Sabtu, 16 Juli 2016

Who Will Cry When You Die?



“Nak. Ketika kau lahi, kau menangis sementara dunia berbahagia. Jalani hidupmu dengan sedemikian rupa sehingga ketika kau mati, dunia menangis sementara engkau berbahagia.” (Hal. 13)


Judul terjemahan: Jiwai Hidupmu sehingga saat kau mati, dunia menangis sementara kau bahagia
Penulis: Robin Sharma
Penerjemah: Airin Nisa
Penyunting naskah: Rini Nurul Badariah dan Indradya SP
Proofreader: Kamus Tamar
Desain sampul: Sarah Sofia Putri
Penerbit: Kaifa (PT Mizan Pustaka)
Cetakan: I, Oktober 2014
Jumlah hal.: 220 halaman
ISBN: 978-602-7870-62-8

Zaman sekarang, kita lupa apa sesungguhnya hidup ini. Kita bisa mengutus seseorang ke bulan dengan mudah, tapi kita sulit melangkah ke seberang jalan untuk bertemu dengan tetangga baru. Kita mampu menembakkan rudal ke seberang dunia dengan akurasi luar biasa, tapi bermasalah menepati janji dengan anak-anak untuk pergi ke perpustakaan. Kita punya e-mail, mesin faksimili, dan telepon digital sehingga bisa selalu terhubung, tetapi di masa ini manusia sangat tidak acuh. 

Kita kehilangan sentuhan terhadap rasa kemanusiaan. Kita telah kehilangan sentuhan terhadap tujuan hidup kita. Kita tidak lagi dapat mengerti prioritas. Jadi, saat kau mulai membaca buku ini, dengan hormat aku bertanya: Siapa yang akan menangis saat kau mati?

Robin Sharma, penulis buku laris The Monk Who Sold His Ferrari, lewat buku ini menawarkan 101 solusi gamblang  dan sederhana untuk menghadapi tantangan-tantangan dalam kehidupan. Buku ini penuh limpahan kebijaksanaan yang akan memperkaya kualitas kehidupan profesional, pribadi dan spiritual Anda. Membaca Who Will Cry When You Die? Berarti Anda memutuskan untuk menjalani kehidupan berdasarkan keputusan-keputusan dan bukan kebetulan, dengan merancangnya ketimbang sekadar menjalaninya tanpa makna.

***

“Berapa banyak kehidupan yang kau akan sentuh saat kau memiliki hak untuk menghabiskan waktu di planet ini? Dampak apa yang akan diberikan oleh hidupmu pada generasi setelahmu? Dan warisan apa yang kau tinggalkan setelah menghembuskan napas terakhirmu?” (Hal. 13)


Membaca buku ini, kita akan disuguhi 101 tindakan yang disarankan. Semuanya dibagi menjadi 101 Bab. Heh? 101 Bab. Iya. Tiap Bab hanya sepanjang dua halaman saja. Dan isinya sangat singkat, padat, jelas, dan menginspirasi.

Ada baiknya, saat membaca buku ini, mulailah bertekad untuk memperaktikkan satu demi satu tips di dalamnya seumur hidup. Sebab saat membaca setiap membaca satu bahasan, otak akan bertualang mencari cara agar melakukan beberapa hal yang disarankan. Akan ada ide kegiatan yang dirasa bisa dilakukan untuk melaksanakan saran tersebut sambil membuktikan betapa “hidup” kehidupan saat melakukannya.

Nah, dari 101 Bab yang ada di dalam buku ini, saya sangat menyukai beberapa di antaranya, tapi sebenarnya saya suka semuanya, sih. He..he.. Nah, Bab-Bab tersebut adalah:

Bab Lima: Buatlah Jurnal Harian. Dalam bab ini kita diajak untuk mulai menulis jurnal harian. Ia membedakan jurnal dengan buku harian. “Buku Harian adalah tempat kau mencatat peristiwa-peristiwa, sedangkan jurnal adalah tempat kau menganalisis dan mengevaluasinya.” (Hal. 23) Ini memperjelas maksud penulis jurnal yang disarankannya.

“Ingat, jika hidupmu cukup berharga untuk direnungkan, berarti hidupmu juga pantas untuk dituliskan.” (Hal. 22)


Bab Dua Puluh Empat: Belajar dari Film yang Bagus. Untuk yang gemar menonton, saran ini adalah saran yang paling menyenangkan untuk diaplikasikan. Saran ini muncul karena film pun dapat menginspirasi. Menurutnya, “film yang bagus dapat mengembalikan sudut pandangmu, menghubungkanmu kembali dengan hal-hal yang paling kau hargai, dan membuatmu tetap antusias dengan semua hal dalam hidupmu” (Hal. 63).

Bab Dua Puluh Delapan: Selalu Bawa Buku. Jelas ini adalah saran favorit saya. Saran yang akan  saya lakukan dengan senang hati. Dan sudah sejak lama selalu saya laksanakan. Ia menegaskan tentang jumlah waktu yang akan terbuang saat menunggu. Kemudian menyarankan untuk mengisi kegiatan menunggu itu dengan membaca sehingga saat orang lain menunggu dengan mengeluh, kita akan mendapat asupan pemikiran yang bagus dan gagasan-gagasan yang bagus dari buku yang dibaca.

“..., tahu cara membaca tapi mengabaikannya akan menempatkanmu dalam posisi yang sama dengan orang tuna aksara tapi ingin dapat membaca.” (Hal. 73)


Bab Tiga Puluh Satu: Tulis Semua Masalahmu. Dengan menuliskan masalah-masalah yang dialami bisa mengurangi beban pikiran. Di saat yang sama juga akan membantu kita melihat dengan sudut pandang baru dan bisa menyusun rencana untuk menyelesaikannya dengan teratur satu demi satu.

“... pikiran dapat menjadi sahabat baik kita, pikiran juga dapat menjadi musuh terburuk kita.” (Hal. 78)

Bab Tiga Puluh Enam: Bacalah Tuesday with Morrie. Ya, saya sudah membaca buku ini. saya setuju dengan penulis yang menyarankan membaca buku ini. Ini karena Tuesday with Morrie ditulis berdasarkan kisah nyata dan menyentil kehidupan kita tentang skala prioritas dan bagaimana itu mengisi kehidupan. Review Tuesday With Morrie bisa kamu baca di blog ini juga, Readers.

“Begitu belajar caara untuk mati, kau akan belajar cara untuk hidup.” (Hal. 89)


Bab Empat Puluh Tiga: Bangun Perpustakaan Buku-Buku Inspiratif. Penulis mengemukakan bahwa sejumlah buku telah menjadi inspirasi bagi kehidupannya. Ini membuat ia menyarankan pembacanya untuk membaca buku-buku inspiratif mulai dari biografi, buku-buku motivasi, puisi, hingga novel-novel yang mengandung kebijaksanaan. Saran yang ini pun tengah saya rintis. Sebab saya ingin menjadikannya sebagai salah satu warisan berharga bagi anak-anak saya kelak.

Bab Tujuh Puluh Delapan: Jangan Selesaikan Setiap Buku yang Kau Baca. Bagi seorang pecinta buku seperti saya, saran ini jelas mengganggu. Saya tidak akan bisa mereview buku jika buku tersebut tidak saya baca hingga selesai. Namun saat membaca penjelasannya, saya pun setuju. Bahwa dengan melakukan ini, bisa mencegah diri dari membuang-buang waktu yang bisa dipakai untuk membaca buku lain yang lebih bagus.

Bab Sembilan Puluh Dua: Tanam Sebatang Pohon. Penulis menyarankan hal ini sebab dengan menanamnya bisa menjadi sebuah penanda bagi siklus kehidupan kelak. Ia bahkan menyarankan untuk menanam satu pohon untuk satu anak. Kelak pohon itu akan menjadi pengingat bagi diri sendiri dan anak-anak tersebut.

Bab Sembilan Puluh Delapan: Kumpulkan Kutipan yang Menginspirasimu. Sering kali kutipan ini tanpa sengaja menyentuh masalah-masalah yang sedang dihadapi. Sehingga tidak ada salahnya jika mengumpulkan kutipan-kutipan yang memiliki sebuah nilai yang bagus, bijaksana, dan memberi inspirasi. Oiya, sejujurnya ini adalah salah satu saran yang baru mulai saya terapkan setelah membaca buku ini. Kini, ada sebuah buku yang saya manfaatkan untuk menulis kalimat-kalimat inspiratif yang saya temukan dari buku-buku yang saya baca. Dan tentu saja keberadaan quote yang saya tulis di dalam blog ini untuk setiap review buku yang tulis pun menjadi “bank data” untuk menemukan quote-quote yang menarik.

Nah, itu dia tadi sejumlah bab dari buku ini yang menarik bagi saya pribadi. Masih banyak bab lain yang tidak kalah menarik (Ingat, ada 101 bab, lho).

Dan satu nilai plus lain dari buku ini adalah banyaknya quote dari tokoh-tokoh besar yang ditulis untuk mendukung penjelasan penulis. Ini akan menjadi inspirasi yang menarik bagi pembacanya.


“Mulailah melihat masalahmu sebagai anugerah, buatlah keputusan teguh untuk mengubah kegagalanmu menjadi langkah maju, dan bersumpahlah untuk mengubah lukamu menjadi kebijaksanaan.” (Hal. 52)

***
“Semua orang yang memasuki hidupmu memiliki sebuah pelajaran untuk disampaikan dan sebuah kisah untuk diceritakan.” (Hal. 16)

“Setiap detik keberadaanmu di masa lalu kau curi dari masa depanmu. Setiap menit yang kau habiskan dengan memfokuskan diri pada masalahmu kau mengambilnya dari menit-menit untuk menemukan solusinya.”(Hal. 26)

 “Robin, berada di dahan pohon memang berbahaya. Tapi di sanalah semua buahnya berada.” (Hal. 59)

“Pemimpin-pemimpin tercakap dalam ekonomi baru ini akan dijabat oleh para pemikir terhebat.” (Hal. 72)

“Nilai moral sesungguhnya dari menetapkan dan mencapai sasaran bukan terdapat pada imbalan yang kau terima, tapi pada perubahan dirimu sebagai hasil pencapaian sasaran-sasaranmu.” (Hal. 84)

“Waktu adalah kesetaraan yang hebat dalam hidup. Kita semua memiliki jatah 24 jam yang sama dalam sehari. Yang membedakan orang-orang yang menciptakan kehidupan hebat dari pada pecundang adalah bagaimana mereka menggunakan jam-jam tersebut.” (Hal. 90)

“Kata-kata menyakitkan yang terlontar dalam satu menit penuh amarah telah merusak banyak persahabatan. Kata-kata itu seperti anak panah: begitu dilepas, mustahil untuk ditarik kembali. Jadi, pilihlah kata-katamu dengan hati-hati.” (Hal. 92)

“Menurut pemikiran kuno di Timur, agar dapat menjalani hidup memuaskan, kau harus melakukan tiga hal: memiliki seorang putra, menulis buku, dan menanam sebatang pohon.” (Hal. 198)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar