Sabtu, 17 September 2016

Sylvia’s Letters



“Kalau kamu merasa bodoh, berarti kamu sedang melakukan hal yang benar.” (Hal. 157)


Penulis: Miranda Malonka
Editor: Wienny Siska
Ilustrator: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: 200 halaman
ISBN: 978-602-03-1525-6
Ada surat-surat yang takkan pernah dikirim.
Ada surat-surat yang telah dikirim dan
mungkin tak pernah dibaca penerimanya.

Hidup mengajari Sylvia tentang obsesi. Persahabatan mengajarinya tentang masalah. Dan Sylvia yakin semua orang bisa diselamatkan dari masalah hidup mereka.

Hingga ia bertemu dengan Anggara, yang mengajarinya tentang cinta yang melepaskan ikatan. Dan untuk pertama kalinya Sylvia menyadari bahwa ia tidak bisa menjadi penyelamat semua orang.

Terkadang peraturan keselamatan tidak lagi berlaku ketika berkaitan dengan obsesi dan cinta.

***

“Mungkin orang paling masokistik di dunia adalah orang yang masih berani mencintai walaupun hatinya tergores-gores dalam.” (Hal. 37)


Novel ini bercerita tentang seorang remaja yang masih duduk di bangku SMA. Ia tengah jatuh cinta pada seseorang yang bahkan belum pernah ia sapa. Sylvia menuliskan surat kepada sosok bernama Gara, cowok yang ia cintai. Surat ini ditulis bukan untuk dikirimkan, melainkan untuk menampung perasaan dan berbagai pikiran yang ingin Syliva bagi.

Daripada menyebutnya surat, novel ini lebih cocok disebut sebagai jurnal seorang Sylvia. Melalui surat ini kita akan melihat kehidupan Sylvia. Berkenalan dengan sahabat-sahabat Sylvia: Scarlet, Andy dan Layla. Melalui surat ini kita juga akan tahu masalah-masalah mereka.

Namun selain surat-surat yang ditulis oleh Sylvia, akan ada juga surat lain yang berhubungan dengan Sylvia. Bahkan ada surat dari Gara untuk Sylvia. Sayangnya, di antara surat-surat ini ada sebuah masalah besar yang tersurat namun tidak membesar. Hadir namun seolah diabaikan oleh Sylvia. Masalah apakah itu? Mampukah Sylvia menyelesaikannya?

“Ya, terinspirasi olehmu, memang. Tapi karya seni yang kubuat adalah karya yang berdiri sendiri, dan bukan cuma berpedoman pada pengalamanmu, tapi juga semua pengalaman yang kurasakan seumur hidup. Satu lukisan yang kubuat dalam satu malam adalah hasil eksplorasi jiwaku sejak aku dilahirkan ke dunia ini. Dan sifatnya selalu netral.” (Hal. 59)

***

“Kita hidup di masa ketika batasan benar dan salah dikaburkan oleh perasaan dan hormon. Perubahan emosional dari kanak-kanak ke remaja sangat membingungkan dan menyakitkan.” (Hal. 74)

Jika ada yang bertanya ini adalah novel dengan genre apa, maka jawabannya adalah sickLit. Ya,  karena sebenarnya tokoh Sylvia ini sedang sakit. Namun karena ceritanya tidak berfokus pada apa yang terjadi di dirinya, akhirnya “penyakit” ini tidak muncul ke permukaan namun mengambil peran penting.

Sylvia sakit, ia selalu merasa dirinya gemuk. Belum lagi cowok yang ditaksirnya adalah cowok populer dengan penampilan sempuran. Ini semakin membuatnya tidak percaya diri hingga akhirnya selalu berpikir bahwa dirinya gendut.

Tapi di dalam novel ini, penyakit Sylvia ini ditutupi oleh banyak konflik lain. Mulai dari Andy yang patah hati hingga bersikap jahat pada orang lain, hingga Scarlet yang mencoba bunuh diri karena depresi menghadapi masalah yang terjadi di keluarganya. Semua masalah sahabat-sahabatnya itu ia tuliskan dalam surat yang dia tujukan untuk Gara.

