Kamis, 22 September 2016

The Mirror Twins



“Sebuah peristiwa tidak selamanya disebut tragedi jika setelahnya ada hal baik yang tercipta.” (Hal. 174)

Penulis: Ida R. Yulia
Editor: Fanti Gemala
Desain kover & ilustrasi: Dyndha Hanjani Putri
Penata isi: Putri Widia Novita
Penerbit: Grasindo
Cetakan: pertama, Juni 2015
Jumlah hal.: vi + 177 halaman
ISBN: 978-602-375-057-3
Orang-orang mengenalku dan saudara kembarku, Vincent, sebagai The Mirror Twins, Kembar Cermin. Meski wajah kami sangat mirip, ia berusaha menjadi sosok yang berbeda denganku, sengaja atau tidak. Aku kidal, ia tangan kanan. Aku cerdas dan aktif di sekolah, ia tak peduli dengan sekolah. Aku gadis remaja baik-baik, ia cowok nakal dan suka berbuat semaunya sendiri. Dan, ini yang membuatku kesal sekaligus sedih; aku sangat menyayangi Mom, ia justru cenderung tak betah berada di dekat Mom.

Sampai kemudian sebuah tragedi menimpa keluarga kami, Whitney, kakak tertua kami, membawa lari uang bosnya sebesar 250 ribu dolar. Jumlah yang fantastis, mampu membuat orang sekaliber Reynold Hendale – sang bandar narkotika – melakukan tindakan brutal; menjebol rumah kami, membuat Mom menderita, hingga menculik aku dan Vincent sampai melintasi perbatasan Indianapolis.

Kami adalah Kembar Cermin. Kisah penculikan kami hampir menyerupai dongeng Hansel and Gretel. Hanya saja, jika Hansel meninggalkan remah roti sebagai jejak agar ia dan adiknya bisa menemukan jalan kembali ke rumah, Vincent justru meninggalkan bercak darah.

Aku bahkan tak yakin kami bisa kembali pulang.
***
“Tempus neminem manet. ... Waktu tak menunggu siapa pun.” (Hal. 17)
Novel in bercerita tentang dua orang yang bersaudara. Mereka kembar identik namun dengan jenis kelamin yang berbeda. Mereka tumbuh menjadi dua karakter yang saling bertolak belakang meskipun besar di lingkungan dan didikan yang sama. Ini karena mereka ternyata mengambil pilihan yang berbeda dalam menghadapi badai dalam keluarga mereka. Mereka adalah Vincent dan Emma.

Badai di keluarga mereka adalah sebuah kejadian yang tidak pernah mereka duga. Ayah Vincent dan Emma meninggal karena ditembak oleh polisi saat bertransaksi kokain. Ya, mereka tidak menduga bahwa ayah mereka yang ceria dan baik hati yang sehari-hari bekerja sebagai tukang pipi ternyata adalah seorang pengedar narkoba. Ini membuat Vincent, Emma, ibu mereka dan kakak mereka terpukul. Ironisnya, Whitney, kakak perempuan mereka satu-satunya malah mengikuti jejak sang ayah. Dan akhirnya membawa malapetaka bagi Vincent dan Emma.

Karena tindakan Whitney yang membawa kabur uang hasil transaksi narkoba senilai 250 ribu dollar, Emma dan Vincent menjadi korbannya. Mereka dijadikan sandera untuk memaksa Whitney pulang. Sayangnya, kakak mereka seolah sudah mati rasa. Membuat keduanya harus berjuang meloloskan diri sendiri. Berjuang demi hidup dan mati. Syukurlah mereka tidak sendiri sebab mereka saling memiliki satu sama lain.

Lantas berhasilkan Vincent dan Emma membebaskan diri? Ataukah hanya salah satu dari mereka yang berhasil pulang dengan utuh dan selamat?
“.... Menangis tanpa bersuara, dan itu menyakitkan bagi Emma. Karena ia tahu, menangis dengan cara seperti itu lebih terasa perih di dalam.” (Hal. 88)
***
“Serendah-rendahnya seorang anak itu ketika dia sampai hati membuat ibunya menangis!” (Hal. 89)
Novel ini ditulis terinspirasi oleh dongeng Hänsel und Gertel  yang terkenal itu. Kisah dua saudara kembar yang dibuang oleh sayang ayah ke hutan atas permintaan ibu tiri yang jahat. Mereka sempat disekap oleh seorang nenek sihir sebelum akhirnya bisa pulang dengan selamat. Dongeng ini tentu sudah sangat familiar bagi pembaca.

Penulis mencoba mengadaptasi kisah ini ke masa kini dengan melakukan beberapa perubahan. Tidak ada ibu tiri yang jahat, hanya masa lalu yang menghantam dengan telak dan menghancurkan kedamaian dalam keluarga Emma dan Vincent. Tidak ada nenek sihir yang jahat, yang ada adalah gerombolan mafia tanpa hati yang tidak segan menghabisi nyawa Vincent dan Emma demi mendapatkan uang mereka kembali dan menangkap pengkhianat dalam jaringan mereka.

Selain keseluruhan cerita yang beberapa kali diisi adegan menegangkan saat Vincent dan Emma berusaha melarikan diri; hal yang menarik untuk diikuti dari novel ini adalah hubungan antara Vincent dan Emma. Bagaimana Vincent menutup diri dari keluarganya dan menjadi anak nakal yang merokok, minum minuman keras serta menato dan menindik tubuhnya. Sedangkan Emma, ia yang tanpa lelah berusaha menjadi perekat bagi keluarganya yang pecah akibat kematian sang ayah. Bagaimana ia selalu berusaha menjaga ibunya, sekaligus tetap mengawasi dan memperhatikan Vincent.

Ini adalah novel ringan yang enak dibaca. Terasa seperti novel terjemahan karena mengambil setting kehidupan di negara bagian Indiana, Amerika Serikat.

1 komentar: