Minggu, 11 September 2016

89 Cara Bahagia ala Atalia



“Kita tidak akan pernah bisa membahagiakan semua orang. Tapi, kita bisa tetap BAHAGIA jika melakukan yang TERBAIK yang bisa kita lakukan.” (Hal. 86)



Penulis: Atalia Praratya
Penulis pendamping: Indari Mastuti
Editor: Gita Savitri
Tata Letak isi: Fajarianto
Desain sampul: Suprianto
Penerbit: Gramedia
Cetakan: pertama, 2016 (saya membacanya dalam versi e-book resmi melalui aplikasi Scoop)
Jumlah hal: 244 halaman
ISBN: 978-602-03-2714-3
Buku dalam bentuk E-book bisa didapatkan di aplikasi SCOOP atau klik tautan ini: 89 Cara Bahagia ala Atalia

Bahagia itu tidak usah dicari. Sebab sejatinya, kebahagiaan itu bisa kita ciptakan sendiri. Bahagia itu ada di hati, bukan tergantung pada kondisi. Bahagia hanya bisa dirasakan oleh jiwa-jiwa yang penuh rasa syukur. Tak heran, mereka yang merasa tidak bahagia rata-rata punya hobi merutuk dan mengutuk keadaan. Begitu pula dengan Anda para wanita. Dianugerahi perasaan halus, bukan berarti dalam keseharian boleh pasrah dilanda kegalauan.

Buku ini berisi kisah Atalia Praratya dalam menikmati peran sebagai wanita yang senantiasa berusaha menciptakan kebahagiaan dalam setiap fase kehidupan. Menikmati peran sebagai diri sendiri, istri, ibu juga bunda untuk warga Parijs van Java.

Bacaan yang dikemas dengan bahasa ringan ini cocok dijadikan camilan penuh gizi bagi wanita atau para ibu masa kini. Kalimat-kalimatnya sederhana, membumi, namun sarat inspirasi. Penuh dengan tutur yang santai nan santun, serta tak menggurui.

Ayo kita mulai kebahagiaan itu dengan melahap lembar demi lembar isi buku ini!

***

“Harta itu seperti meminum air laut, makin diminum makin haus. Artinya, semakin Ibu tidak puas dengan apa yang sudah dimiliki; semakin Ibu akan melakukan segala cara untuk menambahnya.” (Hal. 15)


Buku 89 Cara Bahagia ala Atalia ini adalah sebuah buku non-fiksi yang membahas tentang kebahagiaan dari sudut pandang seorang Atalia Praratya yang kini sedang menjalani hari-hari sebagai “Ibu” bagi seluruh kota Bandung. Istri dari Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, ini tentu memiliki banyak pengalaman yang bisa dibagi. Mengingat besarnya tanggung jawab yang ia emban.

Buku ini ditulis bersama seorang penulis pendamping, Indari Mastuti. Di dalamnya terbagi menjadi beberapa chapter yakni: 1) Bahagia menjadi Istri dan Ibu; 2) Bahagia menjadi Diri Sendiri; 3) Bahagia menjadi Bagian dari Masyarakat; 4) Bahagia menjadi Pendamping Perjuangan.

Berdasarkan pembagian di atas dan juga blurb buku, sudah terlihat bahwa buku ini diperuntukkan bagi pembaca perempuan khususnya mereka yang sudah memiliki tanggung jawab sebagai seorang ibu dan istri. Dalam buku ini setiap chapter tersebut membahas posisi dan tanggung jawab sosial perempuan, khususnya Ibu Atalia sendiri.

Dalam buku ini dihimpun 89 bahasan singkat tentang kebahagiaan. Sebagian besar darinya mengingatkan pembaca bahwa yang terpenting adalah kesediaan untuk bersyukur. Kesediaan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Bahwa hidup tidak lagi hanya tentang diri sendiri namun juga tentang orang-orang di sekitar kita mulai dari suami, anak, hingga lingkungan masyarakat.

“Pernikahan adalah sebuah perjuangan menyatukan perbedaan.” (Hal. 32)
***
“Jika Ibu ingin memperbaiki sikap, karakter, dan kebiasaan anak, mulailah dengan mengubah sikap, karakter, dan kebiasaan Ibu terlebih dahulu.” (Hal. 75)
Buku ini meski membahas hal yang sebenarnya “berat”, yaitu tentang kebahagiaan, namun dikemas dengan ringan. Setiap bahasan dibuat sesingkat mungkin dengan pilihan kata yang simple namun sarat makna. Hal ini menjadi kelebihan buku ini. Membuatnya menjadi quote-able sekali. Di akhir setiap pembahasan dari 89 cara bahagia yang diketengahkan, selalu disisipkan kesimpulan sepanjangan satu kalimat. Dan kalimat ini jadinya penuh makna dan menginspirasi.


Selain itu, yang membuat buku ini berbeda adalah karena pembaca bisa “mengintip” sedikit kehidupan dan pemikiran seorang istri walikota. Salah satu contohnya saat penulis mengemukan pikirannya di halaman 91; “Saya bersyukur. Ya, saya bersyukur bisa menjadi seorang istri walikota. Bukan karena prestise, prestasi atau jabatan. Tapi karena dalam posisi ini saya bisa menjalani hari-hari yang berbeda. Dengan menjadi istri seorang walikota, saya berkesempatan bertemu dengan banyak orang.” Beberapa kali tulisan semacam ini diketengahkan. Bahkan di chapter ketiga, Bahagia menjadi Bagian dari Masyarakat, sebenarnya mengandung “pesan” yang ingin disampaikan oleh Atalia kepada masyarakat. Bahwa perubahan tidak harus mengharapkan tindakan dari pemerintah melainkan harus dimulai dari diri sendiri dan hal-hal terdekat di sekitar kita.

Sedikit kekurang buku ini yaitu masih terasa kesan menggurui. Ini karena menggunakan bahasa penuturan yang kadang-kadang jika dibaca akan membuat pembaca merasa “diceramahi”. Tapi cara tulisan ditutup menyamarkan kesan in. Karena setiap pembahasan diakhiri dengan sapaan yang membuat pembaca disapa akrab oleh Ibu Atalia.

Oiya, di dalam buku ini, di halaman tertentu, disediakan sebuah kolom kosong untuk diisi oleh pembaca sesuai dengan instruksi atau saran penulis. Menjadi sebuah cara agar pengalaman membaca buku ini menjadi pengalaman personal yang sangat mungkin untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Membaca buku psikologi dan motivasi seperti buku 89 Cara Bahagia Ala Atalia ini memang selalu bisa menyuntikkan pemikiran dan energi positif ya, Readers.

“Kita menerima jauh lebih banyak dibandingkan dengan sedikit kekurangan yang kita rasakan.” (Hal. 134)
Get on Scoop



3 komentar:

  1. Buku yang menarik. Dan betul sekali, jika membaca buku motivasi, kerap kita merasa diberikan energi baru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus
  2. good referense to rise me up when im in blue hihi

    BalasHapus