Senin, 12 September 2016

How to Fall in Love



“..., kau tidak bisa mengejar kebahagiaan. Sukacita itu terjadi dengan spontan –bukan rumus umum yang bisa kauikuti.” (Hal. 333)

Penulis: Cecilia Ahern
Alih Bahasa: Lina Jusuf
Editor: Fenty Nadia
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: 352 halaman
ISBN: 978-602-03-2199-8

Adam dan Christine dipertemukan pada suatu larut malam. Christine sedang menyebrang Jembatan Ha’Penny di Dublin dan Adam ada di sana, bersiap-siap terjun, bunuh diri.

Christine membuat kesepakatan gila dengan Adam bahwa sebelum ulang tahun Adam yang ke-35 dua minggu lagi, Christine akan menunjukkan kepadanya hidup ini layak dijalani. Berbekal buku-buku pedoman how-to, Christine membantu Adam kembali jatuh cinta pada hidupnya.

Namun, hanya itukah perubahan yang terjadi?
***

“Meski hal positif adalah akar bagi hal-hal hebat, angan-angan saja tidak bisa menjadi landasan yang kokoh bagi suatu perkawinan.” (Hal. 11)

Entah ada apa dengan hidup Christine hingga di saat ia merasa gamang dengan kehidupannya, ia malah harus berhadapan dengan orang-orang yang mencoba mengakhiri hidupnya.

Malam itu, mengikuti petunjuk sebuah buku pedoman “how to” agar mendapatkan kedamaian hati, Christine melangkah menuju sebuah tempat yang asing baginya di malam hari. Tempat yang MUNGKIN akan membuatnya merasa bersyukur. Di sana ia bertemu Simon Conway yang memegang pistol dan mencoba bunuh diri. Awalnya Simon berhasil ditenangkan oleh Christine, ia bahkan memberi Christine kesempatan menelpon polisi untuk meminta bantuan. Namun satu perkataan yang salah membuat Simon kembali meraih pistol dan benar-benar menembak dirinya. Kini Simon terbaring tidak berdaya di rumah sakit sedangkan Christine hidup bersama rasa tidak berdaya dan penyesalan karena gagal mencegah Simon.

Setelah itu hidup Christine menjadi tidak damai. Ia pun semakin merasakan betapa pernikahannya tidak lagi membahagiakan ia dan Barry, suaminya. Akhirnya ia pun mengajukan perceraian dengan Barry. Hal yang tidak diduga Barry. Orang-orang berpikir itu karena Christine mengalami trauma atas apa yang menimpa Simon. Namun Christine sadar itu memang pilihannya yang ia ambil jauh sebelum ia bertemu Simon.

Di tengah kehidupan yang suram karena pernikahan yang gagal, pekerjaan yang kacau, tempat tinggal dan harta lainnya diambil paksa oleh mantan suami yang sakit hati; Christine bertemu dengan Adam. Mereka bertemu saat Adam mencoba melakukan bunuh diri dengan terjun dari Jembatan Ha’Penny. Christine pun berusaha sekuat tenaga agar kejadian dengan Simon tidak terulang lagi. Sayangnya ini membuat ia menjanjikan hal yang mustahil pada Adam.

Ia berjanji bahwa saat ulang tahun ke-35 Adam, yang ternyata tinggal dua minggu lagi, Christine akan mampu membuat Adam melihat bahwa bunuh diri bukanlah pilihan yang tepat. Bahwa kehidupannya masih layak untuk dijalani.

Pertanyaan sebenarnya adalah bagaimana mungkin Christine bisa meyakinkan Adam jika ia sendiri juga menyadari betapa suram kehidupan miliknya. Namun Christine bertekad untuk tidak gagal. Ia pun mengambil beberapa buku pedoman how to, yang seolah menjadi obsesinya, untuk mendukungnya melakukan misinya itu.

Akhirnya itu akan menjadi dua minggu paling “aneh” bagi Christine. Ia mengambil cuti demi bisa mendampingi Adam selama 24 jam penuh. Ini membuatnya harus tinggal satu atap dengan dengan Adam. Kemudian ia pun menggali satu persatu penyebab ketidakbahagiaan Adam dan mencoba membantu Adam memperbaiki keadaan itu. Namun di saat yang sama ia pun harus memperbaiki hidupnya.

Mampukah Christine memenuhi janjinya pada Adam? Apakah misinya itu akan berhasil?


“Kalau sesuatu tidak dapat diperbaiki, setidaknya dapat diubah, terutama perilaku.” (Hal. 26)

***

“Kalau diingat-ingat lagi, kurasa aku jatuh cinta pada perasaan jatuh cinta.” (Hal. 59)

Kembali menikmati karya Cecilia Ahern adalah salah satu kesenangan pribadi bagi saya. Ini karena novel karyanya selalu dituturkan dengan unik. Dan topiknya akan berbeda di setiap novel.

Kali ini ia menulis dengan cara yang unik. Ide utamanya adalah tentang bagaimana seseorang akan menjalani kehidupan yang didasarkan pada buku pedoman how-to. Kita tentu sering melihat buku-buku motivasi ataupun buku bertema bisnis yang bunyinya seperti: “10 Cara Menghalau Stress”, “8 Langkah Mendapatkan Pekerjaan yang Diimpikan”, atau judul-judul lain yang serupa itu kan? Nah, tokoh Christine adalah perempuan yang terobsesi dengan buku-buku semacam itu. Di dalam ruang kerjanya di kantor, ada selemari penuh buku-buku semacam itu.

Menguatkan kesan yang ingin dibangun, penulis tidak hanya menggunakan judul “How to fall in Love” melainkan juga menggunakan judul semacam itu di setiap bab cerita. Ada bab dengan judul “Cara Menenangkan Laki-Laki”, “Cara Membangun Persahabatan dan Menumbuhkan Rasa Percaya”, “Cara Menghilang Selamanya dan Tidak Pernah Ditemukan”, dan judul-judul lain semacamnya. Menarikkan?

Selain keunikan itu, penulis mampu membangun karakter-karakter yang konsisten. Dan menyusun rangkaian peristiwa yang saling mengisi untuk menampilkan ironi kehidupan. Tentang bagaimana Christine berupaya membuat Adam melihat keindahan hidup namun di saat yang sama ia sendiri merasa tidak bahagia dengan kehidupan yang dijalaninya.

Menariknya, latar belakang Adam bagi sebagian orang mungkin dianggap terlalu hebat. Membuat orang-orang merasa kesal dan berpikir, “Bagaimana mungkin ia tidak bahagia padahal ia memiliki semua itu?” Tapi bukankah perkaraan perasaan adalah perkara abu-abu? Tidak ada pakem yang pasti?

Oiya, di halaman 320, penulis mengangkat sebuah realitas tentang kehidupan melalui pengalaman Caroline yang melakukan percobaan bunuh diri karena di-bully di dunia maya. Video “dewasa” yang ia buat bersama pacarnya beredar di dunia maya ketika mereka putus. Ini mmebuat dia dikucilkan dan dicemooh teman-temannya di dunia maya. Ia pun merasa malu  Ia merasa tidak akan ada yang menolongnya. Ia tidak memiliki keberanian untuk mengadu pada orangtuanya. Dan Ini adalah kasus yang semakin marak terjadi dan tidak sedikit yang “plot ceritanya” sama dan berakhir bunuh diri juga. Sebuah “sentilan” yang pas.

Terakhir, Ada twist menarik terkait ibu Christine yang tidak terduga yang akhirnya membuat pembaca menyadari alasan Christine bersikeras menolong Adam.

Sekali lagi Cecilia Ahern berhasil mengangkat topik yang menarik. Menyuguhkan cerita yang menangis dan realistis dengan pesan yang bijak tentang kehidupan.

“Menurutku, betapa pun baiknya, tidak semua cinta harus bertahan selamanya.” (Hal. 109)

***
“Aku tidak sempurna, tetapi berusaha sebaik mungkin, seperti kebanyakan orang untuk tidak melakukan kesalahan.” (Hal. 160)
“Hal terbaik dan terindah di dunia ini tidak bisa dilihat bahkan disentuh – hanya bisa dirasakan dengan hati” – Hellen Keller (Hal. 175)
“Kau tukang membenahi, Christine, tetapi kalau kau benar-benar ingin menolong seseorang, menjadi teman bagi mereka, terkadang kau hanya perlu mendengarkan dan membiarkan mereka melakukan sendiri tugasnya. Dampingi dia. Itu saja.” (Hal. 234)
***


Postingan ini adalah bagian dari tantangan #31HariBerbagiBacaan yang diadakan oleh Kak Ila Rizky Nidiana


2 komentar:

  1. Saya baru mendengar nama penulisnya. Dan Mbak Atria ini sepertinya pernah membaca buku penulis sebelumnya. Rasanya ide cerita yang digarap sangat unik. saya jadi penasaran dengan proses membahagiakan Adam. saya teringat sama buku Hector and the search for Happiness. Buku pencarian kebahagiaan.

    Recent Post: [Buku] Where The Mountain Meets The Moon by Gracia Lin

    BalasHapus