Ya, inilah yang menarik dari novel ini. Karena ia bukanlah cerita narasi dengan adegan per adegan. Melainkan ditampilkan sebagai sebuah kumpulan surat yang ditulis oleh Sylvia. Beberapa tokoh lainpun, suratnya ikut dimasukkan ke dalam cerita. Termasuk diagnosis dokter. Ke seluruhan novel ini adalah kumpulan surat-surat yang bercerita.

Selain penyajiannya yang unik, konflik di dalam novel ini pun sangat dekat dengan realitas remaja masa kini. Masalah yang tersembunyi di lipatan kenyataan namun ia nyata. Ada. Seorang anak perempuan yang tidak percaya diri. Anak perempuan yang hamil karena coba-coba melakukan hubungan seksual, anak perempuan yang mencoba bunuh diri karena tidak tahan menghadapi kenyataan hidup.

Oiya, sedikit mengingatkan jika buku ini akan dicetak ulang lagi. Di halaman 150, akhir kalimatnya menggantung dan tidak ada kelanjutannya lagi.

Buku ini termasuk buku remaja yang menarik dibaca. Dan cukup saya rekomendasikan kepada pembaca remaja dan dewasa muda.
“Aku percaya kita semua gila, namun kebanyakan orang begitu lihai menutupinya dengan kehidupan sok serius atau puasa tertawa.” (Hal. 86)
***
Kumpulan Quote dalam Sylvia’s Letters
“Karena hidup ini bukan ujian nasional. Kamu tidak perlu melakukan hal-hal tertentu karena semua orang menganggapnya ‘benar’. Kamu kira kamu harus menuruti standar-standar yang ada supaya bisa lulus jadi manusia normal. Padahal siapa yang membuat standar ujian nasional itu? Pemerintah. Sama seperti hidupmu. Siapa yang memberimu standar, hidup yang benar itu begini, yang salah itu begini? Masyarakat. Kata siapa pendapat publik selalu benar?” (Hal. 88)
“Jadi manusia bebas itu adalah menjadi diri sendiri dan tidak terbebani standar orang lain, sekaligus menghormati makhluk lain dalam upaya mereka untuk jadi diri mereka sendiri. Tidak mengusik, tidak diusik. Tak ada yang dirugikan.” (Hal. 89)
“Kadang, lebih susah mencari tahu apa yang sebenarnya diri kita inginkan, daripada mencari tahu apa yang orang lain inginkan dari kita.” (Hal. 91)
“Aku memang berpendapat alangkah baiknya kita bersegera menemukan cinta sejati kita. Dalam hal ini, cinta sejati bukan berarti cinta, tapi sesuatu, apa pun, yang membuat kita rela menghabiskan seumur hidup untuknya.” (Hal. 92)
“..., semua manusia akan bertemu jodohnya, yang akan hidup bersama mereka sumur hidup. Tapi memiliki cinta sejati berupa hobi itu berbeda. Hal-hal seperti itu membuatmu merasa hidup sepenuh-sepenuhnya. Kamu jadi punya harapan dan pegangan yang tak bisa mematahkan hatimu atau berselingkuh darimu.” (Hal. 93)
“..., sebetulnya semua orang di dunia ini gila, dalam level yang berbeda-beda. Tidak ada yang sehat mental seratus persen, tidak dengan kehidupan di Bumi yang carut-marut begini.” (Hal. 157)
“Kalau sesuatu sifatnya merusak, maka tidak seharusnya kamu menganggapnya penting.” (Hal. 162)


1 komentar:

  1. Pas dibilang kategori Sicklit tapi tidak mengumbar pesakitan, saya tambah penasaran dengan ceritanya. Kalau cerita disampaikan melalui format surat, emosi yang disampaikan mengena nggak ya?

    BalasHapus