Sabtu, 25 Juni 2016

Pancen: Di bawah Pohon Bintaro, Kisah Ini Bermula



“... mungkin aku harus belajar mencintai tanpa hati, hingga tak perlu sakit hati saat mencintai.” (Hal. 33)


Penulis: Maria Ita
Editor: Chris Subagya
Desain isi: Oktavianus
Desain sampul: Joko Sutrisno
Penerbit: PT Kanisius
Cetakan: 1, 2016
Jumlah hal.: xvii + 137 halaman
ISBN: 978-979-21-4646-2
“Meski nafasku telah habis sekalipun, aku tetap mencintaimu. Karena aku hujan dan kamu bumi.”

Kus, dosen tampan, mengalami jatuh cinta yang luar biasa indah dengan Mar. Namun cinta mereka terhalang. Suatu hari Kus ditemukan meninggal secara misterius. Banyak orang mengira Kus bunuh diri dengan makan buah Bintaro.

Mar, berusia tiga belas tahun lebih muda dari Kus, didera pengalaman hidup yang berat bahkan harus melakukan aborsi di masa lalu. Mar tak bisa menerima kenyataan bahwa Kus telah meninggal. Setiap malam ia pergi ke bawah pohon Bintaro tempat ditemukannya jasad Kus, sambil membawa “pancen”. Dan tepat seratus hari setelah kematian Kus, Mar juga menghilang.

Mengapa Kus meninggal? Ke mana Mar? Akankah misteri cinta mereka terungkap?
***

“Rasanya cinta justru lebih sering membuat orang menderita daripada bahagia. Aku tidak siap untuk patah hati.” (Hal. 5)

Novel ini berkisah tentang Elizabeth Tirta yang mencari Mar, kakaknya yang hilang. Ia sengaja pulang kampung demi memecahkan misteri menghilangnya Mar. Di awal kepulangannya, ia bertemu hm..bagiamana menyebutnya? Roh? Hantu? Arwah? Sosok itu adalah Kus yang mengira Elizabeth sebagai Mar karena kemiripan mereka.

Sejak itu, satu demi satu misteri menghilangnya Mar semakin terlihat. Dengan menggunakan alur campuran yang sesekali menggunakan sudut pandang orang pertama dari sisi Elizabeth dan sesekali menggunakan sudut pandang orang ketiga, seolah menampilkan Elizabeth mendapat penglihatan tentang apa yang terjadi dalam kehidupan Mar, cerita ini mengalir.

Ia kemudian menemukan bahwa Mar dan Kus saling mencintai. Namun kenapa mereka tidak bisa bersama? Ia juga menemukan betapa suami Mar yang bernama Kam adalah laki-laki licik dan picik yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan Mar.

Apakah ada hubungan meninggalnya Kus secara misterius serta menghilangnya Mar secara mendadak dengan Kam?


“Dulu Mar mengajarkan padaku bahwa baik atau buruk adalah pilihan. Dia mengatakan aku boleh memilih yang terburuk sekalipun, yang terpenting adalah bagaimana aku mampu menerima konsekuensi dari tiap pilihan itu.” (Hal. 28)

***

“Berkali-kali mereka berpesan bahwa tak ada alasan apa pun bagi seorang perempuan untuk tidak bekerja dan tidak ada alasan bagi kami untuk terus-menerus terpuruk saat jatuh.” (Hal. 33)

Saat membaca novel ini, seorang muslim harus mau membuka pikirannya. Kenapa? Karen di dalam akan ditemukan banyak kutipan Kidung Agung. Hal yang asing bagi seorang muslim. Selain itu, keyakinan tentang roh, arwah dan sebagainya jelas tidak bisa diterima oleh akal sehat. Maka jangan seratus persen menggunakan logika dalam memahami keseluruhan cerita di dalam novel Pancen ini.

Maka kisah ini, harus diterima sebagaimana adanya. Kisah tentang dua orang yang saling mencintai namun tidak ditakdirkan bersama. Tentang cinta yang membabi buta dan egois. Tentang cinta yang tidak bisa padam meski benang takdir dan bahkan maut telah memisahkan.

Kekuatan novel ini ada pada diksinya. Pilihan kata Maria Ita membuat pembaca bisa menikmati kisah ini. Memang sebuah tragedi namun deskripsi, puisi-puisi yang ditampilkan membuatnya terkesan manis. Membuat pembaca tidak merasa bosan membacanya.

Sedikit yang terasa mengganggu dari novel ini adalah penggunaan alur campuran yang terkesan kurang rapi. Di sebuah bab, cerita diketengahkan dengan sudut pandang orang ketiga, namun mendadak di akhir bab, tokoh Elizabeth hadir sebagai pencerita dan menggunakan sudut pandang orang pertama.

“Perempuan akan berharga ketika mampu berdiri dengan kakinya sendiri.” (Hal. 33)

***
“... saat harapan tak juga menjadi kepastian, itu artinya hidup harus terus diperjuangkan dan bukan berhenti.” (Hal. 33)

 Give Away Time!!!
 

Hai..hai.. Mbak Maria Ita sudah menyediakan hadiah untuk 2 orang pemenang yang beruntung mendapatkan novel Pancen bertanda tangan penulis.

Mau jadi pemenang yang beruntung tersebut? Syaratnya mudah:

1. Peserta berdomisili di Indonesia
2. Wajib follow akun twitter Maria Ita di @marrielines dan akun twitterku, @atriasartika
3. Promosikan Give Away ini di akun twittermu dengan tagar #GAPancen dan mention akun twitter @marrielines dan @atriasartika

4. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar:

“Pancen berasal dari kata panci, istilah ini digunakan oleh orang Jawa saat mengirimkan sajian bagi arwah orang yang dicintai yang sudah meninggal. Diberikan selama 40 hari sejak meninggal, saat weton dan peringatan-peringatan meninggalnya. Biasanya berupa makanan/minuman kesukaan orang yang sudah meninggal tersebut. (Hal. xii)

Nah, apakah di daerahmu ada tradisi serupa? Bagaimana tradisinya?”

Jangan lupa sertakan data dirimu berupa nama, akun twitter dan email ya.

5. Periode Give Away di blogku: 25 Juni – 2 Juli.

Nah, semoga beruntung ya, Readers ;)


“..., menurutku kita tidak boleh serta merta menghakimi orang, apalagi sibuk mengurusi urusan orang lain. Diperlukan data-data dan analisis yang kuat.” (Hal. 41)

15 komentar:

  1. nama : yunika anwar
    twitter : @yunikaanwar1
    email : yunikaanwar67@gmail.com

    gak ada ka, di daerah saya apabila ada orang meninggal hanya melakukan tahlilan, biasanya dilakukan pada hari pertama wafatnya (poena), tiluna (tiga harinya), tujuhna (tujuh harinya), matangpuluh (empat puluh harinya), natus (seratus hari), mendak taun (satu tahunnya), dan newu (seribu harinya).

    BalasHapus
  2. Rini Cipta Rahayu
    @rinicipta
    rinspiration95@gmail.com

    Kalau di daerah tempat tinggalku sekarang ada namanya "Munjung". Jadi setiap ada hari raya atau peringatan hari besar (piodalan), keluarga biasanya datang ke pemakaman untuk membawa berbagai macam sesajen yang berupa makanan dan minuman. Biasanya mereka akan membersihkan dan makan bersama diatas makam, seolah mengajak leluhur mereka untuk makan bersama.
    Kalau di daerah asalku, masih di kabupaten yang sama, ada juga tradisi "Nelun". Prinsipnya sama seperti Munjung tapi dilakukan hanya pada hari ketiga setelah pemakaman. Saat pemakaman keluarga biasanya membekali dengan berbagai benda seperti baju, celana, sendal, lotion, cermin, sisir dan sebagainya. Kadang juga ada yang membekali uang dan dikuburkan bersama. Misalnya, tidak langsung mengadakan upacara Ngaben, maka biasanya setiap harinya keluarga selalu menghaturkan makanan dan minuman dari rumah. Mereka dianggap masih hidup dan masih ada diantara kita meskipun raganya tak ada.

    BalasHapus
  3. Nama: retno
    Twitter: @retnomauli08
    Email: @retnomauli1@gmail.com

    Didaerah rmhku masih ada tradisi seperti itu, tp gk tau nama tradisi ny hehe.. tiap tahun dtmpatku malam sbelum ramadhan dan wktu maulud nabi para bapak dan anak laki"ny pergi ke masjid dan membawa makanan yg ditaruh ditempeh (wadah terbuat dr anyaman bambu berbentuk lingkaran) biasany dilakukan setelah magrib, dan nanti maknan trsbut saling ditukar dgn orang satu ke orang lainny. Dan nenek" yang masih mempercayai tradisi setiap memperingati kematian dan weton akan membuat sesajian makanan dan minuman, biasanya klo memperingati kematian sesajian berupa mknan dan minuman yg ditaruh ditempeh jika memperingati weton (kelahiran seseorang) sesajian berupa bubur merah dan bubur putih.

    BalasHapus
  4. Nama : Ama Affandi
    Twitter : @ama_affandi
    email : ama.affandi26@gmail.com
    Di tempatku ga ada tradisi semacam itu. Hanya ada tahlilan (kirim doa)

    BalasHapus
  5. Nama : Ama Affandi
    Twitter : @ama_affandi
    email : ama.affandi26@gmail.com
    Di tempatku ga ada tradisi semacam itu. Hanya ada tahlilan (kirim doa)

    BalasHapus
  6. Nama : Claudia Liberani
    Twitter: @misssiel
    email: liberani96@gmail.com

    Di daerahku tradisi dan budayanya masih sangat kental, setiap kejadian besar dalam perjalanan hidup seorang manusia selalu ada ritual adatnya, termasuk meninggal.
    Ketika ada orang meninggal maka jasadnya tidak langsung dimakamkan, sampai tiga hari kemudian setelah melewati prosesi adat kematian suku Dayak Tamambaloh barulah jasdnya dimakamkan secara agama.
    Ketika seseorang meninggal jasadnya akan diletakkan di atas kain khas suku Dayak Tamambaloh yang digunakan sebagai alas untuk membaringkan mayat, mayatnya akan dihias secantik/ segagah mungkin dengan pakaian adat dan perhiasan yang dia punya selama hidupnya. dibuatkan kamar kecil yang dikelilingi tambe, tambe adalah bendera suku Dayak Tamambaloh. Mereka percaya setelah meninggal arwah seseorang akan hidup kembali di Tailung, Tailung adalah dunia tujuan roh orang Tamambaloh setelah meninggal di bumi. Mereka menghias mayat sedemikian rupa supaya nanti saat tiba di Tailung orang-orang akan menghormatinya karena penampilannya yang menarik, tambe yang dipasang mengelilingi ruangan tempat mayat diletakkan dianalogikan sebagai hiasan kapalnya saat mengarungi lautan menuju Tailung nanti. Semakin banyak tambenya maka semakin dipandang kaya si pendatang baru di dunia Tailung.

    BalasHapus
  7. Nama: Diah P
    Twitter: @She_Spica
    Email: pujiawati747@gmail.com

    Di daerahku masih ada tradisi nyajen atau memberikan sesajen buat orang yg meninggal. Isi sesajen biasanya kopi, potongan pisang, rokok, kembang tujuh rupa, dan lauk pauk ayam kecap atau panggang. Tradisi ini masih dilakukan sebagian warga dgn cara membangun semacam tenda dan bale di samping makam lalu mengirim doa dgn didampingin sesajen tersebut.
    Akan tetapi karena perubahan zaman, paling hnya 4-5 kluarga yg masih memegang tradisi ini, sebgian biasanya melakukan di hari sebelum lebaran, yaitu menyajikan sesajen di rumah berikut lauk pauk yg dimasak untuk lebaran dgn mksud agar arwah yg di alam sana bisa menyicipi hidangan tersebut.
    Jujur keluarga saya mash memegang tradisi ini beberapa tahun yg lalu, sebelum saya marah2 dan menasehati orangtua saya dan akhirnya mereka mendengarkan dan berhentilah tradisi ini di keluarga saya. Kl tetangga sih, masih ada yg melalukan.
    Terima kasih.

    BalasHapus
  8. Nama: Diah P
    Twitter: @She_Spica
    Email: pujiawati747@gmail.com

    Di daerahku masih ada tradisi nyajen atau memberikan sesajen buat orang yg meninggal. Isi sesajen biasanya kopi, potongan pisang, rokok, kembang tujuh rupa, dan lauk pauk ayam kecap atau panggang. Tradisi ini masih dilakukan sebagian warga dgn cara membangun semacam tenda dan bale di samping makam lalu mengirim doa dgn didampingin sesajen tersebut.
    Akan tetapi karena perubahan zaman, paling hnya 4-5 kluarga yg masih memegang tradisi ini, sebgian biasanya melakukan di hari sebelum lebaran, yaitu menyajikan sesajen di rumah berikut lauk pauk yg dimasak untuk lebaran dgn mksud agar arwah yg di alam sana bisa menyicipi hidangan tersebut.
    Jujur keluarga saya mash memegang tradisi ini beberapa tahun yg lalu, sebelum saya marah2 dan menasehati orangtua saya dan akhirnya mereka mendengarkan dan berhentilah tradisi ini di keluarga saya. Kl tetangga sih, masih ada yg melalukan.
    Terima kasih.

    BalasHapus
  9. Nama : Fakhrina FM
    Email : fakhrina13@gmail.com
    Twitter : fakhrina_fm

    Disekitar rumah aku alhamdulillah biasa biasa saja kak. Mungkin cuma diadakan tahlilan sampai hari ketujuh dan setiap beberapa puluh hari sampai seterusnya. Aku gk begitu mengerti kak. Heheheheh

    BalasHapus
  10. Nama : Nola Amalia
    Twitter: @Nolaamaliaa
    Email: nolaamalia20@gmail.com

    Kalau di Jawa ada tradisi Pancen, di daerahku cuma ada tahlilan. Kalau dalam Pancen dikirimkan jamuan atu sajian, maka tahlilan mengirimkan doa-doa agar Beliau tenang di sisi Tuhan.
    Mungkin ada yang sejenis pancen sih.. tapi jarang-jarang, malah aku baru denger ada yang kasih sesajian. Yang aku tau cuma tahlilan doang, hehe..

    BalasHapus
  11. Nama : Deria Anggraini
    Twitter : @deriaanggraini_
    Email : deriaanggraini21@gmail.com

    Jawaban :
    Aku keturunan Jawa, orang tuaku asli orang Jawa. Dan kampung halaman mamaku itu bener2 pedesaan dan seiring berjalannya waktu jadi agak modern, tapi warganya masih melakukan ritual2 adat walaupun nggak kayak mamaku pas kecil yg benar2 kental akan adatnya.
    Kalau ada yg meninggal, ritualnya itu namanya Brobosan. Jadi jenazah ditaro di peti mati dan diletakkan di halaman rumah keluarga si jenazah dan ritual ini dipimpin sama anggota keluarga tertua. Jadi peti mati itu diangkat tinggi2 diatas, itu dilakuin abis bacain doa2 buat si jenazah. Terus anak laki2 tertua, anak perempuan tertua, sampe cucuk laki2 dan perempuan jalan di bawah peti mati itu secara berurutan (nerobos) selama 3 kali & searah jarum jam. Pokoknya urutannya itu selalu diawali sama anak laki2 tertua dan diawali sama keluarga inti, dan yg muda2 berada di belakang. Ritual ini disimbolkan sbg penghormatan sanak keluarga yg masih hidup kepada mereka yg telah berpulang.

    BalasHapus
  12. Nama: Zindy Regita Wulandari
    Twitter: @zindyre
    Email: zindyregita@ymail.com

    Kalau di daerah asalku yaitu Toraja dikenal istilah Rambu Solo'. Nah, Rambu Solo' ini adalah upacara adat kematian bagi masyarakat Toraja untuk menghormati dan mengantarkan arwah orang yang sudah meninggal ke alam lain atau alam roh. Upacara adat ini memiliki rangkaian acara mulai dari pembungkusan jenazah sampai pengusungan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir. Dalam upacara adat ini juga ditunjukkan atraksi kebudayaan dengan adu kerbau sebelum kerbau-kerbau tersebut disembelih. Jadi secara keseluruhan tradisi adat ini berlangsung selama beberapa hari. Orang yang meninggal baru dianggap benar-benar meninggal setelah seluruh rangkaian upacara dilaksanakan. Kalau belum, orang tersebut masih dianggap sakit atau lemah jadi masih diperlakukan seperti orang yang masih hidup seperti dibaringkan, diberi makanan dan minuman, dll.

    BalasHapus
  13. Nama : Pida Alandrian
    Twitter : @PidaAlandrian92
    Email : shafrida.alandrian@gmail.com

    Jawaban >>

    Kalau di daerah ku sihh nggak ada hal serupa dgn sajian2 menggunakan Pancen sih kak. Malahan aku tau Pancen dari review ini. Kalau di daerahku namanya Panci bukan Pancen (sama aja ya).

    Aku asal dari Aceh. Biasanya kalau di daerah ku ada yg meninggal itu sampai 7 hari meninggalnya, orang2 pada berkunjung –berbelasungkawa gitulaaah-. Ada pengajian juga tiap malamnya. Misalnya ada saudaranya yang ingin melakukan pengajian berdoa bersama (kalau di daerahku di sebut dengan Samadiah). Nanti tuan rumah akan member hidangan semampu orang rumah, nggak di paksakan harus sediain menu yg khusus, nggak kak (semampu perekonomian keluarga yg di tinggal aja).

    Di pemakamannya yang si meninggal juga di diriin tenda untuk orang pengajian (biasanya paling banyak 4 orang. Orang pengajiannya biasa di panggil dari tempat pesantren2 kak). Pengajiannya dilakukan sampe 7 hari juga. Nah disni juga nantinya keluarga akan mengantarkan makanan utk yang mengaji bkn utk di jadikan sajian. Karna sajian di daerahku itu di larang kak.

    Setelah 7 hari. Nanti pas hari ke 40 juga ada di lakukan pengajian (samadiah) lagi. Disini juga tuan rumah menyediakan hidangan untuk para tamu yg dating dan menunya seadanya juga, nggak berlebihan (semampu orang rumahnya juga/keluarga yg ditinggalkan.).

    Gitu kak, kalau tradisi di daerahku.

    Sekian..

    Salam Ramadhan Pida Alandrian

    BalasHapus
  14. makash buat infonya
    sangat bermanfaat mantap,,

    BalasHapus
  15. Halo semua ... Saya Katie Jones dengan nama saat ini tinggal di Las Vagas, USA .. Apakah menulis surat ini karena pagi benar-benar berterima kasih atas apa yang Nyonya Linda Raja lakukan untuk saya dan keluarga saya, ketika saya pikir tidak ada harapan dia datang dan membuat jalan bagi saya dan keluarga saya dengan pinjaman kami pinjaman, pada tingkat bunga yang sangat rendah 1,5%. Saya tidak pernah berpikir bahwa masih ada Tuhan mengirim dan pemberi pinjaman asli di internet tapi saya sangat mengejutkan saya mendapat pinjaman saya tanpa membuang-buang banyak waktu jadi jika Anda di luar sana mencari pinjaman dari jumlah setiap saya ingin merekomendasikan Anda untuk Mrs Linda Raja Managing director pinjaman Legacy Asset Solution karena dia adalah Allah mengirim seorang wanita yang dapat mengubah hidup Anda selamanya .... Jadi jika Anda benar-benar ingin membuat kehidupan yang lebih baik tanpa kelangkaan dana .... saya akan menyarankan Anda untuk berhubungan dengan dia melalui e-mail di bawah ini.

    Kontak informasi..

    Email: legacyassetgroup@hotmail.com
    Telepon: +918431054677
    Telepon: 08431054677

    BalasHapus