Minggu, 14 Agustus 2016

Finally Mr. Right



“Aku tahu kamu nggak sempurna dan hidup kita nggak akan pernah seperti dongeng. Tapi, aku yang tak sempurna ini nggak sanggup hidup tanpa kamu yang nggak sempurna itu. Kurasa hidup kita akan spektakuler.” (Hal. 2)


Penulis: Shita Hapsari
Penyunting: Fitria Sis Nariswati
Perancang sampul: Titin Apri Liastuti & labusiam
Pemeriksa aksara: Intan Puspa
Penata aksara: Martin Buczer
Penerbit: Bentang
Cetakan: Pertama, Februari 2016
Jumlah hal.: vi + 322 halaman
ISBN: 978-602-291-116-6

Ava memiliki sejumlah impian tentang pernikahan idealnya. Salah satunya melangsungkan acara sakral itu secara tematik bersama Cindy dan Disti. Masalahnya hari pernikahan kedua sahabatnya sudah ditentukan tahun depan, sementara Ava sendiri masih jomblo.

Menurut Cindy dan Disti, jodoh yang diharapkan Ava terlalu konyol dan tidak realistis. Ava menyusun kriteria calon pendamping hidup berdasarkan karakter dan adegan drama dalam film-film favoritnya. Bahkan, ia merancang beberapa skenario untuk mengetes mereka.

Hans dengan sosok rockstar-nya, selesai. Didit dengan karakter bagai bintang Hollywood favorit Ava, kandas. Roki yang diakui sebagai cowok ganteng dan rapi, gagal di kencan pertama. Lalu, ada Kenzo, seorang laki-laki yang cukup mendekati kriteria. Namun, setelah melalui tes rancangan Ava, masih ada saja yang membuatnya ragu.
Harapan Ava menipis. Bahkan, Kieran, partner bisnisnya yang masih lajang pun kini telah menemukan cewek incaran. Jadi, siapa yang akan menjadi lelaki yang tepat untuk Ava? Tidak hanya Ava yang bimbang, tetapi juga Cindy dan Disti yang ikut gemas. Rencana pernikahan tematik itu terancam gagal!

***

“Kalau kamu ingin sukses kamu harus fokus. Dan untuk itu, kadang-kadang kamu harus menginvestasikan seluruh waktumu. Berkorban? Tentu saja, pengorbanan selalu ada ....” (Hal. 44)

Novel ini berkisah tentang Ava yang mulai galau karena saat ini kedua sahabatnya, Cindy dan Disti, tengah mempersiapkan pesta pernikahan. Padahal mereka telah berjanji untuk menikah secara tematik. Itu artinya waktu pernikahan mereka tidak boleh terpaut jauh. Sayangnya, jangankan menikah, hubungan yang Ava bangun dengan Didit selama 4 tahun kandas di tengah jalan. Laki-laki itu memutuskan hubungan mereka dengan alasan tidak siap jika harus long distance relationship dengan Ava saat ia melanjutkan studi keluar negeri.

Akhirnya, Ava pun harus memulai lagi sebuah hubungan baru dengan orang yang baru. Sesuatu yang sebenarnya melelahkan bagi perempuan seperti Ava yang mandiri. Selain itu, ia pun tengah disibukkan oleh upaya untuk mengembangkan usaha tas handmade miliknya, Avapora. Dengan dibantu dan dibimbing oleh Kieran, Ava berusaha untuk menekuni usahanya itu. Kieran yang juga teman Ava sejak SMP sudah lebih dulu terjun ke dunia bisnis sehingga Ava merasa terbantu dengan kegiatan “kamisan” mereka yang berisi braindstorming serta tentu saja sesi curhat. Untuk sesi curhat selalu dari pihak Ava tentu saja, mengingat Kieran tergolong laki-laki kalem dan  pendiam.

Hingga suatu hari saat Ava menghadiri reunis akbar SMP-nya, ia bertemu Kenzo. Setelah itu terbangun kedekatan antara mereka berdua. Akhirnya demi meyakinkan diri bahwa Kenzo adalah laki-laki yang tepat baginya, Ava dibantu oleh sahabat-sahabatnya menguji Kenzo untuk memastikan bahwa Kenzo adalah sosok yang memenuhi standar dalam relationship chechklist milik Ava ini.

Relationship checklist:
1. A friend for life. Seperti Chandler dan Monica di serial Friends.
2. Melindungiku, entah terang-terangan maupun diam-diam. Seperti Ron pada Hermione.
3. Rutinitas kencan dan rencana-rencana secara berkala. Entah seminggu atau setahun, tradisi itu penting! Seperti Carl dan di film Disney/Pixar, Up.
4. Kartu ucapan setiap ulang tahun, dengan atau tanpa disertai kado. Hingga usia senja, 64 dan lebih.

Apakah Kenzo memang lelaki yang tepat itu? Jika ia bisakah ia meyakinkan Ava dan menghapus keraguannya? Di sisi lain Ava pun merasakan ketidaknyamanan saat menyadari bahwa kini Kieran tengah dekat dengan seorang gadis yang juga tengah merintis usaha. Mereka terlihat cukup akrab dan saling mengenal baik. Apakah gadis itulah yang yang dimaksud oleh Kieran dalam pesan manis yang Ava temukan di dalam buku yang dipinjamkan oleh Kieran?

“Liburan bersama dapat melanggengkan sekaligus menumbuhkan kembali api cinta dan gairah dalam hubungan suatu pasangan.” (Hal. 105)

***

“Bahwa jatuh cinta dan romantisme adalah fantasi yang digadang-gadangkan oleh budaya populer, seperti puisi, lagu, film, dan fiksi lainnya. Pada akhirnya sebagian orang yang merasa sedang jatuh cinta itu sesungguhnya jatuh cinta pada perasaannya sendiri, bukan pada orang yang disasarnya.” (Hal. 110)

Novel ini mengusung tema yang menarik meski sudah umum digunakan. Tentang perempuan usia akhir 20-an yang mulai galau tentang pernikahan karena perempuan seusianya sudah sibuk dengan persoalan persiapan pernikahan hingga kehidupan pernikahan.

Sebenarnya motivasi Ava untuk segera menikah tergolong konyol. Hanya karena ingin memenuhi rencana untuk menikah secara tematik dengan kedua sahabatnya, ia “memaksakan nasib untuk bisa segera menemukan laki-laki yang tepat untuk diajak naik pelaminan.

Tapi kehadiran kriteria yang dibuat Ava dalam bentuk relationship chehcklist membuat cerita ini lebih berwarna. Menarik mengikuti bagaimana Ava menguji Kenzo serta bagaimana ia harus menghadapi hasil dari ujiannya itu. Di sisi lain, sisipin tip dan trik mengembangkan usaha pribadi seperti tas buatan tangan milik Ava pun jadi nilai lebih bagi novel ini.

Sebenarnya temanya masih terlalu umum. Sudah banyak ditulis. Apalagi saat menyadari bahwa main conflict ternyata bukanlah tentang hubungan Ava dan Kenzo saja. Ini membuat novel ini harus meninggalkan kesan yang kuat agar tidak tersamarkan oleh novel dengan tema serupa dengan karakter dan konflik yang lebih berkesan.

Sayangnya dalam hal penokohan, karakter di dalam novel ini kurang kuat. Kurang berkesan. Ava terkesan terlalu biasa saja. Pun dengan Kenzo dan Kieran.

Yang menarik adalah berbagai “bumbu” cerita seperti relationship chehcklist milik Ava, pesan misterius milik Kieran, scrapbook milik Ava, hingga hubungan Ava dengan kedua orang tuanya yang telah bercerai.

Ah, tapi cara bercerita Shita Hapsari yang mengalir dan runut membuat novel ini enak dinikmati.

“..., aku memiliki misi untuk mencari seseorang yang bisa kujadikan sahabat saat suka dan duka.” (Hal. 182)
***

“Jangan kamu campur adukkan mimpi dengan kenyataan, Va.” (Hal. 242)
“Untunglah cinta tidak pernah terlambat. Ia hanya datang dan pergi sesuai jadwalnya sendiri.” (Hal. 312)

2 komentar:

  1. Kayaknya nggak begitu bagus mengingat tema yang umum. Entahlah letak keunggulannya dimana, saya kok nggak menangkap ya. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keunggulannya ada di "bumbu" cerita dan ending yg baru bisa ditebak di tengah cerita

      Hapus