Selasa, 27 September 2016

Toraja



“Sahabat adalah orag yang bisa menerima kamu dalam keadaan apa pun,....” (Hal. 122)
“Sahabat itu ibarat keluarga kedua.” (Hal. 123)


Penulis: Endang SSN
Editor: Diaz
Desainer cover: Aan_Retiree
Layouter: Fitri Raharjo
Pracetak: Endang
Penerbit: de Teens
Cetakan: Pertama, Agustus 2014
Jumlah hal.: 244 halaman
ISBN: 978-602-296-006-5

“Bira! Pada cinta yang tulus, jarak hanya cara Tuhan untuk membuatmu mengerti bagaimana rindu itu akan menemukan jalan pulang.”

Toraja menjadi pilihan dua sahabat, Tomi dan Sandy, untuk traveling sekaligus sebagai pelarian Sandy dari patah hati dan status pengangguran. Di tempat yang eksotis itu, Sandy berhasil move on dan menemukan seorang gadis Toraja. Tapi, masalah tak selesai di situ. Cinta mereka tak direstui orang tua si gadis karena tidak boleh menikah dengan orang dari luar Toraja.

Ah, cinta..., selalu butuh perjuangan, meski hati keduanya telah bertaut sekalipun.
***

“Cinta tak pernah salah untuk datang,...” (Hal. 11)

Novel ini bercerita tentang kehidupan Sandy, mahasiswa psikologi yang lulus dengan predikat cum laude dan selesai tepat waktu. Sayangnya prestasi akademik tersebut tidak membuatnya segera mendapatkan pekerjaan dan kemudian siap untuk hidup mapan.

Di sisi lain, Sandy juga sedang berusaha membunuh rasa cinta yang sesekali masih membuatnya merindukan Olly, gadis yang sempat mengisi waktu dan harinya saat masih kuliah. Olly adalah pacar pertamanya. Sayangnya hubungan mereka berakhir dengan buruk. Sandy mengetahui bahwa Olly berbagi kasih dengan laki-laki lain di belakangnya.

Novel ini kemudian menceritakan petualangan Sandy ke Toraja bersama Tomi. Banyak hal yang mereka lewati. Sandy menemukan banyak hal baru. Termasuk cinta baru bernama Bira. Sayangnya hubungan mereka tidak mudah. Bira yang asli berasal dari Toraja dan Sandy yang berasal dari Jakarta terbentur oleh adat.

Sanggupkah Sandy memperjuangkan cintanya kali ini?

“Sering kali, duka dan perih membuat seseorang tampil sebagai Superman. Energi negatif yang bisa bertransformasi positif sedikit banyak memberi kekuatan untuk sebuah pencapaian.” (Hal 15)

***

 “Jangan terperdaya oleh cinta semu! Belajarlah untuk menilai hati dengan lebih baik!” (Hal. 18)

Novel ini termasuk dalam salah satu #TRAVELOVE series yang diterbitkan oleh deTeens, imprint penerbit Divapress. Mengusung tema traveling, series ini adalah novel-novel yang lolos dalam penjaringan lomba yang diadakan penerbit tersebut.

Tempat yang dipilih memang tidak umum. Sayangnya eksplorasinya kurang. Termasuk risetnya. Di halaman 57 menyebutkan tentang pete-pete yang merupakan angkot yang serupa dengan mikrolet. Namun penulis malah menjelaskan tentang bentor, becak motor. Ini jelas adalah kesalahan yang fatal. Seolah tanpa riset.

Selain itu di novel ini interaksi antartokohnya terasa menggelikan. Beberapa kali disebutkan Tomi yang memeluk Sandy dan begitupun sebaliknya. Dalam logika maskulin atau laki-laki, mengungkapkan perasaan bukanlah hal yang mudah. Apalagi mengungkapkan perasaan melalui pelukan?! Selainitu gaya berbicara dan pilihan kata yang digunakan tokohnya tidak terkesan maskulin sama sekali. Hal ini tidak bisa dimaklumi dengan alasan bahwa penulisnya perempuan. Sebab jika tidak mampu memerhatikan hal ini, bukankah lebih baik jika menggunakan perempuan sebagai tokoh utama.

Selain itu, dalam hal deskripsi, novel ini terlalu banyak telling. Main diksi di deskripsi, namun tidak menggambarkan detail apapun yang bisa menolong pembaca membangun emosinya. Padahal sebagai orang yang pernah menjejak di Toraja, saya merasa banyak hal yang menarik jika emosi tokoh menyatu dengan baik dengan setting cerita.

Dalam hal plot cerita pun masih sangat flat. Olly hanya jadi alasan yang seolah penting padahal tidak. Tidak disebutkan sudah berapa lama Sandy mengenal Olly, berapa lama ia mengejar Olly, dan berapa lama mereka pacaran. Ini bisa untuk mempertegas kenapa Sandy sulit melupakan Olly. Lagipula, kalau memang susah move on kenapa tidak segera menghubungi Olly saat dia datang lagi? Kalau memang susah move on kenapa begitu mudahnya jatuh cinta pada Bira dan bahkan mendatangi keluarganya demi mendapat restu padahal baru mengenal selama beberapa hari?!

Novel ini sebenarnya mengusung banyak hal sekaligus dalam naskahnya. Ada cinta, traveling, dan persahabatan. Sayangnya penulisannya masih kurang matang. Masih perlu banyak perbaikan.

Untuk penulisnya, Endang SSN, good luck yaaa. Jangan berhenti menulis dan terus belajar untuk menemukan gaya menulismu dan mematangkannya. :)


 “Egois lebih baik daripada pengecut. Pulang sebagai pecundang itu sangat memalukan, ...” (Hal. 73)

***
Kumpulan Quote dari novel Toraja
“... ada hal-hal tertentu yang mungkin lebih nyaman untuk disimpan sendiri. Sesuatu yang nggak harus orang lain tahu, even ia adalah sahabatmu. (Hal. 99)

“Kita akan bisa sampai di puncak kalau kita mau mulai mendaki. Kalo cuma diem aja, ya, tetap aja di bawah.” (Hal. 124) 

“Foto yang baik itu yang bisa bicara.” (Hal. 151)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar