Selasa, 20 September 2016

Kukejar Cinta ke Negeri Cina



 “Urusan perasaan dan hati itu nggak pernah ada yang salah. Yang kurang tepat adalah reaksi kita terhadap perasaan tersebut.” (Hal. 82)


Penulis: Ninit Yunita
Editor: Emka & Bayu Novrilianto
Proofreader: Andrea Dhien
Penata Letak: Nurhasanah Ridwan
Penyelaras akhir: Landi A. Handwiko & Putra Julianto
Desain cover: Adryana Putri & Amanta Nathania
Penulis skenario: Novia Faizal
Penerbit: EnterMedia
Cetakan: Pertama, Oktober 2014
ISBN: 978-979-780-763-4

Pernahkah kamu berpikir,
jatuh cinta kepada seseorang itu
sesederhana saat menuliskannya?
Jatuh cinta itu hak semua orang.
Tiap-tiap hati bebas menaruh cintanya
kepada hati yang ia percaya.
Namun, bagaimana ketika seseorang
yang telah memiliki kekasih,
ternyata jatuh cinta pada orang lain,
yag dianggap mampu memberi rasa
nyaman dibandingkan dengan kekasihnya sendiri?
Apakah itu cinta?
Ataukah pelarian semata?
Bisakah semua kembali seperti sedia kala
dan hati yang tengah mendua kembali kepada cinta yang satu?
***
Resapi dan temukan pertannyaan tentang cinta dan novel ini.
Cinta antara Imam, Widya, dan Chen Jia Li.
Mereka berjuang menemukan jawabannya hingga ke negeri Cina.
Apakah semua perjalanan cinta memang tak akan sia-sia?
Atau justru perjalanan hiduplah yang lebih berharga
dibandingkan dengan kata cinta itu sendiri?

***

“... sejauh apapun tempatnya, ilmu harus dituntut. Kebaikan yang dituai dari mengamalkan ilmu adalah amal yang tidak akan terputus.” (Hal. 23)

Ridwan Imam Fadli, atau akrab di sapa Imam, adalah mahasiwa Universitas Negeri Semarang yang tengah dikejar deadline lulus. Di sisi lain, ia pun mulai merasa tidak nyaman dengan sang kekasih, Widya. Widya yang sudah lebih dulu lulus dengan IPK yang bagus. Bahkan Widya langsung diterima mengikuti MDP di Bank Central Java. Ini membuat Widya terus merongrong Imam untuk segera menyelesaikan studinya.

Hal lain yang ikut menambah kegusaran Imam adalah sikap ayah Widya yang cenderung sinis padanya. Ini karena sebuah kejadian saat Imam dipaksa mengimami shalat Maghrib di rumah Widya. Imam yang shalat Jumat saja ogah-ogahan mengimami shalat?! Pastilah hasilnya runyam. Ini membuat Imam akhirnya selalu mendapat sindiran dari Ayah Widya.

Di tengah semua masalah itu, tanpa sengaja Imam bertemu dengan Chen Jia Li di Klenteng Sam Poo Kong. Jia Li adalah perempuan asal Tiongkok yang sedang berlibur ke Semarang. Ia seorang muslimah yang baik. Menghindari sentuhan dengan yang bukan mahramnya, berhijab, dan selalu berusaha menjaga shalatnya. Kecantikan dan keanggunannya membuat Imam terpesona.

Di sisi lain ada Dimas, pria mapan yang bekerja di Marketing Departemen Head di Bank Central Java, yang tertarik pada Widya.  Dia bahkan terus melakukan pendekatan pada Widya meskipun sudah mengetahui bahwa gadis itu sudah memiliki pacar. Ini karena ia merasa kansnya lebih besar daripada Imam.

Lama kelamaan hubungan Imam dan Widya merenggang. Imam semakin jatuh cinta pada Jia Li. Jia Li hadir seperti sebuah oase bagi gersangnya keimanan Imam. Pengaruh dari Jia Li membuat Imam menjadi lebih rajin beribadah dan berimbas dengan semakin lancarnya skripsi laki-laki itu. Sayangnya, Jia Li harus kembali ke Tiongkok. Dan apakah itu akhir bagi perasaan cinta Imam?

Ternyata tidak. Imam nekat mengejar Jia Li ke Tiongkok. Ini menjadi perjalanan penting baginya. Mengejar cinta yang ia yakini. Widya? Tidak lagi dipikirkannya.
Apakah perjuangan Imam ini akan membawa hasil yang bahagia? Bisakah ia menemukan pendamping terbaik baginya? Berhasilkah ia meminang Jia Li?


“Minta pertolongan kepada siapa lagi kalau bukan sama Allah? Dengan sabar dan salat. Sabar itu, kan, tidak menyerah, terus berusaha. Dan dengan salat, kita akan jauh lebih tenang.” (Hal. 34)

***

“Kung fu itu artinya keahlian yang diperoleh melalui proses yang panjang. Kalo lo jago nulis..., artinya elo kung fu writer.” (Hal. 38)


Novel ini cocok disebut sebagai novel perjalanan cinta islami. Ya, tokoh utamanya, Imam, melakukan dua perjalanan sekaligus yakni perjalanan menjemput hidayah dan juga memperjuangkan cintanya. Ia bahkan nekat ke Cina demi cintanya itu.

Novel ini termasuk novel islami yang ringan. Simple. Konfliknya simple namun banyak nilai-nilai Islam yang ditampilkan dengan casual. Seperti penolakan Jia Li untuk makan di rumah makan Billy, sahabat Imam yang keturunan Tionghua, karena melihat bahwa di restoran itu dijual berbagai menu olahan babi. Hal-hal seperti ini muncul beberapa kali dalam interaksi antara Imam dan Jia Li. Ini menjadi pesan yang tidak meninggalkan kesan menggurui. Namun yang aneh, bagaimana mungkin perempuan sesalehah Jia Li mengizinkan dirinya untuk melakukan perjalanan jauh tanpa didampingi mahram ya? He.. he.. abaikan pemikiran saya ini.

Oiya, sisi traveling di dalam novel ini tidak dominan. Tempat-tempat yang disebutkan di Semarang dan di Beijing merupakan tempat-tempat yang umum dikunjungi oleh pelancong. Seperti berbagai kelenteng yang di Semarang hingga Fobidden City di Beijing. Deskripsinya pun terasa kurang kuat. Menjadi seperti tempelan saja. Kurang menyatu dengan cerita.

Selain itu, ending yang menghadirkan Widya rasanya terlalu dipaksakan. Didramatisir.
Tapi secara keseluruhan cara bercerita yang mengalir membuat novel ini tetap enak dibaca. Bahkan dalam satu kali duduk.


“..., konon, kung fu master itu panggilan dari orang lain karena, orang bijak kalo jago, nggak pantas buat menilai dirinya sendiri.” (Hal. 39)

1 komentar:

  1. Saya belum membaca novel ini. Namun saya sudah melihat filmnya. Secara garis besar saya tahu apa yang diceritakan novel ini. Mengenai setting tempat, ini poin yang memang perlu diwaspadai oleh penulis siapa pun, karena suksesnya terletak pembaca bisa tidak merasakan setting tersebut. Sayang sekali kalau novel ini belum bisa melakukan hal tadi.Padahal di filmnya sangat bagus.

    Recent Post: Buku Senja di Langit Ceko by Kirana Kejora

    BalasHapus