Rabu, 14 September 2016

Look At Me Please


“... sedalam apapun hubungan persahabatan, kebohongan tidak pernah dapat menjadi sebuah pilihan.” (Hal. 280)

Penulis: Sofi Meloni
Editor: Afrianty P. Pardede
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: Pertama, 2016
Jumlah hal.: 295 halaman
ISBN: 987-602-02-8629-7

Mencintai berarti merelakan orang yang kita cintai bahagia bersama orang lain?
Omong kosong!
Cinta itu tidak melulu soal merelakan namun juga soal perjuangan. Bodoh namanya jika aku merelakan kamu – yang jelas pernah mencintaiku – demi wanita yang diam-diam sudah menusukku dari belakang.
Delapan tahun aku hidup dalam sebuah kebohongan yang mengatasnamakan persahabatan.
Aku bukan malaikat.
Aku juga bukan orang suci yang bisa pasrah dan menerima begitu saja apa yang telah terjadi sebelumnya.
Kini tiba saatnya aku memperjuangkan kembali kelanjutan cerita di antara kita. Kamu harus sadar bahwa aku juga di sini menunggumu sadar, bahwa ada akhir bahagia untuk cerita kita.

We can have our happy ending, so look at me, please.
***
“Kadang kita terlalu larut dengan semua pemikiran kita sendiri sampai akhirnya kita jatuh tenggelam di dalamnya.” (Hal. 161)
Bagaimana perasaanmu jika laki-laki yang kau cintai adalah kekasih sahabatmu sendiri? Apa yang akan kau lakukan jika jauh di dalam lubuh hatimu kamu merasa bahwa kamulah yang lebih mampu mendampingi pria itu? Meyakini bahwa masih ada cinta di antara  kamu dan lelaki itu? Masih ada kesempatan untuk memiliki kebahagian bersama di masa depan.

Itulah yang dirasakan oleh Laras. Ia mencintai Gerry yang merupakan kekasih Lily, sahabatnya sejak ia duduk sekolah menengah pertama. Bagi Laras, Gerry adalah cinta pertamanya yang bahkan kini di saat ia telah menginjak usia 20an , tetap saja ia belum mampu menghapus perasaan itu.

Ia terus disekap bimbang. Sebab ia pun enggan melukai Lily. Namun saat kenyataan atas sebuah rahasia milik Lily yang membuat Laras merasa bahwa sahabatnya itulah yang “mencuri” kesempatannya untuk bersama Gerry, maka Lily mulai mengambil langkah. Berusaha untuk mengambil tempat yang selama ini dimiliki Lily di hidup Gerry. Tempat yang jadi milik Lily saat mereka masuk bangku kuliah. Tempat yang seharusnya milik Laras saat mereka baru akan lulus SMA.

Namun kenapa upayanya tidak semudah yang ia kira? Kenapa ini malah semakin sering menyikitinya dan membuatnya menunjukkan air mata dan kelemahan di hadapan Remy, teman sekantornya yang super duper menyebalkan? Kenapa Gerry tidak memperjuangkan Laras? Bukankah Gerry tidak mencintai Lily? Kenapa setiap kali Laras butuh seseorang yang ada malah Remy, bukan Gerry?

Bagaimanakah akhir dari kisah cinta Laras dan Gerry? Bagaimana nasib persahabatan Lily dan Laras?

***
“Terkadang, saat masalah yang ada begitu berat, rasanya memilih terbawa arus adalah pilihan yang tersisa, ...” (Hal. 162)
Novel Look at Me Please termasuk dalam seri CityLite yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo seperti halnya, Akulah Arjuna dan Cinta Masa Lalu karya Nima. Maka di dalam cerita ini pembaca disuguhi oleh kisah cinta yang terjadi di tengah dinamika kehidupan perkotaan.


Menggunakan sudut pandang orang pertama dari sisi Laras, penulis menyampaikan cerita dengan lebih emosional. Meskipun sesekali pembaca akan dibuat gemas atas sikap egois tokoh Laras yang sibuk berkubang dengan perasaannya saja dan tidak memikirkan orang lain. Merasa kesal pada tokoh Laras yang mudah mengambil sikap tanpa berpikir panjang tentang konsekuensinya. Malah tidak terlihat dewasa. Padahal ia menjalani kehidupan sebagai orang dewasa dengan karier yang mulai merangkak naik, serta kehidupan freesex yang ia pilih.

Cara Sofi Meloni bercerita memang enak dibaca. Mengalir. Flashback dimanfaatkan untuk menjelaskan situasi. Agar pembaca mau memahami alasan keputusan tokohnya. Selain itu konflik-konflik yang dimunculkan sebelum konflik utama pun menarik. Seperti sejarah persahabatan Lily dan Laras hingga rahasia Lily yang melukai Laras, ataupun konflik yang muncul antara Remy dan Lily yang malah jadi seperti pasangan yang bahkan melakukan hubungan badan, namun kepala Laras masih dipenuhi oleh Gerry.

Sayangnya, meski menggunakan sudut pandang orang pertama, cerita masih kurang mampu menyentuh emosi saya saat membacanya. Bisa jadi karena sikap tokoh Laras terlalu mengasihani diri sendiri. Kemudian bersikap sebagai penjahat dengan merusak apa yang dimiliki Lily dan Gerry. Kemudian dengan mudahnya malah tidur dengan Remy bahkan hingga lebih dari sekali.

Mungkin review ini terkesan subjektif, namun tetap saja pengalaman membaca seseorang tentu berbeda bagi setiang orang meski membaca buku yang sama. Saya masih tetap saja tidak bisa menerima jika freesex diketengahkan secara terbuka di buku yang ditulis oleh penulis Indonesia dengan setting di Indonesia dan tokoh-tokohnya orang Indonesia. Menampilkan bahwa freesex seolah telah menjadi bagian dari kehidupan perkotaan Indonesia. Benarkah? Apakah itu kemudian digambarkan sebagai hal yang biasa? Kemudian ditangkap oleh remaja yang membacanya bahwa jika hidup di kota tidak apa menjalani kehidupan freesex?

Ini adalah satu hal yang terasa paling mengganggu bagi saya. Mungkin tidak bagi pembaca lain. Sebagus apapun narasi cerita, pada akhirnya novel ini tidak akan saya rekomendasikan untuk sepupu-sepupu saya yang sering kali menanyakan buku apa yang bagus untuk mereka beli dan baca.

Silakan sebut saya udik, moralis, dan sebagainya. Sekali lagi ini tentang kenyamanan membaca setiap orang. Pengalaman membaca setiap orang dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari pengetahuan hingga norma yang melekat di hidupnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar