Rabu, 13 Juli 2016

Déesert



“Laki-laki itu boleh saja membuatnya patah hati, tapi Naya tidak akan pernah mengizinkan siapa pun menghancurkan hidupnya.” (Hal. 45)


Penulis: Elsa Puspita
Penyunting: Dila Maretihaqsari
Perancang sampul: Nocturvis
Pemeriksa Aksara: Septi Ws dan Kiki Riskita
Penata Aksara: Nuruzzaman
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: Pertama, Maret 2016
Jumlah hal.: vi + 318 halaman
ISBN: 978-602-291-121-0

Bagi sebagian orang, cinta SMA hanyalah salah satu kenangan masa remaja yang mudah saja untuk dilupakan. Namun, bagaimana jika ia kembali hadir di masa kini? Sosoknya yang sekarang, jauh berbeda dibandingkan dulu. Ia lebih tampan, lebih berkarisma, dan lebih berpotensi mencuri hati.

Naya begitu kaget melihat Dewa kembali ke Tanah Air, setelah selama delapan tahun sekolah dan bekerja di Australia. Karena campur tangan Lulu, sahabat sekaligus partner bisnis Naya, pria itu kini membantu mengurusi calon resto baru Naya dan Lulu, sebagai pastry chef. Namun, semuanya jadi tidak mudah. Di tengah kesibukan jelang pembukaan Dapoes Ketje, keduanya justru melancarkan aksi perang dingin dengan ego masing-masing.

Suasana makin parah dengan kehadiran Ava, mantan kekasih Dewa yang datang dari Australia. Juga Dipati, mantan Naya yang seorang artis. Perang dingin di antara mereka tampaknya akan meledak, memuntahkan segala ganjalan yang telah tersimpan selama bertahun-tahun. Sesuatu yang menyadarkan mereka bahwa masa lalu itu belum selesai sepenuhnya.
***

“Memutuskan pulang berarti harus menyiapkan diri untuk kembali mengingat kenangan apa pun yang pernah dialaminya di sini.” (Hal. 12)

Lelah dengan hiruk pikuk ibukota, Naya memutuskan untuk pulang kampung. Kesempatan untuk pulang itu datang saat acara Pekan Kuliner yang dipandunya akhirnya berakhir karena rating yang turun. Ia memang ditawari untuk memandu acara lain. Namun ia lebih memilih untuk pulang.

Setibanya di Palembang, kampung halaman tempat ia lahir dan tumbuh dewasa, Naya ditawari untuk menjadi partner dalam usaha restoran yang baru akan dirintis oleh sahabat Naya, Lulu. Lulu dan tunangannya, Arfan, akan memulai sebuah bisnis kuliner. Dan lidah Naya serta pengalamannya mendatangi berbagai rumah makan saat menjadi pemandu acara kuliner bisa menjadi masukan yang berarti bagi restoran tersebut. Mereka akhirnya memutuskan menamai rumah makan mereka: “Dapoer Ketje”.

Di tengah kesibukan membangun Dapoer Ketje, Naya ternyata harus menghadapi kembali masa lalunya. Dewa, laki-laki yang meninggalkan luka mendalam di hati Naya muncul kembali. Dewa yang juga adik kandung Lulu kembali tinggal di Indonesia dan memilih meninggalkan Australia. Ia meninggalkan karier yang cemerlang di Australia dan kembali ke Palembang. Hingga kini alasan Dewa meninggalkan Australia masih jadi misteri bagi Lulu dan Naya.

Pertemuan kembali Naya dan Dewa membat mereka harus kembali menghadapi hal yang belum tuntas di antara mereka. Perang dingin antara Naya dan Dewa terus berlangsung. Namun perang itu tetap saja memercikkan api ketertarikan antara keduanya. Akan bagaimana akhir hubungan mereka?


 “Tidak perlu memandang fisik, laki-laki tetap saja laki-laki. Isi kepala dan logika mereka sama saja.” (Hal. 57)

***
Déesert bukanlah novel pertama karya Elsa Puspita yang saya cicipi. Dan saya selalu merasa bahwa salah satu kepiawaian penulis adalah menciptakan karakter yang mudah menarik emosi pembaca. Mulai dari rasa kesal hingga simpati. Hal ini juga kembali terjadi di novel Déesert ini.

Tokoh Dewa berhasil membuat saya merasa jatuh cinta. Mungkin karena saya tipe perempuan yang menyukai laki-laki penyabar dan gambaran tentang Dewa memuaskan imajinasi saya tentang laki-laki yang akan menyenangkan jika dijadikan pasangan. Laki-laki yang meski tidak banyak bicara, ia menunjukkan perasaannya melalui tindakan dan dalam kasus Dewa lewat kemampuannya memasak.

Kemudian ada juga tokoh Ava, mantan kekasih Dewa. Perempuan ini berhasil mengundang rasa geram saya. Membuat saya ingin menyuruhnya cepat-cepat menghilang. Ava terlalu percaya diri dan jadi arogan. Perempuan yang menyebalkan. Apalagi ia hadir di waktu yang tidak tepat.

Sayangnya, tokoh Naya sendiri malah menjadi karakter yang paling biasa saja. Tidak memberi kesan yang istimewa. Beda dengan tokoh-tokoh lain seperti Damar, kakak Naya dan bahkan Lulu, sahabatnya. Namun di luar itu, penokohan di dalam novel ini sangat berwarna.

Untuk konflik, penulis berhasil menyuguhkannya dengan simple namun menarik. dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, penulis berhasil memunculkan momentum-momentum tertentu di dalam hubungan Naya dan Dewa membuat novel ini tidak terkesan membosankan. Membuat sejumlah informasi tetap terjaga namun di waktu yang sama membuat sudut pandang pembaca jadi lebih luas.

Deskripsi tempatnya pun pas. Menarik. Deskripsi Dapoer Ketje dan bakery and cafe milik Dewa digambarkan dengan menarik. Tidak berlebihan namun tergambar jelas. Sayangnya dalam hal deskripsi makanan terasa kurang. Proses pengolahan makanan tidak banyak di temukan di dalam novel ini. Namun dengan keberadaan menu-menu unik Dapoer Ketje tetap membuat sensasi yummy-nya tetap terasa.

Terakhir, ada kesalahan dalam hal penulisan tahun di awal chapter “1st Table” dan “2nd Table”. Apa iya, tahun 2004 whatsapp sudah jadi tren pengganti pesan singkat (sms)?

Tapi di luar kekurangan itu, novel ini tetap enak untuk dinikmati. Bisa habis dalam sekali lahap bagi mereka yang menggemari novel romance.

Oiya, satu lagi catatan tambahan. Seri YummyLit ini ditujukan untuk pembaca dewasa muda hingga dewasa. Sebab di dalam novel Déesert dan Il Tiramisu ada adegan kissing. Hal yang tidak saya temukan di novel-novel remaja terbitan Bentang Pustaka.


“..., kalau hal buruk sudah mengambil alih, mengendalikan diri sendiri menjadi pekerjaan yang cukup sulit.” (Hal. 64)

***
Quote Favoritku

“Nikahi perempuan yang menurut kamu pantas untuk kamu sayangi, lindungi, dan hormati, seumur hidup kamu. Nikahi dia karena kamu mau, bukan karena harus.” (Hal. 224)

Ini adalah pesan yang bijak dari ibunya Naya kepada Damar saat ia di tengah kebimbangan. Ia harus membuat keputusan akankah menikahi kekasihnya sedangkan ia sendiri masih memiliki banyak tanggung jawab sebagai seorang kepala keluarga menggantikan ayahnya yang sudah meninggal.
Pesan ini amat manis namun sekaligus netral. Ibunya Naya enggan mengintervensi keputusan Damar. Dan pesan ini bisa menjadi bahan pertimbangan tanpa memengaruhi Damar sedikitpun.

***
Kumpulan Quote
“Masokhis emang sifat alami manusia, Lu.” (Hal. 111)
“Tidak ada rasa sakit atas kehilangan yang akan sembuh secepat kilat.” (Hal. 262)
“..., sejak kapan logika dan hati berjalan dalam satu garis lurus? Mungkin nanti, saat kiamat datang.” (Hal. 264)
“If you make a girl laugh, she likes you, but if you make her cry, she loves you. But, the real gentleman never wants to make his girl cry, doesn’t he?” (Hal. 271)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar