Kamis, 21 Juli 2016

White As Milk Red As Blood



“Sejarah adalah sebuah kuali besar yang sarat dengan cita-cita yang diwujudkan oleh orang-orang yang menjadi besar karena memiliki keberanian untuk mengubah impian-impian mereka menjadi kenyataan, dan filsafat adalah keheningan tempat bersembunyinya impian-impian tadi.” (Hal. 21)


Judul asli: Bianca Come Il Latte, Rossa Come Il Sangue
Penulis: AlessandroD’Avenia
Pengalih bahasa: Tanti Susilawati
Penyunting: Novalya Putri
Penata Letak: Meita Safitri
Desain cover: Helen Lie
Penerbit: Bhuana Sastra (Imprint dari PT BIP)
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: 363 halaman
ISBN: 978-602-249-817-9

“...mencintai adalah kata kerja, bukan kata benda. Bukan sesuatu yang diciptakan sekali untuk selamanya, tetapi berevolusi, tumbuh, naik, turun, tenggela, bagai sungai yang tersembunyi di jantung bumi...”

Seperti kebanyakan remaja lelaki 16 tahun, Leo benci sekolah dan baginya guru adalah sekumpulan vampir yang selalu mencari mangsa. Ia lebih suka nongkrong bersama teman-temannya, mendengar musik di iPod-nya, main sepak bola, dan kebut-kebutan dengan sepeda motor kesayangannya. Namun, seorang guru filsafat pengganti di sekolahnya berhasil membangunkan semangatnya untuk hidup dengan mimpi.

Mimpi Leo adalah Beatrice, gadis berambut merah yang tercantik di sekolahnya. Warna merah adalah semangat hidup Leo. Tapi, cintanya yang menggebu itu hanya sebatas melihat pujaan hatinya dari jauh. Mimpi Leo mendadak hancur saat Leo tahu bahwa Beatrice mengidap leukimia. Warna merah itu pun pudar, berganti degan putih, warna yang paling dibencinya.

Saat Leo semakin terpuruk dalam kehampaan, Silvia, sahabat sejatinya, selalu mendampinginya untuk mewujudkan mimpinya. Meskipun hatinya remuk dan berdarah, Leo terusmenggali ke dalam dirinya, dan sadar bahwa mimpi tidak bisa mati.

Buku ini telah terjual lebih dari 700.000 eksemplar di negara aslinya, Italia, dan telah difilmkan dengan judul aslinya Bianca Come Il Latte, Rossa come Il Sangue.

***


“Setiap hal memiliki warna. Setiap perasaan memiliki warna.” (Hal. 1)

Novel ini adalah sebuah karya terjemahan dari novel Italia. Novel dengan pembahasan yang menarik. Menggabungkan cerita kehidupan remaja dengan problematikanya dengan filsafat. Mengingatkan saya dengan salah satu penulis kesayangan saya, Jostein Gaarder. Namun novel ini berbeda, karena cara bertuturnya.

Penulis mengambil sudut pandang orang pertama dari seorang pemuda yang memandang hidup dengan sinis. Pemuda yang mmbenci warna putih, mencintai Beatrice diam-diam, menyebut guru pengganti untuk pelajaran sejarah dan filsafatnya dengan nama “Si Pemimpi”, dan menyukai warna merah.

Semula hidupnya sebagai pengagum diam-diam Beatrice berjalan biasa saja. Gejolak mudanya naik turun, kadang dia menikmati hidupnya, dan kadang ia merasa diperangkap kebosanan. Hingga suatu hari Si Pemimpi berhasil membuatnya memutuskan sebuah impian. Ya, impian yang melibatkan Beatrice di dalamnya. Impian yang membuat gairah hidupnya menggelora berkali lipat. Namun mendadak mimpi itu terbentur oleh kenyataan. Beatrice sakit. Terlalu sakit. Sel darah putihnya menghancurkan sel darah merah yang ada ditubuhnya. Leukimia.

Dan kini impian Leo terancam. Di tengah kemelut itu, ia selalu mensyukuri kehadiran Sylvia. Sylvia adalah satu-satunya warna putih yang bisa memberinya kenyamanan. Sylvia yang memberikan nomor handphone Beatrice, Sylvia yang mengabarinya kondisi Beatrice, Sylvia yang mendukungnya untuk selalu mendampingi Beatrice.

Tapi bagaimana jika banyak hal tidak berjalan seperti yang diduga dan diimpikannya? Apa lagi yang dimilikinya setelah itu?


“Pertama-tama mereka bilang kau harus unik, kau harus berani mengungkapkan persaanmu, kau harus jadi dirimu sendiri! Lalu, satu kau mencoba menunjukkan jati dirimu, kata mereka, kau tak punya kepribadian, kelakuan sama saja seperti yang lainnya.” (Hal. 6)



***


“Hari itu, kakekku menjelaskan bahwa kita berbeda dari binatang, yang hanya melakukan hal-hal yang disuruh alam saja. Sebaliknya, kita bebas. Inilah karunia terbesar yang sudah kita terima. Berkat kebebasan ini, kita bisa menjadi seseorang yang berbeda dari diri kita sekarang. Kebebasan memampukan kita untuk bermimpi, dan mimpi adalah denyut kehidupan kita, meskipun sering kali membutuhkan perjalanan panjang dan beberapa pukulan. ‘Jangan pernah berhenti bermimpi! Jangan takut untuk bermimpi, meskipun orang lain tertawa di belakangmu!’ begitulah nasihat kakekku, ‘sebab jika tidak begitu, berarti kamu melawan kodratmu.’...” (Hal. 20)

Novel ini adalah novel yang bisa jadi alternatif bacaan bagi remaja Indonesia. Tokoh Leo boleh saja jadi cowok super galau sampai mencaci dunia, bersikap skeptis pada mimpi dan impian. Tapi ia sering berkontemplasi. Mempertanyakan banyak hal. Memikirkan banyak hal. Ya, ia berfilsafat.

Di sisi lain, membaca buku ini, pembaca Indonesia jadi punya sedikit bayangan tentang kehidupan remaja dan sistem pendidikan di Italia. Bagaimana pelajaran filsafat dan sejarah disandingkan dan ajarkan di sekolah menengah atas. Inilah yang menggugah Leo untuk berpikir lebih jauh, merenung lebih banyak. Pun banyak kalimat filosofis di dalam buku ini. Ini menjadi salah satu kelebihan buku ini.

Awalnya buku ini akan terasa sedikit membosankan mengingat dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, penulis banyak mengetengahkan monolog tokoh utamanya. Bagaimana ia mempertanyakan banyak hal. Bagaimana pendapatnya tentang berbagai hal. Namun saat cerita telah melibatkan Sylvia, cerita semakin berwarna. Terutama saat Leo menyadari bahwa Beatrice sakit. Cerita jadi semakin menarik untuk diikuti.

Buku ini adalah bacaan yang bagus bagi remaja. Menyampaikan banyak hal tentang remaja sekaligus menggugah remaja dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar