Senin, 18 Juli 2016

[Liputan Acara] Saat Pecandu Buku Terdampar di Pantai Pamboang Majene




 Di masa kini, saat teknologi semakin maju membuat gadget semakin menarik dan multi-fungsi, buku menjadi seperti sebuah benda ketinggalan zaman. Jauh dari kesan menarik. Lebih mudah menemukan anak muda dan anak kecil bermain gadget di keramaian daripada menemukan mereka membaca buku. Belum lagi stigma negatif yang sejak dulu sering menempel pada buku dan kegiatan membaca; stigma sebagai kegiatan serius. Seolah tidak ada hal menyenangkan dari membaca. Kondisi inilah yang mendorong terbentuknya Pecandu Buku pada 18 Juli 2015.

Komunitas Pecandu Buku hadir memanfaatkan media sosial untuk bisa memengaruhi generasi muda agar mau membaca. Dimulai dengan menulis ulasan di akun Instagram dan membuat sebuah grup di Line; komunitas ini kemudian berkembang menjadi lebih luas. Gerakan yang tadinya hadir di dunia maya, dibuat menjadi nyata. Dimulai dengan dibukanya perpustakaan Pecandu Buku pada 1 Januari 2016 secara swadaya. Pecandu Buku kemudian mengadakan Pecandu Buku Bersila yang terus diusahakan untuk dilakukan setiap bulan. Kini kegiatan Pecandu Buku Bersila sudah enam kali diadakan dan sudah berlangsung di 3 kota yakni Bandung, Jakarta, dan Makassar.


Hari ini adalah hari ulang tahun pertama Komunitas Pecandu Buku. Kemarin, 17 Juli 2016, dengan penuh semangat, anggota Pecandu Buku yang tersebar di berbagai kota di Indonesia menggelar kegiatan di sejumlah kota. Ada 15 kota yang ikut merayakan hari jadi Pecandu Buku ini. Konsep dasar kegiatan sama yakni mengadakan lapak buku, menggelar buku untuk dibaca secara gratis. Namun setiap daerah dipersilakan untuk membuat kegiatan lain yang spesial.
 


Khusus untuk di Majene, Komunitas Pecandu Buku menggelar kegiatan yang sedikit berbeda dari kota lainnya. Perayaan ulang tahun Pecandu Buku diadakan di tepi pantai. Tepatnya di Pantai Pamboang, Majene. Dengan didukung oleh Armada Pustaka dan Rumah Makan Dapur Mandar, Pecandu Buku Majene mengadakan lomba mewarnai dan diskusi tentang pelestarian penyu.
 
Lomba mewarnai yang diadakan di tanggul
Ini adalah sebagai bentuk partisipasi Pecandu Buku dalam “membaca” alam dan lingkungan sekitar. Ditemukannya sejumlah penyu yang datang untuk bertelur di Pantai Pamboang namun kemudian telur-telur tersebut diburu manusia untuk dijual dan dikonsumsi memunculkan keprihatinan sendiri. Sehingga Pecandu Buku merasa bahwa perlu ada upaya sosialisasi untuk menjelaskan pentingnya melestarikan penyu serta bagaimana cara yang baik untuk melakukannya.

Nonton film dokumenter soal penyu dan dilanjutkan diskusi

Ini sekaligus menjadi statement bahwa menjadi Pecandu Buku tidak berarti selalu sibuk membuka lembaran kertas dengan hidung yang menempel ke lembaran tersebut. Melainkan sebagai bukti bahwa dengan banyak membaca maka pengetahuan dan kepekaan akan semakin terasah. Ini karena dengan membaca kita akan akan mengetahui banyak hal yang dirasa sebagai kondisi ideal namun tidak terjadi di dunia nyata.

Kegiatan Pecandu Buku Majene ini diharapkan bisa mendukung menyebarnya virus literasi. Meningkatkan minat baca sekaligus bisa mendukung pelestarian ekosistem laut.

Nah, itulah jadinya jika Pecandu Buku “terdampar” di Pantai Pamboang, Majene. Ia mengajak untuk mencandui buku juga mengajak untuk mencintai laut.

Hadiahku untuk Pecandu Buku: Jepa dan Penja (makanan khas Mandar)
Oiya, dengan ini saya juga ingin mengucapkan: "Selamat ulang tahun yang pertama, Pecandu Buku. Saya bangga jadi bagianmu. Semoga bisa terus menjadi agen literasi yang mengajak anak muda mencandui buku. Mencintai membaca. Terus sebar virus membaca. Semoga selalu bermanfaat."

Salam Aksara,
Atria Sartika 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar