Rabu, 13 Juli 2016

The Lady in Red



“... seorang mama adalah seperti malaikat yang tidak pernah mengucapkan satu pun hal buruk tentang anak perempuannya.” (Hal. 105)


Penulis: Arleen A
Editor: Dini Novita Sari
Cetakan: Pertama, 2016
Jumlah hal.: 360 halaman
ISBN: 978-602-03-2712-9

Betty...
Sebenarnya tidak ingin bersekolah di sekolah swasta yang mahal itu
Bersekolah di sana hanya karena mendapatkan beasiswa
Tidak tahu bahwa itu akan mengubah kehidupannya

Robert
Sebenarnya tidak suka bersekolah di sekolah swasta yang mahal itu
Bersekolah di sana hanya karena disuruh orangtuanya
Tahu bahwa itu memang jalannya ketika ia melihat Betty

Rhonda...
Tahu ia gemuk
Tidak tahu bahwa ia menyukai Greg
Tidak tahu bahwa Greg juga menyukainya

Greg...
Tahu ia hanya pekerja di peternakan milik keluarga Rhonda
Tidak tahu apakah ia berhak menganggap tempat itu rumah
Tidak tahu apakah ia berhak menyukai Rhonda

Tapi sejauh apa pun dirimu pergi
Sejauh apa pun perasaanmu menjauh
Selalu akan ada tempat yang menarikmu pulang
Selalu akan ada hati yang menarikmu kembali

***

“... terkadang di dalam diam, ada lebih banyak yang kau dengarkan dan kau mengerti, terutama bila kedua orang yang sedang diam itu mengetahui bahwa dengan dirinya berada di sana saja, itu sudah cukup bagi yang satunya.” (Hal. 53)

Membaca novel The Lady in Red ini jika tanpa tahu bahwa penulisnya orang Indonesia, maka akan mengira bahwa novel ini adalah novel terjemahan. Ini karena settingnya mengambil tempat di Frot Bragg, sebuah kota kecil di Amerika.

Diceritakan tentang Betty Liu, seorang gadis keturunan Tionghua yang lahir dan besar di Amerika meski kedua orang tuanya berasal dari Tiongkok. Betty adalah gadis yang cerdas. Kecerdasannya ini yang membawanya bersekolah di SMA Redwood Private School. Sekolah ini diisi oleh anak-anak orang kaya. Ini membuat Betty yang berasal dari golongan menengah tidak merasa nyaman.

Hingga suatu hari Betty berkenalan dengan Robert, anak laki-laki yang duduk di belakangnya. Perkenalan itu ternyata membawa takdir panjang bagi mereka. Betty dan Robert saling mencintai meskipun mereka memiliki banyak perbedaan, tidak hanya status sosial namun juga latar belakang dan budaya.

Di sisi lain, ada pula hubungan Wanda dan Jerry. Perkenalan yang singkat yang berujung pada pernikahan keduanya. Wanda adalah seorang gadis sebatang kara yang bekerja sebagai pramusaji sedangkan Jerry adalah putra dari seorang pemilik peternakan terbesar di Frot Bragg.

Kedua kehidupan ini bertalian karena peternakan milik keluarga Robert bertetangga sekaligus menjadi saingan bisnis bagi peternakan milik keluarga Jerry.

Kemudian ada pula kehidupan Rhonda dan Greg. Rhonda adalah seorang yang mencintai dan hidup dari melukis. Namun ia hidup dan besar di peternakan sapi yang jauh dari hiruk pikuk kota besar. Hingga akhirnya ia memutuskan bersekolah di Boston demi mengembangkan kemampuan melukisnya. Ini membuat Rhonda harus meninggalkan Gerg. Teman masa kecil yang selalu menjaganya. Bagi Rhonda Gerg adalah Gerg. Orang yang paling memahaminya. Meskipun orang-orang banyak yang menganggap bahwa Gerg adalah pelayan Rhonda. Mengingat orangtua Gerg turun temurun bekerja di peternakan milik keluarga Rhonda.

Tiga kehidupan ini kelak akan beririsan. Dan akan ada nyawa yang dikorbankan untuk sebuah kemarahan terpendam.


“Hidup memang bukan film. Tidak ada happily ever after.” (Hal. 75)

***

“Apakah kau harus memiliki sebuah tempat terlebih dulu sebelum boleh menyebutnya rumahmu?” (Hal. 114)

Saat membaca novel ini, ketika sampai di halaman 62 saya bertanya-tanya, “Kisah seperti apa yang akan disuguhkan oleh novel ini? Kenapa sudah ada ending bahagia di dalamnya? Apa yang sebenarnya akan jadi konflik?” Ini karena saat membaca kisah tentang Betty dan Robert hingga halaman tersebut, saya mendapati bahwa penulis menempatkan sebuah ending untuk kisah tersebut di sana.

Ya, novel ini menyajikan 3 drama kehidupan dengan pelakon yang berbeda. Ada 3 pasangan yang menjadi pusat cerita yaitu: Betty dan Robert; Wanda dan Jerry; serta Rhonda dan Gerg. Kehidupan ketiganya akan saling terhubung dengan cara yang menarik.

Menariknya, jika melihat sampul dan judulnya, pembaca akan berasumsi bahwa ini adalah sebuah novel dengan tema agak gelap seperti thriller. Memang di akhir akan ada sebuah misteri yang terungkap. Namun bukan itu pusat ceritanya.

Cerita lebih banyak berputar di kehidupan Rhonda dan Gerg. Kisah mereka berdua tidak mudah. Hubungan keduanya sejak awal membingungkan. Mereka merasa tidak saling mencintai. Namun saat Brandon muncul dan akan menikahi Rhonda, barulah keduanya mulai menyadari perasaan yang berkembang di hati masing-masing. Namun apa yang bisa mereka lakukan jika pertunangan telah terjadi dan persiapan pernikahan mulai dilakukan?

Seluruh drama di dalam buku ini menarik untuk diikuti. Deskripsi tempat yang cukup dan pas membuat saya berpikir bahwa saya tengah membaca novel terjemahan.

Sedikit yang kurang adalah deskripsi tokohnya lebih banyak dilakukan melalui telling bukan showing. Contoh, saat cerita Rhonda dibuka tentang pendapat orang bahwa ia bertubuh gemuk di halaman 105. Fakta ini muncul hanya sebatas itu. Namun dalam keseharian, berdasarkan deskripsi yang dituangkan penulis, saya malah mendapatkan gambaran bahwa Rhonda adalah perempuan dengan bentuk tubuh ramping yang banyak menghabiskan waktu dengan melukis. Ia pun memiliki penampilan yang menarik. Gambaran tentang kegemukan Rhonda tidak muncul lagi selain lewat penggambaran tersebut.

Tapi di sisi lain, cara penulis mendeskripsikan berbagai hal dengan lebih detail tidak terasa membosankan. Seperti di halaman 27 saat penulis menggambarkan bagaimana perasaan Robert yang ingin menyapa Betty. Deskripsinya memasukkan pengalaman indrawi namun juga memasukkan pikiran-pikiran tokohnya. Sehingga bukannya menjadi membosankan, deskripsi ini malah membantu pembaca memahami rasa grogi yang dialami oleh Robert.

Secara keseluruhan, cerita ini menarik diikuti terutama saat memasuki babak akhir. Sebab pembaca akan bertanya-tanya, bagaimana hubungan Rhonda dan Gerg? Akankah mereka bersama? Atau Brandon-lah yang akan menikah dengan Rhonda?


“... tidak akan pernah ada kata normal dalam kehidupan orang-orang yang baru saja ditinggalkan orang yang mereka kasihi untuk selamanya.” (Hal 305)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar