Kamis, 28 Juli 2016

Re:



“Kalau lihat apa yang bukan milikmu, meskipun kamu sangat menginginkannya, jangan diambil ya, Man ...” (Hal. 100)


Penulis: Maman Suherman
Gambar sampul: Teguh Tri Erdyan
Tata Letak Isi: Aldy Akbar
Cetakan: Pertama, April 2014
Jumlah hal.: vi + 160 halaman
ISBN: 978-979-91-0702-2

“Panggil aku: Re:”
“Pekerjaanku pelacur!”
“Lebih tepatnya, pelacur lesbian!”
........
Pertemuan dengan Re:, si pelacur lesbian, mengubah jalan hidup Herman. Semula, mahasiswa Kriminologi itu menganggap Re: sekadar objek penelitian skripsinya. Namun, yang terjadi malah sebaliknya.

Kisah hidup Re: yang berliku menyeret Herman hingga jatuh ke dalam. Herman terpaksa terlibat dalam sisi tergelap dunia pelacuran yang bersimbah darah, dendam, dan airmata.

***

“... Kalau cuma mikir doang, tidak nyelesein masalah.” (Hal. 37)

Seorang mahasiswa Kriminologi mencoba menyibak tirai kehidupan pelacuran dalam tugas akhirnya. Ini membuatnya berkenalan dengan Re:, seorang pelacur lesbian. Re: kemudian menjadi salah seorang informan kunci untuk penelitian tugas akhir yang dilakukan oleh Herman.

Melalui Re:, Herman kemudian mengenal dunia pelacuran dengan lebih mendalam. Ia menemukan betapa kehidupan yang ada di dunia itu penuh darah dan airmata. Bagaimana “jebakan” yang sering berujung pada keputusan untuk menjual diri hingga tidak punya pilihan untuk berhenti dari dunia itu. Betapa banyak risiko yang dihadapi oleh para pelacur ini. Tidak hanya penyakit seksual; mereka juga rentan terhadap tindak kejahatan seperti penganiayaan, pemerasan hingga pembunuhan; sedangkan di lain pihak masyarakat seolah enggan menganggap mereka sebagai korban jika mengalami kejahatan itu. Pekerjaan yang mereka geluti seolah mencabut hak mereka untuk mendapatkan perlindungan yang sama di mata hukum.


***

“Koruptor dan pelacur menurut buku itu berada dalam “level” yang sama, tetapi mengapa nasib mereka di tengah masyarakat bagai bumi dan langit?” (Hal. 101)


Novel Re: ditulis berdasarkan pengalaman yang dialami penulisnya. Itulah sebabnya penulisannya mengambil sudut pandang yang menarik yaitu sudut pandang orang pertama namun ia tidak benar-benar berada di tengah konflik yang terjadi.

Tokoh Herman dalam novel ini menjadi penutur yang mengeksplorasi kehidupan pelacur dan memasukkan opini dan pengalaman indrawi yang dialaminya ke dalam cerita. Pembaca bisa menangkap perasaan yang dimiliki Herman pada Re:. Namun pembaca tetap tidak mampu menyelami perasaan Re: sebagai sosok yang hidupnya tengah diselami.

Ini menjadi sudut pandang yang menarik. Ia luas untuk dieksplorasi namun sekaligus terbatas. Di beberapa kesempatan, ada muatan emosi yang seharusnya bisa lebih dieksplorasi di dalam cerita namun kurang terasa. Seperti saat Herman mengkhawatirkan keadaan Re:, secara emosi seharusnya bisa memengaruhi pembaca, namun karena terkesan mendadak, maka jadi kurang terasa.

Namun di luar itu, novel yang dilabeli sebagai novel dewasa yang diperuntukkan untuk usia 18 tahun ke atas ini, menampilkan cerita yang berbeda bagi pembaca. Beberapa kali tulisan penulis menyentil berbagai hal yang ada di tengah masyarakat. Sentilan ini halus karena diceritakan melalui sudut pandang orang pertama yang mencoba membandingkan antara ilmu yang dimilikinya, hal yang ia pahami di masyarakatnya, dan penelitian yang tengah ia lakukan. Ini membuatnya jadi lebih kompleks namun di saat yang sama jadi sangat “kaya”.

Re: adalah kisah yang membuka mata pembaca tentang kehidupan yang selama ini dikenal melalui stigma masyarakat semata. Pelacuran terus dianggap sebagai kejahatan, bukan sebagai “penyakit masyarakat” yang seharusnya dicari obatnya.

Saya jadi teringat pada penggalan tulisan yang ditulis oleh Raden Dewi Sartika, salah seorang pahlawan perempuan Indonesia. Ia menganggap bahwa pelacuran adalah hal yang muncul karena perempuan dibentuk oleh masyarakat untuk tidak memiliki kemandirian. Perempuan hidup harus selalu dibawah perlindungan laki-laki. Hal ini yang membuat perempuan di masanya tidak diberi pendidikan yang layak karena dianggap tidak perlu hidup mandiri. Lantas muncul perempuan-perempuan kurang beruntung yang karena enggan dimadu akhirnya memutuskan untuk keluar dari perlindungan itu. Dan karena tidak punya pendidikan dan keterampilan, perempuan-perempuan ini pun akhirnya melakoni hidup sebagai pelacur demi memenuhi kebutuhan hidup.

Puluhan tahun telah berlalu. Namun kondisi yang memunculkan keprihatinan R. Dewi Sartika ini terus terjadi. Perempuan terus menjadi korban. Dan tulisan Maman Suherman dalam buku ini menampilkan sisi lain yang jarang dijamah masyarakat.

Oiya, di akhir buku saat menutup lembar terkahir, saya jadi bertanya-tanya berapa persen dari kisah ini yang fiksi. Serta membuat saya berpikir, betapa kenyataan sebenarnya lebih kejam dari fiksi.

“Hidup sudah pedas masih aja pesan mie pedas. Hidup sudah pahit, masih aja pesan teh pahit ...,” (Hal. 102)

***
Seperti yang sudah dijanjikan di judul review ini bahwa akan ada Giveaway yang berhadiah novel Re: dan peREmpuan karya Kang Maman Suherman. Ingin jadi yang beruntung mendapatkannya?
Mudah, simak saja wawancara singkat saya dengan Kang Maman Suherman di postingan berikutnya, Readers.

10 komentar:

  1. Membahas kisah pelacuran dari data skripsi, rasanya akan menampilakn banyak fakta. Tantangannya tentu saja membuat data menjadi bagian novel yang utuh, dan justru seharusnya tidak membuat novel terasa seperti buku teks atau karya ilmiah. Tambah penasaran dengan karya Kang Maman ini...

    BalasHapus
  2. Ah jadi penasaran pengen baca bukunya :) thx u reviewnya mba mantap. Salam kenal ^^

    BalasHapus
  3. Buku ini berbeda, memuat kisah yang jarang dipake oleh penulis lain, apalagi kisah ini ditulis dari pengalaman pribadi penulis sendiri. Kisah dari kehidupan tentang pelacuran yg buat aku penasaran, karena mereka selalu dipandang negatif oleh masyarakat tapi saya percaya kalau orang orang pelacur itu punya alasan sendiri kenapa harus sampai melacur. And the review make me more curious!

    BalasHapus
  4. Pelacur lesbian? Baru pertama kali tahu pekerjaan ini dan cukup mengejutkan karena kupikir pelacur/PSK hanya melayani lelaki hidung belang.
    Wah, ini tema baru yang belum pernah kubaca sebelumnya

    BalasHapus
  5. Hmmm aku suka temanya..
    sepertinya bagus, bikin penasaran untuk baca novelnya

    BalasHapus
  6. Membaca novel Re: ini mengingatkan kembali bahwa di masyarakat ada kehidupan yang begitu kelam dan kita berharap tidak pernah mengenalnya karena begitu kejam dan di luar nalar.

    BalasHapus
  7. Sangat berani. Ancungkan jempol buat Herman yang mngangkat topik pelacuran sebagai tugas akhir. Pasti sangat kontroversial

    BalasHapus
  8. Sangat berani. Ancungkan jempol buat Herman yang mngangkat topik pelacuran sebagai tugas akhir. Pasti sangat kontroversial

    BalasHapus
  9. Baru sekilas dan sepenggal synopsis singkat dari novel Re: sudah benar-benar membuat saya tertarik. Menyelami kehidupan seorang pelacur lesbian dan dituangkan dalam sebuah novel. Tidak pernah saya bayangkan akan mendapatkan genre seperti ini. Tidak hanya sebagai konsumsi yang mengenyangkan pembaca, tetapi juga memiliki nutrisi (informasi). Interested

    BalasHapus
  10. Baru sekilas dan sepenggal synopsis singkat dari novel Re: sudah benar-benar membuat saya tertarik. Menyelami kehidupan seorang pelacur lesbian dan dituangkan dalam sebuah novel. Tidak pernah saya bayangkan akan mendapatkan genre seperti ini. Tidak hanya sebagai konsumsi yang mengenyangkan pembaca, tetapi juga memiliki nutrisi (informasi). Interested

    BalasHapus