Sabtu, 10 September 2016

Melodi



“..., dia selalu berpikir, yang paling menyedihkan di dunia adalah dilupakan oleh orang-orang yang dia cintai. Ternyata ada yang lebih dari paling menyedihkan di dunia: melupakan orang-orang yang dicintai.” (Hal. 154)


Penulis: Dedek Fidelis
Penyunting: Dedik Priyanto
Penyelaras akhir: Diah Utami
Pendesain sampul: Fahmi Fauzi
Ilustrator isi: Fahmi Fauzi
Penata Letak: Tri Indah Marty
Penerbit: Moka Media
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal.: iv + 220 halaman
ISBN:978-979-795-904-3

Bagi Kiara, kejutan datang bersama denting piano Pachelbel Canon in D yang dimainkan sosok pemuda di sebuah senja, sepersekian detik selanjutnya, ia jatuh cinta pada pemuda itu.

Namun, saat Kiara merasa telah menemukan cinta pertamanya, ia justru mengalami kecelakaan. Kiara berpikir ia sudah meninggal, tapi sesuatu yang tidak pernah ia percaya terjadi. Kiara mengalami perjalanan waktu; berpindah ke masa depan dan berjumpa dengan banyak hal yang tak pernah ia bayangkan.

Lalu apakah cinta Kiara menghilang begitu saja seperti halnya waktu yang acapkali menipu?
***
Gio
Tidak peduli berapa kali aku akan terlahir kembali dan bertemu denganmu, tidak peduli di mana dan bagaimana kelak kita akan berjumpa, aku akan selalu jatuh cinta kepadamu. Lagi, dan lagi.

Kiara
Kau masih ingat cinta pertamamu? Aku masih. Dan cinta pertama dalam hidupku hadir dari waktu yang tidak mungkin lagi kita bertemu.
***


“Kautahu, seseorang pernah mengatakan kepadaku, kita tidak akan benar-benar meninggal, selama masih ada orang-orang yang mengingat dan menyimpan diri kita sebagai kenangan. Dilupakan, adalah bentuk kematian yang sesungguhnya.” (Hal. 1-2)


Kiara, seorang remaja putri yang tengah menikmati kehidupan berseragam putih abu-abu. Suatu hari tanpa sengaja ia jatuh cinta pada sesosok pemuda yang memunggunginya seraya memainkan sonata klasik. Ia jatuh cinta pada punggung itu. Kiara pun memberanikan diri untuk meninggalkan sebuah surat untuk pemuda itu. Pemuda yang hanya ia kenali punggungnya. Suratnya ternyata berbalas. Sayangnya, ia tidak sempat membaca surat itu sebab sebuah kecelakaan membuatnya menjalani kehidupan yang “lain”.

Setelah kecelakaan itu, Kiara malah terbangun di masa depan. Ya, ia terlempar ke masa 2 tahun yang akan datang. Sahabatnya, Adrian, sudah sering menceritakan tentang time traveler, atau perjalanan waktu, namun ia tidak memercayainya. Namun kini ia mengalaminya sendiri.

Orang pertama yang ia temui di masa depan adalah Gio. Gio-lah yang mendampingi Kiara melewati waktunya. Ia menampung Kiara di apartemen miliknya. Meminjamkan baju untuk gadis itu, dan berbagai hal lainnya. Perlahan Kiara merasa nyaman menjalani kehidupan bersama Gio. Meskipun tentu saja ia masih merindukan keluarganya. Namun ia tidak memiliki kebaranian untuk mencari kedua orangtuanya. Ia tidak ingin jika ia mengganggu keseimbangan waktu.

Perlahan, ia dihinggapi kecemasan. Sampai kapan ia akan terus berada di masa depan? Bagaimana kehidupannya di masa lalu? Selain itu, perlahan ada cinta yang tumbuh di antara Kiara dan Gio. Membuat keduanya selalu berusaha menikmati apa yang mereka miliki saat ini, sebab mereka tidak pernah tahu kapan kebersamaan itu akan mendadak berakhir.

Menurutmu, bagaimana kisah Kiara akan berakhir, Readers? Dapatkah ia kembali ke masa lalu? Adakah masa depan untuk ia dan Gio?


“Ketika kamu merasa sedang kacau, pejamkan kedua matamu, lalu tarik kedua sudut bibirmu perlahan, tersenyumlah dan katakan berulang kali kepada dirimu sendiri bahwa segala sesuatunya baik-baik saja.” (Hal. 39)

***

“Hidup itu memang penuh dengan kejutan-kejutan yang tidak pernah diduga.” (Hal. 54)

Awalnya saya berpikir bahwa novel yang ditulis dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga ini ditulis oleh seorang perempuan. Ini karena yang paling banyak disorot adalah kehidupan Kiara sehingga lebih banyak bersentuhan dengan kehidupan seorang remaja putri. Namun saat membaca halaman 59, saya menemukan pembahasan tentang make-up. Pada bagian ini, terasa bahwa yang menulis adalah laki-laki. Karena kurang detail. Namun hanya dibagian ini hal tersebut terasa. Namun di bagian lainnya sudah bagus.

Untuk penokohan, kehadiran tokoh-tokoh lain selain Kiara, Gio, dan Adrian kurang menyatu dengan cerita. Sosok Alvin dan Novinta kurang dimanfaatkan untuk menambah warna dalam cerita ini. Padahal bisa menambah riak dalam hubungan Kiara dan Gio. Ini membuat intensitas konflik utama di novel jadi kurang tajam.

Dalam hal setting masih kurang banyak dieksplorasi, terutama untuk setting tempat. Namun perbedaan dua tahun yang dialami Kiara ditulis dengan matang dengan menghadirkan fakta yang memang nyata terjadi di Indonesia dalam kurun waktu dua tahun yang “dilompati” Kiara.

Dalam hal detail cerita, disuguhkan dengan pas. Tidak terlalu minim tapi juga tidak terlalu banyak. Seperti di halaman 102 ada pembahasan tentang Kara dan Kira. Saat berumur 1 tahun Kara meninggal dan sejak itulah Kira dipanggil Kiara. Ini fakta yang menarik meski sebenarnya tidak memengaruhi jalan cerita secara signifikan.

Oiya, rasanya selalu menyenangkan saat menyadari penulis yang karya sedang saya baca ternyata membaca buku yang sama dengan yang saya baca. Bahkan membaca salah satu buku favorit saya. terdapat kutipan dari buku Mitch Albom, salah seorang penulis kesayangan saya, di halaman 79: “Mitch Albom, si penulis buku itu, menuliskan gini; cinta yang hilang tetap cinta, Eddie. Hanya bentuknya saja yang berbeda. Kenangan menjadi pasanganmu. Kau memeliharanya. Kau mendekapnya. Kau berdansa dengannya.” Ah, itu kutipan dari buku “The Five People You Meet in Heaven”. Silakan baca ulasannya di sini:

Secara keseluruhan novel ini adalah novel remaja yang manis. Enak dibaca di saat santai dan mengisi waktu luang.


 “Kupikir, setiap manusia pasti takut bila merasa sendiri. Enggak ada seorang pun manusia yang benar-benar ingin sendiri, bahkan orang paling kuat sekali pun!” (Hal. 100)

***
Kumpulan Quote dalam Melodi
“... mana yang lebih menyedihkan, di antara dua orang yang saling mencari lalu menemukan satu sama lain tetapi hanya bisa bersama dalam waktu singkat, atau dua orang yang saling mencari tetapi tidak kuncung menemukan salah seorang yang lain dan malah saling melewatkan?” (Hal. 117 – 118)
“... cinta itu adalah hal paling sederhana namun akan terasa istimewa bisa bersama dengan orang yang tepat. Seperti dua orang yang saling berjauhan namun masih saling mendoakan masing-masing di antara mereka. Sesederhana itulah cinta. Saling percaya.” (Hal. 118)
“Baginya, cinta pertamanya serupa melodi piano yang didentingkan cowok itu. Begitu indah. Dirinya sebagai tuts berwarna hitam, dan cowok itu sebagai tuts berwarna putih. Bersama-sama, mereka berdua membentuk harmonisasi.” (Hal. 119)
“Waktu terus berputar. Manusia terus berubah. Segala sesuatu terus silih berganti. ... tapi, akan ada beberapa hal yang tidak akan pernah berubah.” (Hal. 123)
“Yang terpenting dari hidup kita bukanlah mencemaskan masa depan atau mencoba melupakan masa lalu. Yang terpenting adalah masa sekarang ini, masa di mana lo hidup.” (Hal. 140)
“Terlalu mencemaskan masa depan hanya akan membawa kita pada kesia-siaan. Yang terpenting bukan apa yang akan terjadi di masa mendatang, melainkan apa yang kita lakukan, kita rasakan, kita mampu wujudkan pada masa kini.” (Hal. 146)
“... yang melemahkan sekaligus menguatkan–cinta. Ketika kautahu kau mencintainya, kau akan merasa, kau bisa melalui segalanya.” (Hal.207)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar