Rabu, 13 Juli 2016

Strawberry Cheesecake



“Nyatanya, kadang kita harus melakukan sesuatu yang kita benci untuk orang yang kita cintai.” (Hal. 89-90)


Penulis: Ayuwidya
Penyunting: Hutami Suryaningtyas & Dila Maretihaqsari
Perancang sampul: Nocturvis
Ilustrasi isi: labusiam
Pemeriksa Aksara: Kiki Riskita
Penata Aksara: Anik Nurcahyati & Martin Buczer
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: Pertama, Maret 2016
Jumlah hal.: vi + 304 halaman
ISBN: 978-602-291-138-8

Selama menjadi artis terkenal, tantangan kali ini benar-benar mengusik Alana. Demi menarik simpati pujaan hatinya, Alana menerima tantangan itu. Reality show membuat kue! Di sinilah petaka dimulai. Alana bisa melakukan apa pun, kecuali memasak! Kalau bukan karena Aidan, mana mungkin ia bersusah-susah melakukan ini.

Ia terpaksa berbohong di depan kamera, pura-pura mahir. Adonan menjijikkan, kue bantat, dekorasi mengerikan adalah hasil karya Alana selama proses syuting. Untungnya, ia bertemu Regan di kafe tempat mereka syuting. Alana takjub dengan kemampuan Regan membuat kue. Karenanya, Alana membujuk Regan habis-habisan untuk mengajarinya.

Meski Regan galak dan menyebalkan, Alana terpaksa belajar darinya. Ia benci terlihat bodoh di depan Regan. Dan, yang paling tidak disukai Alana adalah ia benci harus menyangkal tunas-tunas perasaan yang tumbuh di hatinya, untuk Regan.
***

“Bagiku, memasak adalah membahagiakan orang lain. Makanan yang enak bisa bikin bahagia. Lebih dari itu, memasak adalah sebuah kejujuran.” (Hal. 89)


Pertemuan pertama Regan dan Alana tidak bisa disebut sebagai pertemuan pertama yang mengesankan dalam artian baik. Bagaimana tidak jika dipertemuan tersebut Alana malah merusak acara ulang tahun Regan. Setelah itu, takdir terus mempertemukan mereka.

Alana yang tidak bisa memasak melakukan kebohongan besar dengan berpura-pura menjadi sosok yang piawai memasak demi laki-laki yang disukainya, Aidan. Ini karena Aidan mengakui bahwa ia menyukai perempuan yang senang membuat kue. Kebohongan ini kemudian berbuntut malapetaka saat Alana “dijebak” untuk mengikuti reality show yang menantang para artis untuk unjuk kepiawaian memasak.

Acara reality show ini yang membuat Alana akhirnya kembali bertemu dengan Regan. Saat mengetahui kepandaian Regan memasak, tanpa peduli tentang latar belakang Regan yang penuh rahasia, Alana memaksa Regan untuk menjadi “guru”nya. Demi Aidan ia akan rela melakukan apapun termasuk menghadapi kegalakan Regan saat mengajarinya.

Kebersamaan ini malah membuat Alana dan Regan jadi dekat. Mereka merasa nyaman untuk menjadi diri sendiri saat bersama. Hal yang jarang mereka alami akibat tuntutan dari lingkungan masing-masing.

Lantas bagaimana hubungan Alana dan Regan? Bagaimana perasaan Alana ke Aidan? Dan terakhir, siapakah Regan sebenarnya?


“Makanlah yang enak maka hidupmu akan baik-baik saja.” (Hal. 22)

***

“Yang bilang perempuan terlihat paling cantik saat bangun tidur sesungguhnya gombal.” (Hal. 65)

Saat membaca bagian awal buku ini, saya bertanya-tanya. “Ini novel tentang dunia makanan atau tentang fashion?” Ini karena di bagian awal cerita deksripsi tokoh Alana sangat kental dengan aroma fashion. Ternyata ini karena profesi Alana.

Selain itu, adegan pertama dalam novel ini terasa sangat absurd. Seorang model sekelas Alana rela berebut kue? Kenapa tidak mencoba membeli dari tempat lain saja? Namun ini menjadi perkenalan pertama yang menarik. Sebab pembaca akan berkenalan dengan sosok Regan dengan kesan yang menarik.

Keseluruhan cerita dituturkan menggunakan sudut pandang orang pertama secara bergantian antara Regan dan Alana. Ini membuat banyak hal terkait hal pribadi mereka terekspos kepada pembaca. Membantu pembaca membangun gambaran tentang tokoh ini. Ini juga menampilkan sosok Alana dengan gaya yang sangat menarik. Sekaligus membuat pembaca berspekulasi, apakah dunia entertainment memang seperti itu? Mana nyata dan mana rekayasa?

Sayangnya, dari sudut pandang Regan terasa kurang maskulin. Di beberapa kesempatan, Regan terlalu banyak mengedepankan perasaan. Hal yang berbeda dengan logika laki-laki. Selain itu, pikiran-pikiran mendalam Regan dan cara ia berdialog dengan dirinya sendiri terasa masih terlalu netral, kurang sentuhan maskulinitas.

Untuk konflik cerita, karena dituturkan dengan runut maka bisa dinikmati dengan mudah oleh pembaca. Belum lagi sejumlah deskripsi yang menggelitik dalam adegan yang dilakoni oleh tokohnya. Seperti saat Alana mengejar Regan di stasiun kereta. Pikiran-pikiran yang berkelebat di kepala Alana yang dihubungkan dengan pengalamannya sebagai aktris membuat hal itu terasa lucu. Ini membuat novel ini tidak terasa membosankan saat dibaca.

Untuk deskripsi, novel ini mampu menampilkan deksripsi yang pas untuk tempat dan suasana. Penggambaran “Strawberry Garden Deli” terasa mudah untuk diimajinasikan. Menyenangkan. Selain itu deskripsi tempat menyatu dengan baik dalam cerita.

Kesan yummyLit-nya pun amat terasa dengan suguhan kepiawaian memasak Regan. Ditambah lagi dengan adanya selipan resep di akhir novel. Resep dari berbagai kue yang jadi tantangan Alana saat mengikuti reality show tersebut menjadi nilai tambah bagi novel ini.

***
Quote Favoritku

“Betapapun berbakatnya kamu, orang-orang yang belajar akan mengalahkan kamu, dan orang yang belajar paling banyak akan menjadi pemenangnya.” (Hal. 196)

Ini adalah pesan yang disampaikan ayahnya Regan kepada Regan. Ia ingin mengingatkan bahwa boleh saja seseorang mengejar passion-nya, namun akan lebih baik jika dibarengi dengan pendidikan formal. Karena di masa kini banyak tantangan yang harus dihadapi. Sehingga bagaimanapun, pendidikan formal tetap tidak bisa diabaikan begitu saja.
***
Kumpulan Quote

“Ketika kamu bebas melakukan hal yag kamu suka untuk dirimu sendiri, itulah kejujuran.” (Hal. 89)
“Perempuan yang menangis itu membuat laki-laki yang berada di sekitarnya lebih depresi seribu kali.” (Hal. 108)
“Regan, segala sesuatu yang terjadi pada kita karena sebuah alasan ... dan sesuatu itu pasti akan terjadi pada waktunya. Kita tidak bisa memperlambat atau mempercepatnya.” (Hal. 141)
“Kita punya cara sendiri-sendiri untuk bertahan hidup tanpa orang yang kita cinti. Sebagian orang bertahan dengan memori, sebagian lain justru terluka karena memori. Jadi ..., kurasa kita tidak bisa memvonis seseorang itu kuat atau lemah berdasarkan caranya melupakan orang yang dicintai.” (Hal. 142)
“Menurutku ... sebagai perempuan yang setia ... kalau memang dia setia ... kalau memang dia setia, seharusnya mendukung saat kamu jatuh begini, bukannya malah berniat ninggalin kamu.” (Hal.145)
“Jadi, misi hidupmu pergi dari satu kekacauan, mencari tempat yang damai, lalu ketika kedamaian berubah jadi kekacauan, kamu pergi lagi?” (Hal. 147)
“Kami saling menyayangi, hanya saja, kami tidak tahu cara untuk mengungkapkannya.” (Hal. 194)
“Hidup mudah sekali mengubah peran seseorang, padahal berganti peran tidak mudah.” (Hal. 229-230)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar