Selasa, 09 Agustus 2016

Doodle Diary



“I’m going to inspire people around me by doing anything I can, even if it’s something really small.” (Hal. 148)

Penulis: Sheenta Chan
Penyunting: Tan Udi
Pendesain sampul: Githa Eka
Penata Letak: Sheenta Chan
Ilustrasi isi: Sheenta chan dan www.shutterstock.com (Dibeli secara legal)
Penerbit: Lintas Kata
Cetakan: Pertama, 2016
Jumlah hal.: iv + 148 halaman
ISBN: 978-602-6283-00-9
Sampul belakang buku
***

“Memiliki kekurangan adalah hal yang baik. Bukan berarti kamu lemah atau orang lain lebih mampu. Namun, banyak hal menakjubkan yang bisa kamu dapatkan dari kekuranganmu.” (Hal. 9)

Buku Doodle Diary adalah buku yang fun yang menyasar pembaca remaja dan dewasa muda. Meskipun bentuknya seperti buku bacaan, namun isi di dalam buku mengajak pembaca untuk beraktivitas dengan menjadikan buku Doodle Diary ini sebagai medianya.

Ada beberapa chapter di dalam buku ini. Di antaranya adalah:

- Seberapa Kamu Mengenal Dirimu Sendiri, yang akan mengajak pembaca menggali berbagai hal terkait diri sendiri dan menuliskannya.

- Things You Can Do, mengajak pembaca melakukan sejumlah aktivitas bersama buku ini sambil mengeksplorasi banyak hal seru terkait diri sendiri dan lingkungan sekitar

- Menentukan Goal, bagian ini mengajak pembaca untuk mulai menetapkan tujuan baik jangan panjang maupun jangka pendek untuk kemudian membuat perencanaan dengan cara yang fun agar bisa mencapai tujuan tersebut.

- My Healthy Diary, berisi sejumlah informasi dan instruksi untuk memulai gaya hidup yang lebih sehat. Tidak hanya tubuh yang sehat namun jiwa pun sehat karena ada sejumlah game/kuis yang seru.

- Agenda Kehidupan Sosial, dibagian ini pembaca diajak meninjau ulang kembali kebiasaan hidup terkait penggunaan teknologi. Adakah ia membuat pembaca jadi orang yang enggan bersosialisasi di dunia nyata? Pembaca dibuat menilai sendiri kemudian mencoba perubahan yang lebih baik atas kondisi tersebut.
Nah, menarik kan?

***

“Work until you no longer introduce yourself” (Hal. 61)

Buku ini adalah sebuah buku yang dibuat bukan untuk sekadar untuk disimpan di rak. Sesuai dengan judulnya: “Doodle Diary”, buku ini mengandung dua unsur yakni Diary dan Doodling.

Unsur “diary” membuat pembaca bebas menulisi buku ini sesukanya. Bahkan ada sejumlah panduan yang bisa menjadi pemicu kreativitas pembaca. Sekaligus untuk mengenal diri sendiri lebih dalam. Memikirkan sesuatu tentang diri sendiri dengan lebih sendiri agar bisa meng-upgrade diri menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bahagia. Bisa dikatakan bahwa ini adalah “mini positive diary” atau “ mini happiness diary”.

Unsur “Doodle” akan mengajak pembaca untuk mencoret dan menggambar di dalam buku ini. Ini untuk memberi rasa rileks. Sekaligus belajar membebaskan diri. Selama ini kita sering kali terlalu takut mencoret buku-buku yang bukan buku gambar atau buku tulis. Ini sebenarnya secara psikologi membentuk kekakuan diri kita yang sering kali mengungkung kreativitas. Buku ini hadir untuk membebaskan itu.

Nah unsur-unsur ini membuat buku ini menjadi buku yang fun untuk dibawa-bawa dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Buku ini sebenarnya bisa untuk semua usia. Namun beberapa bagiannya membuatnya lebih cocok untuk dimiliki oleh remaja dan dewasa muda.

Tapi calon ibu seperti saya pun suka dengan isi buku ini. Beberapa part favorit saya adalah Tantangan 30 Hari yang ada di halaman 24-31 juga tentang Agenda Kehidupan Sosial yang ada di halaman 114 – 121. Sebelum masuk part Agenda Kehidupan Sosial dibahas tentang pergaulan masa kini yang banyak “dirusak” oleh kehadiran gadget. Secara fisik manusia berkumpul untuk bersosialisasi namun kemudian masing-masing sibuk dengan smartphone masing-masing. Inilah yang ingin dikurangi di bagian tersebut.


Buku ini dilengkapi oleh ide project pribadi yang menarik untuk dilakukan; disisipi juga oleh cerita inspiratif guna memberi motivasi; juga disertai oleh berbagi game seru. Psst.. bahkan di sebuah chapter khusus, pembaca diajak untuk membawa buku ini di kamar mandi saat B.A.B. Ha..ha..

Jadi, Doodle Diary ini memang diciptakan untuk dibuat penuh warna. Jangan biarkan polos tanpa coretan. Bisa jadi hadiah pilihan untuk sahabat atau kerabat yang masih remaja nih.

 “The Best way to get things done is to simply begin.” (Hal. 122)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar