Rabu, 03 Agustus 2016

Leaving Time



“Moral cerita ini adalah tak peduli sehebat apa pun kita berusaha, tak peduli sebesar apa keinginan kita ... beberapa kisah memang tidak memiliki akhir bahagia.” (Hal. 15)


Penulis: Jodi Picoult
Alih Bahasa: Maria Lubis
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetekan: Pertama, 2016
Jumlah hal.: 512 halaman
ISBN: 978-602-03-2736-5

Alice Metcalf adalah ibu yang penyayang, istri yang megabdi dan ilmuwan peneliti gajah yang berdedikasi. Tak ada yang percaya ketika suatu hari ia lenyap begitu saja, meninggalkan suami dan putri kecilnya, Jenna.

Di usia tiga belas tahun, Jenna, yang merasa ditelantarkan, memulai pencarian atas ibunya. Ia menelaah database orang hilang, membaca jurnal ilmiah para peneliti gajah, dan meminta bantuan cenayang serta mantan detektif yang dulu mengusut kasus Alice.

Dihantui masa lalu dan pergulatan batin masing-masing, mereka bertiga menelusuri jejak Alice. Yang mengejutkan, misteri hilangnya Alice mengungkap misteri-misteri lain yang membuka jati diri mereka.
***

“..., selalu ada penjelasan untuk semua yang kau lihat.” (Hal. 10)

Tumbuh sebagai seorang anak yang ibunya menghilang tanpa jejak dan ayah yang mendekam di dalam rumah sakit jiwa jelas bukanlah hal yang mudah apalagi normal. Inilah yang dialami oleh Jenna Metcalf. Ia tumbuh menjadi seorang anak yang berbeda.

Di usianya yang ketiga belas ia akhirnya memutuskan untuk bergerak mencari ibunya. Selama ini ia terus menahan diri untuk merasa cukup dengan apa yang bisa ia miliki. Mengunjungi situs orang  hilang, membaca jurnal-jurnal ilmiah milik ibunya, dan berusaha terus terhubung dengan fakta-fakta terkait kasus di Suaka Gajah New England milik ayahnya, Thomas Metcalf, yang kini telah ditutup dan berubah menjadi Cagar Alam Stark.

Alice menghilang setelah sebelumnya ditemukan pingsan di suaka, tidak jauh dari mayat seorang perempuan yang ditemukan meninggal dunia dengan kondisi mengenaskan. Alice yang pingsan dengan luka di kepala dibawa ke rumah sakit. Setelah sadar, ia kemudian melarikan diri dan setelah itu menghilang tanpa jejak.

Akhirnya, setelah mengumpulkan cukup uang dan merasa bahwa di usianya yang ketiga belas ia terlihat lebih dewasa dibandingkan gadis kecil berusia sembilan atau sepuluh tahun. Ia kemudian mendatangi Serenity Jones, seorang cenayang yang di masa lalunya ternyata pernah menjadi peramal besar. Namun kemudian menghilang sebab entah bagaimana kemampuannya menghilang dan bahkan menimbulkan kekacauan. Ia berharap dari Serenity Jones ia bisa mendapatkan keyakinan bahwa ibunya masih hidup.

Ia kemudian menemui Virgil Stanhope, seorang detektif yang dulu adalah polisi yang menangani kasus hilangnya ibunya. Virgil membuka agen detektif swasta setelah menghilang dan dikabarkan bunuh diri tepat di hari pelantikannya sebagai detektif kepolisian. Awalnya Virgil menolak untuk membantu Jenna. Namun demi menenangkan batinnya sendiri, sebab sudah salam kasus hilangnya Alice Metcalf menjadi beban berat di hatinya, akhirnya ia pun memutuskan membantu gadis kecil itu.

Setelah itu, ketiganya melakukan pengejaran fakta-fakta terkait kasus 10 tahun lalu saat ibu Jenna menghilang. Mereka berusaha mengakses kembali barang bukti dengan memanfaatkan koneksi Virgil. Di sisi lain, memanfaatkan insting miliki Serenity, mereka mendatangi kembali TKP yakni suaka yang kini jadi cagar alam tersebut. Di sana mereka menemukan dompet berisi identitas Alice Metcalf serta kalungnya. Bukti-bukti yang tidak ditemukan oleh kepolisian yang saat itu segera menyatakan kematian yang terjadi di suaka tersebut sebagai kecelakaan.

Perlahan, satu persatu kenyataan terungkap. Namun ternyata di akhir pencarian mereka menyadari bahwa sesungguhnya mereka pun telah menghilang. Bahwa akhir kisah ini malah memberikan jawaban yang tidak terduga. Membuka kembali kesadaran mereka pada sebuah fakta.

Apakah itu? Bisakah Jenna bertemu dengan ibunya? Siapa sebenarnya yang membunuh perempuan yang ditemukan meninggal di suaka gajah milik ayahnya Jenna?


“Ketika seseorang pernah meninggalkan kita, kita akan menduga itu akan terjadi lagi. Akhirnya, kita akan berhenti cukup dekat dengan orang lain yang akhirnya kita anggap penting, karena setelahnya kita tidak akan sadar saat mereka menghilang dari dunia kita.” (Hal. 26)

***

“Aku bertanya-tanya, jika kita semakin dewasa, apakah kita berhenti terlalu merindukan orang? Mungkin tumbuh dewasa hanyalah berfokus pada semua yang kita miliki, bukan yang tidak kita miliki.” (Hal. 143)

Leaving Time yang ditulis Jodi Picoult ini memberi pengalaman baru yang sangat berkesan bagi saya. Jodi Picoult merupakan salah satu penulis yang karyanya selalu membuat saya jatuh cinta. Kali ini ia mengajak serta saya untuk jatuh cinta pada gajah.

Dalam Leaving Time ini pembaca diajak untuk menyelami kehidupan gajah melalui catatan-catatan yang dibuat oleh Alice Metcalf. Tidak ada kesan serius dalam jurnal ilmiah tersebut karena dituliskan dalam sudut pandang orang pertama. Kesan personal tokoh Alice membuat sisi emosional pembaca akan ikut terseret sehingga fakta-fakta terkait gajah akan punya pesan yang menyentuh psikologi pembaca.

Ini adalah pilihan cerdas penulis. Dengan memakai sudut pandang orang pertama dari 4 tokoh yang berbeda: Jenna, Serenity, Virgil dan Alice membuat cerita ini jadi sangat “kaya”. Ini karena latar belakang mereka yang berbeda. Melalui Jenna kita disuguhi kehidupan seorang gadis kecil yang dewasa lebih awal. Lewat Serenity, pembaca disuguhi pengalaman pribadi seorang cenayang lengkap dengan berbagai penjelasan dan pengalaman personal. Sedangkan Virgil menyuguhkan sepenggal cerita dari kehidupan seorang polisi dan pilihan-pilihan di dalamnya.

Oiya, satu quote ini bisa merangkum isi cerita secara umum: “Jenna kehilangan ibunya. Aku kehilangan kredibilitasku. Virgil kehilangan keyakinannya. Kami semua kehilangan beberapa kepingan diri. Sesaat aku percaya, bersama-sama, kami mungkin bisa menjadi satu kesatuan utuh.” (Hal. 411)

Salah satu kelebihan lain dari buku ini selain sangat informatif –terutama tentang gajah-; cerita yang kompleks; juga ending yang benar-benar tidak terduga. Saya sudah membaca ratusan buku dan masih bisa terkecoh oleh ending yang disuguhkan oleh Jodi Picolut. Membalik sudut pandang tidak cukup? Maka Jodi Picoult membalik realitas. Caranya? He..he.. baca sendiri saja karena nanti jadi spoiler.

Pengalaman membaca Leaving Time kali ini benar-benar berkesan bagi saya. Membaca buku ini cukup menguras emosi saya. Ini karena secara personal saya pun mulai menumbuhkan insting seorang ibu. Belajar untuk menjaga apa yang tengah tumbuh di rahim ini. Berusaha menjadi ibu yang baik bahkan sebelum ia lahir ke dunia. Ini membuat cerita yang dipaparkan oleh Jodi Picoult tentang perasaan induk Gajah serta cara mereka berduka menjadi sesuatu yang sangat menarik.

Ah, sekali lagi saya dibuat jatuh cinta pada karya Jodi Picoult. Pada idenya, pada plotnya, dan pada keseriusan risetnya yang tertuang dengan sangat baik dalam karyanya.


“Sekali menjadi ibu, selamanya begitu” (Hal. 152)

***
Kumpulan Quote dalam Leaving Time

“Ada guru matematikaku, Mr. Allen. Dia berkata jika kau sebuah titik, yang bisa kaulihat hanya titik. Jika kau garis, yang bisa kaulihat adalah titik dan garis. Jika kau benda tiga dimensi, kau akan melihat benda tiga dimensi, garis dan titik. Hanya karena kita tak bisa melihat dimensi keempat, bukan berarti itu tidak ada. Itu hanya berarti kita belum mencapainya.” (Hal. 187)

“Kukira duka mirip sofa yang benar-benar buruk. Keduanya tidak pernah bisa disingkarkan. Kita bisa mendekorasi sekelilingnya; kita bisa menghiasnya dengan rajutan di atasnya; kita bisa mendorongnya ke sudut ruangan –tetapi akhirnya, kita akan belajar untuk hidup bersamanya.” (Hal. 224)

“... yang diinginkan alam semesta dari kita hanya dua hal: Jangan sengaja menyakiti diri sendiri atau orang lain, dan berbahagialah.” (Hal. 244)

“Jika kau seorang ibu, kau harus memiliki seseorang untuk dijaga.
Jika seseorang itu direnggut darimu, entah baru lahir maupun sudah cukup dewasa untuk berkembang biak, bisakah kau masih menyebut dirimu ibu?” (Hal. 253)

“... memaafkan dan melupakan bukan hubungan yang saling meniadakan.” (Hal. 275)

“Salah satu hal paling menakjubkan dari duka gajah di alam liar adalah kemampuan mereka untuk berduka secara hebat, tetapi kemudian, dengan jelas dan terang-terangan, mengikhlaskannya. Sepertinya manusia tidak bisa melakukan itu. Aku selalu berpikir ini karena agama. Kita berharap bertemu orang-orang tercinta kita di kehidupan selanjutnya, apa pun bentuknya. Gajah tidak memiliki harapan itu, hanya kenangan akan kehidupan ini. Mungkin karena itulah mereka lebih mudah melanjutkan hidup.” (Hal. 304)

“Menyimpan rahasia tidak selalu berarti berbohong. Kadang-kadang, itu satu-satunya cara untuk melindungi orang yang kaucintai.” (Hal. 338)

“Di Tsawana, ada ungkapan: Go o ra motho, ga go lelwe. Di mana ada dukungan, takkan ada duka.” (Hal. 344)

“Memar adalah cara tubuh mengingat perlakuan yang salah.” (Hal. 357)

“... tidak ada kekuatan yang lebih besar di dunia ini daripada pembalasan seorang ibu.” (Hal. 444)

“..., ketika mempelajari rasa duka gajah, sangat penting untuk mengingat bahwa kematian adalah peristiwa alamiah. Sementara, pembunuhan tidak.” (Hal. 456)






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar