Selasa, 16 Agustus 2016

The Chocolate Kiss



“Semoga kau mencintai kehidupanmu dan memegangnya dengan kedua tanganmu.” (Hal. 7)


Penulis: Laura Florand
Diterjemahkan dari The Chocolate Kiss terbitan Kensington Publishing
Penerjemah: Veronica Sri Utami
Penyunting: Pratiwi Utami
Perancang sampul: Ads Studio
Pemeriksa Aksara: Pritameani & Fitriana
Penata Aksara: Endah Aditya
Penerbit: Bentang
Cetakan: Kedua, Februari 2014
Jumlah hal.: vi + 458 halaman
ISBN: 978-602-7888-48-7

Selamat datang di La Maison des Sorcières, Kedai teh yang sangat terkenal di Pulau île Saint-Louis, Paris. Bersama kedua bibi tercinta, di sinilah aku –Magalie Chaudron– tinggal untuk membesarkan kedai yang sangat mengesankan ini.

Akan tetapi, semua kacau ketika Philippe Lyonnais –pastry chef terkenal di Paris– membuka toko cabangnya di dekat kedaiku. Dengan (sok) polosnya, ia tidak tahu bahwa ia telah melanggar teritori dan merebut pelanggan-pelangganku? Dan ditambah lagi lagaknya yang sombong, meremehkan semua resep menu spesial buatanku. Aarrgh ....
Mungkin ini saatnya bendera perang kukibarkan.
***

“..., mungkin lebih baik bagi seorang pangeran untuk belajar sejak masa mudanya bahwa mencari informasi sebelum melangkah adalah salah satu dasar untuk mempertahankan hidupnya.” (Hal. 18)

Magalie Chaudron adalah seorang perempuan muda yang terus berupaya menemukan tempatnya. Saat ini dia merasa bahwa La Maison des Sorcières, kedai teh milik bibi-bibinya adalah tempat di mana seharusnya ia berada. Ia merasa dibutuhkan dan merasa bahwa di sanalah dunianya. Ia senang membuat minuman cokelat. Ia senang menghiasi kue yang akan mereka pajang di etalase La Maison des Sorcières.

Namun semua kesenangan dan keseimbangan itu diguncang oleh kehadiran sosok Philippe Lyonnais. Magalie merasa bahwa Philippe akan merusak apa yang telah dimiliki La Maison des Sorcières selama ini. Magalie merasa bahwa kehadiran toko Lyonnais akan menjadi ancaman bagi kedai teh milik bibinya. Meskipun bibi-bibinya tidak memedulikan hal itu. Mereka terus menjalankan kedai tersebut sebagaimana adanya dan enggan mengambil tindakan berarti.

Magalie akhirnya memilih untuk bertindak. Ia datang dan menemui Philippe. Namun apa yang terjadi? Pertemuan itu menjadi awal bagi permusuhan panas di antara keduanya. Magalie yang menolak memakan macaron yang merupakan master piece Philippe telah membuat laki-laki itu tersinggung. Untuk pertama kalinya dalam hidup Philippe ada yang menolak makanan buatannya. Hal ini sangat mengganggu bagi Philippe.

Sejak itu, Philippe pun tidak bisa melepaskan pandangannya dari Magalie. Hal yang sama pun berlaku bagi Magalie. Butuh pengendalian diri yang sangat besar bagi Magalie agar tidak tergoda mencicipi pastry buatan Philippe yang tampilannya sangat menggugah itu. Namun Magalie harus bertahan. Ia harus memastikan Philippe tidak menghancurkan satu-satunya tempat di mana ia merasa hidup dan dibutuhkan.

Perseteruan di antara keduanya semakin memanas. Namun ternyata di antara mereka ada percik asmara yang muncul. Namun mungkinkah? Bagaimana nasib La Maison des Sorcières?


***

“Cinta bisa menyeberangi dua dunia. Cinta saling melintasi mereka dan terus saja saling melintasi mereka.” (Hal. 65)

Novel The Chocolate Kiss ini adalah salah satu dari 4 Chocolate Series karya Laura Florand. Dan ini adalah buku pertama Laura Florand yang saya baca.

Saat membacanya saya menyadari bahwa kekuatan bercerita Laura Florand adalah pada deskripsi. Ia sangat piawai mendeskripsikan tempat. Caranya menggambarkan île Saint-Louis sangat menarik dan membuat saya tertarik. Membuat saya membangun imajinasi yang sangat indah tentang tempat ini.

Kepiawaian ini pun terlihat dari bagaimana cara penulis menampilkan sosok Magalie. Bahkan cara Magalie berjalan dengan stiletto pun menjadi seperti sebuah statement tersendiri bagi tokoh Magalie.

Laura Florand juga berhasil mendeskripsikan proses pembuatan minuman coklat ala Magalie bak sebuah sihir. Pun dengan cara Philippe membuat kue-kuenya. Setiap langkah yang dilakukan Lyonnais terdeskripsikan dengan baik tanpa membuat pembaca merasa bosan.

Kekurangan buku ini adalah konflik yang kurang kuat. Ya, kurang kuat karena terlalu berputar di konflik antara kedua tokoh utamanya, Magalie dan Philippe. Awalnya berputar di “perang” keduanya, kemudian berkembang ke ketertarikan namun sempat lama berputar di hal tersebut. Bagaimana keduanya menyadari ketertarikan itu namun berusaha menampiknya. Terutama dari pihak Magalie. Tidak ada konflik lain yang mengiringi selain konflik pribadi Magalie yang sedang berusaha menemukan tempat di mana ia dibutuhkan. Tempat ia merasa bahwa di sanalah tempatnya. Hal yang seumur hidup ia cari karena kondisi pernikahan kedua orangtuanya yang tidak umum.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar