sakit ya, Sha. Nahan air mata jatuh itu sakit. .... Kenapa lo bisa nahan berkali-kali, sih, kalau sakitnya kayak gitu?” (Hal. 132)

Kisah cinta masa remaja memang tidak akan ada habisnya untuk di-eksplorasi. Masa putih abu-abu adalah masa yang banyak diwarnai oleh warna merah jambu. Ya kisah cinta menjadi salah satu hal yang paling penting di usia remaja, selain persahabatan tentu saja.

Ini pula yang dialami oleh Keiza. Awalnya hubungannya dengan Davian memberinya rasa nyaman. Ia merasa bahwa hubungan persahabatan mereka adalah hubungan yang paling berarti. Itu sebabnya ketika Davian menyatakan perasaannya pada Keiza, gadis itu menolaknya. Ia tidak ingin persahabatan mereka berubah. Sayangnya itu kesalahan. Davian akhirnya menjauh darinya. Dan bahkan menyatakan perasaan pada cewek lain yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri, Rika.

Di tengah kekalutannya dan upayanya mengobati hati yang patah, sebab ia sebenarnya juga menyukai Davian, hadir dua sosok baru dalam hidup Keiza. Ada Herjuno dan Aji. Mereka muncul memberi warna baru dalam hari-hari Keiza. Terutama Herjuno. Cowok itu selalu muncul di waktu yang tepat. Entah bagaimana.

Selain itu, kehadiran surat-surat misterius yang manis dan berwarna biru laut ikut memberi warna dalam kehidupan Keiza. Masa remaja adala masa yang akan memberi kenangan tersendiri.

Sayangnya, warna kehidupan tidak selalu berwarna cerah kan? Kadang kelam datang. Dan saat kenyataan pahit atas kehilangan orang yang dicintai dihadapkan pada Keiza, mampukah gadis itu menjalaninya?

***

Membaca novel remaja, selalu menimbulkan tantangan bagi saya pribadi. Karena bisa jadi saya akan disuguhi kisah yang biasa saja dengan cara yang juga sangat biasa, mengingat ide tentang percintaan di usia remaja sudah banyak dituturkan. Tapi sekali seorang penulis mampu melampaui kesan “biasa” ini, maka itu akan menjadi pengalaman baca yang menyenangkan.


Sayangnya novel ini masih melakukan kesalahan yang sama dengan yang dilakukan oleh novel remaja pada umumnya. Ya, sangat sedikit dibahas dimensi keluarga. Padahal keluarga memiliki peran membentuk karakter tokoh tersebut. Sayangnya bahkan kehadiran orang tua Keiza hanya sekadar jadi pendukung, tidak menjadi bagian dari cerita. Terlalu sedikit dieksplor. Padahal ada peluang untuk lebih banyak dimasukkan ke dalam cerita karena orang tua Keiza digambarkan sering bepergian keluar kota dan meninggalkan Keiza kesepian di rumah.

Selain itu, ada beberapa hal yang saya pertanyakan

- di halaman 62 disebutkan tentang bungkus permen yang dibawa ke mana-mana oleh Keiza. Hm..yakin bungkus permen bisa bertahan lama? Disimpan di saku apa tidak akan tercuci. Disimpan di luar saku saat mau mencuci apa tidak akan tercecer?
- Kemudian di halaman 73 diceritakan bahwa Keiza dan Davian ada di pantai. Padahal sebelumnya diceritakan bahwa pesta yang dihadiri Keiza ada di jalan Sudirman di Jakarta. Apa saya yang salah tangkap ya?
- kemudian di halaman 99 ada ketidakkonsistenan saat Keiza menyebut dirinya sebagai Salsha juga Keiza dalam kutipan langsung yang sama.
- Kemudian di chapter 27 dibahas tentang ICU. Dan setahu saya penjenguk di ICU jumlahnya dibatasi. Kenapa di dalam novel ini bisa mencapai lebih dari 4 orang.

Di luar semua kekurangan itu, novel ini cukup menyenangkan untuk dibaca karena cara berceritanya yang kasual dan mengalir. Khas remaja. Novel ini cukup ringan untuk dibaca dalam sekali duduk.

2 komentar:

  1. keren kak, viewer yg q kagumi. hehe, btw penasaran ma kejlanjtn kisahnya Keiza, ap dy jadian ma Davian atw sama salah stu dua cowok it yah?

    BalasHapus
  2. Benar atau nggak, kayaknya penerbit Bentang sudah jarang menerbitkan buku. Dan ini mungkin menjadi buku berikutnya yang masuk lini Bentang Belia dengan kisah remajanya. Namun, dari review ini saya tidak menangkap hal menonjol apa yang begitu terasa di novel ini selain romance antar tokohnya.. Sayang sekali bukan?

    BalasHapus