Sabtu, 24 September 2016

Ladies' Journey



“Tapi gue capek jadi figuran di kisah cinta gue sendiri. Kenapa harus jadi nomor dua? Kenapa nggak bisa cuma ada aku dan kamu? Bukan aku, kamu, dan kenangan?” (Hal. 84)


Penulis: Lala, Purwono, Triani Retno, Icha Ayu, dkk
Editor: Herlina P. Dewi
Desain sampul: Teguh Santosa
Layout: DeeJe
Proofreader: Tikah Kumala
Penerbit: Stiletto Book
Cetakan: I, Juni 2013
Jumlah hal.: vii + 168 halaman
ISBN: 978-602-7572-15-7

Karena Setiap Perjalanan Menyimpan Cerita

Setiap perjalanan menyimpan cerita: kepedihan, kekecewaan, kehangatan, ataupun kebahagiaan. Begitulah kisah-kisah yang terangkum dalam buku ini. Mereka meninggalkan rumah untuk mencari kepastian, mencari cinta, menemukan jati diri, atau bahkan untuk kabur dari hiruk pikuknya hidup.

Beberapa perempuan menempuh jarak dan waktu, demi cinta. Di sudut Jakarta, Lina harus menabung keberanian untuk kembali pulang dengan sekoper kesedihan. Sementara Clara menemukan dirinya kembali ke negeri antah-berantah. Perempuan lainnya sibuk membuang masa lalu dan mulai mengoleksi kepingan-kepingan masa depan.

Kisah-kisah dalam buku ini akan mengantarkanmu menjelajah waktu dan menelusuri kenangan, karena setiap perjalanan menyimpan cerita.
***

“Menjadi seorang ibu bukan melulu perkara hamil dan melahirkan. Tanpa harus berdiam di rahimnya, aku tahu dialah ibu yang dipilihkan Tuhan untukku.” (Hal. 1)

Buku Ladies’ Journey ini adalah sebuah kumpulan cerita yang ditulis oleh 13 orang penulis berbeda. Tulisannya berupa cerita pendek yang mengandung setting tentang sebuah perjalanan. Perjalanannya ini tidak melulu tentang sebuah perjalanan liburan tapi juga termasuk perjalanan pulang. Pulang dari mengelana, pulang untuk mengobati luka.

Bukankah hidup itu sendiri adalah sebuah perjalanan?

Dari 13 kisah yang terdapat di dalam buku ini, ada dua cerita yang lebih berkesan bagi saya. Pertama adalah tulisan Eva Sri Rahayu yang berjudul “Perjalanan Kenangan”. Cerpen ini bercerita tentang tokoh utamanya yang enggan untuk menjalin hubungan dengan laki-laki yang memiliki kenangan. Sebab ia tidak mau jika harus bersaing dengan kenangan. Itu jauh lebih sulit daripada bersaing dengan seseorang yang nyata.

“Lo tahu, kadang gue berpikir, apa yang kalian cintai itu adalah kenangan bersama cewek lo, bukan orangnya. Itu hanya karena cinta lo dulu mungkin nggak tersampaikan, atau nggak selesai dan kalian keburu pisah.” (Hal. 88)

Itu adalah kutipan yang muncul dalam cerita ini. Pertanyaannya, adakah seseorang yang tidak memiliki kenangan? Bisa saja ia memang tidak pernah memiliki pacar seumur hidupnya, namuun bukan berarti ia tidak pernya menyukai orang lain sebelumnya. Bukankah hal itu pun adalah sebuah kenangan? Inilah yang membuat cerita ini menarik. Pembaca jadi bertanya-tanya tentang akhir cerita. Adakah laki-laki semacam itu? Laki-laki yang tidak memiliki kenangan.

Cerita kedua yang menarik bagi saya adalah tulisan Lala Purwono yang berjudul “I am Leaving”. Cerita ini lebih menceritakan tentang perjalanan pulang. Bagaimana kadang manusia dihadapkan pada satu-satunya pilihan yang ia punya, pulang!

Bercerita tentang tokoh bernama Lina yang berusia 34 tahun. Ia tengah berada di titik terbawah kehidupannya. Tidak punya masa depan, tidak punya uang dan hanya memiliki hati yang telah pecah berkeping-keping. Keputusan untuk meninggalkan rumah demi mengejar cinta ternyata berujung pada malapetaka. Ia menyerahkan hatinya pada orang yang salah. Suami orang. Dan kini saat semuanya kacau dan ia tidak lagi memiliki apapun ia pun memutuskan pulang. Kembali kepada orang yang selalu menunggunya dengan setia, Ibu. Ya, pelukan seorang ibu akan selalu menjadi tempat pulang paling nyaman.

Masih ada 11 cerita lainnya di dalam buku ini dengan warna dan tema yang berbeda. Menurutmu, perjelanan semacam apa yang akan meninggalkan kesan paling kuat bagimu, Readers?

“Setiap kelahiran pastilah membawa misi penting. Seperti umumnya manusia, lahir untuk memikirkan dan memimpin dunia. Paling tidak untuk nasib dan kepentingannya sendiri. Alangkah buruknya kelahiran tanpa misi. Kelahiran celaka yang tak pernah diharapkan.” (Hal. 53)

***

“Dan sekarang aku tahu, mematuhi perintah tanpa kehendak hati hanya akan menyiksa diri.” (Hal. 59)

Membaca kumpulan cerita selalu memberi sensasi yang berbeda dari membaca novella hingga novel. Apalagi jika kumpulan cerita tersebut ditulis oleh sejumlah orang bukan hanya satu orang. Kenapa? Karena biasanya buku semacam ini akan memberikan banyak warna. Sebab tidak ada dua orang yang akan menulis dengan gaya yang sama persis. Setiap penulis punya ke-khasannya sendiri.


Hal inilah yang akan ditemukan di dalam kumpulan cerita Ladies’ Journey ini. Ada penulis yang menulis dengan warna kesuraman yang pekat seperti dalam cerita “Zelmania” karya Tikah Kumala, namun ada juga yang menulis dengan kesan ceria yang kuat seperti dalam “Jodoh dari Hongkong” karya Judith Hutapea.

Hal lain yang terasa adalah gaya bercerita setiap penulis yang berbeda. Kita akan menemukan tulisan yang ditulis sepenuhnya dalam bentuk narasi tanpa dialog seperti karya Ririe Rengganis dalam “Pulang untuk Cinta”; tapi ada juga karya yang Lala Purwono yang berjudul “I am Leaving” yang didominasi oleh percakapan; atau bahkan 11 karya lain yang porsi antara narasi dan dialognya berimbang.

Keuntungan dari membaca kumpulan cerita adalah selera berbagai pembaca bisa terakomodir. Meskipun pembaca juga jadinya membaca cerita yang tidak sesuai dengan seleranya. Ini hal yang saya alami. Tidak semua kisah dalam Ladies’ Journey  ini saya sukai. Tapi di situlah tantangannya. Saya harus menikmati semua yang ditawarkannya kan?

Oiya, di halaman 128 dalam cerita Pulang untuk Cinta karya Ririe Rengganis ada sebuah tulisan yang manis tentang cinta. Dan saya cukup menyukainya. Tapi karena tulisannya cukup panjang tidak perlu saya tuliskan di sini ya. Lebih baik jika dibaca sendiri secara langsung, Readers.. he..he..

Nah, itu dia sedikit ulasan dari saya untuk buku kumpulan cerpen ini.

“Lo tahu nggak, saat lo ngerasa nggak berarti buat seseorang, sebenarnya ada orang lain yang menganggap lo tuh too good to be true. Sayangnya lo mungkin nggak pernah tahu.” (Hal. 88)

***
Kumpulan Quote dalam Ladies’ Journey
“Vie, mencintai butuh keberanian merasakan patah hati. Tidak mencintai pun butuh keberanian hidup bersama sepi.” (Hal. 90-91)
“Life is a gamble. You play to win, oftentimes you lose, but doesn’t mean you are a loser. You’re just unlucky.” (Hal 93)
“... hanya mereka yang benar-benar mencintai yang tidak akan pernah pergi.” (Hal. 104)
“Being in a total control of others and having no choice are suck;...” (Hal. 115)
“Always remember that you ALWAYS have a full control of yourself for everything, but you only have to learn to take risks dan bertanggung jawab atas pilihan yang kamu ambil.” (Hal. 117)
“Kamu tidak akan membuat orang-orang di sekelilingmu bahagia kalau kamu tidak merasa nyaman dengan hidupmu sendiri. Jadi, bukan egois namanya kalau kamu memilih jalan hidup yang kamu inginkan.” (Hal. 117)
“Terkadang kesetiaan itu ibarat kapal. Ada jadwalnya sendiri kapan harus berlabuh dan pergi.” (Hal. 153)

3 komentar:

  1. Perjalanan menemukan cinta sejati barangkali hehe

    BalasHapus
  2. "I am Leaving" pasti ceritanya mengahrukan. Saya selalu menyukai cerita yang menyisipkan kasih Ibu. Ceritanya pasti terasa hangat dan bisa mengharukan. Sayangnya, saya kurang menyukai buku kumcer. Ah, jadi dipertimbangkan dahulu untuk membaca buku ini :)

    BalasHapus
  3. Aaaa... seneng banget Atria suka cerpennya <3
    *lap sudut mata

    BalasHapus