Senin, 22 Agustus 2016

Sequance



“Cinta menunjukkan kekuatannya dan kelemahannya saat ada sesuatu yang menimbulkan pergesekan kepentingan dan menuntut kompromi.” (Hal. 174)

Penulis: Shita Hapsari
Penyunting: Pratiwi Utami
Perancang sampul: Citra Yoona
Pemeriksa aksara: Intari Dyah P & Intan P
Penata aksara: Endah Aditya
Ilustrasi sampul: Shutterstock & istock
Penerbit: Bentang
Cetakan: Pertama, Maret 2014
Jumlah hal.: vi + 254 halaman
ISBN: 978-602-291-001-5
Klarissa
Bukan menempuh jenjang studi yang lebih tinggi.
Bukan menjadi psikolog. Bukan menjadi konselor.
Aku hanya ingin menjadi guru. Ya, guru bagi mereka,
anak-anak autis. Tidak cukupkah penjelasanku itu,
Tedibear-ku Sayang?

Ine
Memiliki kedudukan penting di kantor. Memiliki anak
yang cantik dan pintar. Memiliki uang untuk menunjang
penampilan. Semua itu tidak penting bagiku.
Karena yang kuinginkan hanya satu, yaitu kamu
selalu ada di sampingku, Sayang ....

Yuni
Harus giat bekerja siang dan malam. Harus rela
menerima cari maki dari atasan. Harus ikhlas menerima
kenyataan. Namun yang terpenting, aku harus tegar
melihatmu yang terus sibuk memainkan tumpukan
kancing-kancing itu, Anakku Sayang ....

***

“Banting setir memang tidak mudah, salah-salah bisa terpeleset dan masuk jurang. Namun, siapa bilang hidup itu mudah?” (Hal. 20)

Novel ini bercerita tentang kehidupan tiga orang perempuan dengan latar belakang yang berbeda dan tentu saja dengan masalah yang berbeda. Dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga dari tiga tokoh yang berbeda membuat konflik cerita bisa dipahami dengan baik. Jika menilik dari porsi cerita, sosok Klarissa-lah yang paling menonjol di antara ketiganya.

Klarissa adalah perempuan mandiri yang telah cukup mapan di dalam karirnya. Dipromosikan menjadi manager di perusahaan tempat ia bekerja mungkin hanya soal waktu. Namun Klarissa bukanlah perempuan yang berfokus pada karir. Ia tetap ingin merasakan kepuasan dari mengabdikan diri pada hal yang lain. Ia menaruh minat lebih pada anak-anak berkebutuhan khusus. Ini mendorongnya mencari tahu lebih banyak tentang mereka hingga secara serius datang ke sebuah sekolah yang khusus menangani anak-anak yang berkebutuhan khusus, Sekolah Hebat.

Sayangnya, Tedi, tunangan Klarissa tidak menyetujui pilihan gadis itu. Ia merasa bahwa Klarissa akan membuang potensi yang dimilikinya jika memutuskan untuk berhenti bekerja dan mendaftar menjadi guru bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Ini menyulut pertengkaran tanpa henti di antara keduanya. Hingga di satu titik Klarissa mulai meragukan apa yang ia miliki bersama Tedi. Lima tahun hubungan yang mereka jalani, kenapa Klarissa merasa Tedi masih tidak mampu memahaminya? Belum lagi kehadiran Choky, sosok yang baru dikenal Klarissa di Sekolah Hebat yang dikunjunginya, menarik perhatian Klarissa. Ia merasa nyaman untuk berbagi dengan Choky, hal yang tidak lagi ia temukan dalam diri Tedi. Namun benarkah ini? Layakkah ia mengorbankan 5 tahun yang ia miliki bersama Tedi? Apakah Klarissa berhasil memenuhi keinginannya menjadi guru bagi anak yang berkebutuhan khusus?

Lain masalah Klarissa, lain pula Ine. Ine adalah atasan Klarissa di kantor. Hidup dengan materi yang berlimpah ternyata tidak memberi ketenangan bagi Ine. Bagaimana ia bisa merasa tenang jika putrinya yang masih remaja terlihat enggan untuk tinggal di rumah? Jauh darinya. Bagaimana ia merasa tenang jika hubungannya dengan Herman, suaminya, mendingin? Ia bahkan mencurigai suaminya memiliki affair dengan perempuan lain. Yang entah siapa. Namun, apakah perceraian adalah pilihan terbaik? Bagaimana dengan putrinya?

Di tengah kemelut itu, Ine bertemu dengan Ludi yang bekerja sebagai chef di restoran sebuah hotel. Pertemuan mereka terjadi tanpa sengaja saat Ine berusaha memergoki suaminya yang kabarnya melakukan breakfast meeting di hotel tersebut. Kehadiran Ludi membawa warna baru dalam kehidupan Ine. Namun suatu hari ia melihat putrinya dan Ludi jalan bersama di sebuah mal. Siapa sebenarnya Ludi? Kenapa ia hadir di hidup Ine? Dan bagaimana nasib pernikahan Ine?

Terakhir, ada sosok Yuni. Yuni bekerja sebagai pramukantor di perusahaan tempat Klarissa dan Ine bekerja. Sebenarnya Yuni enggan untuk bekerja dan meninggalkan Dewa, putra semata wayangnya. Ini karena Dewa berbeda dari anak-anak lainnya. Dewa kesulitan untuk diajak berkomunikasi. Ia seperti memiliki dunia sendiri. Yuni pernah melihat berita tentang anak autis dan menduga Dewa termasuk kategori anak autis. Sayangnya ia tidak memiliki biaya untuk membawa Dewa ke psikolog.

Tuntutan kebutuhan ekonomi membuat Yuni harus rela bekerja dan menitipkan Dewa di tetangga. Hingga suatu hari ia tanpa sengaja menemukan informasi tentang Sekolah Hebat di meja Klarissa. Yuni lantas meminta bantuan Klarissa agar Dewa mendapatkan penanganan yang tepat. Namun tidak lama kemudian sebuah musibah menimpa suaminya. Membuat Yuni harus menghadapi situasi yang lebih berat lagi. Bagaimana dengan Dewa? Bisakah ia mendapatkan penanganan yang tepat?
 


***

“Mengapa, sesal Klaris, selalu dibutuhkan kehadiran atau kepergian orang lain untuk mencari tahu kedalaman hati?” (Hal. 150)

Keberadaan tiga tokoh dengan tiga kehidupan yang berbeda membuat novel ini jadi cukup kompleks dan padat. Namun di waktu yang sama menjadi sangat kaya. Semacam bonus. Membaca satu novel namun disuguhi tiga cerita sekaligus dengan beberapa benang merah.

Selain itu, pembahasan tentang anak berkebutuhan khusus yang diketengahkan di dalam buku ini menjadi informasi yang menarik. Menariknya, informasi yang disampaikan menyatu dengan cerita, tidak terkesan sebagai tempelan belaka. Penggambaran kurikulum di Sekolah Hebat pun tidak terasa sebagai informasi yang membosankan. Perilaku tokoh Dewa, anak Yuni, pun menjadikan infomasi tentang anak-anak berkebutuhan khusus semakin mendalam.

Kekurangan novel ini bisa jadi hanya karena belum mampu memengaruhi emosi pembaca. Pembaca sulit bersimpati pada tokoh-tokohnya. Ini bisa jadi disebabkan oleh pilihan sudut pandang yang digunakan dalam cerita. Dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, penulis membatasi pembaca dari emosi tokoh-tokohnya. Padahal masalah dari setiap tokohnya sangat perempuan. Tentang posisi perempuan dalam sebuah hubungan serta tanggung jawabnya sebagai seorang ibu serta sebagai seorang pribadi mandiri.

Tapi di luar itu, buku ini cukup menarik dibaca dan informatif.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar