Jumat, 30 September 2016

[Artikel] Membaca Kebahagiaan



Selama bulan Agustus saya mendedikasikan waktu membaca saya untuk mencicipi beberapa genre baru. Ya, membaca buku motivasi bukanlah salah satu genre kesukaan saya, dahulu. Tapi akhir-akhir ini saya merasa bahwa membaca buku-buku non-fiksi membuat saya mendapatkan pengalaman membaca yang berbeda dan membantu saya mengimbangi pola pikir dan perasaan saya yang mulai diwarnai oleh berbagai kisah fiksi.

Saya adalah orang yang percaya bahwa bacaan seseorang merepresentasikan dirinya. 
"We are what we eat - not only physically, but mentally and emotionally as well"
- Derek Rydall 
Bukankah kita adalah apa yang kita makan? Dan bukankah buku adalah makanan bagi otak dan jiwa kita?

Saat kesadaran-kesadaran ini muncul, saya kemudian mendapatkan kesadaran baru. Bahwa di Agustus ini saya telah membaca dua buku yang judulnya mengandung kata “Happiness” yaitu The Happiness Project dan Hector and the Seacrh for Happiness. Akhirnya tercetuslah ide itu. Saya akan membaca buku dengan tema Happiness. Saya kembali membongkar stok bacaan saya dan menemukan dua buku lain bertema sama yang kali ini ditulis oleh penulis dalam negeri.


Dari ketiga buku ini, hanya Hector and the Seacrh for Happiness yang merupakan sebuah karya fiksi. Namun menariknya, karya ini pun cukup serius membahas tentang kebahagiaan. Penjelajahan Hector ke beberaba negara ciptaan penulis merupakan hal fiktif. Namun fenomena yang ditampilkan, simpulan, dan pemikiran Hector adalah hal nyata yang memang terjadi. Inilah yang membuat novel ini ternyata sangat relevan dengan bacaan saya.

The Happiness Project sendiri adalah sebuah buku terjemahan yang membahas tentang seorang perempuan yang mendadak mendapatkan kesadaran tentang “apakah dia bahagia?”. Hingga ia akhirnya memulai sebuah proyek pribadi untuk menemukan jawabannya dan bahkan jika perlu untuk menemukan kebahagiaan jika ia tidak memilikinya. Gretchen Rubin, penulisnya, memang adalah seorang penulis. Sebelumnya ia telah menerbitkan beberapa buku. Itu sebabnya saat memulai proyek ini, ia memulainya dengan riset tentang definisi kebahagiaan. Membaca banyak buku tentang kebahagiaan. Dan ke semua ilmu yang ia dapatkan melalui bacaannya ini tersebar di seluruh buku. Buku setebal 361 halaman ini ternyata berhasil saya selesaikan dalam 1 bulan. Ini rekor, mengingat buku ini adalah sebuah buku non-fiksi.

Buku lain yang saya baca adalah 89 Cara Bahagia Ala Atalia. Saya membaca versi e-booknya yang dihadiahkan oleh SCOOP, sebuah aplikasi membaca yang saya pasang di smartphone saya. Buku ini ditulis oleh istri Ridwan Kamil, walikota Bandung yang terkenal dengan kreativitasnya dan menggunakan indeks kebahagiaan sebagai salah satu tolak ukur perkembangan kota Bandung. Buku ini diperuntukkan untuk kalangan perempuan terutama ibu-ibu sebab Atalia membagi banyak pengalamannya sesuai dengan posisinya sebagai perempuan, ibu, istri, dan Ibu bagi penduduk Bandung. Buku yang ringan dan membahas secara ringkas tentang bagaimana menciptakan kebahagiaan dari hal sehari-hari. Bukannya berusaha mencari kebahagiaan dari hal-hal yang besar.

Buku terakhir yang saya baca adalah Terapi Pikiran Bahagia. Buku ini membahas tentang bagaimana medapatkan kebahagiaan melalui perubahan pola pikir. Melalui terapi psikologis. Penulis percaya bahwa pikiran yang bahagialah yang membuat seseorang bahagia. Sehingga kebahagiaan itu berasal dari dalam diri sendiri bukan diri sendiri. Dalam buku ini dibahas tentang bagaimana pikiran manusia akan mendapatkan respon dari semesta. Jika kita memikirkan hal-hal baik maka semesta akan meresponnya dengan hal-hal baik juga. Begitupun jika kita memikirkan hal-hal buruk terus maka semesta juga akan meresponnya dengan hal-hal buruk, konsep Law of Attraction.

Pengalaman membaca buku-buku bertema kebahagiaan ini ternyata memengaruhi pikiran saya. Saya belajar banyak. Saya pun mendapatkan sedikit perubahan selama membaca. Saya belajar untuk tidak banyak mengeluh tentang keadaan saya sebab ini bisa merusak kebahagiaan saya. Belajar untuk semakin mensyukuri hal-hal yang saya miliki dan tidak sibuk dengan hal-hal yang tidak saya miliki (meski saya tidak bisa berhenti memikirkan buku-buku baru yang ingin saya miliki.. ha.. ha..).

Ya, intinya proyek membaca yang muncul mendadak ini memberi saya pengalaman baca yang menyenangkan. Menjauhkan saya dari kejenuhan membaca. Sekaligus memberi manfaat bagi kehidupan saya.

Nah, sampai jumpa di Atria’s Reading Project di bulan September yang temanya adalah “Places”

Salam Aksara,
Atria Sartika

Catatan: Review untuk buku-buku ini bisa dicari di blog saya ini ya. Semoga suka. Dan jangan segan berbagi pengalaman baca yang mungkin serupa dengan yang saya alami.

1 komentar:

  1. Bener banget, mba. Kita adalah apa yang kita baca. Kebutuhan baca adalah nutrisi otak terbaik.

    BalasHapus