Selasa, 16 Agustus 2016

Ally



“Ternyata memang selalu lebih mudah menjadi orang yang pergi daripada orang yang ditinggalkan.” (Hal. 235)


Penulis: Arleen A
Editor: Dini Novita Sari
Desain sampul: Iwan Mangopang
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal.: 264 halaman
ISBN: 978-602-03-0884-5
Apa yang akan kaulakukan jika satu menit yang lalu kau anak tunggal orangtuamu, lalu satu menit kemudian ada seseorang yang muncul entah di mana dan duduk di sampingmu mengaku sebagai adikmu? Apa yang kaulakukan jika kau menemukan foto di meja, menampilkan dirimu dan seseorang yang belum pernah kaulihat? Apa yang kaulakukan jika kau pulang ke rumah dan menemukan bahwa di dalam rumah itu ada dirimu yang lain?

Kehidupan Allay memang bukan kehidupan biasa. Kerap kali ia mendapati dirinya ditempatkan dalam kehidupan yang seolah miliknya, tapi ternyata bukan. Dan tiba-tiba kata “pulang” punya makna baru. Apakah Ally akan memiliki kesempatan untuk “pulang”? Akankah ia bisa kembali pada cinta yang ditinggalkannya di kehidupannya yang lain?

Ini bukan kisah biasa. Ini kisah yang akan membuatmu berpikir kembali tentang arti hidup dan arti cinta yang sebenarnya.

***

“Manusia memang lucu dalam hal itu. Mereka merasa baik-baik saja sebelum memiliki sesuatu hal. Lalu mereka mendapatkan sesuatu itu dan merasa lebih baik. Lalu sesuatu hal itu diambil dari mereka dan mereka tidak dapat kembali merasa seperti sebelum mereka punya sesuatu hal itu.” (Hal. 50)

Bagaimana kamu akan menjalani kehidupan yang sewaktu-waktu berubah, membawamu menjalani kehidupan yang bukan milikmu? Tapi di saat yang sama itu memang hidupmu? Membingungkan? Ya, itulah yang dialami Ally.

Alison, atau disapa Ally, adalah perempuan yang harus menjalani hidup yang tidak biasa (bisa juga disebut luar biasa) karena “keistimewaan” yang dimilikinya. Ally bisa berpindah dari satu dimensi ke dimensi lain. Menjalani kehidupan di satu alam semesta kemudian berpindah ke alam semesta lainnya. Sayangnya, Ally tidak bisa mengendalikan hal tersebut. Ia tidak bisa memutuskan ingin tinggal di kehidupan yang seperti apa. Kehidupan di mana adiknya, Albert, tidak direnggut darinya. Atau kehidupan dengan kehadiran Kevin, lelaki yang ia cintai, di dalamnya.

Setiap kali berpindah dimensi, ia harus mengantisipasi banyak hal. Apakah Albert ada? Apakah Kevin ada? Di mana tempat tinggal orang tuanya? Dan berbagai hal lain yang mungkin bagi orang lain sepele namun bagi Ally menjadi istimewa karena kehidupan yang “berbeda” yang dimilikinya.

Ally meminta bantuan Profesor Drone agar bisa memberi jawaban dan bahkan jalan keluar baginya. Ally berharap bisa menetap di satu kehidupan, tahu dirinya tidak akan berpindah lagi. Atau Ally bisa menentukan di mana ia akan berpindah dimensi. Seperti ia sangat ingin berada di kehidupan di mana Albert masih hidup dan Kevin menjadi kekasihnya. Hal yang tidak ia miliki saat ini.

Ally bahkan pergi ke lereng Gunung Himalaya untuk mendapatkan ketenangan serta jawaban atas hidupnya. Di sana ia bertemu Guru Maaran yang memiliki kemampuan yang hampir sama dengan yang dimiliki Ally. Bedanya, Guru Maaran tidak bisa berpindah dimensi. Ia hanya bisa melihat kehidupan-kehidupan lintas dimensi yang dimiliki oleh orang lain. Ia kemudian mencoba memberi jalan keluar bagi Ally. Memenuhi keinginan Ally agar bisa berada di dimensi yang ia inginkan.

Berhasilkah Ally? Apakah kemampuan Ally akan menghilang? Apakah Ally bisa menjalani kehidupan yang normal?

“Yah bagaimanapun setiap orang punya cara yang berbeda untuk menghibur diri. Dan memang kita tidak pernah bisa benar-benar melupakan kesedihan karena ditinggalkan seseorang yang kita sayangi.” (Hal. 57)

***

“Ketika seorang wanita yakin bahwa dirinya mencintai seorang pria dengan segenap hatinya, dan jika ia tidak ingin kehilangan diri si pria, dan jika ia memang  ingin menghabiskan seluruh sisa hidupnya bersama si pria, maka wanita itu pasti akan menerima lamaran si pria dan tentu akan menikah dengannya.” (Hal. 94)

Membaca novel Ally membuat saya terkesan. Ini karena tema yang dibahas oleh penulisnya tergolong sebagai tema yang tidak umum ditulis oleh penulis lokal. Perjalanan lintas dimensi dengan detail kehidupan di dalamnya adalah hal yang jarang saya imajinasikan.

Hingga saat membaca “Ally” saya mulai membangun imajinasi baru tentang kehidupan “unik” ini. Pertanyaan, “Bagaimana jika?” mulai datang satu persatu. “Bagaimana jika memang benar ada semesta lain di luar sana yang juga memiliki seorang “Atria” di luar sana? Kehidupan semacam apa yang dimilikinya?” “Apakah ada “Atria lain” di semesta yang lain yang kini sudah menikah dan memiliki anak?” “Apakah ada “Atria lain” di luar sana yang menjalani profesi sebagai penulis?”

Novel “Ally” ini memang bergenre sci-fict namun ceritanya tidak seberat novel sci-fict pada umumnya. Ini karena cerita berpusat pada bagaimana Ally menjalani hidupnya. Bagaimana ia selalu harus merasa was-was karena sewaktu-waktu ia bisa saja direnggut dari kehidupan yang ia jalani saat ini. Bagaimana Ally harus selalu berusaha beradaptasi dengan “kehidupan baru” miliknya akibat perjalanan lintas dimensi yang tidak pernah ia inginkan. Serta upaya Ally untuk menemukan cara mengendalikan “keistimewaan”  miliknya tersebut.

Semua hal ini menjadikan kekuatan novel ini. Unsur sci-fict yang dipadu dengan drama menjadikan novel ini ringan untuk dinikmati namun sekaligus mengaktfikan imajinasi. Penggunaan sudut pandang orang pertama dalam bercerita membuat pembaca bisa membangun simpati pada tokoh Ally sekaligus lebih mudah membayangkan dirinya sebegai Ally. Cara penulis bercerita pun runut dan tidak membingungkan. Dan cerita diakhiri dengan menarik.

Satu pertanyaan yang timbul dan di sepanjang novel hingga akhir cerita tidak pernah dicari dan ditemukan jawabannya adalah “Bagaimana Ally bisa mendapatkan “keistimewaan” itu?”

“Aku tidak bilang bahwa kau dapat mengendalikan hidupmu. Aku bilang kau dapat memutuskan untuk menerimanya. Jika kau menerimanya, kau akan lebih menghayati hidupmu yang sekarang. Tapi jika tidak, kau hanya akan menjadi seorang turis yang hidup dari sebuah koper, menantikan penerbangan selanjutnya.” (Hal. 121)

***
“Tapi aku pernah mendengar seorang bijak mengatakan: Tidak penting apa yang terjadi padamu. Yang penting adalah apa yang kaulakukan dengan apa yang terjadi padamu.” (Hal. 256)

Saatnya saya mengumumkan pemenang #NgeBookSip bersama #TheLadyInRed dan #Ally bareng Arleen A ya, Readers.

Selamat kepada 4 orang yang namanya tercantum di poster ini yaaaa



“Apakah hati manusia bisa dibayangkan seperti sebuah lemari buku dengan banyak rak dan bilik-bilik di dalamnya? Beberapa orang mungkin lebih beruntung karena memiliki hati atau lemari yang besar dengan banyak rak dan bilik di dalamnya. Orang-orang yang demikian tentu akan dapat menyimpan lebih banyak cinta di dalam hatinya. Kita dapat menilai mereka sebagai orang-orang yang peduli. Mereka bahkan peduli pada orang asing yang baru saja mereka temui. Ya, mungkin karena hati mereka begitu besar, mereka punya rak besar dengan label “orang asing” di atasnya. Namun itu berarti juga ada orang-orang yang tidak seberuntung itu, orang-orang yang hanya punya lemari atau hati yang kecil. Mereka hanya punya tempat untuk orang-orang yang dekat dengan mereka. Lalu bagaimana bila hati seseorang terlalu kecil? Apakah di dalamnya hanya ada satu bilik yang ditempati oleh dirinya sendiri?” (Hal. 67)

4 komentar:

  1. Tema yang nggak biasa. Saya penasaran dengan bagaimana Ally berpindah dimensi. Apakah dengan menggunakan fortal, dengan menghilang seketika atau ada cara lain? Selamat buat para pemenang.. :)

    BalasHapus
  2. Wah... terima kak 😁
    Btw review Ally nya keceh πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
  3. Wah... terima kak 😁
    Btw review Ally nya keceh πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus