Rabu, 21 September 2016

Kisah Seorang Gadis



“Mudah rasanya berpikir akan tetap mencintai seseorang ketika suatu kejadian hanya berupa kemungkinan. Namun, saat kemungkinan itu menjadi kenyataan .... Tidak. Semuanya sama sekali tidak semudah yang aku bayangkan.” (Hal. 110)


Penulis: P.S. Putri
Desain Sampul: P.S. Putri
Penerbit: GrayScale Publishing
Cetakan: 2014
Diterbitkan melalui www.nulisbuku.com

“Tokoh utama pria memang selalu digambarkan dengan sempurna di layar kaca rakyat Indonesia. Namun, aku tidak pernah tertarik dengan tokoh utama. Bagiku, kesempurnaan itu terlalu berlebihan. Terlalu menyesakkan. Dalam beberapa cerita, kesempurnaan itu juga bisa membuat sang tokoh utama menjadi terlalu dominan. Tokoh utama cenderung merasa bahwa apapun yang diinginkannya, pasti akan ia dapatkan. Egois, ya? Makanya, aku tidak suka. Setiap kali menonton sebuah pertunjukan teater atau film, aku selalu lebih tertarik pada side character–pemeran pembantu....”

Gadis Aretha adalah mahasiswi baru di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Wajahnya biasa saja, keluarganya tidak kaya, dan kepribadiannya bisa dikatakan buruk. Anehnya, Hari Wijaya, sang ketua BEM yang menjadi idola banyak orang, tetap jatuh hati kepadanya. Sementara itu, Gadis justru tertarik kepada Seno, pemuda pendiam dari fakultas sebelah yang setiap hari kerjanya hanya menyendiri dan membaca buku saja. Perasaan Gadis tetap tidak berubah meskipun orang lain mengatakan bahwa Seno aneh atau memiliki tampang seperti “bapak-bapak”. Namun, ketika sebuah rahasia besar mulai terkuak, akan mampukah Gadis bertahan mencintai Seno?
***

“Aku tahu sebuah buku yang menarik bisa membuat beberapa orang lupa akan dunia nyata di sekelilingnya.” (Hal. 11)

Novel ini bercerita tentang tokoh utama bernama Gadis yang kuliah di jurusan komunikasi. Karakternya yang perfeksionis dan cenderung tertutup membuatnya kesulitan berbaur di kampus. Karakter Gadis ini mewakili mahasiswa yang kerjanya kuliah pulang – kuliah pulang (kupu-kupu) kali, ya. Ha..ha..

Hingga suatu hari, tanpa sengaja ia menemukan sebuah taman yang indah. Ia menyebutnya taman rahasia. Taman ini ia temukan tanpa sengaja saat menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di sekitar gedung fakultasnya. Taman ini indah dan sepi. Sangat jarang orang melintasinya. Namun ia selalu menemukan satu sosok itu di sana. Duduk sendiri dan sibuk membaca buku yang dipegangnya.

Lelaki itu bernama Seno, mahasiswa fakultas psikologi. Mereka jarang bertegur sapa. Hanya saling berbagi ruang di taman rahasia itu. Seno sibuk dengan bukunya, Gadis sibuk dengan pikirannya yang mengelana dan musik yang mengalun dari headphone-nya. Namun kebersamaan yang lebih sering diisi sunyi ini memberi rasa nyaman dan aman bagi Gadis. Hingga tanpa ia sadari perasaan itu tumbuh. Ia mencintai Seno.

Perasaan ini kemudian diuji oleh kenyataan yang ia ketahui belakangan. Kenyataan bahwa Seno berbeda. Bahwa laki-laki itu bisa saja berbahaya baginya. Dan akhirnya kita sebagai pembaca pun dibuat bertanya-tanya, yang manakah yang merupakan kebenaran?

“Cinta, kan, bisa datang dari mana saja, Dis.” (Hal. 24)

***

“Manusia itu hanya melihat apa yang ingin dia lihat. Mendengar apa yang ingin dia dengarkan. Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk mempercayai sesuatu kalau dia tidak menginginkannya. Jadi ....” (Hal. 60)

Saat mendapatkan novel ini dari seorang teman, saya jatuh suka dengan cover-nya. Ternyata, gambar yang ada di sampul novel ini adalah gambar sebuah taman yang nyata yang menjadi inspirasi penulis dalam menciptakan “Taman Rahasia” miliki Gadis dan Seno. Indah ya :)


Novel ini memiliki konflik dan premis yang simple. Namun informasi yang berusaha disampaikan penulis cukup “berat”. Informasi tentang gangguan mental khususnya skizofrenia menjadi salah satu bahasan yang cukup banyak diangkat dan memegang kunci penting dari keseluruhan cerita. Selain itu penekanan tentang perbedaan profesi psikolog dan psikiater pun menjadi informasi yang menarik mengingat di Indonesia kedua profesi ini masih sering disalahpahami.

Sedikit masukan saya untuk penulis adalah kurangi telling dan perbanyak showing. Munculkan deskripsi yang mampu membuat pembaca menangkap gambaran karakter tokoh tanpa disebutkan. Untuk menggambarkan tokoh yang baik hati, kenapa tidak buat satu adegan yang bisa menggambarkan secara telak kebaikan hati tokoh yang dimaksud?
Selain itu, sebarkan informasi tentang tokoh di seluruh cerita. Jangan merangkumnya dalam satu atau dua paragraf saja.

Sebenarnya ide cerita sudah bagus. Tinggal eksekusinya yang dimatangkan. Akan lebih menarik jika Gadis dan Seno mendapat porsi yang sama dalam bercerita melalui sudut pandang orang pertama. Ini biar semakin membuat pembaca penasaran tentang kebenaran cerita. Apakah cerita dari sisi Seno atau Gadis yang merupakan kenyataan.

Selain itu, penempatan penjelasan tentang gangguan psikologinya jangan dijabarkan panjang lebar dalam satu kesempatan. Melainkan sebarkan. Ini agar informasi tersebut tidak terkesan seperti informasi yang ditempel begitu saja yang ketika dihapus dari cerita tidak akan memengaruhi keseluruh cerita novel.

Nah, sekian ulasan saya untuk novel ini. Novel ini sudah menjadi permulaan yang baik untuk sebuah karya perdana. Tinggal diasah lebih jauh lagi.

Oiya, tambahan komentar. Saya setuju dengan opini tokoh Seno tentang rokok yang ada di halaman 77 meskipun pemikiran saya tentang hal itu tidak terlalu mendalam dan ekstrim seperti Seno. He..he..

“Ketika kita mencintai seseorang, kita biasanya menginginkan yang terbaik untuk dirinya. Kita juga tidak ingin dia menderita atau disakiti oleh orang lain.” (Hal. 95)


2 komentar:

  1. jadi tamannya bener2 ada ya, mba? keren banget bisa terinspirasi bikin karya dari sesuatu yang unik begini.

    BalasHapus
  2. kereeennn...sukses selalu Atria ❤

    BalasHapus