Jumat, 23 September 2016

Promises



“Dalam perjalanan, Joshua tersadar, bahwa semuanya menyimpan rahasia dalam dirinya masing-masing. Baik Lana, Alex, juga dirinya. Karena pada dasarnya manusia akan selalu punya rahasia yang ia sembunyikan.” (Hal. 156)


Penulis: Kristi Jo
Desain cover: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: 232 halaman
ISBN: 978-602-03-2000-7

“Kita tulis apa saja harapan kita dalam waktu lima tahun ke depan.”

Joshua, Lana, dan Alex sudah bersahabat sejak kecil dan memutuskan untuk menuliskan pesan berisi harapan yang nantinya akan dikubur di Taman Gembira. Hal itu dilakukan untuk mengenang persahabatan mereka yang sebentar lagi akan terpisah jarak.

Lima tahun kemudian mereka kembali bertemu dan menemukan bahwa persahabatan mereka tidaklah seperti dulu. Tidak mau persahabatan mereka putus, Joshua bertekad mencari tahu mengapa Alex yang kini dikenalnya terasa asing dan Lana memilih menutup diri.

Ada rentang waktu yang menyimpan rahasia dan membuat jalan mereka bertiga tak bersinggungan. Tapi, mereka berharap bahwa perasaan yang pernah ada itu hadir, membawa kembali persahabatan mereka seperti sedia kala.
***

“Setiap orang pasti berubah. Hidup lo berubah. Kita nggak cuma diam di tempat, kan?” (Hal. 93)

Sebuah janji diikrarkan oleh tiga orang yang bersahabat sejak SD, yakni Alex, Lana, dan Joshua. Selama sembilan tahun bersama mereka kemudian dihadapkan pada perpisahan. Lana melanjutkan SMA ke Melbourne dan Joshua ke Surabaya. Tinggallah Alex sendiri di Jakarta.

Sebelum mereka berpisah, mereka menanam kapsul waktu di Taman Gembira. Berjanji akan kembali lagi lima tahun kemudian untuk membuka kapsul waktu tersebut. Sekaligus memastikan bahwa pershabatan mereka akan tetap terjalin dengan baik.

Sejak berpisah mereka memang tidak pernah benar-benar putus komunikasi. Ini karena mereka masih terus berkomunikasi via e-mail, Skype, dan Whatsapp. Namun ternyata saat tiba waktunya untuk memenuhi janji lima tahun tersebut, satu persatu rahasia yang tersimpan rapat pun terbuka.

Bermula dari Alex yang tidak datang ke Taman Gembira untuk memenuhi janji untuk berkumpul lagi. Lana dan Joshua pun mencari sahabat mereka itu. Kemudian mendapati bahwa Alex sudah satu tahun pergi meninggalkan rumah. Menjadi pemakai obat-obatan terlarang dan hidup tidak jelas. Itulah rahasia Alex selama ini.

Selama pencarian ini, baik Lana dan Joshua pun menyimpan rahasia mereka masing-masing. Lana yang memendam cinta pada Joshou serta sebuah luka dipergelangan tangannya. Luka yang akan terus mengingatkannya tentang sebuah tragedi yang ia sembunyikan dari kedua sahabatnya. Sedangkan Joshua? Ia pun menyimpan rahasianya sendiri. Berusaha untuk tetap menjadi pihak yang paling kuat dan ceria di antara mereka. Meski sebenarnya ia pun sedang berjuang menghadapi kenyataan lain dalam hidupnya.

Bagaimanakah nasib persahabatan mereka? Bisakah mereka mempertahankannya? Bukankah usia pertemanan yang mencapai 15 tahun bukanlah rentang waktu yang singkat untuk berakhir begitu saja?
Ketika sebuah janji dan sebuah rahasia saling berhadapan, yang mana yang akan menang? Janji persahabatan itu atau rahasia kelam mereka masing-masing.

“Orang boleh beruabah, waktu boleh bertambah, tapi ikatan persahabat kita nggak harus putus.” (Hal 93)

***

“Hidup manusia itu bisa hilang secepat kehidupan mata. Seperti nggak ada artinya...” (Hal. 149)

Novel Promises ini adalah novel kategori Young Adult yang diterbitkan oleh Gramedia. Novel yang mengangkat kisah dengan konflik yang lebih kompleks dari kisah remaja namun tidak lebih rumit dari konflik dalam novel dewasa.

Tema persahabatan masih menjadi salah satu konflik yang umum ditemukan. Ini karena di usia dewasa muda, persahabatan tetap menjadi salah satu bagian penting dalam kehidupan. Meskipun porsinya tidak lagi sebesar saat remaja. Namun biasanya lebih dalam karena hubungan pertemanan atau persahabatan yang tercipta sudah lebih mendalam.

Ini yang coba diangkat oleh penulis. Kisah persahabatan yang dibumbui oleh rahasia. Melalui tokoh-tokohnya, pembaca disuguhi 3 kehidupan yang berbeda dengan masalahnya masing-masing.

Dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, penulis menyuguhkan kisah persahabatan yang terbelit cinta dan yang dicederai oleh jarak. Hingga mereka menyimpan rahasia dan masalahnya masing-masing.

Cara bercerita yang menarik dengan bahasa yang ringan membuat novel ini enak dibaca. Konflik-konflik yang menyusun cerita pun menarik. Sayangnya konflik utama tidak terasa karena banyaknya konflik pendamping dengan intensitas yang hampir sama.

Rahasia-rahasia yang dimiliki setiap tokohnya membuat pembaca bertahan karena terus bertanya, “Apa? Kenapa?”, kemudian bertanya akan berakhir bagaimana. Oiya, ending ceritanya pun manis, meski bukanlah happy ending seutuhnya.

“Semua hal ada batas waktunya. Marah, benci, sakit, takut, semuanya.” (Hal. 154)

***  
Kumpulan Quote dalam Promises
 

“Setiap orang ditakdirkan untuk memiliki masalah dan rahasia.” (Hal. 160)

“... seseorang tetap punya hak untuk tetap menjadikannya rahasia, yang artinya nggak memberi tahu siapa pun.” (Hal. 160)

“That’s life, Lex. Kalo lo nggak mau hidup dalam masalah, mending nggak usah hidup.” (Hal. 161)

“Nggak selamanya hidup cuma diisi dengan hal-hal baik yang buat lo bahagia. Pasti lo bakalan tetap punya masalah. Dan seharusnya lo tetap ingat kalau ada hal baik di hidup lo saat lo dilanda masalah. Kalo lo punya masalah, face it! Cari solusi. Kalau lo mampu bertahan menghadapi kesulitan apa pun, gua yakin hidup lo bakal kembali pada titik yang baik lagi.” (Hal. 161)

“Memang nggak bisa. Gue nggak bisa memutar ulang waktu dan berada di sana supaya lo nggak mengalaminya. Tapi gue di sini sekarang buat lo. Yang kita jalani sekarang adalah masa depan, Lan. Bukan masa lalu.” (Hal. 164)

“Gue akan ada di samping lo. Gue bakal berjalan di belakang lo klo lo butuh dukungan. Bahkan gue bisa berjalan di samping lo dan menggandeng tangan lo setiap lo merasa sendirian dan ketakutan.” (Hal. 167)

“Just be yourself. Orang sebenarnya akan berubah seiring bertambahnya waktu. Lo akan tetap seorang Lana, tapi jadilah seorang Lana yang dewasa dan kuat, yang nggak ragu melangkah ke depan. Boleh kok kita ngeliat ke belakang, sekadar mengintip. Tapi jangan sampai lo menoleh ke belakang. Apalagi sampai berputar dan kembali ke sana. Janji?” (Hal. 177)

“Kita nggak harus kuat setiap saat, Jo. Nggak apa-apa sekali-kali kita terlihat lemah. Asal nggak keterusan. Kalau kita terpuruk terus, apa yang kita lihat? Bawah saja, kan? Kita cuma bisa ngeliat tanah dan aspal, bukan langit dan udara.” (Hal. 204)

“Betul, di bawah sana hanya ada sesal, sedangkan mimpi dan harapan kita kan di atas sana.” (Hal. 204)

“Setiap orang memang ada dan bertemu karena suatu alasan yang kadang kita nggak mengerti, Lex” (Hal. 212)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar