Kamis, 29 September 2016

The Life Changing Magic of Tidying Up


“Membenahi rumah adalah resep ajaib untuk menciptakan kehidupan yang berwarna dan bahagia.” (Hal. 120)


Penulis: Marie Kondo
Penerjemah: Reni Indardini
Penyunting: Ika Yuliana Kurniasih
Perancang Sampul: Wirastuti
Pemeriksa Aksara: Fitriana & Pritameani
Penata Aksara: gabriel_sih & Adrianus Adhistama
Penerbit: Bentang Pustaka
Jumlah hal.: xviii + 206 halaman
ISBN: 978-602-291-244-6
“Marie Kondo telah memosisikan diri sebagai seorang master berbenah, kesatria yang berperang melawan situasi berantakan.”
-The London Times

Walaupun sudah susah payah merapikan rumah, apakah kertas-kertas terus saja bertumpuk dan pakaian harus terus Anda jejal-jejalkan ke lemari? Kenapa kita tidak bisa menjaga kerapian rumah?

Marie Kondo memperkenalkan metode merapikan yang ampuh tiada duanya, KonMari. Keampuhan metode yang kini semakin marak diterapkan di Jepang dan telah dikemas dalam program televisi laris, “Tidy Up with KonMari!” ini, telah menular ke seluruh dunia. Saking ampuhnya, tak seorang pun klien Kondo kembali ke kebiasaan berantakan (dan calon kliennya harus masuk daftar tunggu selama tiga bulan).

Beruntunglah, melalui buku ini Anda berkesempatan:
- menjadi klien jarak jauh Kondo, menentukan barang-barang mana saja di rumah Anda yang “membangkitkan kegembiraan” dan mana yang tidak;
- memulai kebiasaan berbenah yang efektif dengan sistem berbenah berdasarkan kategori;
- membabat habis situasi berantakan, hingga menikmati efek ajaib dari rumah yang rapi – beserta pikiran damai yang mengikutinya.

***
“Namun, perlu dicamkan bahwa Metode KonMari yang saya paparkan dalam buku ini  bukan sekadar tata cara untuk memilih, mengorganisasi, dan menata barang melainkan juga panduan untuk memperbaiki pola pikir supaya kita bisa menciptakan keteraturan dan menjadi pribadi yang rapi.” (Hal. xvi)
Buku ini adalah sebuah buku non-fiksi dengan bahasan yang menarik dan tergolong unik. Ya, seni berbenah. Siapa yang menduga bahwa persoalan berbenah pun bisa memiliki buku panduan. Apalagi dengan gaya bahasa yang casual seperti di buku ini.

Buku ini tidak seperti buku panduang yang dipenuhi gambar dan step by step dalam berbenah. Buku ini ditulis secara jelas dan rinci terkait kegiatan berbenar ala Marie Kondo. Metode KonMari yang telah dipraktikkan oleh banyak orang. Buku ini lebih seperti sebuah catatan personal Marie Kondo tentang metode KonMari yang ia kembangkan.

Dengan bahasa sehari-hari, Marie Kondo mengetengahkan metode berbenah yang ia ciptakan, pengalamannya dalam menangani klien dan bahkan pengalaman personalnya yang mendasarinya terjun ke “dunia beres-beres” ini.

Buku ini terbagi menjadi 5 bagian yakni:
1. Kenapa Kita Tidak Bisa Menjaga Kerapian Rumah?
2. Membuang Sampai Tuntas Terlebih Dahulu
3. Berbenah Berdasarkan Kategori Ajaibnya Bukan Main
4. Mencerahkan Hidup dengan Menyimpan Secara Apik
5. Keajaiban Berbenah Mengubah Hidup Anda secara Dramatis

Dalam buku ini, penulis menekankan bahwa perbedaan seni beres-beres KonMari dari metode berbenah lainnya adalah cara memulai dan memilah barang. Jika dalam seni berbenah yang lain, kita disarankan untuk berbenah sedikit demi sedikit, maka KonMari menegaskan untuk berbenah sekaligus. Kemudian pilih barang bukan karena fungsinya atau bagus tidaknya melainkan yang paling utama adalah karena barang tersebut membangkitkan kegembiraan.
“..., kriteria terbaik untuk memilih barang yang harus disimpan atau dibuang adalah sebagai berikut: apakah benda itu membuat Anda Bahagia atau tidak, menggembirakan Anda atau tidak.” (Hal. 34)
Itu sebabnya dalam metode KonMari, kita akan diminta untuk mengumpulkan seluuruh benda dalam satu tumpukan berdasarkan jenis benda kemudian menyentuhnya satu persatu sambil bertanya, “Apakah buku ini  membangkitkan kegembiraan atau tidak?”. Jika ya, pertahankan. Jika tidak, maka singkirkan. Buang atau sumbangkan.

Hal ini ternyata terbukti mampu mengurangi barang-barang klien Marie Kondo hingga tinggal 1/3 atau ¼ nya. Memang akan memakan waktu lama, namun dengan menyentuh benda tersebut satu persatu, maka kita akan mampu merasakan sensasi yang dibutuhkan untuk membuat keputusan.

Hal menarik lain yang dikemukakan di dalam buku ini adalah bagaimana Marie Kondo menyarankan pembaca untuk menyapa rumah dan barang. Ini erat kaitannya dengan budaya Jepang dan keyakinan Shinto mereka. Ia menjelaskan bahwa dengan mengucapkan terima kasih kepada setiap benda yang akan disingkirkan, maka itu akan memberi dampak positif. Ini tergambar di halaman 54
“Jika barang punya perasaan, ia pasti tidak senang disimpan terus oleh sang pemilik yang melupakannya. Bebaskanlah barang-barang tersebut dari penjaranya. Bantulah barang-barang itu untuk meninggalkan keterkungkungannya di antah-berantah. Ikhlaskan benda-benda tersebut dengan penuh terima kasih. Tidak hanya Anda, barang-barang Anda niscaya juga akan merasa segar dan jernih begitu Anda rampung berbenah.
Juga yang kembali penulis jelaskan di halaman 164 “..., menyayangi barang adalah cara terbaik untuk memperbaiki kinerjanya dalam menyokong kita, si pemilik. Ketika memperlakukan barang dengan baik, kita niscaya memperoleh kinerja yang baik dari barang tersebut.”

Penjelasan Marie Kondo terkait seni berbenah ini sangat mudah dipahami. Tersusun dengan baik dan dengan sentuhan personal. Marie memulai tulisannya dengan menuliskan pengalamannya dalam hal berbenah. Hal yang ia geluti bahkan sejak SD. Dan ia bahkan membagi alasan personal kenapa ia sangat menggemari berbenah. Alasan yang terkait dengan kondisi keluarganya dan psikologinya.

Di sisi lain, contoh kasus yang dialami oleh klien-klien Marie Kondo pun membuat pembahasannya semakin menarik. Membayangkan ada orang yang menyimpan puluhan sikat gigi cadangan, pilihan rol tissue toilet, dan tumpukan materi seminar yang diikuti bertahun-tahun pasti menarik. Ini juga membuat pembaca merasa bahwa tidak ada kebiasaan yang terlalu aneh yang membuat seseorang tidak bisa berbenah.

Selain itu, yang paling penting, Marie Kondo menjelaskan korelasi antara kegiatan berbenah dan dampaknya pada kehidupan. Bahwa ia melihat kliennya menjadi pribadi yang berbeda setelah selesai mengikuti kursus darinya. Bahwa dengan berbenah perubahan fisik menjadi lebih ramping, kulit lebih cerah, tubuh lebih bugar dan  sebagainya pun bisa terjadi dan itu terbukti di klien-kliennya. Namun yang lebih ia tekankan adala perubahan-perubahan dalam sisi psikologi. Banyak yang setelah berbenah menemukan hal baru tentang dirinya dan membantunya fokus untuk melakukan hal yang paling ingin ia kerjakan. Sebab, “cuma Anda seorang yang tahu lingkungan seperti apa yang membuat Anda bahagia (Hal. 119).”

***
“Buku pada dasarnya adalah kertas–seberkas kertas yang memuat huruf-huruf cetak dan dijilid menjadi satu. Kegunaan hakikinya adalah untuk dibaca, untuk menyampaikan informasi kepada pembaca. Makna buku terletak pada informasi yang dikandungnya. Buku tidaklah bermakna apabila dibiarkan menganggur di rak. Kita membaca buku untuk mengecap pengalaman membaca.” (Hal. 81-82)
Kelebihan buku ini selain dalam hal materi atau isi buku, juga adalah dalam hal layout-nya. Sejumlah tulisan di-bold untuk menegaskan apa yang ingin ditegaskan di sub bab dan penjelasan yang dikemukakan.

Tapi di sisi lain, saya merasa alangkah lebih baik jika ada beberapa gambar sebagai ilustrasi yang memudahkan pembaca menangkap penjelasan yang ada. Terutama saat pembahasan cara melipat pakaian ala KonMari yang ada di halaman 68. Saya masih kesulitan menangkap cara melipat yang dimaksud. Apalagi selama ini saya selalu menyimpan baju dengan cara ditumpuk bukan dengan dibuat berdiri tegak.

Hm.. di luar dari sedikit kekurangan di atas, saya mengakui saya menyukai pengalaman membaca yang saya dapatkan dan tidak sabar untuk mempraktikkannya di tempat tinggal saya di Mamuju yang masih penuh dengan tumpukan kardus barang-barang karena pindah domisili dari Bandung ke Mamuju :)
“Kalau ingin memberikan sesuatu, jangan memaksa orang lain untuk menerimanya atau menekan mereka hingga membuat mereka merasa bersalah apabila menolaknya. Cari tahu apa yang mereka sukai, kemudian jika dan hanya jika Anda menemukan sesuatu yang cocok dengan kriteria tersebut, barulah Anda boleh menunjukkan barang tersebut kepada mereka.” (Hal. 49)
***
Kumpulan Quote dalam buku “The Life-changing Magic of Tidying up”

“Yang harus kita hargai baik-baik bukanlah kenangan, melainkan diri kita yang sekarang. Pelajaran inilah yang mesti kita petik saat menyortir kenang-kenangan. Tempat yang kita tinggali saat ini adalah untuk diri kita yang sekarang, bukan diri kita yang ada pada masa lalu.” (Hal. 111)
“Pertanyaan mengenai apa yang ingin Anda miliki sejatinya adalah pertanyaan mengenai seperti apa Anda ingin menjalani hidup.” (Hal. 174)
“... apa pun yang Anda ikhlaskan akan kembali kepada Anda kelak, tetapi jika dan hanya jika ia ingin kembali kepada Anda.” (Hal. 186)

3 komentar:

  1. Saya sebenarnya sudah lama penasaran sama buku ini. Biasanya kalau beres-beres itu repotnya memang di memilah barang mana yang disimpan, mana yang dibuang. Biasanya pemikiran "barang ini nanti bisa dipakai kalau keadaan x" itu yang paling menjebak. Barangnya jadi bertumpuk dan susah dibuang.

    Numpang post blog tentang buku terbaru Akiyoshi Rikako, ya. Terima kasih :D

    BalasHapus
  2. Buku ini memang ramai dibicarakan oleh blogger personal. Apalagi oleh mereka yang bergerak dikerjaan tata ruang, interior dan hal berhubungan dengan bidang kreatif. Saya sangat penasaran dengan proses beres-beres yang katanya mempengaruhi psikologis.

    Recent Post: Buku Roma by Pia Devina

    BalasHapus
  3. Aku inget cerita soal merapikan barang2 dengan menyentuhnya langsung, kayaknya pernah dibahas di artikel mana gitu. Baru tahu kalau ada bukunya juga, mba.

    BalasHapus