Senin, 19 September 2016

Coppélia



 “Sebuah perjalanan adalah tamasya untuk jiwa yang kehausan.” (Hal. 23)

Penulis: Novellina A.
Editor: Ruth Priscilia Angelina
Cover: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: 192 halaman
ISBN: 978-602-03-1810-3

Sejak kecil Oliver sudah jatuh cinta pada Nefertiti yang aneh. Namun, tetangga depan rumah sekaligus teman sekelasnya itu tiba-tiba menghilang. Oliver ditinggalkan sebelum sempat membuat gadis itu mengingat namanya.

Sampai ke Jerman, Oliver mencari cinta pertamanya. Hingga akhirnya mereka bertemu. Tetapi, keadaan telah berubah. Nefertiti bukan lagi gadis yang dulu. Penari balet itu terluka sangat dalam dan menganggap cinta sebagai rasa asing yang terlalu mewah untuk ia miliki.

Akankah cinta menemukan jalannya, atau Nefertiti tidak akan dapat meloloskan diri dari masa lalunya yang begitu dingin ... Sedingin kisah boneka Coppélia yang begitu dicintai ibunya.

***

“Keharuman dan kesunyian hujan akan menyapu sepi dan membawa pikiran ke alam rindu. Rinduk akan rumah, tawa, pelukan dan orangtua. Rindu akan tanah air.” (Hal. 174)

Novel ini bercerita tentang seorang gadis yang mengejar cinta ibunya. Dan seorang laki-laki yang mengejar cinta pertamanya. Mereka melakukan pengejaran masing-masing dan bertemu di Jerman.

Nefertiti adalah perempuan yang sejak kecil tidak memahami bagaimana itu cinta dan kasih sayang. Ini karena perlakuan dingin yang diterimanya dari sang ibu dan ayah. Ibu Nefertiti adalah seorang pelukis kenamaan yang mewarisi nama besar dan bakat ayahnya, kakek Nefertiti. Sedangkan ayah Nefertiti adalah seorang arsitek ternama. Rumah mereka unik dan indah, namun tidak menyimpan kehangatan. Nefertiti lebih suka menemui Mia, gadis bisu yang sepertinya mengalami keterbelakangan mental karena secara psikologi tidak bertumbuh normal. Maka ketika Mia meninggal, runtuhlah dunia Nefertiti. Ia tidak lagi merasa bahwa ada orang yang akan memahaminya.

Di sisi lain ada Oliver yang diam-diam mencintai Nefertiti. Ia pun tidak memahami mengapa ia mencintai gadis itu. Dan bahkan tidak pernah bisa melupakan Nefertiti yang menghilang saat mereka masih duduk di bangku kelas 3 SMA. Kini saat ia tengah menyelesaikan program doktoralnya, Oliver tetap saja tidak bisa melupakan Nefertiti. Ia bahkan menjadi akrab dengan ibu Nefertiti yang secara fisik memang mirip dengan gadis itu. Apakah ini obsesi? Ataukah hanya cinta yang belum mampu dilabuhkan ataupun dilepaskan?

Sebuah kejadian membawa Nefertiti ke rumah ibunya. Mempertemukannya dengan Oliver. Adakah harapan atas hubungan mereka? Apakah Nefertiti yang pendiam dan cenderung pesimis dan memilih menutup diri bisa menemukan dunia yang lebih berwarna dan bercahaya?


“Bandara adalah tempat di mana perpisahan lebih sering terjadi daripada pertemuan. Tempat yang menjadi saksi berapa banyak komitmen terpatahkan, janji tak terpenuhi, dan hati yang terluka. Di sini kesepian menjamur, terisap ke sumsum tulang manusia.” (Hal. 49)

***

 “Memori bekerja dengan sangat unik, kan? Ada sesuatu yang tak pernah kita lupakan meski sudah terjadi puluhan tahun lalu. Tapi ada juga yang tidak bisa kita ingat meski baru saja terjadi.” (Hal. 86)

Bagi yang membeli Coppélia karena penasaran dengan blurb-nya, pasti akan merasa gemas. Di blurb yang ada di sampul belakang ditulis dengan sudut pandang orang ketiga dari sisi Oliver.  Namun ternyata awal cerita malah dipenuhi oleh sudut pandang orang pertama dari sisi Nefertiti. Sudut pandang yang cenderung kelam.

Hampir sepertiga awal novel Coppélia ini menggunakan sudut pandang Nefertiti yang sendu. Setelah itu barulah cerita berpindah ke sudut pandang orang pertama dari sisi Oliver. Perpindahan ini dimulai dengan menarik. Tapi bisa jadi sebelum perpindahan ini terjadi, pembaca sudah menutup buku karena bosan dengan alur cerita dari sisi Nefertiti yang lambat dan muram.

Tapi sebenarnya keseluruhan cerita ini menarik. Premis yang menjadi dasar cerita yang terkait dengan kisah Coppélia sang boneka penari. Sayangnya karena alur awalnya cukup lambat dan terlalu banyak mengangkat sisi suram Nefertiti, malah membuat pembaca merasa gemas. Sebab lama kelamaan yang tergambarkan malah Nefertiti yang sepertinya terlalu mengasihani diri sini. Mendramatisir keadaan.

Dalam hal penokohan sudah sangat baik. Meskipun saat cerita dituturkan dari sisi Oliver dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, kesan maskulin tidak terasa. Oliver terlalu serius dan kalem. Cara bertuturnya pun sangat sopan. Jadi, kesan maskulinnya sangat kabur. Ia terlalu “netral”.

Oiya, hanya sedikit kesalahan penulisan yang saya temukan. Salah satunya, di halaman 121, di paragraf ketiga, ada kesalahan penulis. Kata terakhir seharusnya ditulis, “beliau” menjadi “belaiu”.

Secara keseluruhan novel ini sudah sangat enak dibaca. Tokohnya sedikit sehingga mudah dipahami dan unsur traveling dan pengetahuan tentang musik klasik dan balet juga menjadi nilai plus bagi novel ini.

“Tidak pernah ada saat yang tepat untuk mengabarkan berita buruk. Dan tidak ada cara paling mudah untuk memberitahunya. Berita buruk seperti penyakit. Manusia tidak memintanya, dia datang begitu saja.” (Hal. 125)
***

“Wanita wajib memiliki bakat, sedang pria tidak.” (Hal. 187)

“Wanita selalu dituntut untuk lebih rajin, lebih pintar, lebih bijaksana. Laki-laki lebih menyukai wanita pintar, cantik, berbakat, dan perhatian. Tekanan yang berubah menjadi seleksi alam.” (Hal. 187)

1 komentar:

  1. Cerita yang menarik. Dua orang yang mengejar dua tujuan yang berbeda. Saya tidak suka dengan kovernya. Kover kartun manis demikian, layaknya untuk genre teenlit. Biar pun ada logo Metropop, seharusnya kover mendukung usia tokoh di dalam ceritanya.

    Recent Post: Buku Senja di Langit Ceko by Kirana Kejora

    BalasHapus