Senin, 22 Agustus 2016

Akulah Arjuna



“Kalau cinta sudah memilih, nggak ada cukup tempat untukmu sembunyi!” (Hal. 211)
Penulis: Nima
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: Kedua, Juni 2016
Jumlah hal.: 351 halaman
ISBN: 978-602-02-8945-8

Apa semua yang namanya Arjuna itu memang ditakdirkan dikelilingi wanita?

Adalah aku, Arjuna di tengah dunia modern perkantoran Jakarta. Aku tidak mengada-ada soal betapa aku menjadi incaran para wanita.

Tapi, tenang. Bagiku, hanya Nina yang mendampingi hingga hari tua. Dia adalah gambaran wanita yang sempurna. Serius, andai dia setuju, aku bawa langsung ke KUA. Biar sah dan halal!

Sayangnya, kekacauan tak kenal waktu. Dia datang jika ingin menghadang. Itulah yang terjadi sekrang.

Sumber kekacauanku adalah Ayana. Si setan cilik yang membuatku tak bisa berkutik karena dia anak bosku. Catat itu, bosku!

Setan cilik yang manja, egois, dan banyak maunya. Yang paling menyebalkan, dia seenaknya melabeli aku sebagai pacarnya. Kacau! Bisa hancur karier dan rencana pernikahanku.

Tapi, akulah Arjuna. Semua masalah pasti bisa kuselesaikan! Lihat saja!
***
“.... Karena kita nggak pernah bisa menghindari dari apa pun, J, termasuk urusan cinta. Kalau cinta sudah memlih, ke mana pun kamu menghindar, nggak ada cukup tempat untuk sembunyi. ...” (Hal. 50)
Arjuna, yang disapa Juna, adalah laki-laki yang senang tebar pesona pada perempuan. Ia menikmati perhatian yang diberikan oleh perempuan-perempuan yang menyukainya. Namun ia tidak memanfaatkan pesonanya untuk mendapatkan pacar sebanyak-banyaknya atau mempermainkan perempuan. Karena ia memiliki adik perempuan yang sangat ia sayangi. Ini membuat ia sangat pemilih dalam menentukan perempuan mana yang ingin ia jadikan calon istri.

Pilihannya jatuh pada Nina. Teman sekantor yang memenuhi semua kriteria yang diinginkan oleh Juna dalam diri seorang istri. Istri idaman Arjuna bangetlah! Juna kemudian berusaha mendekati Nina. Melancarkan berbagai kode yang membuat gadis itu memahami perasaannya. Saat akhirnya perasaan Juna mendapat sinyal positif dari Nina, sebuah masalah datang.

Masalah ini datang dalam bentuk seorang gadis kecil berusia 16 tahun yang juga anak semata wayang bos Juna, Pak Surya. Pak Surya sangat menyayangi Ayana dan memanjakan gadis itu. Bahkan beredar kabar bahwa Pak Surya bisa melakukan apa saja pada orang yang melukai atau membuat anaknya sakit hati.

Ini membuat Arjuna serba salah. Ia tidak bisa menolak Ayana dengan kasar karena tidak ingin dipecat oleh Pak Surya. Namun Ayana yang mendekati Arjuna dengan sangat agresif membuat Nina marah.

Kemudian masalah berikutnya muncul. Nina pun memiliki sebuah rahasia yang ternyata mengancam hubungan mereka. Dan Ayana muncul sebagai orang yang membantu Juna mengobati luka hatinya. Lantas siapakah yang kelak akan menjadi istri Juna?
“Ingat, Juna, orang yang kuat adalah orang yang bisa menahan diri saat marah.” (Hal. 98)
***
“Tidak semua yang kita mau bisa kita dapat. Tapi, apa pun itu yakin aja kalau Tuhan udah ngasih yang terbaik, seburuk apa pun rasanya. ...” (Hal. 105)
Sebelumnya saya sudah pernah menulis review untuk cetakan pertama novel Akulah Arjuna ini. Dan saat membaca ulang review tersebut saya menyadari bahwa kekurangan-kekurangan yang saya sebutkan sebelumnya sebagian besar sudah tidak nampak.
Meskipun tidak semua masalah terkait editing benar-benar “bersih. Sebab di halaman 3 pada paragraf pertama, kalimat yang membahas penikahan Viona, adik Arjuna, terasa kurang pas. Susunan katanya kurang sesuai. Tapi tetap bisa dipahami. Selain itu di halaman 246 terdapat satu paragraf percakapan yang semuanya menggunakan huruf kapital. Ini cukup mengganggu. Pembaca memang jadi paham bahwa hal itu karena tokohnya ingin menekankan ucapannya. Namun karena itu adalah percakapan telepon ini jadi terasa berlebihan. Selain itu juga terasa terlalu mendadak dari tokoh yang sebelumnya tidak pernah berteriak saat marah.
Dalam hal alur waktu sudah rapi. Karakter-karakter di dalam novel ini seperti Nina, Ayana, Viona, dan Dave sudah konsisten. Meskipun untuk tokoh utamanya sendiri terasa kurang konsister. Seperti saat Ayana menjadi pihak yang agresif, Juna malah grogi padahal sejak awal dia digambarkan sebagai laki-laki yang senang tebar pesona.
Selain itu masih ada adegan yang kurang smooth perubahan emosinya. Adegan saat ia memukul Dave, suami Viona, karena informasi yang ia dengar tentang gadis yang ia cintai secara emosi masih terasa terlalu mendadak dan berlebihan. 
Yang menarik dari novel ini adalah konflik utamanya tidak benar-benar muncul di awal cerita. Ketika konflik pertama selesai, konflik berikutnya muncul dengan intensitas yang sama kuat dengan konflik sebelumnya. Membuat pembaca tetap bertahan membaca akhir cerita karena ingin tahu akhir cerita.
Yang kurang banyak dieksplorasi adalah setting. Deskripsi tempat masih terasa belum kuat. Tapi hal ini diimbangi dengan interaksi yang dibangun antartokoh yang terasa sangat “kasual” sehingga mudah dibayangkan karena sangat mirip dengan interaksi yang ditemukan di keseharian pembaca.
Secara keseluruhan novel ini cukup menarik untuk diikuti. Gaya bercerita dari sudut pandang orang pertama yang sedikit jenaka membuat novel ini menyenangkan dibaca.
“.... Semua hal yang terjadi, paling buruk sekalipun, pasti ada sisi baiknya. ...” (Hal. 105)

***
My Favorite Quote
“.... Laki-laki itu pasti jadi kepala keluarga. Itulah kenapa dia harus matang dulu sebelum berani bawa anak orang. Selain tanggung jawabnya besar, pemikiran dan emosi harus stabil karena nanti dialah yang akan membawa arah rumah tangga.” (Hal. 248)
Ini adalah kutipan favoritku dalam novel ini. Kutipan ini muncul di scene yang menarik. Saat ibunya Juna menasehati Juna yang sedang galau gundah merana hingga mencetuskan keinginan untuk menikah. Ibunya mengingatkan bahwa sebagai laki-laki harus sadar diri bahwa sebelum menyanggupi untuk menjadi imam bagi seorang perempuan, ia harus lebih dulu bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ibunya Juna tidak akan mau melamar seorang perempuan untuk Juna jika Juna belum mampu mengatur emosinya sendiri. Karena tidak mau membuat anak menantunya kelak hidupnya menderita dan penuh air mata. Keren ya pesannya.
***
“Setiap hubungan itu pasti ada naik turunnya. Jangan ragu minta maaf kalau kamu punya salah dan jangan cuma minta dimengerti tanpa kamu mau mengerti. ...” (Hal. 248)

“Saat mencintai seseorang, kita nggak akan peduli dengan masa lalunya, dengan apa yang mengikutinya, bahkan dengan semua buruk dan busuknya. Kita cuma lihat apa adanya dan hanya mengharap semua yang terbaik untuknya. Bahkan nggak peduli juga kalau akhirnya cuma sakit yang kita terima. Kamu cuma ingin lihat dia tersenyum, hanya ingin dia bahagia.” (Hal. 139)

“Papa sering bilang kalau kita nggak punya rasa marah itu artinya kita bukan manusia. ...” (Hal. 114)

1 komentar:

  1. Juna suamiable banget ya kak..seorang lelaki yang sangat menyayangi adik dan keluarganya sudah pasti menyanyangi istri dan anak-anaknta kelak *tsaahh
    klop dah! dari quotenya tambah penasaran sama seluruh perjalanan Juna dalam novel ini.

    BalasHapus