Sabtu, 16 Juli 2016

Forever With You



“Terkadang saat mencari cinta yang sempurna, kita tidak menyadari sebenarnya ada cinta yang luar biasa yang ada di dekat kita. Cinta yang tidak kenal kata kedaluwarsa.” (Hal. 268)

Penulis: Ria N Badaria
Editor: Astheria Melliza
Sampul dikerjakan oleh: Marcel A. W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, 2016
Jumlah hal.: 272 halaman
ISBN: 978-602-02-2867-6

Bagi Liana Hanjaya, jatuh cinta sama mudahnya seperti berganti model rambut. Dia terlalu mudah dan terlalu sering jatuh cinta pada... laki-laki yang salah.

Lelaki terbaru yang membuat Liana terpesona adalah Dimas, kopilot di maskapai penerbangan ternama. Kali ini, Liana yakin Dimas akan menjadi pria sempurna dalam kisah cinta sempurna seperti yang selalu ditulis Liana dalam novel-novel larisnya.

Namun, fantasi Liana terganjal oleh Rinto, sahabat masa kecil yang juga menjadi sahabat terbaiknya. Semakin dekat Liana dengan Dimas, semakin Rinto menunjukkan ketidaksukaannya dan meyakinkan Liana bahwa Dimas juga termasuk lelaki yang salah. Dan di saat yang sama, untuk pertama kalinya, Liana menyadari keberadaan Rinto lebih dari sekadar sahabat.
***

“Perasaan cinta bisa hadir di mana saja, kapan saja dan pada siapa saja, termasuk pada sahabat.” (Hal. 41)
Novel ini bercerita tentang persahabatan antara Liana dan Rinto. Dua orang yang saling mengenal dengan sangat baik sejak kecil. Persahabatan orang tua mereka membuat mereka bersahabat. Bahkan kini apartemen mereka bersebelahan. Membuat Liana yang kadang dirundung frustasi –karena harus menghadapi upaya perjodohan demi perjodohan yang dilakukan ibunya– bisa menerobos masuk ke apartemen Rinto untuk curhat. Pada suatu titik, rasa frustasi ini membuat Liana mengatakan sesuatu yang absurd. Ia meminta Rinto menikahinya jika saat usianya 30 tahun ia belum kunjung menemukan Mr. Right-nya.

Lalu suatu hari, kehadiran Dimas, seorang kopilot yang juga sahabat Rinto hadir dalam kehidupan Liana. Sebuah insiden membuat keduanya berkenalan hingga akhirnya menjadi dekat. Kedekatan mereka ini mengganggu Rinto. Rinto berkali-kali berusaha meyakinkan Liana bahwa Dimas bukanlah pria yang tepat. Hingga suatu hari Rinto pun tidak tahan lagi dan mengungkapkan perasaan yang selama ini ia pendam untuk Liana. Bisakah Liana menerima hal tersebut? Bagaimana akhir kisah persahabatan mereka? Bagaimana dengan hubungan Dimas dan Liana?

“Karena bukan hal menyenangkan harus menerima kedatangan orang baru di lingkup yang sebelumnya hanya ada kalian berdua.” (Hal. 85)
***
“Apa laki-laki di dunia ini tidak ada satu pun yang mengerti  ada kalanya wanita hanya ingin didengarkan tanpa harus mendengar kritik yang menyakiti.” (Hal. 112)
Novel Forever with You karya Ria N. Badaria ini hadir membawa sebuah tema yang sudah cukup sering dijadikan tema novel romance. Tentang hubungan persahabatan laki-laki dan perempuan yang berujung dengan cinta. Namun penulis mencoba mengetengahkannya dengan cara yang berbeda. Dengan lebih dewasa.

Pemilihan profesi tokoh-tokohnya pun ikut memberi warna dalam cerita ini. Liana, perempuan yang berprofesi sebagai novelis bersahabat dengan Rinto seorang fotografer profesional. Pekerjaan Liana membuatnya berfantasi tentang cinta yang manis. Sedangkan Rinto digambarkan sebagai orang yang sering dikelilingi perempuan cantik. Yang jadwal pekerjaannya bisa membuatnya menghilang selama beberapa minggu.

Chemistry setiap tokoh terbangun dengan baik. Mulai dari hubungan Liana dengan Rinto, hubungan Liana dengan ibunya dan ibu Rinto. Pun dengan hubungan Dimas dengan Rinto dapat digambarkan dengan pas. Tidak dekat namun tidak benar-benar jauh.

Konfliknya sendiri awalnya memang menarik. Liana yang sebentar lagi berusia 30 tahun semakin sering dibuat stress oleh tekanan keluarga besarnya untuk segera menikah. Kehadiran Dimas menjadi penyelamat. Namun di waktu yang sama persahabatannya retak. Oiya, kehadiran Sheryl pun menambah warna dalam cerita meski sosok ini kurang dieksplor dan dimanfaatkan dalam cerita.

Sayangnya di bab-bab terakhir, kebingungan Liana seolah berputar-putar di hal yang sama. Ia tidak mau kehilangan Rinto, tapi juga tidak bisa menerima perubahan dalam hubungan mereka. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Rinto mencintainya. Namun di saat yang sama ia pun mulai tidak bisa memahami hatinya sendiri. Ia berputar dalam kebimbangannya sendiri antara Dimas dan Rinto. Bagian ini terasa sedikit dipanjang-panjangkan. Namun syukurlah endingnya sangat manis.

Oiya, salah satu bagian favoritku adalah pembuka cerita yang menganalogikan usia perempuan dengan kue Natal.

“Usia wanita bisa dianalogikan dengan kue Natal, kue yang biasanya memiliki harga tinggi di tanggal 22, 23, 24, dan 25 Desember, atau sebelum hari Natal tiba karena kebanyakan permintaan kue menjelang hari Natal. Akan tetapi setelah tanggal 25 harga kue Natal mengalami penurunan, seiring berkurangnya minat terhadap kue itu setelah perayaan Natal berlalu, bahkan nyaris tidak ada peminatnya setelah menginjak tanggal 30. Seperti itulah usia wanita jika disamakan dengan kue Natal, daya tarik mereka akan berkurang seiring bertambahnya usia.” (Hal. 9)

Bagaimana? Menarikkan pernyataan itu? He..he.. tapi memang itu kan realitas di masyarakat Indonesia. Perempuan yang menikah di usia 25 tahun dianggap ideal. Namun jika semakin mendekati usia 30 tahun belum ada tanda-tanda ia akan segera menikah, maka ini membuat semua orang disekitarnya sibuk. Minimal sibuk bertanya.

Novel ini cukup menarik. Interaksi Liana dan Rinto terutama di bagian awal terasa sangat natural. Membuat novel ini enak dibaca.

***
 
“Jangan berubah terlalu banyak demi seseorang.” ... “Kalau orang itu tulus cinta sama lu, dia akan menerima lu apa adanya, bukan nerima lu setelah lu berubah.” (Hal. 173)
***
“Jangan membuat dirimu tidak nyaman hanya untuk menjadi seperti orang lain. Karena kamu yang apa adanya yang telah membuatku jatuh cinta.” (Hal. 191)
“Aku akan membiarkannya bahagia dengan pilihannya. Jika dia tidak memilih cintaku, aku akan berhenti membebaninya. Aku tidak ingin menyakitinya dan diriku sendiri dengan memaksa tetap berada di sisinya, walalupun aku tidak pernah ingin meninggalkannya.” (Hal. 216)
“.... Yang gue cari selama ini cuma perasaan tulus seseorang yang gue cintai dan mencintai gue, ....” (Hal. 242)

“Jika kita mencintai seseorang dengan tulus, maka akan selalu ada kata maaf untuk semua kesalahan yang dia lakukan, karena akan lebih baik menerima kembali cinta yang pernah menyakiti itu dan mencoba meraih bahagia dengan cinta yang sama, ketimbang melepaskan cinta itu untuk lebih menyakiti diri.” (Hal. 267)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar